My Culun CEO

My Culun CEO
#1 1 8



Keesokan harinya,


Vania membuka mata dan merasakan ada yang berbeda dengan kamarnya. Harusnya kamar yang ia tempati beraroma feminim. Tapi kini ia mencium aroma maskulin di sekitar tempatnya tidur.


Vania membuka mata dan melihat satu sosok yang kini sedang menatapnya.


"Tu-tuan Damian?" pekik Vania terkejut. Ia memperhatikan kain yang melekat di tubuhnya. Ia memakai piyama.


"Kau sudah bangun? Bagaimana kondisimu?" Damian meletakkan punggung tangannya di kening Vania.


"Sudah tidak demam. Baguslah!" ucapnya lagi.


Vania masih tidak mengerti kenapa ia bisa berada di kamar...


"Tuan, apa ini kamar Tuan?" tanya Vania polos.


Damian mengangguk. "Apa kau tidak ingat dengan yang terjadi kemarin?"


Vania mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi dengannya. Tangannya gemetar mengingat jika dirinya hampir saja tenggelam dan mati di lautan lepas. Ia juga ingat jika Damian adalah orang yang menolongnya.


"Sudah ingat?" tanya Damian.


Vania mengangguk. "Lalu, kenapa saya bisa ada disini? Kenapa Tuan tidak membawa saya kembali ke kamar kak Rizka?"


"Eh?" Damian terkejut karena Vania akan menanyakan hal seperti itu.


"Itu karena ... karena akan lebih aman jika kau ada bersamaku!"


Vania mencebik. "Percaya diri sekali!" lirih Vania.


"Lalu kau sendiri? Bagaimana kau bisa jatuh dari kapal? Apa ada yang berbuat jahat padamu?"


Vania menatap Damian. "Jika aku bicara apa dia akan percaya padaku? Apa dia tidak menganggapku hanya menjelekkan Sitta saja?" batin Vania mulai berperang.


"Kenapa diam? Katakan padaku!"


Baru kali ini Vania melihat sorot mata tajam Damian. Biasanya Damian bersikap ramah dan hangat.


Vania menggeleng. "Tidak! Aku tidak bisa bicara padanya. Akan terlalu rumit jika aku mengatakan yang sebenarnya. Apalagi aku tidak memiliki bukti."


"Vania! Aku bertanya padamu, kenapa hanya diam?"


"Aku terpeleset, Tuan! Iya! Aku kurang hati-hati makanya..." Vania menundukkan wajahnya. Ia tidak bisa berbohong. Dan ia takut Damian mengetahuinya.


"Kau jangan..."


Suara ketukan di pintu membuat Damian mengurungkan niat untuk menginterogasi Vania. Ia berjalan ke depan dan membuka pintu.


"Maaf, Tuan. Apa Vania sudah bangun?" Itu adalah Naina dan Harvey.


"Hmm, sudah. Masuklah! Dia masih ada di tempat tidur."


Naina masuk ke dalam kamar dan menemui Vania.


"Vania!" seru Naina.


"Kak Naina!" Vania tak kalah heboh. Naina langsung memeluk Vania.


"Bagaimana keadaanmu? Aku sangat mencemaskanmu!" ucap Naina dengan wajah sendu.


"Aku sudah baikan, Kak. Kak, bagaimana aku bisa ada di kamar tuan Damian?" tanya Vania berbisik.


Naina juga menjawab dengan berbisik. "Kau tahu, tuan Damian sempat berdebat dengan nona Rizka dan tuan Edo. Mereka menginginkan kamu dirawat di kamar nona Rizka saja. Tapi, tuan Damian bersikeras akan merawatmu. Dia sangat keras kepala. Maka dari itu, nona Rizka dan tuan Edo akhirnya mengalah. Karena mereka tahu seperti apa sifat tuan Damian."


Vania menutup mulutnya. "Astaga! Apa dia begitu posesif, Kak?"


Naina mengedikkan bahunya. "Entahlah. Tapi setelah kupikir-pikir, aku akan berpindah haluan untuk mendukung tuan Damian." Naina terkekeh pelan.


"Ish, kakak! Aku bahkan belum memutuskan apapun. Dan soal bang Edo ... aku hanya menganggapnya seperti kakakku. Dia mengingatkanku pada sosok kak Vicky." Wajah Vania berubah sendu.


"Aku tidak tahu seperti apa reaksi Vicky jika tahu kau mengalami hal seperti ini." Naina memeluk Vania.


Vania memejamkan matanya dan membalas pelukan Naina.


Sepeninggal Naina dan Harvey, Edo dan Rizka juga datang ke kamar Damian.


Pria itu sedikit kesal karena banyak sekali yang mengganggu kebersamaannya dengan Vania.


"Mau apa lagi kalian?" tanya Damian dingin.


