My Culun CEO

My Culun CEO
Beautiful Day



...Ketika bersamamu, hariku terasa indah....


...Menapaki kisah hidup bersamamu membuatku mulai mengerti,...


...Jika semua tak akan indah bila kita sendiri......


...***...


Sheila berjalan bersama Nathan memasuki ruangan yang akan dijadikan sebagai saksi bersatunya cinta mereka. Tepuk tangan meriah memenuhi ballroom hotel dengan dekorasi yang sangat indah dan elegan.


Sesekali Sheila saling pandang dengan Nathan. Hingga saat ini ia masih tak percaya jika akhirnya ia menikahi Nathan.


Pria yang seakan tak tersentuh namun bisa Sheila kalahkan dengan ketulusan hatinya. Pria sedingin es yang selalu berkata ketus padanya, kini beralih menjadi pria bucin dan posesif.


Kedua mempelai duduk di kursi pelaminan dan menyalami para tamu yang datang. Senyum merekah selalu mereka tampilkan di depan semua orang yang hadir.


Sheila melihat Danny datang sendiri. Pria itu naik keatas panggung dan menyalami Nathan dan Sheila.


"Selamat untuk kalian berdua! Dan jangan lupakan apa yang pernah kukatakan padamu, Tuan Nathan," ucap Danny yang membuat Sheila mengernyit bingung.


"Kau tenang saja! Semua itu tidak akan pernah terjadi!" tegas Nathan.


"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Sheila.


"Bukan apa-apa, adik kecil!" Danny mengacak rambut Sheila seperti biasa.


"Kakak!" Sheila merengut karena riasan rambutnya jadi sedikit berantakan karena ulah Danny.


Nathan merapikan rambut Sheila. "Aku tidak akan pernah melepaskanmu!" ucap Nathan lagi.


"Iya, Nate. Aku tahu!" Sheila memeluk lengan pria yang sudah resmi menjadi suaminya.


Malam kian larut, pesta pun telah usai. Kini tinggal kedua mempelai dan anggota keluarga yang masih ada disana. Termasuk Naina dan Harvey yang sedari tadi selalu bertengkar kecil.


Sheila tertawa melihat tingkah kedua orang itu. "Kurasa mereka cocok! Semoga saja mereka segera meresmikan hubungan mereka."


"Harvey masih terlalu takut mengungkapkan perasaannya pada Naina," bisik Nathan.


"Hooaamm! Aku sangat lelah! Bisakah kita istirahat sekarang?" tanya Sheila.


"Tentu saja, sayangku!" Tanpa aba-aba Nathan mengangkat tubuh Sheila dan membawanya keluar ballroom.


"Selamat malam semuanya!" ucap Nathan sambil berjalan meninggalkan para anggota keluarga.


Sheila begitu malu karena Nathan menggendongnya. "Kau ini! Bikin malu saja!" lirih Sheila.


"Astaga! Mereka sudah tidak sabar untuk saling buka segel!" ujar Adi Jaya dan mendapat gelak tawa dari semua orang.


#


#


#


Tiba di dalam kamar hotel yang disiapkan khusus untuk pasangan pengantin, Sheila memutuskan untuk membersihkan diri terlebih dahulu. Ia berendam sejenak didalam bathup dengan air hangat dan aroma mawar yang begitu segar.


"Aah, segarnya!" ucap Sheila sambil memejamkan matanya.


Cukup lama Nathan menunggu Sheila keluar dari kamar mandi. Beberapa kali mengetuk pintu dan memanggil nama Sheila. Namun masih tak ada jawaban.


Nathan mulai cemas. Ia memutuskan untuk membuka pintu kamar mandi yang ternyata tidak terkunci. Nathan terkejut karena ternyata Sheila tertidur di dalam bathup yang masih terisi air.


"Astaga! Jadi dia ketiduran disini?" Nathan menggeleng pelan.


Nathan berpikir sejenak untuk membangunkan Sheila. Tapi sepertinya istrinya ini tertidur sangat nyenyak


Karena tak memiliki pilihan lain, Nathan mengangkat tubuh Sheila dari bathup dan membawanya ke ranjang yang sebelumnya sudah ia siapkan handuk disana. Nathan menelan ludahnya kasar melihat tubuh polos istrinya yang begitu memanggilnya.


Nathan menggeleng kuat. Ia harus segera memakaikan Sheila baju agar tidak sakit nantinya. Untuk malam pertama akan ia pikirkan nanti saja. Pastinya mereka berdua sama-sama masih lelah.


