
Beberapa minggu kemudian,
Naina sedang berdiri di depan sebuah bangunan yang menyimpan berjuta rasa dan cerita. Kakinya terlalu berat untuk melangkah. Namun ada sebuat pesan yang diamanatkan kepadanya. Mau tak mau Naina harus berjalan maju.
Begitu tiba di pintu utama, Naina bertemu dengan seorang petugas yang menanyainya.
"Selamat pagi, Pak," ucap Naina.
"Selamat pagi. Ada keperluan apa datang kemari?" tanya petugas itu.
"Em, saya ingin bertemu saudara Vicky."
"Silakan isi buku tamu ini dulu, Mbak."
Naina patuh dan mengisi nama juga alamatnya.
"Jam kunjung masih 15 menit lagi. Jika ingin menunggu silakan Mbak menunggu di ruang tunggu," jelas si petugas.
"Ah, iya, Pak. Terima kasih."
Naina melangkahkan kakinya lagi menuju ruang tunggu. Disana sudah ada beberapa orang yang menunggu sama seperti dirinya.
Ketika jam kunjung sudah mulai, Naina mulai memasuki ruang kunjung dan duduk di salah satu kursi. Si petugas memanggil sosok yang ditunggu Naina. Siapa lagi kalau bukan Vicky, mantan kekasih sekaligus teman satu kampung Naina.
Vicky yang melihat kedatangan Naika, begitu terkejut dan syok. Namun ia tak bisa menolak kehadiran gadis ini. Kini mereka duduk saling berhadapan. Masih belum ada percakapan yang terjadi.
"Em bagaimana kabarmu, Naina?" tanya Vicky Pada akhirnya.
"Aku baik," jawab Naina singkat.
"Ada perlu apa kamu datang kemari?" tanya Vicky lagi.
"Aku tidak ingin bertanya kenapa kau sampai melakukan ini kepada Sheila dan tuan Nathan. Karena aku tahu pasti alasannya adalah uang. Benar kan?"
Vicky menundukkan wajahnya. Ia tak berani menatap Naina.
"Lalu untuk apa uangnya?" tanya Naina sarkas.
"Heh?!" Vicky terkejut. Ia bahkan belum menerima uang sepeserpun dari Marina. Ditambah lagi pekerjaannya yang kemarin tidaklah selesai.
"Aku belum mendapatkan uangnya. Karena rencanaku..."
"Rencana jahat tidak akan mendapat restu dari semesta. Sekarang kamu harus menanggung akibat dari perbuatanmu."
Vicky terdiam. Ia tak mungkin mendebat Naina. Gadis ini telah banyak membantunya selama ini.
"Ini mengenai ibumu..." Akhirnya Naina angkat bicara.
"A-apa?!" Vicky terkejut.
"Saat kau melakukan semua ini apa kau sama sekali tidak mengingat soal ibumu? Maaf jika aku harus memberitahumu soal ini. Ibumu sudah meninggal tiga hari yang lalu."
Tubuh Vicky melemas seketika. Kini ia makin merasa bersalah pada ibunya. Naina menceritakan semuanya pada Vicky tentang yang terjadi dengan ibunya.
Vicky tak kuasa menahan tangisnya. Naina hanya bisa menguatkan Vicky tanpa bisa melakukan apapun.
"Semoga setelah kamu bebas, kamu bisa menjadi orang yang lebih baik lagi dari hari ini. Kalau begitu, aku permisi dulu. Ini ada sebuah surat yang di tulis oleh ibumu. Semoga bisa mengobati rasa rindumu pada beliau." Naina berpamitan pada Vicky dan meninggalkan pria yang masih menangis terisak itu.
Naina menghela napasnya. Bagaimanapun juga Vicky pernah menjadi bagian dalam hidup Naina. Gadis itu berusaha menegarkan dirinya. Ia mengatur napasnya sebelum keluar dari rumah tahanan itu.
"Ehem!"
Suara seseorang membuat Naina menoleh. Gadis itu memicingkan mata menatap pria yang berjalan menghampirinya.
