My Culun CEO

My Culun CEO
Menginap Lagi



Di dalam toilet Nathan membasuh wajahnya dengan air. Ia menatap bayangannya di cermin wastafel. Apa yang sudah terjadi antara dia dan Celia membuatnya menyesal.


Entah apa yang Nathan rasakan sekarang pada Celia. Dia memang mencari Celia. Tapi itu dulu. Dulu sebelum dia memiliki hati untuk gadis lain. Akankah sekarang kembali berubah?


Sementara itu di ruang tamu, Celia masih mematung setelah jantungnya berdebar tak beraturan karena perlakuan hangat Nathan padanya. Ditambah dengan memberinya sebuah tempat tinggal baru yang akan menjadi awal untuk kehidupan barunya.


Suara getar ponsel Nathan membuyarkan lamunan Celia. Nathan meletakkan ponselnya di meja sebelum pergi ke toilet.


Karena penasaran, Celia melirik siapa yang menghubungi Nathan di jam-jam santai seperti ini. Mata Celia membulat ketika melihat foto profil seorang wanita cantik terpampang dilayar. Dan yang lebih membuatnya terkejut adalah ketika melihat nama yang diberikan Nathan untuk si pemanggil.



"Calon Istri...?" gumam Celia.


"Jadi, Niel sudah memiliki kekasih? Dia sangat cantik," batin Celia.


Getar itu terhenti karena panggilan tak juga dijawab. Namun tak lama ponsel kembali bergetar. Dengan ragu, Celia mengambil ponsel itu.


Celia menimang-nimang apakah harus menjawabnya atau tidak.


"Bagaimana ini?" batin Celia berkecamuk. Entah kenapa mengetahui Nathan telah memiliki kekasih, hatinya merasa cemburu. Ia sedikit kecewa dengan Nathan.


Sibuk dengan pemikirannya sendiri, Celia tak menyadari jika Nathan telah berdiri di depannya.


"Apa ada yang menghubungi ponselku?" tanya Nathan yang membuat Celia tersadar.


"Ah, iya. Ini! Dari tadi menghubungi terus." Celia menyerahkan ponsel Nathan.


Nathan menatap layar ponselnya dan tersenyum. Ia sedikit menjauh dari Celia dan menjawab panggilan dari Sheila.


"Halo, Shei..."


".........."


"Oh, baiklah. Aku akan segera kesana. Sampai jumpa!"


Nathan mengakhiri panggilannya. Ia kembali menghampiri Celia.


"Maaf, aku harus pergi."


Celia mengangguk. "Dia..."


"Namanya Sheila. Dia tunanganku. Kalau begitu aku permisi. Istirahatlah, Celia."


Nathan berbalik badan dan pergi meninggalkan rumah baru Celia. Gadis itu masih mematung di depan pintu meski mobil Nathan sudah tidak terlihat.


"Jika kamu sudah memiliki tunangan, kenapa kamu begitu baik padaku? Apa maksud kebaikanmu itu, Niel?"


Celia masuk kedalam rumahnya dengan perasaan sedih. Dia pikir selamanya posisi dirinya tidak akan pernah tergeser oleh siapapun di hati Nathan, tapi nyatanya Nathan sudah memilih wanita lain untuk menjadi pendamping hidupnya. Celia salah menduga.


#


#


#


Tiba di apartemennya, Nathan dikejutkan dengan kehadiran Sheila yang sudah tertidur diatas sofa. Ia tersenyum melihat gadis yang beberapa waktu ini tak ditemuinya. Ehem, karena kesibukan ya! Bukan karena yang lain, hihi.


Saat menelepon tadi, Nathan meminta Sheila untuk masuk saja ke apartemennya. Ia juga memberitahu kode kunci kamarnya pada Sheila.


Nathan membersihkan diri terlebih dahulu kemudian mengangkat tubuh Sheila agar tidur didalam kamar. Merasa sedikit ada pergeseran, Sheila pun membuka matanya.


"Nate...? Kau sudah datang?" gumam Sheila.


"Huum. Tidurlah lagi. Aku akan tidur di kamar tamu."


Sheila mengangguk kemudian kembali memejamkan mata. Sebelum keluar dari kamar, Nathan mengecup kening Sheila dalam. Ia merindukan sosok gadisnya.


Keesokan harinya, Sheila membuka mata karena merasakan sesuatu yang berat melingkar di pinggangnya. Sheila merasakan hembusan napas yang begitu dekat dengan tengkuknya. Sheila membalikkan badannya perlahan dan melihat Nathan ada disampingnya.


"Bukannya semalam ia bilang mau tidur di kamar tamu. Kenapa malah tidur disini?" batin Sheila berbunga melihat wajah sang kekasih ada di depannya.


Tangan Sheila terulur merangkum wajah Nathan. Pria itu masih terpejam, membuat Sheila ingin berbuat jahil padanya. Jari lentik Sheila sengaja ia mainkan menelusuri tiap lekuk wajah Nathan.


Sheila tersenyum geli setelah melakukannya. Matanya tertuju pada dua lembar daging lunak yang selalu menyentuhnya dengan lembut.


"Astaga! Mikir apa kamu, Shei? Pagi-pagi otakmu sudah kotor!" Sheila menutup matanya mencoba menghalau segala pikiran negatif.


"Selamat pagi!" Sebuah suara serak membuat Sheila membuka matanya.


