My Culun CEO

My Culun CEO
Kekasih Posesif



...Tak pernah bisa kumengerti jika memahami hati itu tak mudah, namun juga tak sulit....


...Harusnya sejak awal kuakui jika hatiku memang memilihnya. Itu butuh suatu keberanian untuk menguatkan hati....


...Hati sudah memberitahuku jika berada didekatnya adalah sesuatu yang kuinginkan...


...Hati sudah memberitahuku jika berada dalam dekapannya adalah hal yang sangat kurindukan...


...Terima kasih, wahai Hati......


...***...


-Rumah Sakit Avicenna-


Boy sedang memeriksa laporan rumah sakit ketika pintu ruangannya diketuk.


"Masuk!" Boy menjawab dengan sebuah sahutan.


Terlihat sosok Choky masuk dan memberi hormat.


"Tuan!"


"Hmm, ada kabar apa lagi?" tanya Boy.


"Saya sudah menemukan siapa yang mengirim pesan ke ponsel nona Sheila."


Boy mendengarkan dengan seksama.


"Ponsel yang digunakan adalah ponsel sekali pakai dan terdaftar dalam nomor daftar hitam dan cukup sulit untuk melacaknya. Tapi saya berhasil menemukan lokasinya berkat bantuan dari Tuan Fajri. Lokasinya ditemukan di sebuah rumah mewah atas nama David Hoffman."


"Marina! Sudah kuduga jika gadis itu ada dibalik ini semua. Baiklah, aku akan membahas ini dengan Nathan. Lalu, bagaimana dengan kedua orang itu?"


"Mereka sudah berbaikan, Tuan."


"Benarkah?" Boy berbinar senang.


Choky menyerahkan ponselnya pada Boy. Dokter tampan itu memutar video yang ada di ponsel Choky. Ia tersenyum gembira.


"Ah, akhirnya mereka kembali bersama. Aku harus segera memberitahu papa dan mama. Mereka pasti senang mendengar kabar ini."


*


*


*


Kembali pada Nathan dan Sheila,


Kini mereka sudah berada di mobil milik Nathan. Pria itu sedang mengatur napasnya usai melakukan lari siang tadi.


"Pak, ambilkan air mineral!" titah Nathan.


Agus menyerahkan sebotol air mineral pada Nathan.


"Nyalakan AC nya dengan suhu dingin!" perintah Nathan lagi.


Nathan menyandarkan tubuhnya pada sofa mobil.


"Jalan, Pak! Kita ke kantor saja! Aku akan minta orang itu untuk datang ke kantor saja!"


"Baik, Tuan."


Nathan meraih ponselnya dan menghubungi seseorang. Usai menelepon Nathan melirik kearah sampingnya yang terdapat Sheila disana.


Dilihatnya gadis itu mengernyit heran dengan tingkah Nathan.


"Sayang... Jangan melihatku seperti itu! Aku baru saja berlarian hanya untuk mengejarmu kemari." Nathan merapatkan tubuhnya dengan tubuh Sheila.


"Hei, jangan dekat-dekat! Tidak enak dilihat Pak Agus!" lirih Sheila.


Nathan terkekeh. "Pak Agus juga pernah muda. Dia pasti tahu bagaimana perasaanku saat ini. Dia bahkan menjadi saksi perjuanganku saat aku bolak balik menjadi Nathan dan Tarjo."


"Siapa suruh menyamar! Itu salahmu sendiri!" sungut Sheila.


"Sayang, aku kan sudah minta maaf. Jangan marah!" Tanpa malu Nathan memeluk Sheila erat.


"Ish, kau!"


"Biarkan begini sejenak! Aku sangat merindukanmu." Nathan membelai rambut panjang Sheila. Ia menghirup dalam-dalam aroma gadis yang dirindunya.


"Aku juga merindukanmu..." lirih Sheila. Ia juga mengeratkan tubuhnya ke tubuh Nathan. Tak peduli jika pria itu masih berkeringat karena ulahnya yang mengerjai Nathan.