"Untuk apa kamu masih peduli dengan penjahat seperti dia? Dia bahkan pantas dihukum berat!" ucap seorang pria.
"Aku peduli karena rasa kemanusiaan. Bukankah kamu adalah asistennya tuan Nathan?Apa yang kamu lakukan disini?" tanya Naina yang mengenali Harvey.
"Tentu saja aku kesini karena perintah tuan Nathan. Beliau meminta supaya mantan kekasihmu itu dihukum berat!" sarkas Harvey.
Naina terdiam. Tidak ada gunanya meladeni pria ini, pikirnya. Ia pun melangkahkan kakinya kembali.
"Hei, tunggu!" cegah Harvey.
"Ada apa lagi?" tanya Naina malas.
"Aku Harvey!" Pria itu mengulurkan tangannya.
Naina menatap tangan itu. "Kamu sudah tahu siapa aku kan? Jadi, kita tidak perlu berkenalan." Naina melanjutkan langkahnya.
"Tunggu!" Harvey bingung harus bagaimana mengatakannya.
Sebenarnya sejak Naina datang tadi, Harvey sudah memperhatikan Naina. Entah kenapa ada hal yang tak biasa ketika melihat gadis itu. Selama ini Harvey memang tidak pernah bertemu langsung dengan Naina, ia hanya mendengar ceritanya saja dari Sheila. Tapi setelah bertemu secara langsung, ia merasa jika gadis ini berbeda dengan gadis pada umumnya.
"Apa lagi?" tanya Naina jengah.
"Aku akan mengantarmu pulang. Tuan Nathan memintaku untuk mengantarmu pulang."
Naina bingung. "Kamu tidak berbohong kan?"
"Tentu saja tidak!" jawab Harvey sedikit gugup.
"Baiklah! Kebetulan aku juga sedang mengirit ongkos taksi!" balas Naina tersenyum senang.
Harvey tak habis pikir dengan sikap Naina. Tadi bersikap jutek, sekarang dia bersikap terbuka. Ah, para gadis memang aneh.
...💟💟💟...
Nathan membuka pintu mobilnya dan mengulurkan tangan untuk Sheila. Gadis itu tersipu malu karena perlakuan Nathan yang akhir-akhir ini sering diluar batas otaknya. Menurutnya Nathan terlalu bucin dan posesif.
Nathan menggenggam tangan Sheila dan berjalan memasuki sebuah bangunan yang cukup luas dengan banyaknya pepohonan yang rindang disana.
Sebenarnya Sheila ragu untuk ikut dengan Nathan ke tempat ini. Tapi Nathan tidak ingin ada yang ditutup-tutupi dari dirinya lagi. Akhirnya Sheila menuruti keinginan Nathan.
"Selamat pagi, Dokter Liam," sapa Nathan pada seorang dokter muda.
"Selamat pagi, Tuan Nathan. Bagaimana kabarmu, buddy?"
"Aku baik. Oh ya, kenalkan ini Sheila."
"Halo, aku Sheila." Sheila menyambut uluran tangan Liam.
Nathan menyenggol lengan Liam.
"Oops, sorry. Apa kau mau langsung bertemu dengannya?" tanya Liam.
Nathan menatap Sheila dan mendapat anggukan dari Sheila.
"Dan Nona Sheila, kau lihat dari kejauhan saja bersamaku. Karena terkadang dia masih suka mengamuk," jelas Liam.
Sheila mengangguk paham.
"Itu dia! Dia sedang duduk di bangku taman. Kesehariannya selalu dia habiskan di taman itu," tunjuk Liam pada sosok seorang gadis yang membelakangi mereka.
"Sayang, aku pergi dulu," pamit Nathan. Ia mengecup kening Sheila kemudian berjalan menghampiri gadis yang sedang duduk itu.
Meski ada perasaan cemas di hati Sheila, tapi ia sudah meyakinkan diri jika ia sepenuhnya percaya pada Nathan.
"Marisa..." sapa Nathan ketika ia tiba di samping gadis itu.
