My Culun CEO

My Culun CEO
#1 2 7 - Cinta itu Rumit



Malam ini, Vania berdiam diri di kamarnya hingga waktu makan malam tiba. Ia segera menuju dapur untuk menyiapkan makan malam. Disana ia bertemu dengan Imah yang mengatakan jika Edo tidak akan makan malam. Pria itu akan bekerja hingga larut malam nanti.


Akhirnya Vania dan Imah memasak untuk mereka sendiri. Karena Liliana kini sudah memiliki perawat yang akan menjaganya. Sebenarnya Vania sangat senang bisa mengurus Liliana. Tapi entah kenapa Edo melarang Vania untuk merawat Liliana.


Usai makan malam bersama Imah, Vania kembali ke kamarnya. Di dalam kamar, ia merasa tak tenang karena memikirkan Edo yang sepertinya lebih banyak bekerja dan mengabaikan kesehatannya.


"Apa aku buatkan sesuatu untuk bang Edo? Sudah jam 8, palingan bang Edo udah gak mau makan. Aku buatkan sereal saja."


Vania kembali ke dapur dan membuat sereal dan juga susu. Ia membawa nampan dan menuju ke ruang kerja Edo.


Dengan ragu ia mengetuk pintu. Imah bilang jangan membuka pintu sebelum Edo yang membukanya. Edo punya peraturan sendiri untuk dirinya.


Vania menunggu beberapa saat hingga akhirnya Edo muncul dari balik pintu.


"Vania?"


"Maaf, Bang. Aku ganggu. Bi Imah bilang abang gak mau makan malam. Jadi, ini aku bawakan sereal dan susu untuk abang." ucap Vania sedikit takut karena melihat ekspresi Edo yang tak biasa.


"Masuklah!"


Vania tak menyangka jika Edo akan memperbolehkannya masuk. Vania berjalan pelan menuju meja kerja Edo.


"Taruh saja di meja!" perintah Edo.


Vania menatap meja kerja Edo yang nampak banyak berkas disana. Ia melirik sekilas ada sebuah foto seorang gadis kecil di atas meja.


"Itu pasti Freya!" batin Vania.


Vania menatap intens foto itu. Ia ingat jika Imah bilang hanya ada satu foto Freya yaitu di ruang kerja Edo.


"Vania, ada apa?" Tany Edo karena melihat Vania melamun.


"Hah?! Tidak apa, Bang. Silakan dimakan dulu, Bang."


Vania ingin beranjak dari sana namun rasanya enggan. Ia sangat penasaran dengan sosok gadis kecil di foto itu.


"Bang... Itu...?"


Vania menunjuk foto di atas meja. Edo mengikuti kemana jari Vania mengarah.


"Itu adalah Freya..." lirih Edo.


Vania terdiam. Ia merasa ada sesuatu dengan dirinya. Ia memegangi kepalanya yang terasa berdengung.


"Vania? Kau kenapa?" tanya Edo.


"Entahlah, Bang. Kepalaku tiba-tiba sakit."


"Kalau begitu aku antar ke kamarmu. Ayo!"


Edo memapah tubuh Vania hingga tiba di kamarnya.


"Sebaiknya kau istirahat saja."


"Iya, Bang. Terima kasih."


Edo keluar dari kamar Vania. Ia memikirkan sesuatu.


Edo kembali ke ruang kerjanya. Ia menatap foto Freya. Lalu beralih pada semangkuk sereal dan susu yang dibawakan Vania.


Edo meraih ponselnya. Sudah tiga hari sejak ia meminta untuk melakukan tes DNA terhadap Vania. Ia sudah mendapatkan hasilnya. Namun ia masih takut untuk mengetahui isinya.


"Apa sudah saatnya aku membuka semua ini? Jika Vania adalah Freya maka..."


Edo menggeleng. Ia sangat menyukai sosok Vania. Tapi jika takdir berkehendak lain, apa mau dikata?


Dengan menguatkan hati, Edo membuka hasil tes yang dikirim ke ponselnya. Tangannya gemetar saat membacanya.


Edo keluar dari ruang kerja dan menuju ke basement dimana koleksi motor dan mobilnya terparkir rapi disana. Edo mengambil kunci motor dan melajukannya keluar rumah.


#


#


#


"Minumlah dulu!" ucap Rizka.


Rizka cukup terkejut dengan kedatangan Edo yang tiba-tiba ke rumahnya. Rumah mereka memang tidak cukup jauh. Berada dalam lingkungan rumah mewah yang sama.


"Terima kasih." Edo menyeruput teh manis hangat yang di bawakan Rizka.


"Jadi, kau datang kesini hanya untuk minum teh?" sarkas Rizka.


"Maaf sudah mengganggumu. Aku hanya...sedang suntuk saja."


Rizka mencebik. "Bukannya kau terbiasa menyamar jadi abang ojol jika sedang suntuk?"


