My Culun CEO

My Culun CEO
#1 2 3



"Siapa Freya?"


Hanya itu yang menjadi pertanyaan Vania saat ini. Wanita paruh baya yang adalah ibunda Edo ini masih memeluk Vania dengan erat.


Bahkan rasanya Liliana tidak ingin melepaskan Vania.


"Ma!" lerai Edo yang mulai melepaskan pelukan Liliana.


"Ma, dia Vania."


Liliana menggeleng. "Dia adalah Freya! Dia adalah Freya!" teriak Liliana.


"Tidak, Ma. Ayo mama sebaiknya istirahat di kamar ya! Mama pasti kecapekan. Ayo!" Edo berusaha membujuk Liliana.


"Bi! Bibi!" seru Edo memanggil asisten rumah tangganya.


"Iya, Tuan."


"Bi, tolong antar Vania ke kamar tamu ya! Saya akan membawa mama ke kamar."


"Baik, Tuan. Mari Nona!"


Vania mengikuti langkah si ART. Ia masih melirik Liliana yang terlihat meronta ketika Edo akan membawanya ke kamar.


"Edo, dia adalah Freya! Edo! Mama ingin ketemu dengan Freya!"


"Ma, dia bukan Freya! Dia Vania!"


"Tidak! Mama tahu dia adalah Freya!"


Edo meraih ponselnya dan memanggil seorang dokter yang biasa menangani Liliana.


"Ma, sebaiknya mama istirahat saja ya!"


"Tidak! Mama ingin bersama Freya! Edo, izinkan mama bertemu Freya!"


Edo membuka laci nakas dan mengambil obat penenang yang biasa di konsumsi Ibunya.


"Ma, minum obat dulu ya!"


"Tapi kamu harus janji, setelah ini mama akan bertemu dengan Freya."


"Iya, Ma. Edo janji!"


Liliana menurut dan langsung meminum obat yang diberikan Edo. Tak lama setelahnya kondisi Liliana mulai tenang. Lalu berangsur wanita paruh baya itu merasakan kantuk.


"Edo, mama ngantuk! Mama ingin ketemu Freya di mimpi."


"Iya, Ma. Ayo sekarang mama tidur ya! Mama pasti bertemu dengan Freya."


Edo merebahkan tubuh ibunya. Tak lama seorang dokter mengetuk pintu kamar lalu masuk.


Edo menceritakan kondisi ibunya yang kembali histeris karena mengingat Freya.


"Sudah lama nyonya Liliana tidak mengalami kondisi seperti ini. Sepertinya ada yang memicunya untuk mengingat kembali tentang nona Freya," jelas dokter.


"Tapi, dia bukan Freya, Dok. Dia adalah Vania. Dan aku mengenalnya," balas Edo.


"Baiklah kalau memang begitu. Ada baiknya tuan juga menyelidiki tentang hal ini. Karena trauma nyonya tidak akan kembali tanpa ada sebab yang jelas."


Edo mengangguk paham.


"Ini saya resepkan obat untuk nyonya Liliana. Kalau begitu saya permisi dulu, Tuan Edo."


"Iya, Dok. Sekali lagi terima kasih."


Dokter berpamitan dan berlalu dari kamar Liliana. Edo menatap ibunya yang kini sedang terlelap. Kemudian ia juga ikut keluar dari kamar Liliana.


Edo bertanya pada ART apakah Vania sudah masuk ke kamarnya.


"Sudah, Tuan. Nona Vania tidak keluar lagi."


"Bi, tolong siapkan makanan lalu antar ke kamar Vania. Aku tahu dia belum makan malam. Jika dia mencariku, bilang saja aku ada di ruang kerja."


"Baik, Tuan."


Edo segera berjalan menuju ruang kerjanya yang ada tak jauh dari kamar tidurnya. Edo membuka pintu dan menyalakan lampu.


Edo menuju meja kerjanya lalu duduk disana. Sudah lama ia tidak memakai ruangan ini untuk bekerja.


Mata Edo tertuju pada sebuah bingkai foto yang ada di meja. Ia menatap foto itu lekat.


"Freya..." lirih Edo mengusap foto tersebut.


"Apa benar kau masih hidup?" lanjutnya.


#


#


#


Vania menatap ruangan kamar yang akan ia tinggali. Ia tak percaya jika dirinya kembali mendapat sebuah keajaiban.


Vania merebahkan tubuhnya ke atas ranjang.


"Ah empuk sekali! Aku pasti tidak akan bangun jika harus tidur di tempat seperti ini."