Gadis itu menoleh. "Nathan?" Matanya berbinar senang melihat sosok yang sangat ia rindukan.
"Nathan? Kau datang?" Marisa langsung memeluk Nathan.
Kondisi Marisa sudah lebih baik dari sebelumnya. Dan bayang-bayang Marina juga seakan mulai menghilang.
Liam dan Sheila memperhatikan interaksi keduanya dari jauh. Liam adalah dokter yang menangani Marisa. Sejak datanh yang selalu di teriakkan Marisa adalah nama Nathan.
Hingga beberapa minggu berlalu dan kondisi Marisa sudah cukup stabil, Liam menghubungi Nathan agar menjenguk Marisa di rumah sakit. Menurut Liam kondisi Marisa akan berangsur pulih jika Nathan juga ikut membantu. Namun perlu di garis bawahi, disini Nathan tidak memberikan harapan palsu untuk Marisa. Akan ada saatnya Nathan mengenalkan Sheila kepada Marisa dan membuat gadis itu mengerti jika cinta memang tidak bisa dipaksakan.
Sheila mengangguk paham dengan penjelasan yang dikemukakan oleh Liam. Sheila melihat senyum merekah di bibir Marisa ketika Nathan bersama dengannya.
"Aku belum mengerti tentang cinta. Tapi ketika melihat mereka, aku mulai memahami apa itu arti cinta," ucap Sheila.
Liam menatap Sheila.
"Cinta yang sesungguhnya adalah ketika kita bisa memberikan sesuatu yang berharga untuk orang lain. Memberikan apa yang dibutuhkan orang lain. Itulah cinta."
Liam tersenyum dengan filosofi yang dikemukakan Sheila.
Nathan terlihat sedang berpamitan dengan Marisa. Gadis itu tidak keberatan melepas Nathan pergi.
"Berjanjilah kau akan sering datang kesini," ucap Marisa yang akan di bawa kembali ke kamarnya oleh Liam.
"Iya, aku akan berkunjung. Tapi aku tidak bisa berjanji."
"Baiklah. Aku mengerti. Kau adalah orang yang sibuk."
Nathan berjalan menghampiri Sheila dan memeluk gadis itu. "Sudah selesai, Shei."
"Tidak, perjuangan kita masih panjang, Nate. Ayo!"
Sheila melingkarkan tangannya ke lengan Nathan dan berjalan menuju parkiran rumah sakit.
"Shei!"
"Hmm?"
"Bagaimana kalau kita liburan?"
"Kemana?"
"Kemana saja asalkan hanya berdua denganmu!"
"Ish, kau ini!" Sheila mengeratkan pelukannya.
"Bagaimana kalau kita camping?"
"Camping? Maksudmu berkemah?"
"Iya. Kita bisa menikmati alam berdua."
"Boleh juga. Kapan kita berangkat?" tanya Sheila mulai antusias.
"Besok!"
"Ha?! Besok?! Nate! Mendadak sekali!"
"Yang mendadak itu menyenangkan, Shei!"
"Haaah! Terserah kau saja, Tuan Nathan Avicenna."
"Baiklah, Nyonya Sheila Avicenna."
"Aku belum jadi nyonya Avicenna ya!" protes Sheila.
"Sebentar lagi!"
"Ah, bohong!"
"Benar!" tegas Nathan.
"Benarkah?" tanya Sheila serius.
Kini mereka telah tiba di depan mobil Nathan.
"Tapi bohong!" Nathan menghambur masuk kedalam mobil dan meninggalkan Sheila yang terlihat kesal.
"Cepat masuk, Shei! Atau kamu mau aku tinggal?"
"Ish, dasar manusia setengah-setengah!" sewot Sheila sambil membuka pintu mobil.
#bersambung...
*Genks, sedikit info nih, kisah Nathan dan Sheila sudah ada Audiobooknya ya. Yuk sambangi dan dengarkan suara pengisi suaranya yang kece badai. 😚😚😚
jangan lupa tinggalkan jejak ya kesayangan
terima kasih 🙏