My Culun CEO

My Culun CEO
#178 - Kembali Pulang



"Giga! Kau dimana, Nak?" racau Sheila dalam tidurnya. Nathan segera menyadarkan Sheila untuk tetap tenang.


"Tuan Su!" Napas Sheila memburu. Sheila memeluk Nathan. "Apa kau sudah menemukan jejak putra kita?"


Nathan menggeleng. "Belum sayang. Tapi sebentar lagi kita pasti akan menemukannya."


Air mata Sheila kembali tumpah. "Cepat temukan putra kita! Aku merasa saat ini dia sedang dalam bahaya."


"Tenanglah! Aku sudah mengerahkan orang-orang terbaikku. Kau jangan cemas." Nathan memeluk Sheila dan mengusap punggungnya.


Hari sudah mulai berganti gelap ketika Giga dan Merlin berlari menghindari dua pria yang mengejarnya.


"Tolong berhenti dulu!" ucap Giga yang terlihat kelelahan.


"Kita tidak punya waktu untuk istirahat. Sebentar lagi kita tiba di kantor polisi terdekat. Ayo cepat!" ajak Merlin dengan masih menggenggam tangan Giga.


Giga hanya bisa pasrah. Ia tak menyangka jika gadis kecil yang menolongnya ini memiliki tenaga yang luar biasa.


Setelah berlari hingga menuju keramaian, barulah Merlin bisa bernapas lega.


"Nah, kita sudah sampai di keramaian kota. Aku yakin orang-orang itu tidak akan bisa menangkap kita," ucap Merlin dengan terengah.


Giga tak menyahut dan hanya mengatur napas saja.


"Aku akan beli minuman dulu. Kau tunggulah disini!" ucap Merlin.


"Kau punya uang?" tanya Giga sambil merogoh saku celananya.


"Ada! Kau tenang saja." Merlin pergi meninggalkan Giga sejenak. Ia membeli dua botol air mineral di warung kecil.


Tak lama Merlin kembali dengan membawa barang belanjaannya. Merlin memberikan satu botol untuk Giga. "Ini, minumlah dulu!" ucapnya.


"Terima kasih." Giga langsung meneguk habis sebotol air mineral.


"Sepertinya kita sudah aman. Sekarang ayo aku antar ke kantor polisi," ucap Merlin.


"Kantor polisi?" Giga bingung.


"Iya. Kau harus melaporkan semua ini kepada pihak berwajib. Begitu saja kau tidak tahu." kesal Merlin.


Giga menggeleng. Sebuah respon yang membuat Merlin bingung. Giga melihat sekelilingnya. Matanya terlihat buram karena tidak memakai kacamatanya.


"Tunggu! Aku tidak bisa melihat dengan jelas tanpa kacamataku," keluh Giga.


Merlin berpikir sejenak. Meski Giga sudah pernah melihat wajahnya, tapi kali ini ia tidak ingin Giga mengingat wajahnya lagi.


"Kita tidak punya waktu lagi. Ayo! Aku akan membawamu ke kantor polisi." Merlin kembali menggenggam tangan Giga dan menuntunnya.


Tak sampai sepuluh menit, mereka sudah tiba di depan halaman kantor polisi.


"Dengar, aku harap kau bisa memberi tahu pada pak polisi didalam dimana alamat atau nomor telepon orang tuamu. Aku hanya bisa membantumu sampai disini saja. Maaf atas perbuatan ayahku kepadamu," ucap Merlin.


"Tunggu! Kau belum memberitahu aku siapa namamu."


"Kau tidak perlu tahu siapa namaku. Sudah ya! Ini kacamatamu." Merlin meraih tangan Giga dan memberikan kacamatanya.


Giga mengambil sapu tangan dari sakunya dan membersihkan kacamatanya lalu memakainya. Giga melihat sekitarnya dan tak melihat Merlin ada disana.


"Dimana dia? Kenapa perginya cepat sekali?"


Giga menatap sekelilingnya. Dia benar-benar ada di depan kantor polisi. Beberapa orang berlalu lalang disana.


Entah kenapa Giga mulai berkeringat dingin. Pandangannya kembali kabur meski ia sudah memakai kacamatanya. Napasnya mulai terasa sesak.


"Tidak! Jangan tinggalkan aku sendiri! Aku takut!" gumam Giga yang matanya mulai berkaca-kaca.


"Bunda... Ayah... Kalian dimana?"


Tubuh Giga mulai terasa lemas. Kepalanya terasa berputar-putar. Giga terduduk lemas karena kakinya tak bisa lagi menopang tubuhnya.


"To...long...! Tolong aku...!"


Seorang petugas polisi menghampiri Giga. Pak polisi itu memanggil Giga namun bocah lelaki itu tidak menyahut.


Tubuh lemaahnya di bawa masuk ke kantor oleh petugas tadi.


#


#


#


Satu jam kemudian, Nathan dan Sheila datang ke kantor polisi yang menghubungi mereka. Ternyata Nathan memang sudah menghubungi pihak berwenang dan melaporkan mengenai hilangnya Nathan.


Pihak berwenang sudah memberi arahan untuk menyelidiki keberadaan Giga secara rahasia mengingat Giga adalah putra pewaris Avicenna Grup. Nathan tak ingin menghilangnya Giga membuat para pesaing bisnisnya memanfaatkan situasi ini.


Sheila yang melihat putranya sedang duduk terdiam segera memeluk bocah lelaki itu.


"Giga! Syukurlah kamu baik-baik saja, Nak." Sheila terisak dengan memeluk bocah itu. Nathan juga ikut bergabung dalam pelukan.


