My Culun CEO

My Culun CEO
Membuatku Galau



Hari masih terang namun pikiran yang berkecamuk menghantui Nathan. Sejak pertemuannya semalam dengan Celia membuat hatinya tidak tenang. Ia merasa jika ada hal yang disembunyikan oleh Celia dari dirinya. Padahal dulu mereka sangat terbuka dalam hal apapun.


Dering ponsel Nathan terus menggema di dalam mobil. Nathan sama sekali tak ada niat untuk menjawab panggilan itu. Namun semakin di abaikan, semakin kencang pula deringnya.


"ARGH! Siapa sih yang menelepon?" Nathan menepikan mobilnya.


Tertera nama Harvey di layar ponselnya. Nathan mengusap wajahnya. Ya, hari ini jadwalnya sangat sibuk dan tak ada waktu untuk mengurus yang lain. Akhirnya Nathan membelokkan mobilnya kembali ke gedung Avicenna Grup.


"Aku akan menemui Celia nanti malam saja," putus Nathan.


#


#


#


Sheila tiba di kafe milik Cecilia. Ia menggantikan kasir kafe yang sedang cuti melahirkan. Sedari tadi fokusnya adalah pada sikap Nathan yang tiba-tiba aneh terhadap dirinya.


"Sebenarnya ada masalah apa dengannya? Jika masalah pekerjaan saja, aku rasa dia bisa menghalaunya. Bukankah setiap hari tekanan pekerjaannya sangat berat? Kenapa baru sekarang dia bersikap aneh?" Sheila bermain-main dengan pikirannya.


"Shei!" tegur Cecil yang melihat Sheila melamun.


"Heh?! Ada apa, Kak?" tanya Sheila tanpa rasa bersalah.


"Itu! Ada pelanggan mau bayar!" ucap Cecil.


"Oh, iya, Mbak silakan. Dengan meja nomor berapa?" tanya Sheila.


Cecilia menggeleng pelan melihat tingkah adik iparnya. Sepertinya ada hal yang tidak beres lagi dengannya, pikir Cecilia.


Setelah pelanggan membayar tagihannya, Cecilia menghampiri Sheila. Ia bertanya pada gadis itu.


"Shei, ada apa? Tumben kamu gak fokus kerjanya!" ucap Cecilia.


"Hah?! Masa sih, Kak?! Ah, mungkin karena aku kepikiran soal kerja di AJ Foods kali ya." Sheila meringis sambil menggaruk tengkuknya.


"Kamu sudah bicara dengan Nathan?" tanya Cecilia.


Sheila menggeleng. "Kurasa aku tidak perlu melibatkan dia dalam hal ini. Lagipula dia juga sudah sibuk dengan pekerjaannya, Kak. Mana mungkin aku membebani dia dengan masalahku."


Cecilia menghela napas. "Lalu apa keputusanmu?"


"Menurut kakak apa aku mampu melakukan ini?" tanya Sheila.


"Hmm, itu semua tergantung kamu, Shei. Semua pekerjaan jika kamu lakukan dengan hati, maka hasilnya juga akan bagus. Pikirkan saja dulu dengan baik! Apa papa dan mama mendukungmu?"


"Papa sih dukung-dukung aja, Kak. Hanya mama yang agak keberatan. Mama bilang sebaiknya aku jadi ibu rumah tangga saja setelah menikah."


Cecilia tersenyum. Kamu yang akan menjalani, maka kamu juga yang harus memutuskannya. Jangan terlalu membebani dirimu. Lakukan saja apa yang dikatakan hatimu. Oke?"


Sheila balas tersenyum. "Iya, Kak. Terima kasih atas masukannya."


Di tempat berbeda, Nathan sedang mengadakan rapat bersama dengan kliennya. Matanya menatap ke layar dimana seseorang sedang melakukan presentasi disana. Namun fokusnya tidaklah bersama dengan orang-orang di ruang rapat.


