My Culun CEO

My Culun CEO
#192 - Skandal Receh Para Pewaris



Setelah idenya disetujui oleh para pemegang saham dan investor, Giga amat bersemangat untuk membuat rencana ke depan tentang proyeknya di Desa Selimut. Dengan dibantu Merlin, setiap hari Giga mengumpulkan informasi tentang desa yang terpencil itu.


Merlin cukup banyak membantu Giga dalam proyek ini. Hari ini Merlin kembali melakukan hal yang sama untuk membantu Giga.


"Video konferensi lagi?" tanya Nathan yang merasa jengah dengan sikap putranya. Ia ingin agar Giga benar-benar melakukan presentasi di depan semua orang agar lebih meyakinkan.


Namun apa mau dikata, Giga tidak akan mau dan mampu untuk bicara sambil ditatap belasan pasang mata yang menyorot padanya. Merlin kembali menyalakan layar proyektor yang menampilkan sosok Giga disana.


"Selamat pagi semuanya. Maaf jika saya harus melakukan video konferensi lagi. Tapi, jangan khawatir, presentasi kali ini pasti akan memuaskan kalian semua," ucap Giga dengan penuh rasa percaya diri.


Giga menjelaskan dengan sangat lancar tentang proyek yang akan dilakukannya nanti di desa Selimut. Merlin tersenyum bahagia karena merasa usahanya tidaklah sia-sia.


Hubungan Giga dan Merlin semakin dekat karena adanya proyek Desa Selimut ini. Setiap hari mereka mengumpulkan informasi mengenai desa yang masih menjunjung tinggi adat istiadat itu.


"Kau pasti bertanya-tanya kenapa aku ... tidak bisa melakukan presentasi di depan banyak orang."


"Eh?"


Entah kenapa kalimat Giga serasa menohok hati Merlin. Merlin tahu betul apa yang menyebabkan Giga mengalami trauma.


"Mari ikut denganku!"


Giga menarik tangan Merlin dan membawanya ke suatu tempat.


"Perpustakaan?" Merlin mengernyitkan dahinya.


"Benar. Kita akan cari tahu mengenai masalah yang menimpa kepirbadianku." Giga mencari buku-buku mengenai kondisi dirinya.


Bukan Giga tak menyadari trauma dalam dirinya, tapi Giga memilih untuk menutupinya dari siapapun termasuk ayah dan ibunya. Selama ini Nathan memang mengusahakan pengobatan yang terbaik untuk Giga.


Bisa dibilang Giga sendiri yang bersikeras jika dirinya sudahlah sembuh. Tapi itu semua hanya alibi untuk menutupi kondisi sebenarnya.


Kini Giga ingin jujur kepada Merlin karena gadis itu sudah banyak membantunya dalam pekerjaan.


"Gangguan panik?" gumam Merlin ketika Giga menyodorkan beberapa buku yang berhubungan dengan kondisi kejiwaannya.


"Benar. Aku merasa panik dan langsung gugup ketika aku berhadapan dengan banyak orang. Kejadian di masa lalu membuatku cukup terpuruk."


Merlin menelan ludahnya. Ia tahu kejadian apa yang menimpa Giga. Merlin merasa bersalah atas apa yang menimpa Giga.


"Tapi, bukan berarti aku tidak bisa sembuh. Aku yakin aku bisa sembuh."


Merlin yang sedari tadi menunduk, seketika mendongak menatap Giga.


"Tolong bantu aku untuk sembuh!" pinta Giga dengan mengembangkan senyumnya.


"Eh? A-aku? Tuan memintaku untuk..."


"Iya! Kau! Aku memilihmu, Merlinda!"


Sejenak mata mereka saling terkunci menatap satu sama lain. Debaran jantung yang tak terdengar oleh satu sama lain, terasa sedang berpacu memghadapi keheningan ini.


"Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan diriku, tapi ... kurasa mungkin aku menyukaimu."


Merlin membulatkan mata mendengar pernyataan Giga. Setelahnya mereka saling membuang muka. Giga sendiri salah tingkah karena Merlin hanya diam.


"Baiklah, kita kembali ke kantor!" ucap Giga kemudian berlalu.


Merlin hanya mengusap dadanya yang terasa berdetak aneh.


"Ada apa dengannya? Apa dia salah makan?" gumam Merlin lalu mengikuti langkah Giga.


#


#


#


Mira masih tak terima dengan krmenangan Giga. Kini semua investor benar-benar mendukung ide Giga dan membatalkan proyek milik Karel.