Tiba di gedung Avicenna Grup, Nathan sengaja melewati lobi agar semua orang melihatnya bersama Sheila.


"Tunggu! Kenapa lewat lobi? Kenapa tidak dari basement saja?" cegah Sheila ketika Nathan memintanya turun dari mobil.


"Tidak! Aku tidak akan menutupi hubungan kita lagi. Aku ingin semua orang tahu jika Sheila Adi Putri adalah milikku!" tegas Nathan.


"Tapi..."


"Sudah! Tidak ada tapi! Ayo masuk!"


Nathan menggenggam tangan Sheila erat. Mereka berjalan melewati beberapa karyawan yang menatap heran dan bingung.


"Itu kan sekretaris Sheila! Kok bisa sama Tuan Nathan?"


Sheila terus menundukkan kepala karena sangat malu. Sementara Nathan dengan gaya cool-nya hanya melewati mereka yang berbisik-bisik.


Kehebohan yang terjadi di lobi tak luput dari perhatian seorang gadis yang sedari tadi menatap horor kearah Nathan dan Sheila. Siapa lagi kalau bukan Marina.


Tangan Marina mengepal kuat. Ia memang tak mengeluarkan satu katapun dari bibirnya seperti biasa. Namun melihat tatapannya saja sudah membuat orang bergidik ngeri. Akankah Marina yang dulu kembali lagi?


Tiba di ruangannya, Nathan meminta Sheila menunggu dan duduk di sofa, sementara dirinya harus mengganti setelannya karena tentu saja setelan yang tadi sudah berbau matahari dan tak layak dipakai untuk bertemu klien.


Tak butuh waktu lama, Nathan keluar dari kamar pribadinya dan membuat Sheila menelan ludah karena melihat ketampanan kekasih barunya itu. Nathan yang melihat itu segera menggoda Sheila.


"Sayang... Tunggulah disini ya! Jangan kemana-mana!"


"Jika kau ingin tidur, pakai saja kamar pribadiku. Bukankah kau sudah terbiasa tidur disana?" kerling Nathan dengan gaya menggoda.


"Iya, aku tahu." Sheila menunduk karena merasa malu.


"Aku tidak akan lama. Tetaplah disini!" Nathan mengangkat dagu Sheila.


Sentuhan lima detik akhirnya kembali. Sheila mengerjapkan matanya. Nathan mengusap pipi Sheila kemudian berlalu.


Gadis itu memegangi bibirnya. Terasa sudah lama sekali ia tak merasakan sentuhan seorang Nathan.


...💟💟💟...


Dua jam telah berlalu. Sheila mulai bosan hanya berada di ruangan Nathan tanpa melakukan apapun. Ia berjalan mondar mandir dan juga rebahan di ranjang Nathan.


"Kalau hanya jalan-jalan sekitaran kantor gak masalah kan ya? Masa iya dia mengurungku di ruangannya. Yang benar saja!" gumam Sheila kemudian memutuskan untuk keluar ruang kerja Nathan.


Sheila melihat ke kanan dan kiri. Tidak ada siapapun disana. Dengan santainya Sheila berjalan menyusuri ruangan demi ruangan yang belum pernah dia datangi. Dia baru bekerja sebentar di kantor ini dan harus kembali jadi pengangguran.


"Sheila!" Sebuah suara memanggil namanya.


"Oh, Kak Danny? Kakak ada disini?" Sheila berbinar senang karena bertemu dengan orang yang dikenalinya.


"Kamu ngapain disini?" Danny kaget karena melihat Sheila di kantor Avicenna Grup.


"Eh? Kakak sendiri ngapain?" Sheila malah balik bertanya.


"Aku baru saja rapat dengan Nathan menggantikan kak Rangga."


"Heh?! Jadi orang yang mau ditemui Nathan adalah kak Danny? Pantas saja dia menyuruhku untuk tetap di ruangannya," batin Sheila yang mulai paham kenapa Nathan bersikap posesif.