Selesai dengan pekerjaan memakaikan piyama tidur untuk Sheila, Nathan pun menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Nathan memakai piyama yang sama dengan yang dikenakan Sheila namun berbeda warna.


Nathan merebahkan tubuh lelahnya di samping Sheila. Tak ingin kehilangan momen bersama, Nathan memeluk Sheila erat.


"Selamat tidur istriku!" Nathan mengecup puncak kepala Sheila sebelum menuju ke alam mimpi.


#


#


#


Pagi harinya, Sheila terbangun dan merasa bingung karena sudah berada di tempat tidur. Ia melirik kearah sampingnya yang terdapat sosok Nathan disana.


Sheila merasa lega. Nathan adalah suaminya sekarang. Mengingat bagaimana perjuangan mereka untuk sampai ke titik ini, membuatnya merasa sangat bersyukur.


"Eh? Gak mikirin apa-apa. Hanya sedang bersyukur saja atas apa yang sudah kita lalui selama ini. Kita berhasil melaluinya."


Nathan mengeratkan pelukannya. "Aku lega sekali karena bisa memelukmu setiap hari."


Sheila terkekeh. "Ya sudah, ayo bangun! Papa dan mama pasti sudah menunggu kita."


Sheila melepaskan pelukan Nathan. Ia akan beranjak dari tempat tidur namun Nathan kembali menarik tangannya.


"Sayang, kau belum memberiku morning kiss!" ucap Nathan cemberut.


Sheila memutar bola matanya malas. Satu kecupan mendarat di pipi Nathan.


"Bukan disitu! Tapi disini!" Nathan memonyongkan bibirnya.


"Ish, kamu ini!"


"Cepatlah atau negara api akan segera menyerangmu!"


"Hah?!" Sheila tak paham dengan kalimat Nathan.


Karena terlalu lama menunggu, akhirnya Nathan menarik tubuh Sheila kembali naik ke tempat tidur. Ia segera mengungkung tubuh Sheila dengan tubuhnya.


"Kau tidak bisa pergi sebelum serangan negara api berakhir!" seru Nathan dan langsung mendaratkan bibirnya di bibir Sheila.


Sheila memukuli dada Nathan, namun suaminya tidak mau berhenti. Sentuhannya beralih ke leher Sheila dan membuat bulu kuduk Sheila meremang.


"Nathan!" jerit Sheila ketika sebuah tanda ia sematkan disana.


Tangan Nathan sudah bergerilya kemana mana dan menyibak piyama tipis Sheila yang semalam ia pakaikan. Tak butuh waktu lama untuk bisa membuat tubuh mereka sama-sama polos.


Sheila merasa ragu untuk melakukannya, apalagi ini adalah yang pertama baginya.


"Nate, kita tunda saja ya? A-aku takut..." cicit Sheila.


"Takut apanya? Tenang saja! Oke?"


"Tapi..."


"Percaya saja padaku!" Nathan kembali melumaat bibir Sheila agar membuatnya lebih santai.


#


#


#


Akhirnya pasangan pengantin baru ini melewatkan sarapan pagi mereka. Nathan meminta pelayan hotel membawakan sarapan mereka ke dalam kamar.


Nathan menghampiri Sheila yang msih terkulai lemas di atas ranjang. Satu jam permainan dan membuat tenaga Sheila habis terkuras. Namun nyatanya Nathan masih segar bugar karena sudah mendapat hadiah terindahnya.


"Apa masih sakit?" tanya Nathan.


Sheila mengangguk lemah.


"Ya sudah, makan dulu yuk! Aku suapi ya!"


Sheila kembali mengangguk. Meski tubuh dan bagian intinya terasa nyeri, namun kebahagiaan tak terkira kini ia rasakan.


"Aku sudah bilang pada mama dan papa jika kita akan seharian saja di kamar ini," ujar Nathan.


"Hah?!"


"Tenang saja! Aku akan membiarkanmu istirahat sejenak baru setelahnya kita memulai lagi."


Sheila memukul dada Nathan.


"Menyentuhmu sudah menjadi candu bagiku," bisik Nathan di telinga Sheila yang membuat tubuh gadis yang sudah tak perawan itu kembali meremang.


"Nate!" Wajah Sheila merona.


Nathan sangat suka melihat wajah istrinya yang tersipu malu. Tak ingin melewatkan hari yang indah ini, Nathan kembali meraih candunya dan membawa Sheila terbang ke nirwana kenikmatan tiada tara.


#bersambung...


*Hareudang scene gak full yaa😅😅


Nanti kalo udah buka puasa, lanjutkan yg seri extended, wkwkwkwk


*Happy nya lihat mereka 😍😍