
Edo mengantarkan Vania dengan selamat ke rumah milik Naina. Vania turun dari atas motor kemudian berterimakasih.
Ketika ia merogoh tasnya dan ingin memberikan uang sebagai bayaran, ternyata Edo telah lebih dulu pergi dengan motornya.
"Eh, Bang! Tunggu!" panggil Vania namun Edo terus melajukan motornya.
"Huft! Aku bahkan tidak bertanya siapa namanya! Oh ya, waktu itu kan aku pernah naik motornya. Aku cek saja nama di aplikasinya."
Vania mengecek aplikasi ojol di ponselnya dan mencari riwayat penggunaannya.
"Hmm? Namanya Edo? Singkat sekali. Baiklah, Bang Edo. Mungkin jika aku bertemu lagi denganmu, aku akan mentraktirmu makan, hehe."
"Vania!" panggil Naina yang ternyata sudah pulang.
"Eh, Kak Naina! Kakak sudah pulang?"
Vania menghampiri Naina dan masuk ke dalam rumah.
"Kamu dari mana saja? Aku menunggumu sejak tadi."
Vania membetulkan letak kacamatanya. "Maaf, Kak. Aku melakukan tes kerja hingga malam hari. Dan tidak sia-sia, aku di terima, Kak!" cerita Vania dengan mata berbinar.
"Hah?! Kamu serius?"
Vania mengangguk cepat. "Iya, Kak. Mulai besok aku bekerja di Ford Company!"
"Aaaa! Ini berita yang sangat menggembirakan!" Naina berjingkrak senang bersama Vania.
Sementara itu di tempat berbeda, Edo mengendarai motornya melaju pulang ke rumah. Hari ini sudah cukup ia menyamar sebagai abang ojol. Lagipula sudah pukul 11 malam. Ia harus mengistirahatkan tubuhnya karena besok harus kembali mengurus perusahaan.
Edo tiba di rumahnya dan disambut oleh sang mama.
"Sayang, kamu jadi abang ojol lagi ya?" sapa Liliana, Ibu Edo.
"Iya, Ma."
Liliana menggeleng pelan. "Jika papamu tahu soal ini. Maka..."
"Ma, papa pasti mengerti kenapa aku melakukan ini. Lagipula ini untuk perusahaan."
Lili menghela napas. "Hmm, ya sudah. Kamu sudah makan?"
"Sudah, Ma. Kalau begitu Edo masuk ke kamar dulu ya! Edo lelah!"
"Iya, sayang."
Liliana menatap putranya yang naik ke lantai dua dimana kamarnya berada. Edo segera membersihkan diri di kamar mandi.
Entah kenapa ada sedikit rasa sesal dalam hatinya karena harus kembali ke negara ibunya ini. Karena ia kemari maka ia kembali bertemu dengan Damian. Namun jika masih berada di luar negeri, ia akan terus terkenang dengan peristiwa lima tahun lalu.
Edo merebahkan tubuhnya diatas ranjang besarnya. Ia memejamkan mata dan bersiap menuju ke alam mimpi.
#
#
#
Pagi itu, Sheila menatap kartu nama milik Damian yang beberapa hari lalu ia berikan pada Sheila.
"Bagaimana cara memulainya?" Sheila menggigit kukunya seraya menimang nimang dengan apa yang akan dilakukannya.
Sheila meraih ponselnya dan menekan nomor ponsel Damian yang tertera di kartu namanya. Ia menunggu beberapa saat hingga...
"Halo!"
Suara di seberang membuat Sheila membulatkan mata. Itu adalah suara Damian.
"Ha-halo..." balas Sheila.
"Nona Sheila! Kaukah itu?"
"Ha? I-iya, Tuan Damian. Saya ingin membicarakan soal..."
"Baiklah! Temui saya di resto Alanis."
"Hah?!"
"Saya tunggu di jam makan siang!"
Panggilan berakhir. Damian memutuskan panggilan begitu saja.
"Ada apa dengannya? Kenapa memutuskan seenaknya sendiri?" gumam Sheila yang sedikit kesal.
"Kenapa Shei?" tanya Danny yang tiba-tiba masuk ke ruangan Sheila.
"Eh? Tidak ada apa-apa, Kak. Ada apa, Kak?"
Danny memberikan berkas kerjasama baru. Sheila melihat berkas itu dan membacanya.
"More Trans? Apa kakak yakin kita akan bekerjasama dengan mereka? Kok aku merasa ada yang aneh?"
Sheila menggaruk tengkuknya.
"Kamu baca saja dulu berkasnya. Aku dan Kak Rangga akan urus sisanya," ucap Danny kemudian berlalu.
Sheila mengangguk paham. Kemudian berjam-jam Sheila berkutat dengan pekerjaannya.
Sheila melirik jam tangannya dan ternyata sudah memasuki jam makan siang.
"Astaga! Aku sampai lupa waktu. Bagaimana ini?" gumam Sheila.
