My Culun CEO

My Culun CEO
#163 - Bersandarlah Padaku!



"Damian, aku ... ingin kau menemui orang tuaku. Mereka yang berhak atas diriku. Jadi, biarkan mereka yang memutuskan."


Sejenak Damian tertegun dengan jawaban Freya. Perasaannya sudah was-was dan tak karuan. Ditambah lagi Freya yang tidak menjawab langsung ke intinya.


"Damian!" panggil Freya pelan. Ia yang berganti khawatir karena Damian hanya diam.


"Eh? Apa ... maksudmu tadi? Apa itu artinya kau menerima lamaranku?" tanya Damian dengan wajah bingung.


"Ck, kau ini! Kita temui orang tuaku lalu minta restu pada mereka! Apa aku harus memperjelasnya seperti ini?" Wajah Freya memerah bak kepiting rebus karena harus menjelaskan sedetil mungkin kepada Damian.


Damian yang diam dan mendengarkan Freya dengan seksama akhirnya tersadar dan langsung memeluk gadis itu.


"Aku diterima!" serunya.


"Kyaaa!" Freya berteriak karena tiba-tiba Damian mengangkat tubuhnya.


"Aku mencintaimu, Freya!"


"Kau belum di terima, Dam. Kau masih berjuang untuk meyakinkan papa dan mamaku juga bang Edo."


Damian menurunkan tubuh Freya. "Benarkah? Tapi itu tadi..."


"Ish! Kau harus minta persetujuan mereka dulu untuk menikahiku."


"Haah! Aku yakin aku pasti diterima!" ucap Damian percaya diri.


"Iya, aku yakin mereka setuju." Freya merangkum wajah Damian dan memberinya sebuah kecupan singkat di bibir pria itu.


"Hei, kenapa hanya sekilas saja? Itu tidak terasa sama sekali!" Damian cemberut.


"Hahaha, kau akan mendapatkan lebih jika kau sudah mendapat restu!" tegas Freya yang membuat Damian makin cemberut.


"Frey! Sekali saja!" mohonnya.


"Tidak! Nanti akan kuberikan lebih jika kau sudah mendapat restu!"


"Wah wah wah, drama sudah berakhir nih!" Tiba-tiba Josh datang bersama Aisha. Ia bertepuk tangan karena akhirnya perjuangan Damian hampir menuju puncak.


"Huft! Kalian mengganggu saja!" sungut Damian.


Freya, Aisha dan Josh malah tertawa keras karena melihat kekesalan Damian.


#


#


#


Hari ini Damian dan Freya sudah berada di pesawat jet pribadi milik Ford Company untuk terbang menemui kedua orang tua Freya di Jerman. Lalu setelahnya mereka akan menemui ayah Damian di Paris. Sekaligus membawa Freya ke makam Joseph disana.


Freya melihat wajah Damian gugup dari pertama datang ke landasan tadi. Padahal kemarin ia sangat bersemangat untuk menemui kedua orang tua Freya.


"Kenapa? Kau baik-baik saja?" tanya Freya.


"Iya, aku hanya gugup. Ini adalah sebuah tahapan besar untuk hidupku. Dan aku akan memikul tanggung jawab untuk menjadi pendampingmu."


Freya terkekeh mendengar jawaban panjang Damian. "Kau ini! Eh, apa aku boleh bertanya satu hal?"


"Hmm, silakan."


"Masalah Yassar kemarin, apa kau yang sudah menyelesaikannya?"


Damian diam sejenak. Ia meraih tangan Freya dan mengecupnya.


"Frey, jika ada apa-apa kau bisa mengandalkanku. Maaf aku tidak mengatakan apapun padamu. Aku hanya ingin kau tidak terlibat dalam masalah yang besar. Orang-orang dunia bisnis itu tidak bisa kau tebak. Kadang mereka bisa jadi kawan, kadang mereka bisa jadi lawan. Kau masih awam dalam hal ini. Maka dari itu, bersandarlah padaku!" Damian menyandarkan kepala Freya di bahunya.


"Aku ingin selalu melihatmu tertawa. Mulai sekarang aku akan membantu dalam bisnismu," lanjutnya.


"Tapi..."


"Tidak ada tapi, Frey. Aku benci penolakan! Dan aku benci melihatmu menderita seperti kemarin."


Freya memeluk satu lengan Damian. "Jangan cemas! Aku baik-baik saja. Mungkin aku harus mengalami satu tahap itu dalam hidupku agar aku tahu jika aku memang sangat membutuhkanmu."


"Frey, boleh kutanya satu hal?"


"Apa?" Freya mendongak menatap wajah Damian yang menatap datar ke depan.


"Apa kau berkencan dengan pria lain selama kita berpisah?"


Freya menggeleng. "Aku tidak ada waktu untuk memikirkan hal itu."


"Lalu bagaimana dengan Vicky?"