"Jadi... Kamu dan Nathan sudah..." Danny tak kuasa melanjutkan kalimatnya.


"Iya, Kak. Kami sudah berbaikan," jawab Sheila.


"Semoga kamu selalu bahagia ya!" ucap Danny sambil mengacak rambut Sheila.


"Ish, kakak! Rambutku jadi berantakan deh!" Sheila mengerucutkan bibirnya.


"Akhirnya adik kecilku sudah bisa menentukan pilihan, hmm?" Danny mencubit kedua pipi Sheila gemas.


"Kak! Ih sakit tahu!" Sheila memegangi kedua pipinya.


"Sheila!" Sebuah suara menggelegar membuat Sheila dan Danny berjingkat kaget. Ia menoleh ke sumber suara.


Itu adalah Nathan. Dia berjalan tegap kearah Sheila.


Gadis itu menelan ludahnya melihat tatapan dingin Nathan padanya.


"Aduh, mati aku! Dia pasti akan menghukumku!"


Sheila menutup matanya ketika Nathan semakin dekat dengannya.. Namun ternyata pria itu melakukan hal yang berbeda.


Nathan membawa Sheila dalam dekapannya. Sheila terkejut karena ternyata Nathan tidak marah.


"Akhirnya aku menemukanmu..." lirih Nathan dengan masih memeluk Sheila.


Sheila tersenyum dan membalas pelukan Nathan. Danny yang melihat pemandangan yang menyesakkan hatinya segera memalingkan wajahnya.


Nathan mengurai pelukannya. "Jangan pergi lagi tanpa sepengetahuanku!"


"Maaf..." lirih Sheila.


"Ehem, Shei!" Danny berdeham.


"Eh, kak Danny..." Sheila baru sadar jika masih ada Danny disana.


"Kalau begitu aku kembali ke kantor dulu. Kak Rangga pasti sudah menunggu. Mari Tuan Nathan!" pamit Danny.


"Hmm. Hati-hati ya! Untuk kontrak kerjasamanya akan kukirimkan nanti," balas Nathan.


"Kakak hati-hati ya!"


Danny mengangguk kemudian berlalu dari hadapan Sheila dan Nathan.


"Sudah! Tidak perlu sedih karena dia pergi," sarkas Nathan.


"Apaan sih? Kamu masih aja bersikap dingin sama kak Danny. Dia itu udah seperti..."


"Stop! Sudah berapa kali kamu bilang begitu? Aku tahu, Shei. Kamu anggap dia sebagai kakak. Tapi dia? Dia tidak menganggapmu sebagai adiknya, Shei. Apa kamu gak sadar?"


"Tapi kan aku tidak..."


"Jika kamu terus bersikap baik padanya, dia akan berpikir jika kamu memberinya kesempatan."


"Nate, aku rasa kamu terlalu berlebihan deh! Kak Danny bukan orang yang seperti itu."


"Kau ini! Bisa tidak jangan membantah? Aku bilang jangan keluar dan kau malah keluar! Kau harus dihukum!"


"Apa?!" Sheila tak terima.


Nathan menarik tubuh Sheila mendekat. "Eh, jangan macam-macam, Nate. Ini di kantor!"


"Biarkan saja! Ini adalah kantorku!"


"Ish, kau ini!" Sheila memukul dada Nathan pelan.


Tanpa bisa menolak perlakuan Nathan yang merangkum wajahnya, Sheila pasrah ketika pria itu memberikan sebuah ciuman yang lembut di bibirnya.


Dari kejauhan sepasang mata menyoroti mereka berdua yang sedang memadu kasih.


"Sialan! Jadi ternyata kalian sudah kembali bersama, huh! Dan siapa pria tadi? Sepertinya aku bisa memanfaatkan dia dalam situasi ini. Baiklah, permainan baru akan segera dimulai." Tangan Marina terkepal kuat dengan tatapan maut kearah Nathan dan Sheila.