
Nathan terbangun dari tidurnya dan tidak mendapati sang istri ada disampingnya. Pastinya Sheila sudah bangun dan menemui kedua orang tuanya. Terka Nathan.
Tentu saja Sheila harus bersikap layaknya seorang istri sempurna yang bangun pagi meski lelah menderanya usai digempur oleh Nathan semalam.
Nathan segera bangun dari tempat tidur dan membersihkan diri terlebih dahulu. Tak butuh waktu lama Nathan keluar dari kamar mandi dengan kaus dan celana yang sudah disiapkan oleh Sheila sebelumnya.
Nathan juga tak bisa bersantai-santai ria karena ini adalah rumah mertuanya. Ia harus menunjukkan jika dirinya adalah suami yang baik untuk Sheila.
Nathan berjalan menuju ruang keluarga dimana Sheila dan kedua orang tuanya sedang ada disana. Langkah Nathan terhenti ketika sayup-sayup mendengar obrolan Sheila dengan kedua orang tuanya.
"Aku tidak bisa keluar dari perusahaan begitu saja, Pah. Aku sudah terikat kontrak dengan Ford Company." Itu adalah suara Sheila.
"Apapun keputusanmu, sebaiknya bicarakan dulu dengan suamimu. Kini restu kami berubah jadi restu suamimu. Jadi, nak Nathan lebih berhak memutuskan daripada kami," sahut Adi Jaya.
Sheila nampak menghela napasnya. "Iya, Pah. Aku akan bicara dengan Nathan soal ini. Mungkin menunggu kondisinya stabil dan..."
"Aku tidak melarangmu untuk bekerja, Shei..."
Sebuah suara yang menyahut membuat semua orang terbelalak kaget, tak terkecuali Sheila. Gadis itu menatap Nathan yang kini menghampirinya. Sheila sontak berdiri ketika Nathan mendekat.
"Nathan...?" lirih Sheila.
"Aku tidak akan menghalangimu menggapai impianmu. Apalagi ini mengenai bisnis keluarga."
Sheila diam menatap Nathan.
"Apapun yang kau lakukan selama itu adalah hal yang baik, aku akan mendukungmu," lanjut Nathan.
Tangan Nathan terulur lalu menelusup masuk membelai belakang leher Sheila. Ibu jarinya mengusap pipi Sheila dengan gerakan lembut.
Entah kenapa tatapan Nathan berbeda padanya. Sheila sedikit takut meski Nathan mengulas senyumnya. Sheila merasa senyum itu sangat berbeda dengan yang biasanya Nathan tunjukkan.
"Syukurlah Nak Nathan tidak keberatan bila Sheila tetap bekerja. Tapi, kau juga harus ingat jika kau punya tanggung jawab sebagai istri. Jika ada masalah berat terkait perusahaan, sebaiknya kau serahkan saja pada kakakmu atau Danny," nasihat Adi Jaya.
"Iya, Pah," jawab Sheila dengan menatap Nathan yang masih mengusap tengkuknya.
Tak terasa hari telah berganti petang, seharian ini Nathan menghabiskan waktu bersama dengan keluarga Sheila. Bercengkerama dengan Adi Jaya dan bercerita mengenai banyak hal.
Tiba saatnya Nathan membawa Sheila kembali ke rumah mereka. Nathan dan Sheila harus belajar mandiri untuk mengurus rumah tangga mereka sendiri.
Sheila berpamitan pada ayah dan ibunya. Ada rasa berat ketika harus berpisah lagi dengan mereka. Namun sebisa mungkin Sheila harus bisa bersabar untuk menghadapi Nathan.
Tak ada percakapan selama perjalanan menuju ke apartemen Nathan. Sheila sedikit terkejut karena ternyata mereka tidak menuju ke apartemen Nathan.
Nathan menghentikan mobilnya di sebuah rumah minimalis namun luas yang dikelilingi oleh beberapa penjaga di luarnya.
"Ayo, turun! Kita sudah sampai!" ucap Nathan.
Sheila turun dan memperhatikan rumah itu dengan seksama.
"Nate, ini rumah siapa?" tanya Sheila.
"Ini adalah rumah kita. Mulai sekarang kita akan tinggal disini. Apartemen yang kita tinggali itu adalah pemberian kak Boy. Tentu saja aku ingin memberimu rumah dari hasil keringatku sendiri. Dan inilah hasilnya!" jelas Nathan.
"Tapi, kenapa ada banyak sekali penjaga? Apa ini tidak berlebihan?"
"Tentu saja tidak! Kau tahu kan siapa aku? Aku seorang CEO Avicenna Grup. Aku punya banyak saingan dalam dunia bisnis. Setelah menikah aku harus melindungi istriku juga. Benar kan?"
