My Culun CEO

My Culun CEO
#172 - Siapa Dalangnya?



Nathan berkumpul bersama dengan Boy dan juga kedua orang tuanya. Mereka masih saling diam setelah mengetahui fakta tentang Sheila yang ternyata menghilang dari dalam peti matinya.


Berlian menatap putra bungsunya dengan sendu. Ternyata apa yang Nathan rasakan memang benar. Firasat seorang suami yang sangat mencintai istrinya adalah benar.


"Sebaiknya kita lakukan penyelidikan ini secara sembunyi-sembunyi," ucap Roy memecah keheningan.


"Iya. Dan jangan sampai mbak Sandra tahu mengenai berita ini. Dia pasti akan sangat syok." Lian ikut menyahut.


"Aku akan meminta tolong pada FBI untuk menggeledah apartemenmu, Nate. Aku yakin kita bisa menemukan petunjuk disana," timpal Boy.


"Iya, Kak. Terima kasih karena kakak mau membantuku."


"Jangan bicara begitu. Kita adalah keluarga. Sudah sepantasnya kita saling menolong bukan?" Boy menepuk bahu Nathan kemudian berlalu karena harus menghubungi kawannya di luar negeri.


Nathan juga ikut berpamitan dan menuju ke kamar Baby G. Nathan membuka pintu dan melihat bocah lelaki berusia 2 tahun itu sedang bermain bersama pengasuhnya.


"Ayah janji ayah akan menemukan bundamu, Nak. Aku akan membalas perbuatan orang yang sudah melakukan ini pada keluarga kecilku!" Nathan mengepalkan tangan dengan sorot mata memerah.


Giga kecil menatap Nathan yang mendatangi kamarnya.


"Ayah!" Suara merdu khas milik Giga membuat Nathan tersadar.


"Hai sayang. Kau sedang bermain?"


"Iya, Ayah!"


Nathan menghampiri Giga dan memeluknya.


"Ayah... Dimana bunda?" Pertanyaan simpel itu membuat Nathan berkaca-kaca.


"Bunda sebentar lagi pasti akan pulang, sayang. Kau harus mendoakan bunda agar cepat kembali." Nathan kembali memeluk putranya dengan erat.


#


#


#


Beberapa anggota FBI mendatangi apartemen milik Nathan dan menggeledah tempat itu. Boy yang sangat penasaran akhirnya terbang ke Amerika bersama Nathan untuk mencari bukti-bukti yang mungkin saja ada disana.


Nathan menggeledah barang-barang pribadi milik Sheila yang ada di gudang maupun di kamar mereka. Apartemen itu memang sengaja belum di bereskan oleh Nathan karena saat itu mereka masih dalam suasana berkabung.


Nathan mencari tahu siapa tahu ada buku catatan atau buku harian yang ditulis oleh Sheila. Bahkan pakaian di lemari Sheila pun ikut ia geledah untuk mendapatkan barang secuil bukti.


"Tuan Boy!" seru seorang petugas memanggil Boy.


Nathan yang mendengarnya langsung bergegas menghampiri mereka.


"Ada apa?" tanya Nathan.


Boy menyerahkan banyak botol vitamin yang selama ini dikonsumsi oleh Sheila. Nathan mengambil salah satu botol. Nathan ingat jika semua vitamin ini di berikan oleh dokter yang menemui Sheila di rumah sakit.


"Ini ... adalah vitamin pemberian dari dokter itu. Dokternya papa Adi. Bukankah dia adalah teman lama kakak?" ucap Nathan.


Boy berpikir sejenak. "Maksudmu Ozzan? Dia yang memberikan vitamin ini untuk Sheila?" tanya Boy menyelidik.


"Iya." Nathan mengangguk.


"Coba cari apakah ada yang masih ada isinya?" tanya Boy.


Ternyata botol vitamin berjumlah puluhan itu sudah banyak yang kosong. Nathan tak ingin berpikiran buruk sebelum ada bukti nyata mengenai hal ini.


"Tuan, ini ada yang masih utuh!" seru seorang petugas.


"Berikan padaku! Kita akan uji coba apa saja kandungan yang ada di dalamnya!" ucap Boy meminta botol vitamin yang masih tersegel.


Nathan berperang dengan pikirannya. Berbagai hal buruk kini menggelayuti hatinya.


"Tidak mungkin kan Sheila selama ini meminum racun? Apakah dokter itu berniat jahat terhadapku dan Sheila?" batin Nathan mulai berkecamuk.