Anggota keluarga menyambut kedatangan Giga kembali ke rumah termasuk Mira dan putranya, Karel. Seorang tamu istimewa juga datang untuk menyambut Giga.


"Abang Giga!" Gadis kecil berkuncir dua itu langsung memeluk Giga.


"Aku kangen sama Abang. Apa abanh baik-baik saja?" celoteh Carissa yang masih memeluk Giga.


Carissa melepas pelukannya. Ia menatap Giga yang hanya diam tanpa merespon.


"Abang! Abang kenapa?" tanya Carissa hampir saja menangis.


"Carissa sayang, abang Giga pasti sedang lelah. Sebaiknya biarkan saja dulu abang istirahat ya!" ucap Sheila dengan lembut.


Carissa cemberut. Ia ingin melepas rindu dengan Giga, tapi pria kecil itu tak merespon dirinya. Akhirnya Carissa membiarkan Giga untuk beristirahat di kamarnya. Wajah gadis kecil itu di tekuk dan malah merengek kepada sang ayah.


"Maafkan Carissa ya, Kak Sheila."


"Tidak apa, Frey. Carissa kan dari kecil sangat dekat dengan Giga. Jadi wajar jika Carissa merindukannya. Biasanya kan mereka main bersama."


Ya, Carissa adalah putri dari Damian dan Freya. Sejak kecil mereka sudah dekat karena sering bertemu dalam beberapa acara bisnis ayah mereka. Giga yang lebih tua dua tahun dari Carissa menganggap jika gadis kecil seperti adiknya sendiri mengingat Giga adalah anak tunggal.


Carissa yang sedang bergelayut manja pada ayahnya dikejutkan dengan kedatangan Karel yang mengajaknya bermain.


"Kalau abang Giga tidak mau bermain dengan kamu, maka Bang Karel bersedia bermain denganmu. Ayo!" ajak Karel dengan sedikit membujuk.


Carissa menatap Damian seraya meminta pendapat.


"Mainlah dengan Abang Karel. Bukankah Abang Karel juga sama seperti bang Giga?" bujuk Damian.


"Emh, baiklah. Ayo Bang!" Carissa mulai luluh dan kini bermain bersama Karel.


Di tempat berbeda, Merlin baru saja kembali ke rumahnya dan melihat sang ayah tergeletak di lantai dengan wajah lebam.


"Bapak! Apa yang terjadi, Pak?" Merlin membantu Drajat untuk duduk.


"A-apa yang kau lakukan, Nak? Kenapa mereka jadi sangat marah?" tanya Drajat dengan terbata.


Merlin terdiam. Ia tahu tindakannya menolong Giga pasti berdampak buruk untuk ayahnya. Dan benar saja. Kedua orang yang berjaga tadi malah mendatangi Drajat dan memukulinya hingga babak belur. Uang yang sudah di terima Drajat juga ikut diambil kembali.


Merlin hanya bisa menghela napas kasar. "Pak..." panggil Merlin.


"Kenapa, Nak? Apa kau berhasil menyelamatkan bocah itu?" tanya Drajat.


Merlin mengangguk. "Aku membawanya ke kantor polisi."


"Apa?! Kantor polisi?"


"Bapak tenang saja! Aku tidak menampakkan wajahku di depan petugas. Aku hanya mengantarnya saja."


"Haaah! Kau membuat kita semakin susah saja, Nak."


Merlin merasa bersalah pada ayahnya. Ia membantu pria itu untuk duduk di kursi ruang tamu.


"Pak, kita kembali saja ke rumah kita di kampung. Bukankah kita masih punya rumah disana peninggalan Ibu? Untuk apa kita hidup disini tapi tidak tenang. Ayo, Pak! Kita pindah saja dari sini." Merlin mulai terisak.


Sungguh ia tak ingin hidup dalam ketidakpastian seperti ini. Ia lebih memilih tinggal di kampung dan hidup sederhana dengan mengandalkan alam.


"Pak, ayo Pak kita pindah dari sini," ucap Merlin dengan sesenggukan.


Tangan Drajat terulur dan mengusap kepala putrinya. "Baiklah. Mari kita kembali ke kampung saja."


#


#


#


Tiga hari kemudian,


Giga masih mengurung diri di kamarnya dan enggan untuk keluar. Bahkan ia sudah membolos sekolah selama hampir satu minggu lamanya.


Sheila mulai merasakan ada gelagat aneh dengan putranya. Ia takut jika mental putranya terganggu usai adegan penculikan itu.


Di sisi Nathan, ia ingin mengusut tuntas kasus ini dan menemukan siapa dalang dari semua ini. Namun ternyata Giga melarangnya. Bocah lelaki itu meminta ayahnya untuk menyudahi penyelidikan.


Sheila pun ikut membujuk Nathan untuk tidak perlu memperpanjang masalah ini. Sheila hanya berpikir jika kini putranya telah kembali dan ia sangat senang.


"Yang terpenting Giga pulang dengan selamat. Meskipun, aku merasa ada yang aneh dengannya." ucap Sheila.


"Haaah! Ya sudah. Aku bisa apa jika kalian sudah berkata begini." Nathan mencoel hidung Sheila.


"Apa kita perlu menghubungi dokter Liam? Kurasa ada yang ganjil dengan Giga." usul Sheila.


"Dia baru saja mengalami hal yang mengejutkan. Wajar saja jika dia masih syok. Kita biarkan saja dia menenangkan diri." Nathan memeluk Sheila dan membawa wanita itu masuk ke dalam kamar.


#bersambung