"Kenapa Celia datang disaat aku sudah ingin melangkah jauh bersama Sheila? Tuhan! Ujian apa lagi ini? Dulu saat aku mencari Celia, Kau bahkan tidak memberiku sedikit petunjuk saja dimana dia. Kau malah mengirimkan gadis lain yang membuat duniaku jungkir balik menjadi Nathan dan Tarjo. Setelah semua hal yang terjadi, kenapa Kau hadirkan dia kembali?" Nathan membatin.


"Tuan!" panggil Harvey.


"Hm, ada apa?"


"Rapatnya sudah selesai, Tuan," ucap Harvey sedikit ragu. Ia takut Nathan marah karena membuyarkan lamunannya.


"Heh?! Sudah selesai?" Nathan terbelalak kaget. "Lalu bagaimana dengan klien kita?" tanya Nathan yang membuat Harvey makin bingung.


"Em, bukankah sedari tadi tuan Nathan memperhatikan layar proyektor, kenapa dia malah bertanya?" batin Harvey.


"Karena Tuan tak juga memberi keputusan, maka saya meminta mereka menunggu hingga besok pagi."


"Ah, begitu ya. Baiklah. Kalau begitu aku akan kembali ke ruanganku!" balas Nathan enteng.


Hubungannya dengan sudah mulai nampak ada perkembangan. Meski Naina masih bersikap ketus padanya, namun Harvey tidak akan menyerah.


Harvey : "Na, tolong kamu cek kondisi Sheila. Apakah dia baik-baik saja atau tidak!"


Naina: "Memangnya ada apa dengan mereka?"


Harvey: "Entahlah. Sepertinya ada sesuatu yang terjadi dengan mereka."


Naina: "Baiklah. Akan ku temui Sheila setelah pulang kerja."


Harvey: "Apa perlu kuantar?"


Naina: "Tidak perlu!"


Dan setelahnya tak ada percakapan lagi diantara mereka. Harvey menghela napasnya.


"Ternyata mengejar seorang gadis itu tidak semudah mendapatkan klien baru."


#


#


#


Sheila meminta Danny menemuimya di kafe milik Cecilia sepulang dia bekerja. Pukul lima sore, Danny datang ke kafe Cecil. Ia menyapa mantan atasannya itu lalu menemui Sheila yang sedang menghitung uang di kasir.


"Hai, Shei. Tumben kamu hubungi aku."


Sudah cukup lama Sheila tidak menghubungi Danny. Lebih tepatnya setelah kejadian pindahan rumah waktu itu dan kejujuran hati yang Danny ungkapkan pada Sheila.


"Maaf jika aku mengganggu waktu kakak." Sheila menyimpan uang dalam brankas kasir.


Ia keluar dari ruang kasir dan meminta Danny untuk duduk. Mereka duduk berhadapan.


"Ada apa?" tanya Danny yang melihat raut wajah berbeda dari Sheila.


"Em, aku...aku ingin mulai bekerja di AJ Foods. Kira-kira kapan aku bisa memulainya?"


Danny berbinar senang. "Kamu serius?"


Sheila mengangguk. "Tentu saja. Tidak mungkin kan aku terus-terusan membantu di kafe ini," ucap Sheila dengan tersenyum aneh.


"Baiklah. Aku akan siapkan semuanya. Tapi..."


"Tapi apa, Kak?" tanya Sheila yang harap-harap cemas.


"Apa kamu sudah meminta izin pada Nathan?"


Sheila terdiam. Sungguh saat ini ia tidak ingin memikirkan pria itu.


"Kami belum menikah, Kak. Untuk apa aku harus terfokus padanya. Iya kan?" Sheila tersenyum aneh lagi.


"Baiklah jika itu keputusanmu." Danny tak ingin bertanya lebih lanjut pada Sheila. Meski ia tahu sepertinya ada sesuatu yang Sheila sembunyikan darinya.


#bersambung...


*Jangan lupa tinggalkan jejak ya kesayangan...😘😘😘


Mampir juga ke karya ongoing lainnya 👇👇👇👇