Sheila nampak masih bingung dengan perubahan sikap Nathan. Tapi rasanya ia tak punya keberanian untuk protes.
"Ayo masuk!" Nathan meraih tangan Sheila dan menggenggamnya lembut.
Memasuki area depan rumah, mereka disambut oleh asiaten rumah tangga yang membukakan pintu.
"Selamat datang, Tuan dan Nyonya," sapa seorang wanita paruh baya bernama Idah.
"Shei, ini adalah Bi Idah. Dia yang akan membantu kita dalam mengurus rumah. Juga ada beberapa ada asisten yang lain. Hanya saja mereka sudah kusuruh pulang dan hanya Bi Idah saja yang menginap disini," tutur Nathan.
Sheila mengangguk paham. "Salam kenal, Bi. Saya Sheila."
"Ayo kita ke kamar utama!" Nathan kembali membawa Sheila ke sebuah kamar yang adalah kamar mereka.
Kamar utama sengaja Nathan buat berada dilantai bawah agar tidak kesulitan jika nanti Sheila hamil dan juga memiliki bayi. Nathan benar-benar memikirkan hingga kesana.
Sheila terperangah menatap kamar barunya yang pastinya lebih besar dari kamar mereka saat tinggal di apartemen.
"Bagaimana? Kau suka?" tanya Nathan sambil memeluk Sheila dari belakang.
"Aku sengaja membuat kamar yang luas agar kau nyaman tinggal disini. Kau terbiasa dengan kemewahan, tentu saja aku tidak bisa mengabaikan itu!"
"Nate, tapi ini..."
"Sudahlah! Jangan menolaknya. Semua barang-barangmu sudah dipindahkan kemari. Bahkan ruang gantinya kubuat terpisah agar kita memiliki privasi masing-masing."
Sheila memegang tangan Nathan yang melingkar di perutnya.
"Terima kasih, Tuan Su. Aku menyukai semuanya!" ucap Sheila.
Nathan mengecup ceruk leher Sheila dan membalikkan tubuh istrinya agar berhadapan dengannya.
"Sekarang kau istirahat saja! Aku akan ke lantai dua untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan. Ruang kerjaku ada di lantai atas."
Sheila mengangguk. Kemudian Nathan kembali memberikan sentuhan selama lima detik. Eh, namun ternyata lebih. Nathan tak sanggup melepas candunya. Tapi mengingat ada hal yang harus ia kerjakan, dengan terpaksa ia melepaskan Sheila.
"Jika kau sudah mengantuk, tidurlah lebih dulu. Tidak perlu menungguku!" Nathan mencium puncak kepala Sheila sebelum ia pergi.
Sheila mengatur napasnya. Entah kenapa hatinya amat berdebar mendapat perlakuan Nathan yang seakan protektif terhadap dirinya. Padahal baru seperti ini saja. Namun rasanya Sheila mulai kekurangan oksigen di sekitarnya.
Sheila memilih membersihkan diri lebih dulu lalu setelahnya ia merebahkan diri di ranjang empuk king size miliknya dan Nathan.
"Ah, nyamannya!" gumam Sheila sambil memejamkan matanya.
Pukul satu dini hari, Nathan kembali ke kamar dan melihat Sheila sudah terlelap dalam mimpi indahnya. Nathan membersihkan diri terlebih dahulu lalu ikut naik ke atas tempat tidur.
Nathan menarik tubuh Sheila agar mendekat padanya. Ia memeluk tubuh istrinya erat dan menciumi seluruh wajah Sheila. Senyum merekah ia tampakkan karena sangat bahagia dengan keadaan mereka sekarang.
Sheila merasa terusik karena Nathan terus menciuminya.
"Tuan Su..." gumam Sheila.
"Iya, sayang."
"Pekerjaanmu sudah selesai?"
"Sudah!"
"Kalau begitu tidurlah!"
"Hmm, tentu saja."
"Lepaskan pelukanmu!"
"Tidak mau!"
Nathan malah makin mengeratkan pelukannya.
"Ish, kau ini!" sungut Sheila masih dengan mata terpejam.
Sheila melepaskan diri dan tidur membelakangi Nathan. Lagi dan lagi Nathan malah memeluknya dari belakang.
"Selamat malam, istriku!" ucap Nathan di telinga Sheila. Ia menghirup aroma vanilla dari tubuh Sheila dalam-dalam lalu memejamkan mata karena dirinya juga sudah sangat lelah.
#bersambung
Jejak mana jejak? Jangan lupa kasih jempolnya ya kesayanganππ kasih kembang dan vote juga bole buanget πππ