"Damian! Jangan lupa jika Vania ada disini karena aku! Jadi aku berhak untuk tahu kondisi Vania!" tegas Rizka.


"Dia sudah baik-baik saja. Sebaiknya kalian pergi saja!" usir Damian.


"Damian!" Edo tidak terima dengan sikap Damian.


"Apa?! Kau tidak terima?" tanya Damian dengan gaya menantang.


"Apa hubunganmu dengan Vania?" tanya Edo geram.


"Dia adalah kekasihku!" tegas Damian.


"Kau tidak perlu tahu urusan pribadiku!"


Vania yang mendengar keributan segera keluar dari kamar. Ia melihat Damian sedang berdebat dengan Edo.


"Berhenti!" seru Vania.


Ketiga orang itu langsung menoleh kearah Vania.


"Vania!" pekik Rizka lalu menghampiri Vania.


"Kau tidak apa-apa?" tanya Rizka sambil memeriksa kondisi Vania.


"Aku baik-baik saja, Kak."


"Syukurlah. Damian! Aku akan membawa Vania kembali ke kamarku!" tegas Rizka.


"Eh? Dia adalah tanggung jawabku!" ucap Damian.


"Tidak! Aku bukan tanggung jawabmu, Tuan. Aku ingin kembali ke kamar kak Rizka saja," balas Vania.


"Heh?!" Damian tertegun.


"Baiklah, ayo!" Rizka memapah tubuh lemah Vania.


Vania melewati tubuh Damian yang masih memasang wajah memelasnya. Ia ingin Vania tetap disisinya hingga tiba di kota nanti.


"Vania..." panggil Damian.


"Sudahlah! Jangan mengganggunya! Aku yakin semua ini terjadi karena dirimu!" Edo menunjuk Damian.


"Apa maksudmu?!" Damian tak terima.


"Bang, sudahlah! Ayo pergi!" lerai Vania yang tak ingin melihat Edo dan Damian terus berdebat.


Damian menggeram kesal karena tak bisa menahan Vania tetap di sisinya.


#


#


Vania merebahkan tubuhnya keatas ranjang. Rasanya ia masih merasa lelah dan lemah.


"Kau istirahat dulu saja! Jangan pikirkan apapun. Akan kau pastikan untuk menemukan orang yang sudah mencelakaimu!" ucap Rizka.


"Hah?! Jangan, Kak!"


"Kenapa? Kau hampir saja terbunuh, Vania! Aku tidak akan membiarkan ada orang yang mengacau di depanku!"


"Tidak, Kak! Ini ... ini adalah kesalahanku sendiri. Benar! Aku tidak berbohong!" ucap Vania meyakinkan Rizka.


Rizka menatap Vania untuk mencari kebenaran di matanya. Rizka tahu Vania berbohong. Tapi ia tak berhak memaksa Vania untuk bicara jujur.


"Baiklah. Sekarang istirahatlah! Aku ada di luar jika kau membutuhkanku."


"Iya, Kak. Terima kasih."


Rizka keluar dari kamar Vania. Ia menemui Edo yang sedari tadi menunggu kabar dari Rizka.


"Bagaimana? Apa kau mendapat informasi siapa pelakunya?" tanya Edo penasaran.


Rizka menggeleng. "Vania tidak mau mengatakannya."


"Aku yakin ini pasti ulah wanita itu!" Edo mengepalkan tangannya.


"Jangan asal menuduh, Edo. Kita tidak punya bukti. Mungkin itulah yang Vania pikirkan. Dia tidak punya bukti untuk menjerat pelakunya."


Edo menghela napas kasar. "Apa di kapal mewah ini tidak ada kamera pengawas?"


Rizka menatap Edo jengah. Rasanya pria ini tidak mengerti juga apa yang dirinya katakan.


"Dengar! Ini adalah private party. Jadi aku meminta semua kamera pengawas di matikan. Mungkin ini adalah salahku. Tapi tidak ada yang mengira jika semua ini akan terjadi kan?"


Edo mengalah. Ia mengusap wajahnya.


"Boleh aku bertanya sesuatu padamu?"


Edo menatap Rizka. "Soal apa?"


"Kau dan Damian... Kalian sedang bertaruh untuk mendapatkan hati Vania?"


Edo tak suka dengan pertanyaan Rizka. "Apa kau pikir aku orang yang seperti itu?"


Rizka menyilangkan tangannya. "Entahlah. Aku tidak bisa menilai. Tapi, ini sangat unik karena kalian menyukai gadis yang sama. Dan bahkan gadis ini bukanlah gadis yang dibayangkan oleh penggemar kalian. Gadis ini adalah gadis biasa. Tapi dia istimewa. Aku tahu itu."


Edo terdiam. Ia hanya menatap Rizka sebagai jawaban. Biarlah orang-orang berkata apa tentang dirinya. Hatinya ... hanya dirinya saja yang tahu.


#bersambung