My Culun CEO

My Culun CEO
Kesepakatan Pertunangan



Suasana ballroom hotel sudah mulai ramai dengan para tamu undangan yang hadir. Hanya kerabat dekat saja yang diundang oleh pihak dua keluarga. Juga beberapa relasi bisnis yang memang cukup dekat. Karena memang ini adalah permintaan dari kedua calon pengantin yang akan bertunangan malam ini.


Roy beserta Lian, juga Adi Jaya dan Sandra menyambut kehadiran para tamu tersebut. Mereka berbincang dan saling melempar candaan satu sama lain.


Pastinya kedua pemilik kerajaan bisnis ini akan makin menguasai banyak bisnis setelah perjodohan anak-anak mereka malam ini. Sebuah perjodohan bisnis yang cukup menguntungkan bagi kedua belah pihak.


Di dalam kamar hotel, Sheila memandangi dirinya di depan cermin. Kali ini ia tampil dengan gaun berwarna soft pink yang sangat elegan. Menampilkan punggung mulusnya. Rambut panjangnya tersanggul rapi dengan menyisakan beberapa helai untuk memberi kesan glamor.


Beberapa kali gadis ini mengambil napas dan menghembuskannya pelan. Hatinya sedang tidak baik-baik saja saat ini. Tapi ia berusaha kuat karena ini demi orang tuanya.


Sebuah ketukan di pintu membuatnya menoleh. Ia segera melangkah dan membuka pintu.


Terlihat sosok yang akan mengikatnya dalam sebuah hubungan pertunangan sedang berdiri menatapnya dengan tatapan kagum. Ia tersenyum melihat gadis yang sebentar lagi akan menjadi tunangannya.


"Kamu cantik sekali, Shei," ucapnya dengan mata tak berkedip.


Sheila tak merespon. Ia malah memalingkan wajahnya.


"Ada apa datang kesini?" tanya Sheila ketus.


"Oh iya, aku sampai lupa karena terlalu kagum dengan kecantikanmu." Pria yang tak lain adalah Nathan menggaruk tengkuknya.


Sheila memutar bola matanya malas. Sejak kapan seorang Nathan Avicenna pintar menggombal? Pikirnya.


"Keluarga kita sudah menunggu. Mereka memintaku untuk menjemputmu," ucap Nathan.


"Baiklah, tunggu sebentar. Aku bersiap-siap dulu," balas Sheila lalu menutup pintu.


Nathan yang mengira akan ikut masuk ke dalam hanya tercengang dengan sikap Sheila yang terlihat berbeda.


Tak lama Sheila kembali membuka pintu.


"Shei, kenapa menutup pintunya? Aku kan ingin..."


"Ada yang harus kita bicarakan!" ucap Sheila tegas.


Nathan mengernyit heran. "Ada apa?"


"Kita harus membuat kesepakatan."


Nathan melotot. "Oke! Kesepakatan apa? Bukankah kita sudah membuatnya sebelum ini?"


"Benar. Aku hanya ingin mempertegasnya saja. Kita sudah sepakat untuk tidak mempublikasikan pertunangan ini di depan orang banyak dan juga wartawan. Lalu, aku ingin menambah poinnya. Aku juga ingin seluruh orang kantor tidak tahu soal hubungan ini."


"Heh?!"


"Aku tahu kau masih memiliki seseorang di sisimu. Celia. Dia kekasihmu kan? Maka dari itu kau membuat kesepakatan ini. Kau tidak ingin dia tahu jika kau sudah dijodohkan denganku," sarkas Sheila.


Nathan membulatkan mata mendengar nama Celia dari bibir Sheila.


"Dari awal kau sudah merencanakan semua ini. Tapi ini bagus untuk kita. Karena aku juga memiliki kekasih. Dan aku tidak ingin dia tahu soal perjodohan ini. Jadi, kita impas!" Sheila menyilangkan tangannya di depan dada.


"Shei, aku bisa jelaskan semuanya!" ucap Nathan.


"Cukup! Kamu bilang semua orang udah nunggu kita. Kalau begitu ayo jalan!" Sheila berjalan meninggalkan Nathan.


Pria itu tertegun sebentar kemudian menyusul langkah Sheila.


"Shei, tunggu!" Nathan mencekal lengan Sheila. Gadis itu segera menepisnya.


"Singkirkan tanganmu!" sungut Sheila.


Mereka menaiki lift dalam diam. Mereka menuju ke ballroom hotel di lantai 5.


Ketika pintu lift terbuka, Nathan segera menyodorkan lengannya pada Sheila. Ia memberi kode jika Sheila harus memeluk lengan Nathan. Tentu saja mereka harus tetap berakting sampai akhir.


"Jangan geer! Ini hanya akting!" sarkas Sheila.


Mereka berjalan beriringan hingga tiba di depan ballroom. Pintu terbuka dan semua tamu undangan menyambut mereka dengan tepuk tangan meriah.


"Wah, lihat mereka! Mereka sangat serasi ya!" Lian tak henti-hentinya memuji putra dan calon menantunya itu.


"Iya, Dek. Mereka memang seperti sudah ditakdirkan untuk bersama," sahut Sandra.


Nathan dan Sheila berjalan menuju panggung megah itu karena acara pertunangan akan segera dimulai. Seorang pembawa acara memandu acara pertunangan dua keluarga sultan ini.