Mira murka terhadap putranya yang dianggap tidak becus mengalahkan Giga.


"Bukannya sudah mama bilang harusnya kau memperbaiki presentasimu di depan para pemegang saham dan investor. Kau tahu kan sudah berapa lama mama menunggu untuk ini?! Kau malah menghancurkan semuanya dalam sekejap!" Mira memegangi kepalanya.


"Maafkan aku, Ma..." Karel hanya menunduk dan meminta maaf.


"Maafmu sudah tidak berarti lagi sekarang! Mama tidak tahu lagi harus bagaimana untuk bisa menurunkan Giga dari jabatannya. Harusnya kau tahu itu! Kau yang berhak menerima semua itu! Bukan si culun itu!"


Mira berlalu dari ruangan Karel dengan wajah kesalnya. Sementara pemuda tampan itu hanya bisa tersenyum kecut dan menghela napasnya.


"Apa semua hal yang kulakukan untuk mama selama ini tidak ada artinya bagimu? Miris sekali nasibku ini!" gumam Karel yang merutuki nasib buruknya.


Seharian ini Karel berada di kantor tanpa mau keluar kemanapun. Bahkan ternyata jam kerjanya sudah habis, namun Karel memilih untuk berada di kantor.


Karel meregangkan otot-ototnya sejenak lalu keluar dari ruangannya. Keadaan kantor sudah sepi. Semua staf tentunya sudah pulang ke rumah masing-masing.


Saat hendak pergi, Karel melihat jika lampu ruangan Giga masih menyala. Karel pun menghampiri ruangan sepupunya itu.


Ternyata si pemilik ruangan tidak ada disana dan hanya ada asistennya saja yang ada disana.


Karel mengetuk pintu dan membuat Merlin sedikit terkejut.


"Kau kerja lembur?" tanya Karel.


"Ah iya, Tuan. Tuan sendiri kenapa belum pulang?"


"Aku sedang suntuk. Apa kau ... bisa menemaniku?"


Merlin tersenyum. Tentu saja dia setuju. Sejak awal Karel memang baik padanya. Dan Merlin ingin berterimakasih pada pria itu.


Merlin mengajak Karel ke beberapa tempat favorit yang di datanginya ketika sedang suntuk.


"Aku tidak bisa ada di klub malam, orang-orang akan bergosip tentangku."


Merlin kembali memberikan pilihan lain.


"Aku juga tidak bisa datang ke tempat karaoke."


Merlin tak kehabisan ide. Dia memberikan beberapa alternatif lain untuk Karel.


Merlin menarik tangan Karel dan membawanya ke sebuah toko aksesoris. Merlin memakaikan kacamata yang unik untuk Karel.


"Apakah bagus?" tanya Karel.


Merlin mengacungkan dua jempolnya.


"Baiklah, ayo! Kalau begini aku tidak akan begitu dikenali."


Merlin memutar bola matanya malas. "Sepertinya aku pernah mendengar semua kalimat tadi. Mirip siapa ya?!" gumam Merlin.


Akhirnya Karel setuju untuk menonton konser mini band indie di pusat kota. Mereka berjingkrak-jingkrak dengan gembira karena irama musik yang menghentak.


Karel bisa tertawa lepas dan melupakan sejenak masalahnya bersama sang ibunda. Merlin memang pandai mengatasi suasana hati orang lain.


Setelah puas menonton konser, mereka melanjutkan perjalanan menuju ke kedai kopi milik Resti. Malam sudah semakin larut dan mereka asyik mengobrol.


"Oh jadi ini, Karel sang malaikat?" goda Resti kepada Merlin.


"Hush! Apaan sih? Jangan dengarkan dia, Tuan. Dia memang suka ngelantur!" Merlin memelototi Resti.


"Silakan dinikmati, Tuan Malaikat." Resti tersenyum manis pada Karel.


Karel tersenyum manis menanggapi sikap Resti. Hingga akhirnya Karel berpamitan pulang karena waktu sudah melebihi pukul satu dini hari.


Mira yang sejak tadi menunggu putranya pulang akhirnya bisa bernapas lega ketika melihat Karel memasuki rumah.


"Karel sayang, akhirnya kau pulang juga, Nak. Mama sangat khawatir denganmu. Dari mana saja kau sampai pulang larut malam begini?"


"Bukan urusan mama! Bukankah selama ini mama tidak pernah peduli dengan kehidupanku? Mama hanya peduli soal perusahaan dan uang. Benar kan?"


"Karel! Maafkan mama, Nak. Mama tahu tadi mama terlalu emosi padamu, mama..."