Rizka duduk di sebelah Edo. Ia melihat ada sesuatu yang terjadi dengan pria ini.


"Ada apa? Jika kau mau cerita, mungkin aku bisa bantu," ucap Rizka.


Rizka mencoba menjadi pendengar yang baik.


"Freya... Dia masih hidup."


Rizka membulatkan mata.


"Freya begitu dekat denganku. Tapi aku tidak menyadarinya dan malah memiliki rasa lebih terhadapnya."


Rizka masih tidak mengerti namun ia tetap mendengarkan.


"Vania adalah Freya, Riz..."


"Hah?! Apa?! Kau serius? Kau tidak bercanda kan?" Rizka ikut syok mendengar pengakuan Edo.


Edo memberikan ponselnya yang menampilkan layar hasil tes DNA antara dirinya dan Vania. Rizka juga tidak percaya dengan yang dibacanya.


"Ba-bagaimana bisa?" Rizka bertanya.


Edo menggeleng. "Mama yang pertama menyadarinya."


Rizka mengusap lengan Edo untuk menguatkannya.


"Harusnya kau senang karena adikmu telah kembali. Bersemangatlah! Aku tahu ini sulit. Tapi aku rasa kau adalah pria yang berhati besar, Edo."


Edo menatap Rizka yang kini mengulas senyum di depannya. Entah dorongan dari mana, Edo mulai mendekat hingga menciptakan sebuah kedekatan yang berbeda.


Edo menyentuh bibir Rizka dengan bibirnya. Mereka sama-sama larut dalam kesendirian.


Edo mulai mundur ketika ia menyadari apa yang baru saja ia lakukan. Edo terbawa suasana karena perhatian Rizka.


"Maaf..." Edo segera beranjak dari duduknya dan pergi begitu saja tanpa mengatakan apapun lagi.


Rizka memegangi dadanya yang terasa berdebar. Ia memegangi bibirnya yang sudah tak suci lagi karena Edo.


"Apa itu tadi?" gumam Rizka masih tak sadar.


#


#


#


"Aku pikir Tuan tidak akan berani datang kesini sebelum Tuan memenuhi janji Tuan pada kakek Joseph." Suara Celia membuyarkan lamunan Damian.


"Haaah! Hanya disini saja aku merasa nyaman." ucap Damian tidak bersemangat.


"Ada apa lagi, Tuan?"


"Entahlah, Celia. Cinta itu rumit. Aku sangat tidak bisa memahaminya. Ini pertama kalinya aku mengalami ini."


Celia hanya tersenyum simpul. "Apa aku boleh duduk disini?" tanya Celia seraya meminta izin.


"Ini adalah taman panti, tentu saja ini adalah milikmu."


"Terima kasih, Tuan." Celia duduk di samping Damian.


"Dulu aku juga tidak bisa memahami cinta. Aku terjebak dengan zona pertemanan yang aneh. Aku bertemu lagi dengannya setelah sekian tahun tapi dia ... sudah bersama orang lain."


"Wah! Kau sangat menyedihkan, Celia." ejek Damian.


"Cih, memangnya kau tidak menyedihkan, Tuan? Anda juga sama menyedihkannya."


Damian tersenyum getir. "Iya, kau benar. Tapi setidaknya kini kau memiliki seseorang di sisimu."


"Berjuanglah, Tuan! Aku yakin suatu saat Tuan pasti akan menemukan cinta Tuan sendiri. Buktikan jika Tuan benar-benar tulus mencintainya. Jangan menyerah meski dia menolak. Jika Tuan yakin dia adalah belahan jiwa Tuan, maka lanjutkan saja. Aku akan selalu mendukungmu, Tuan."


"Terima kasih, Celia. Kau adalah teman yang baik. Pasti teman masa kecilmu itu menyesal karena sudah memilih orang lain."


"Nathan tidak akan menyesal sudah memilih Sheila." celetuk Celia.


"Eh? Nathan? Maksudmu Nathan Avicenna yang itu?" Damian terbelalak tidak percaya.


Celia mengangguk.


"Wah, jadi kau punya kisah masa lalu dengan Nathan, huh!" Damian menggeleng.


Celia kembali manggut-manggut. Ia senang karena bisa menghibur Damian.


Di sela gelak tawa yang menggema di taman panti, ponsel Damian bergetar. Ada sebuah pesan masuk disana.


Dahi Damian berkerut. Sebuah pesan yang ternyata dikirim oleh Edo.


"Damian, aku akan merelakan Vania untukmu. Tapi aku tidak akan lengah untuk mengawasimu. Jika kau masih mau bertahan, maka lanjutkan. Tapi, siapkan hatimu untuk mengetahui fakta yang sebenarnya."


Damian tidak mengerti dengan pesan aneh yang dikirimkan Edo.


"Ada apa dengannya?" gumam Damian.