"Eh? Bang Vicky? Aku hanya menganggapnya sebagai kakak saja. Aku senang dia kini sudah menjadi mandiri dengan usahanya. Dari mana kau tahu aku dekat dengan bang Vicky?"


"Ck, kau ini! Aku ... juga pernah datang ke Paris satu kali."


"Eh? Kapan itu? Kenapa aku tidak tahu?"


Freya mengedikkan bahunya. "Kau sudah menutup kedai surabimu saat itu."


Damian mengulurkan tangannya untuk memeluk Freya. Suasana menghangat ketika pesawat sudah lepas landas.


"Kakek mulai kembali sakit-sakitan. Dan aku tidak bisa mengurus kedai surabiku. Aku menutupnya dan aku membuka lagi di Indonesia."


"Kenapa memilih berjualan surabi?"


"Entahlah. Itu mengingatkanku pada memori masa kecilku bersama ibuku."


Freya mengusap dada Damian untuk memberi ketenangan pada pria itu.


"Apa kau sudah ingat memori masa lalumu?" tanya Damian.


"Belum. Aku masih belum bisa mengingat semuanya dengan jelas. Hanya kadang samar-samar saja. Kita akan membuat memori yang baru untuk kenangan kita."


Damian tersenyum. "Iya, kita akan membuat kenangan yang baru yang bisa kita kenang di masa nanti."


#


#


#


Setelah menempuh jarak puluhan ribu kilometer, akhirnya Damian dan Freya tiba di depan rumah kediaman Moremans. Sebelumnya Freya sudah menghubungi Liliana jika dirinya akan datang bersama Damian.


Liliana menyambut kedatangan keduanya dengan suka cinta. Ia memeluk putrinya dengan erat dan penuh kerinduan. Liliana selalu membujuk Freya agar mau pindah bersama mereka sejak dua tahun lalu. Liliana tidak tega melihat Freya yang berjuang untuk membangun perusahaannya sendiri.


Tapi dengan sifat keras kepala Freya, Liliana tidak pernah berhasil membujuknya.


"Kalian beristirahat saja dulu. Mama akan siapkan makan malam bersama Rizka," ucap Liliana.


"Hai, Frey. Damian!" sapa Rizka yang baru keluar dari kamar dengan perut yang membuncit.


"Kakak!" seru Freya dengan gembira. Ia memeluk Rizka meski sudah agak sulit.


"Akhirnya kalian kembali bersama. Setelah ini cepatlah menikah!" nasihat Rizka.


"Kau tenang saja! Kali ini aku tidak akan melepaskan Freya lagi!" tegas Damian.


Lalu terdengar suara gelak tawa dari ketiga orang disana terkecuali Freya. Ia hanya menunduk malu karena selalu menghindari Damian.


#


#


#


Makan malam kali ini terasa hangat dengan seluruh anggota keluarga yang berkumpul ditambah dengan kehadiran Damian sebagai calon anggota baru di keluarga Moremans. Canda tawa mengiringi makan malam mereka.


Tanpa berbasa basi lagi, Damian mengutarakan niatnya untuk segera menikahi Freya. Ia bahkan dengan sengaja mengatakan jika dirinya tak mau lagi membiarkan Freya pergi untuk ke sekian kalinya. Ia akan mengikat Freya dengan tali yang sangat kuat yaitu pernikahan.


Tentu saja keinginan Damian disambut baik oleh Laurent dan Liliana. Mereka juga ingin Freya segera menikah dan hidup bahagia bersama Damian.


"Tentu kami setuju, Nak Damian!" ucap Laurent.


Damian berbinar senang. Kini hatinya merasa lega. Ia menatap Freya yang terus menunduk karena malu. Sikapnya yang dulu egois, harus ia tepis sekarang demi kebahagiaan semua orang.


"Kurasa aku juga tidak punya pilihan lain selain menyetujuinya!" celetuk Edo yang membuat gelak tawa di ruangan itu.


Usai makan malam telah berakhir, semua orang kembali ke kamar masing-masing. Freya dan Damian memutuskan berjalan-jalan sebentar di taman dekat rumah. Suasana malam semakin syahdu karena ditemani bintang dan bulan yang bersinar dengan indah.


"Ah, leganya!" ucap Damian merentangkan tangannya.


"Sekarang tinggal menemui ayahmu," sahut Freya.


"Jonathan pasti setuju, Frey."


"Ish! Kau ini sangat tidak sopan!"


"Haha, maaf! Kau tenang saja. Aku sudah berdamai dengan ayahku."


Freya menghentikan langkahnya. Damian ikut berhenti.


"Ada apa?" tanya Damian bingung.


Tanpa permisi Freya menarik baju Damian dan membuat jarak mereka mulai menipis.


"Aku ingin menciummu!" ucap Freya lalu mendaratkan sebuah ciuman di bibir Damian.