Tiba-tiba ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari Damian. Sheila tak bisa mengelak lagi. Mau tak mau ia harus menyelesaikan urusannya dengan Damian.
Sheila tiba di sebuah resto Prancis yang terkenal cukup mahal. Dengan ragu Sheila memasuki resto mewah itu.
"Selamat datang, Nona Sheila. Silakan masuk! Tuan Damian sudah menunggu Nona," ucap seorang pelayan menyambut Sheila ramah.
Sheila mengingat-ingat dimana ia pernah mendengar nama Damian Ford. Saat berjalan menuju ruang pribadi milik Damian, akhirnya Sheila ingat jika Damian Ford adalah pria yang dijodohkan dengan Rizka Hanggawan.
Sheila mengetuk pintu ruangan itu. Lalu muncullah sosok Damian dengan membawa sebuah buket bunga untuk Sheila.
Sheila cukup terkejut dengan kejutan yang diberikan Damian.
"Ini..." Sheila bingung.
"Ini untukmu, Nona Sheila," ucap Damian diiringi senyum manis mautnya. Setiap gadis yang mendapatkan senyum dari Damian, pasti akan meleleh.
"Emh, kurasa ini..." Sheila ingin sekali menolaknya.
"Terimalah!" pinta Damian.
Sheila menerima buket bunga itu dan berterimakasih. Sheila duduk berhadapan dengan Damian.
Entah kenapa Sheila merasa canggung dengan situasi makan siang ini. Bukankah mereka akan membahas soal ganti rugi kecelakaan yang terjadi beberapa waktu lalu?
Sheila menikmati makan siangnya lebih dulu lalu ia berencana akan bicara tentang mobil Damian.
"Emh, Tuan Damian, soal mobil Tuan..."
"Tidak perlu di bahas, Nona Sheila. Saya sudah melupakan kejadian itu."
"Eh? Tapi..."
"Makan siang ini adalah tanggung jawab Anda untuk menebus kecelakaan waktu itu," ucap Damian tenang dan lembut.
"Hah?! Tapi, Tuan..."
"Kenapa Nona terus membantah? Saya sudah melupakannya, jadi Anda juga harus melupakannya. Oh ya, karena kita sedang tidak dalam bekerja, sebaiknya kita bicara santai saja. Bagaimana?"
Sheila menelan ludahnya. Ia pun akhirnya mengangguk patuh.
Sheila mengakhiri makan siangnya karena harus kembali ke kantor. Damian menawarkan diri untuk mengantar Sheila, namun ia menolak. Sheila beralasan dirinya juga membawa mobil.
Damian mengantar Sheila hingga ke tempat parkir.
"Terima kasih, Tuan Damian. Saya..."
Dengan berani Damian mendaratkan jari telunjuknya di bibir Sheila.
"Saya yang harusnya berterimakasih."
Sheila tertegun sejenak kemudian masuk ke dalam mobilnya.
Sheila mengatur napasnya. "Ada apa sih dengannya? Dia benar-benar memiliki sisi lain yang aneh," gumam Sheila melirik buket bunga yang ada di sampingnya.
#
#
#
Malam harinya, Sheila pulang ke apartemen Nathan cukup terlambat. Menjadi wanita karir memang sangat membuatnya sibuk. Ia merasa bersalah karena beberapa hari ini jarang memasak untuk suaminya.
Sheila masuk ke kamar apartemennya namun keadaan sepi.
"Tuan Su!" panggil Sheila.
Sheila berjalan menuju kamar mereka.
PRANG!
Sheila terkejut mendengar benda pecah dari dalam kamarnya.
"Tuan Su!" seru Sheila dan langsung menghampiri Nathan.
"Hah?!" Sheila terkejut dan syok.
Suaminya itu sedang membanting barang-barang yang ada di meja rias milik Sheila.
"Tuan Su!"
"Pergi!" teriak Nathan.
"Tuan Su, ada apa?!" tanya Sheila panik dan menghampiri Nathan.
Dilihatnya mata Nathan memerah. Tatapannya begitu tajam kearah Sheila.
"Kau! Kau meninggalkanku!" teriak Nathan.
Sheila menggeleng. "Tidak! Apa yang kau..."
Kalimat Sheila terhenti. Nathan mencekik leher Sheila.
"Nate! Apa yang terjadi denganmu?!" ucap Sheila terbata. Air matanya luruh karena ia takut dengan sikap Nathan yang seakan berubah.
"Nate! Sadarlah!"
Dengan sisa-sisa tenaganya, Sheila meraih ponsel di sakunya dan menghubungi Boy. Beruntung nomor kontak Boy ada di daftar panggil cepat ponselnya.
Sheila memanggil nomor Boy namun tak bicara apapun. Ia meletakkan ponselnya dan malah berusaha menghalau Nathan yang semakin mengeratkan tangannya di leher Sheila.
"Nate!" teriak Sheila dengan mendorong tubuh Nathan.
#bersambung...
*Rekomendasi Novel dari makthor
👇👇👇👇