Satu jam kemudian,


Boy mendatangi Nathan yang sedang duduk termenung di sofa ruang tamu. Semua petugas yang membantu Boy sudah pergi dari sana karena penggeledahan telah usai.


"Nate!" panggil Boy.


"Kakak! Bagaimana, Kak?" tanya Nathan dengan raut wajah cemas.


#


#


#


Boy dan Nathan memutuskan kembali ke Indonesia. Setelah dua hari ada di Amerika dan melacak jejak Ozzan, ternyata dua kakak beradik ini tidak menemukan keberadaan pria itu disana. Menurut rekan kerjanya di rumah sakit, pria itu sudah mengundurkan diri dari rumah sakit sekitar tiga bulan lalu.


Nathan mulai merangkai puzzle yang selama ini tersembunyi. Pria bernama Ozzan memang sengaja mendekati Sheila untuk suatu tujuan. Entah itu asmara atau apapun.


Dan akhirnya membawa penyelidikan Boy kepada fakta jika sakit Adi Jaya selama ini adalah bagian dari rencana Ozzan. Nathan menggeram kesal karena masalah ini.


Emosinya tak bisa lagi tertahan karena ia ingin segera menemukan si brengsek Ozzan yang pastinya saat ini sedang bersama dengan Sheila. Nathan memegangi kepalanya. Sungguh ia tak menyangka ada orang yang sudah membuat rencana serapi ini untuk menghancurkannya.


"Aku harus menemukan orang brengsek ini segera!" ucap Nathan dengan berapi-api.


"Tenangkan dirimu, Nate. Bisa saja dia melukai Sheila jika kita bertindak gegabah."


"Tuan Boy benar! Kita harus berhati-hati dalam mengambil tindakan." Harvey yang sangat menghormati keluarga Avicenna, memutuskan ikut mencari jalan keluar untuk masalah yang sedang dihadapi Nathan.


#


#


#


Jari jemari lentik yang pucat itu mulai bergerak perlahan. Bola mata yang terus terpejam selama beberapa lama, akhirnya terbuka secara perlahan.


Seorang perawat yang sedang memeriksanya terpekik kaget ketika melihat mata bulat itu terbuka.


"Hah?! Tuan! Tuan!" Perawat itu keluar dari kamar dan memanggil tuannya.


"Tuan!" panggil perawat itu lagi.


"Ada apa? Kenapa kau berteriak?"


"Tu-tuan! Pa-pasien di kamar sudah siuman, Tuan," ucap perawat terbata.


"Apa?! Kau serius?" Sosok yang dipanggil 'tuan' itu segera masuk ke dalam kamar.


Matanya berbinar dan bibirnya mengulas senyum yang lebar.


"Sheila! Akhirnya kau bangun!" seru sosok itu dan merangkum wajah Sheila yang masih terbaring lemah.


Sheila mengerjapkan matanya perlahan. Ia mulai menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam matanya.


"Dokter Oz?" lirih Sheila yang mengenali siapa sosok di depannya.


"Yeah. Kau masih mengenaliku. Syukurlah!" Oz menggenggam tangan Sheila yang masih terlihat pucat dan mengecupnya.


"Kau tenang saja. Kau aman denganku!" ucapnya.


Sheila masih tak mengerti dengan apa yang terjadi. Tubuhnya masih terlalu lemah untuk mencerna apa yang terjadi. Bahkan untuk mengingat memorinya beberapa waktu lalu rasanya masih sulit.


Sheila mendengar suara debur ombak yang memasuki indera pendengarannya.


"Aku ada dimana?" tanya Sheila lirih.


"Kita ada di tempat yang jauh, sayang."


Sheila mengernyit. "Sayang...? Kenapa dokter...?"


"Sssttt! Jangan banyak bicara dulu!" Oz meletakkan jarinya di bibir Sheila.


"Kau masih lemah. Sebaiknya kau istirahat dulu. Aku akan menambah asupan gizimu agar kau cepat pulih."


Oz meminta perawat tadi untuk membawakan sebuah jarum suntik dan botol kecil yang berisi cairan yang diklaimnya sebagai vitamin. Oz menyuntikkan obat itu kedalam selang infus Sheila.


"Aw!" Sheila meringis kesakitan ketika obat yang disuntik mulai memasuki pembuluh darahnya.


"Dokter, apa yang kau lakukan padaku? Kenapa aku ada disini? Dimana suamiku?"


Wajah Oz yang hangat berubah menjadi sangat mengerikan di mata Sheila.


"Suami? Kau tidak memiliki suami, Sheila. Karena kau sudah meninggal."