Tibalah di acara puncak pada malam ini, yaitu tukar cincin untuk kedua sejoli yang sedang berbahagia ini. Ralat! Orang tua yang berbahagia. Sedangkan kedua sejoli itu hanya mengulas senyum palsu mereka.


"Auwh! Pelan sedikit dong, sayang..." Nathan masih berusaha menggoda Sheila.


"Oops, maaf. Aktingmu bagus juga Tuan Nathan Avicenna!" Sheila mendelik kearah Nathan.


"Shei, aku..."


"Sudahlah! Nikmati saja pestanya. Aku ingin ke kamar mandi dulu!" Sheila turun dari panggung dan menuju toilet wanita.


Sheila memandangi penampilannya yang sangat sempurna malam ini. Namun hatinya tidaklah sempurna. Ia menahan tangisnya. Ia tak ingin jadi lemah sekarang. Kenapa juga ia menangis? Apa dia kecewa pada Nathan yang ternyata memiliki kekasih? Hanya Sheila saja yang tahu apa yang dirasakannya saat ini.


Sheila keluar dari toilet dan sudah ada Nathan yang menunggunya disana.


"Kamu? Ngapain kamu disini?" tanya Sheila ketus.


"Shei, aku mohon dengarkan penjelasan aku dulu!"


"Apa lagi yang mau dijelasin? Semua udah jelas kok. Kamu bahkan menyebut namanya dalam tidurmu. Itu berarti kamu selalu menyimpannya dalam hatimu." Sheila menunjuk dada Nathan dengan telunjuknya.


"Semua sikap manis kamu padaku itu palsu! Kamu pikir aku mainan, hah?! Kamu pikir kamu menang karena udah membuat jantungku berdebar nggak karuan? Brengsek kamu, Nathan!" Sheila segera pergi meninggalkan Nathan. Tapi pria itu tidak akan membiarkan Sheila pergi sebelum semuanya jelas.


"Shei!" Nathan merangkum wajah Sheila. Gadis itu sudah berkaca-kaca.


"Celia bukanlah siapa-siapa. Dia hanya..."


"Apa! Bukan siapa-siapa tapi kamu menyebutnya dalam tidurmu!"


"Kamu cemburu, Shei?"


"Enggak! Sama sekali enggak! Aku hanya nggak nyangka kalo kamu bohongin aku. Sekarang kita lanjutkan semua permainan ini hingga aku dapatkan waktu yang tepat untuk membatalkan pertunangan ini dan aku akan membawa kekasihku didepan keluargaku!" Sheila menepis tangan Nathan yang merangkum wajahnya. Ia segera pergi dari sana. Ia tak ingin menangis di depan pria itu.


Nathan menggeram kesal. Ia mengusap wajah dan mengacak rambutnya.


"Kapan aku menyebut nama Celia? Dia bilang dalam tidurku? Kenapa dia bisa tahu? Sialan! Semuanya berjalan tidak baik akhir-akhir ini!" batin Nathan frustasi.


Sementara di sisi toilet, seseorang tengah mendengarkan semua perdebatan Nathan dan Sheila. Orang itu mengernyit bingung.


"Sheila memiliki kekasih? Sejak kapan? Dan siapa orang itu?" batin orang itu bertanya-tanya kemudian berlalu pergi.


#


#


#


Pesta pertunangan pun telah usai. Para tamu mulai berpamitan. Kini tinggal dua keluarga inti saja yang masih tinggal untuk menghabiskan malam minggu mereka.


Mereka masih berbincang santai dengan gelak tawa yang kadang menggema. Sepertinya malam ini adalah malam yang bahagia untuk para orang tua. Tapi tidak untuk kedua sejoli yang baru saja mengubah status mereka jadi bertunangan.


Sheila memilih untuk berada di balkon ballroom. Ia ingin menghirup udara malam ini. Hatinya sesak saat menatap cincin di jari manisnya.


"Shei, kamu disini?" Seseorang memakaikan jasnya ke tubuh Sheila. Namun gadis itu menolaknya.


"Udaranya dingin, pakailah dulu!"


"Kak Danny? Kakak belum pulang?" tanya Sheila yang kini berhadapan dengan orang kepercayaan kakaknya ini.


"Aku mencarimu dari tadi. Kenapa malah disini?"


"Nggak apa-apa, Kak. Hanya merasa butuh udara segar saja!"


"Shei, jika ada yang ingin kamu ceritakan, kamu bisa cerita padaku. Bukankah aku juga seperti kakakmu?"


Sheila menatap Danny dengan mata yang mengembun.


"Kakak..." Gadis itu menitikkan air matanya.


Dengan cepat Danny segera membawa gadis kecilnya kedalam dekapan hangatnya. Ia mengusap punggung Sheila yang bergetar.


Dari arah pintu balkon, Nathan mengepalkan tangan melihat tunangannya berada dalam pelukan pria lain. Ia ingin masuk dan membawa Sheila pergi dari sana. Namun ia juga ingat jika dirinya tak mungkin membuat keributan sementara masih ada para orang tua disini.


#bersambung


Happy Saturday, semoga bisa menghibur hari sabtu kalian semua 😘😘😘


akan ada part selanjutnya setelah ini, tungguin ya 😉😉