"Sudahlah! Aku lelah! Aku mau istirahat!" Karel berlalu dari hadapan Mira.


Mira menatap sendu kearah putranya. "Bagaimana ini? Dia pasti marah padaku. Harusnya aku jangan terlalu keras padanya tadi."


#


#


#


Keesokan harinya,


Karel terbangun dari tidurnya dan mengingat bagaimana semalam dia menghabiskan waktu bersama Merlin. Ia menarik sudut bibirnya. Ia merasa jika Merlin sangat berbeda dengan gadis-gadis yang berusaha mendekatinya.


Bahkan sangat berbeda dengan Carissa yang berkelas atas. Merlin bisa membuatnya nyaman dan bisa membuatnya tertawa lepas tanpa beban.


"Dia gadis yang unik," gumam Karel kemudian bangun dari tempat tidur dan membersihkan diri di kamar mandi.


Tiba di kantor, Karel kembali bertemu dengan Merlin. Gadis itu menunduk hormat ketika berpapasan dengan Karel.


"Temanmu itu ... siapa namanya?" tanya Karel saat mereka berada dalam satu lift yang sama.


"Ah, Resti. Ada apa dengannya, Tuan?"


"Dia bilang kau menyebutku malaikat? Apakah itu benar?"


"Ah itu..." Merlin menggaruk tengkuknya. "Maaf ya, Tuan. Itu hanya..."


"Tidak apa. Aku menyukainya. Tapi alangkah baiknya jika kau hanya menganggapku sebagai manusia saja. Aku bukan malaikat, Merlinda. Aku juga bukan orang baik."


"Eh?!"


Karel langsung berlalu karena pintu lift telah terbuka. Merlin hanya menggeleng pelan dengan sikap Karel.


Tiba di depan meja kerjanya, beberapa pekerja sedang berbisik-bisik seraya menatap Merlin. Merlin hanya mencebik dan duduk di kursinya. Ia tidak mempedulikan ara karyawan lain yang sedang bergosip.


Saat jam istirahat, Merlin didatangi oleh Friska dan dua staf lainnya.


"Apa benar kau memiliki hubungan khusus dengan Tuan Giga?" tanya Friska ketus.


"Heh?! Aku?! Tidak! Tidak ada! Aku dan Tuan Giga tidak memiliki hubungan apapun. Kami hanya sebatas bos dan asisten saja!" Merlin melambaikan kedua tangannya.


"Tapi semua orang bergosip tentang kalian. Kau terlalu dekat dengannya."


"Ya ampun! Bukankah aku adalah asistennya? Tentu saja aku selalu mengikuti kemanapun dia pergi. Lagipula ini karena tuan Giga sedang memiliki proyek baru. Pastinya kami akan sangat sibuk, hehehe. Lagipula, aku tidak memandang Tuan Giga sebagai pria. Dia terlalu lemah untuk ukuran seorang pria. Banyak hal yang tidak bisa dia lakukan. Benar kan apa yang kukatakan?"


Ketiga staf perempuan yang suka kepo dengan kehidupan orang lain akhirnya pergi meninggalkan Merlin. Tanpa disadari oleh gadis itu jika sedari tadi Giga menguping pembicaraan mereka. Giga hanya tersenyum tipis mendengar jawaban Merlin.


Ketika Merlin memasuki ruangan Giga dan membawa berkas yang sudah di buatnya untuk keperluan proyek, Giga malah menatapnya tajam.


"Tuan, ini berkas tentang proyek desa Selimut." Merlin menyerahkan berkas diatas meja kerja Giga.


"Tuan, ada apa?"


Giga memicingkan mata menatap Merlin.


"Benarkah kau tidak menganggapku sebagai seorang pria?"


"Eh?!" Merlin membulatkan mata ketika Giga beranjak dari kursinya dan menghampirinya.


"Kau yakin dengan apa yang kau katakan?!"


Merlin melangkah mundur karena Giga terus melangkah maju.


"Tuan!" Merlin merasa terpojok karena kini Giga sudah menghimpitnya ke dinding.


"Apa kau yakin jika aku bukan seorang pria? Lalu apa yang kau rasakan ketika kita berada dalam jarak yang sangat dekat ini?"


Pertanyaan Giga membuat Merlin makin melotot. Ia tidak percaya jika apa yang dia katakan akan diketahui oleh Giga.


"Mundurlah, Tuan! Sebelum saya melakukan tindak kekerasan pada Tuan!" ucap Merlin dengan sungguh-sungguh.


B e r s a m b u n g