CUP


Satu kecupan mendarat sempurna di bibir Sheila. Wajah gadis itu merona.


"Ish, kamu!" Sheila menutup wajahnya dengan tangan.


"Kenapa? Aku hanya menyapa kekasihku, hmm!"


"Aku malu! Aku baru bangun tidur dan aku pasti jelek!"


Nathan tertawa. "Kamu ini!" Nathan mendekap Sheila yang masih menutupi wajahnya.


"Kenapa kamu tidur disini? Bukannya kamu bilang mau tidur di kamar tamu?" tanya Sheila.


"Huum, tadinya begitu. Tapi entahlah aku tetap ingin disini!"


Sheila membuka wajahnya yang ditutup tangan.


"Shei..."


"Hmm..."


Sheila mengernyit.


"Apapun yang orang katakan tentangku, aku mohon kamu percaya padaku."


Sheila merasa ada yang tidak beres dengan Nathan. Ingin mendesaknya untuk bicara, tapi takut jika akan merusak suasana.


Sheila mengangguk sebagai jawaban. "Kamu juga percaya padaku kan?" tanya Sheila balik.


"Iya. Aku percaya padamu."


"Jadi, jangan lagi marahan dengan kak Danny. Oke?"


Wajah Nathan berubah sedikit kesal. Entah kenapa ketika mendengar nama Danny hatinya mendidih.


"Jika kamu memintaku untuk percaya padamu, maka kamu juga harus percaya denganku. Oke?"


Nathan mengangguk.


"Kemarin kak Danny yang mengantarku kesini. Nanti dia juga akan menjemputku kesini."


"Shei!" protes Nathan.


"Kamu harus percaya padaku, Nate." Sheila bangun dari tempat tidur dan langsung menuju kamar mandi.


"Aku pinjam kamar mandimu ya!" seru Sheila ketika berada diambang pintu kamar mandi.


#


#


#


Tiga puluh menit kemudian, Sheila baru keluar dari kamar Nathan. Sementara Nathan telah rapi dan sedang membuat sarapan.


"Aku pakai piyama kamu dulu ya! Nanti kalau kak Danny datang aku baru ganti baju, hehe!"


Nathan tersenyum. "Apa kalian begitu dekat?"


"Hmm, ya begitulah. Hanya sebatas itu saja!" jawab Sheila.


"Itu saja?" Nathan mengernyit.


"Nate, kamu itu cemburunya tingkat akut tahu gak!" Sheila mencubit kedua pipi Nathan gemas.


"Sayang..."


"Aku tidak memiliki rasa apapun pada kak Danny. Oke?!"


Nathan kembali mengecup singkat bibir Sheila.


"Astaga! Aku lupa bilang sama mama dan papa kalau aku ada disini!" Sheila menepuk kepalanya.


"Aku sudah menghubungi tante Sandra semalam. Kamu tenang saja!"


"Oh, huft! Terima kasih."


Tiba-tiba terdengar suara bel pintu berbunyi.


"Oh, itu pasti kak Danny. Aku buka pintu dulu ya, Nate!"


"Tidak! Aku yang akan membukanya!" cegat Nathan cepat.


Sheila menggeleng pelan dengan sikap Nathan. Sheila memilih duduk dan menyantap sarapannya.


Nathan membuka pintu dan melihat Danny berdiri di depan pintu sambil membawa paper bag. Dengan cepat Nathan mengambil paper bag dari tangan Danny.


Danny menggeleng pelan dengan sikap posesif Nathan.


"Kak Danny! Kakak sudah sarapan?" tanya Sheila yang menyapa Danny.


"Sudah, Shei," jawab Danny. Sheila terlihat sudah mandi dan hanya tinggal berganti baju saja. Pagi tadi Sheila menghubunginya dan meminta Danny untuk mengambil setelan kerjanya di rumah.


Sheila telah selesai menyantap sarapan paginya. Kini ia kembali masuk kedalam kamar Nathan dan berganti baju.


Danny dan Nathan masih dalam mode diamnya. Hingga akhirnya...


"Jika kau setakut itu kehilangan Sheila, harusnya kau menjaganya dengan baik. Jangan malah pergi dengan gadis lain!" sarkas Danny.


"Apa katamu?!" marah Nathan.


"Semalam aku tidak sengaja melihatmu mengantar seorang gadis ke sebuah rumah. Aku tidak tahu bagaimana reaksi Sheila jika mengetahui ini."


Nathan mendelik. "Kau!" tunjuknya.


"Kau tenang saja! Aku bukan orang yang licik, Tuan Nate. Tapi aku hanya memanfaatkan situasi. Aku sudah pernah mengatakannya padamu, jika kau membuat Sheila menangis, maka aku tidak akan mundur untuk mengambil hatinya."


Napas Nathan naik turun. Ia menahan amarahnya. Sungguh ia tak mengira jika Danny akan memergokinya semalam.


Danny tersenyum seringai berhadapan dengan Nathan. Ia merasa memiliki peluang meski sedikit.


"Ayo, Kak! Kita berangkat!"


Sheila keluar dari kamar Nathan dan dikagetkan dengan pemandangan dua orang pria yang saling berhadapan dan mata yang saling menatap sengit ditambah dengan tangan yang terkepal.


"Ada apa ini?" tanya Sheila polos.


#bersambung...


*Hayoo hayooo kalian dukung siapa genks? 😅😅😅