My Culun CEO

My Culun CEO
Persaingan Cinta



"Ada apa ini?" tanya Sheila polos.


Kedua pria dewasa ini seakan kembali menjadi anak kecil yang sedang berebut mainan. Menebarkan tatapan sengit dan tak ada yang mau mengalah.


"Aku yang akan mengantar Sheila ke kantor!" tegas Nathan dengan masih menatap Danny.


"Hah?!" Sheila masih tak paham dengan semua ini. Ia menghampiri kedua pria itu.


"Nate, kamu akan terlambat jika kamu mengantarku lebih dulu. Lagipula kak Danny sudah ada disini."


"Biarkan dia yang memilih, Tuan Nate!" sahut Danny masih dengan tatapan yang sama.


"Ayo, Kak!" Sheila beranjak pergi namun tangan Nathan mencekal tangan Sheila.


Sheila menatap Nathan yang seakan memohon padanya untuk jangan pergi.


"Nate, aku..."


Sheila tak bisa melanjutkan kalimatnya karena Nathan segera memotongnya. Ia memilih membungkam bibir Sheila yang sengaja dia lakukan di depan Danny.


Danny memalingkan wajahnya ketika adegan saling mengecap rasa itu berlangsung. Tangannya terkepal seakan ingin memukul apapun yang ada di depannya.


Sheila membulatkan matanya mendapat serangan mendadak dari Nathan. Ia mendorong dada Nathan pelan. Ia merasa tak enak hati pada Danny.


"Aku pergi ya..." pamit Sheila.


Nathan mengusap bibir Sheila kemudian mengangguk. Dengan berat hati ia melepaskan Sheila untuk berangkat bersama Danny.


#


#


#


Pagi telah berubah menjadi siang. Dan siang pun telah berlalu dan berganti sore. Sheila merapikan berkas-berkas yang ada di mejanya. Hari ini Sandra meneleponnya untuk bisa makan malam di rumah. Katanya ada hal yang ingin di bicarakan.


Sheila berpamitan pada Danny karena harus pulang lebih awal. Ia mengetuk pintu ruangan Danny dan masuk ke dalam.


"Aku antar ya!" tawar Danny.


"Tidak perlu!" sahut seseorang yang baru saja datang dengan mata menatap Danny sinis.


"Nathan? Kamu sudah datang?" Sheila cukup terkejut karena kekasihnya datang tepat waktu.


"Hmm, ayo kita pergi, Shei..." ajak Nathan.


"Kak, aku pulang duluan ya!" ucap Sheila dan diangguki oleh Danny.


Nathan memeluk pinggang Sheila posesif. Gadis itu ingin menolak, namun rasanya sia-sia saja. Prianya ini tidak suka dibantah.


Saat melewati beberapa karyawan, mereka berbisik-bisik melihat Sheila di bawa pergi oleh seseorang yang nampak mereka kenali.


"Kayak kenal. Pernah lihat dimana ya?" gumam seorang karyawati.


"Iya, kayaknya mukanya gak asing!" sahut karyawan lainnya.


Mobil sport Nathan telah terparkir di depan lobi gedung AJ Foods. Dengan manisnya Nathan membukakan pintu mobil untuk Sheila. Gadis itu tersenyum mendapat perhatian hangat dari Nathan setelah lama tidak bertemu.


Danny hanya diam melihat kepergian Sheila bersama Nathan. Ia berpikir sejenak.


"Dia tidak mau melepaskan Sheila. Tapi juga menyembunyikan wanita lain. Sebenarnya siapa gadis itu? Sepertinya aku harus mencari tahu soal itu," gumam Danny dalam hati.


#


#


#


Jam kantor pun usai, Danny keluar dari gedung AJ Foods dan menuju parkiran. Hari ini ia akan memastikan siapa gadis yang diantar Nathan kemarin.


Danny masih ingat jalan menuju rumah gadis itu. Kemarin Nathan mengantarnya ke sebuah komplek perumahan yang masih baru dan belum banyak ditinggali warga.


Nathan tiba di perumahan Celia saat hari telah berubah gelap. Danny memastikan terlebih dahulu mana rumah gadis yang kemarin.


Tidak banyak rumah yang lampunya menyala dan hanya ada satu yang berada paling pojok.


"Sepertinya yang ini!" Danny melihat sekeliling lalu kemudian mengetuk pintu rumah itu.


Sebuah sahutan terdengar dari dalam. Suara perempuan. Danny berharap semoga saja tebakannya tidak salah.


Gadis itu membuka pintu dengan senyum sumringah. "Niel..." sapanya yang membuat Danny mengernyitkan dahi.


Gadis itu bingung dengan kedatangan tamu yang tak dikenalnya.


"Maaf, cari siapa ya?" tanya gadis yang tak lain adalah Celia.


Danny mengulas senyumnya karena ternyata rumah yang ia datangi tidaklah salah.


"Maaf jika saya mengganggu waktumu. Kemarin aku melihat Nathan Avicenna mengantarmu kemari. Jadi, aku jadi penasaran dengan gadis yang diantarnya."


Celia mulai sedikit takut. "Siapa kamu?"


"Aku bukan siapa-siapa. Tapi aku hanya ingin mengingatkanmu saja. Jika kau bermain api, maka kau bisa terbakar. Kau tahu jika Nathan sudah bertunangan?"


Celia membulatkan mata. Ia memilih untuk tidak menjawab.