Vania memejamkan mata dan mengucap syukur kepada Tuhan.


"Eh tunggu! Tapi, siapa yang tadi di sebutkan oleh ibunya bang Edo? Freya? Siapa dia? Kenapa ibunya bang Edo menganggap aku Freya? Apa aku mirip dengannya?"


Vania masih tidak bisa menemukan jawabannya.


"Ah sudahlah! Orang kaya terkadang sangat sulit dimengerti. Aku harus segera tidur agar besok aku bisa bangun pagi!"


Vania membersihkan diri terlebih dahulu. Ia kembali melongo dengan interior kamar mandi yang cukup mewah.


"Wah, hanya kamar mandinya saja sudah semewah ini! Kalau begitu ... seperti apa kamar milik bang Edo ya? Apakah seperti yang ada di drama-drama Korea itu?"


Vania terus memikirkan yang otaknya tak mampu untuk menampung. Ia bahkan sudah lupa jika hari ini adalah hari yang menyedihkan untuknya.


Keesokan harinya, Vania keluar dari kamar dan langsung menuju dapur. Masih pukul lima pagi dan Vania akan mulai menyiapkan bahan makanan untuk sarapan.


Vania membuka lemari es dan kembali takjub dengan isinya.


"Ini ... nyata atau tidak sih? Kok aku masih belum percaya dengan semua ini?" Vania menepuk pipinya.


Hampir satu jam lamanya Vania berkutat di dapur. Seorang ART datang dan melerai Vania.


"Nona! Apa yang nona lakukan disini? Sebaiknya nona duduk manis saja dan jangan ikut memasak," ucap seorang wanita paruh baya bernama Imah.


"Tidak apa, Bi. Aku sudah terbiasa memasak, Bi."


"Tapi, Non! Kalau tuan Edo tahu nona malah disini, akan jadi masalah nanti."


"Tidak akan, Bi. Percayalah!" Vania meyakinkan Imah jika dirinya memang terbiasa memasak.


"Biarkan saja, Bi." Edo tiba-tiba datang.


"Bang Edo... Selamat pagi, Bang..." sapa Vania.


"Selamat pagi. Aku tahu kau pasti akan datang ke dapur. Tolong buatkan sarapan yang istimewa ya!"


Vania mengangguk. Dengan di bantu Imah, Vania menyiapkan sarapan untuk keluarga Moremans.


Vania pikir akan ada anggota keluarga yang makan di meja makan bersama Edo. Tapi nyatanya tidak. Hanya ada Edo saja disana.


"Bang..."


"Hmm?"


"Bagaimana keadaan mamanya abang?" tanya Vania ragu.


Edo menjawab dengan sebuah senyum.


"Aku minta maaf soal semalam. Aku tidak menyangka jika mama..."


"Tidak apa jika abang tidak bisa cerita. Aku mengerti kok."


Edo kembali tersenyum. "Vania, duduklah disini dan ikut makan bersamaku."


Vania menyahut dengan senang hati. Ia duduk dan langsung mengambil makanan lalu diserahkan kepada Edo.


"Makanlah, Bang. Bukankah abang harus pergi ke kantor?" Vania kembali tersenyum.


Memang benar jika sosok Vania membangkitkan ingatan lama Edo yang sudah lama terkubur. Hal yang selalu ingin Edo lupakan dan tidak ingin kembali menyeruak.


#


#


#


"Kurasa kita harus melakukan sesuatu, Edo," ucap Rizka ketika mereka bertemu dalam agenda kerjasama.


"Apa kau mencurigai seseorang, Edo?"


Edo menatap Rizka. Pastinya ia sendiri tahu apa yang sedang Rizka pikirkan.


"Ya, hanya ada satu nama saja," ucap Edo.


"Emh baiklah. Kau harus segera cari buktinya dan beberkan di depan Damian!"


Edo nampak tak suka dengan ide dari Rizka.


"Aku pikir kau membantu Vania, kenapa harus membawa nama Damian?" ketus Edo.


Rizka terdiam. Sepertinya ia memang salah bicara. Antara Damian dan Edo, akan selalu ada sebuah perdebatan karena adanya kehadiran Vania.


"Baiklah, Edo. Lakukan semua demi Vania. Itu saja! Bagaimana kondisinya? Apa dia baik-baik saja?"


"Vania baik. Kau jangan khawatir. Aku pastikan Damian tidak akan bisa menyentuh atau melihat Vania lagi," tegas Edo.