Danny memperhatikan ekspresi Celia. Ia tahu jika Celia sudah tahu soal status Nathan.


Danny tersenyum seringai. "Kalau begitu kau harus punya pertahanan yang bagus. Seorang tamu tidak akan masuk jika tuan rumah tidak mengizinkan."


"Niel adalah teman masa kecilku. Kami sudah berteman sejak kecil."


Danny mengangguk paham.


"Namaku Danny. Aku tidak ingin mencampuri urusan pribadimu, tapi aku hanya ingin memastikan jika gadis yang kucintai tidak terluka karenamu. Aku permisi! Maaf sudah mengganggu waktumu!"


Danny berbalik badan dan meninggalkan sejuta tanya bagi Celia. Gadis itu masih mematung didepan rumahnya.


#


#


#


Di kediaman keluarga Adi Jaya, dua keluarga tengah berkumpul untuk membicarakan tentang pernikahan Sheila dan Nathan. Kedua sejoli dudik bersebelahan dan mendengarkan setiap ide dari para orang tua.


Sheila menatap Nathan yang ada disampingnya. Tangan mereka saling bertautan dan mata mereka saling mengungkap rasa.


"Dari pada kita berdebat yang tidak jelas, sebaiknya kita tanyakan saja kepada yang mau menikah," usul Boy.


Sontak semua orang menatap Nathan dan Sheila. Yang ditatap malah saling tatap dengan raut wajah yang bingung.


"Ayo, Nate. Kapan kalian ingin menikah? Masa iya kalian ingin bersama tapi tidak ingin menikah?"


"Tentu saja aku ingin menikah, Kak." Nathan menatap sheila.


"Aku menunggu Sheila siap saja. Kapanpun dia siap, aku pasti akan siap!" tegas Nathan.


Sheila mengulas senyumnya. "Em, begini. Bukannya aku menolak untuk menikah, tapi aku baru saja bekerja di AJ Foods, jadi aku..."


"Tidak apa, Shei. Urusan pekerjaan kan kamu bisa lemparkan ke Danny," ucap Adi Jaya.


Nathan terlihat tidak suka ketika mendengar nama Danny. Sheila mengusap lengan Nathan. Ia berusaha menenangkan hati Nathan yang sepertinya mulai memanas.


#


#


#


Tiba di apartemennya, Nathan merebahkan tubuhnya ke sofa. Pertemuan dengan keluarga Adi Jaya semakin membuatnya marah dengan Danny. Ternyata Danny sangat dekat dengan keluarga itu.


Nathan meraih ponselnya dan melihat ada sebuah pesan disana. Sebuah pesan yang dikirimkan oleh nomor yang tidak dikenal.


Mata Nathan membulat sempurna membaca pesan itu. Tangannya terkepal dan bibirnya mengumpat.


"Tidak akan kubiarkan!" geram Nathan.


Keesokan paginya, Nathan berangkat lebih pagi dari biasanya. Ia sengaja menuju ke gedung AJ Foods lebih dulu sebelum pergi ke kantornya.


Nathan menunggu di parkiran basement gedung itu. Tangannya terkepal dan rahangnya mengeras.


Begitu mobil yang ia tunggu memasuki ruang parkir basement, Nathan segera turun dan berjalan dengan langkah tegap seakan siap menyerang. Matanya nyalang menatap dua orang yang baru saja keluar dari dalam mobil.


BUGH!


Satu pukulan Nathan daratkan di wajah pria yang tak lain adalah Danny. Tak hanya satu pukulan Nathan memukul Danny, ia mengulanginya lagi hingga membuat tubuh Danny terhuyung.


"Nathan!" Sheila memekik dan segera memegangi Nathan agar tidak menyerang Danny lagi.


"Ada apa denganmu, Nate? Kenapa memukul Kak Danny?" tanya Sheila.


Emosi Nathan yang masih meledak-ledak membuat Sheila segera membawa Nathan pergi dari sana. Sheila meminta Nathan masuk ke dalam mobilnya. Dan Sheila yang akan menyetir. Secepat kilat Sheila membawa mobil Nathan pergi dari area parkiran.


Sementara Danny masih meringis kesakitan dengan memegangi wajahnya.


"Gadis itu pasti sudah mengadu pada Nathan," batin Danny.


Danny bangkit dan berjalan terhuyung menuju lift dan menekan tombol dimana ruangannya berada.


Di sisi lain, Sheila membawa Nathan ke apartemen milik pria itu. Sheila juga sedikit kesal dengan Nathan karena sikapnya yang akhir-akhir ini terasa aneh.


"Sebenarnya ada apa denganmu? Kenapa akhir-akhir ini kau berbeda, Nate? Bisakah katakan padaku ada apa?" Sheila meminta dengan mata berkaca-kaca.


"Tolong jujurlah, Nate. Bukankah kita sepakat akan saling percaya? Apa kau tidak percaya padaku?"


Tangis Sheila kini pecah. Nathan segera mendekap gadis itu, namun Sheila menolak.


"Kumohon, Nate. Katakan sesuatu!" isak Sheila.


"Celia kembali, Shei. Gadis yang selama ini aku cari, dia ada disini," lirih Nathan.


"Apa...?" Sheila tertegun mendengar kejujuran Nathan.


#bersambung...


*Waaah apa yg akan terjadi selanjutnya dgn hubungan mereka?


Tunggu up nya sore nanti yaa genks 😘😘😘


Terima kasih