My Culun CEO

My Culun CEO
My Shooting Star



"Jangan pergi, Niel..." lirih Celia.


Celia terbangun dan duduk sambil memegangi tangan Nathan. Ia memohon agar Nathan tidak pergi meninggalkannya.


Perlahan Nathan melepas tangan Celia. Ia menatap gadis itu dengan sendu. Cerita masa lalu yang belum pernah mereka mulai, akankah mereka mulai sekarang?


"Celia... Ada satu hal yang ingin kukatakan padamu."


Celia menatap wajah Nathan yang begitu serius menatapnya.


"Aku minta maaf jika sikapku selama ini membuatmu salah duga. Tapi, aku melakukannya karena aku menganggapmu sebagai sahabatku. Beberapa tahun ini aku memang mencarimu, untuk memastikan bagaimana perasaanku terhadapmu. Apakah aku benar memiliki rasa lebih padamu atau tidak."


Celia mendengarkan dengan seksama.


"Hingga akhirnya aku benar-benar tidak pernah menemukanmu. Kemanapun aku mencari, namun tetap tak bisa kutemukan. Kini aku mengerti. Jika takdir memang tidak membawaku padamu. Takdir membawaku pada seorang gadis yang sudah membuat duniaku jungkir balik. Aku menyukai saat dia tertawa. Aku menyukai saat dia bersikap apa adanya tanpa ada yang di tutupi. Aku menyukai semua tentangnya."


Air mata Celia menetes.


"Akhirnya aku sadar jika aku hanya mencintainya. Aku mencintai Sheila. Dan hatiku tetap memanggil namanya meski aku berada disini bersamamu. Maafkan aku, Celia."


"Tapi aku mencintaimu, Niel..." isak Celia.


"Kau akan menemukan pria yang lebih mencintaimu. Aku yakin itu. Sekarang, kau harus hidup dengan baik dan tidak perlu bergantung pada siapapun. Aku yakin kau bisa."


Nathan pergi setelah mengatakan apa yang dikatakan hatinya. Ia segera masuk kedalam mobil dan tancap gas menuju gadis yang sudah membuat dunianya berubah.


Karena dia, Nathan bisa merasakan kehidupan menjadi orang biasa. Karena dia, Nathan rela melakukan apapun demi membuktikan cintanya.


Karena dia, Nathan bisa belajar mencintai dan menerima.


Karena dia, untuk pertama kalinya Nathan merasa cemburu dengan orang lain.


..."Dialah bintang dalam hidupku..."...


Nathan segera turun dari dalam mobil dan berlarian menemui Sheila. Ia melihat gadis itu sedang termenung di balkon kamarnya.


Matanya terpejam memegangi ponsel di dadanya. Nathan melakukan panggilan ke nomor Sheila.


Gadis itu terkejut karena tiba-tiba ponselnya bergetar. Dilihatnya nama 'Calon Suami' tertera disana.


"Halo..."


"Kamu belum tidur?"


"Belum..."


"Lihat ke bawah balkon kamarmu!"


"Eh?" Sheila menurut dan melihat kekasihnya ada di sana.


Nathan melambaikan tangan kearah Sheila. Gadis itu menangis haru kemudian keluar dari kamarnya. Ia berlarian menuju halaman samping rumahnya.


Napasnya memburu namun hatinya amat bahagia melihat sang kekasih ada di depannya. Nathan merentangkan tangannya dan Sheila langsung berlari memeluknya.


Tangis Sheila pecah dalam dekapan Nathan.


"Maafkan aku... Sekarang semuanya sudah selesai. Semuanya telah usai," lirih Nathan.


#


#


#


Satu bulan kemudian,


Celia mendatangi sebuah tempat yang dulu pernah menjadi kenangan terindah dalam hidupnya. Bertemu dengan seseorang kemudian jatuh cinta. Bukan hal yang mudah mencintai seseorang yang tidak akan pernah tergapai olehnya.


Sejak dulu ia hanya bisa menyimpan perasaannya dalam hati. Bertahun-tahun berharap namun nyatanya si dia tetap tidak tergapai.


"Celia! Kamu Celia kan?"


Sebuah suara membuyarkan lamunan Celia.


"Ibu Nur?" sapa Celia.


"Ya Tuhan, kamu sudah kembali kesini, Nak? Ibu dengar ayah dan ibu angkatmu tinggal di luar kota."


"Iya, Bu. Aku sudah kembali kesini." Celia mengulas senyumnya.


"Apa kamu sudah bertemu Nathan? Beberapa hari yang lalu dia datang kemari, dia menyerahkan undangan pernikahannya. Kamu juga harus datang. Bukankah dulu kalian sangat dekat?"


"Undangan pernikahan?" lirih Celia.


"Ayo masuk! Jangan hanya berdiri saja disini."


Nur mengajak Celia untuk masuk kedalam panti. Banyak yang berubah dari terakhir Celia tinggal disana. Tentu saja semua sudah berubah. Bahkan takdirnya pun berubah.


Celia duduk di ruang tamu. Nur membuatkan secangkir teh untuk Celia. Mata Celia masih mengamati seluruh bangunan yang tampak kokoh dari sebelumnya.


"Silakan diminum, Celia!"


"Tidak apa. Kamu kan tamu disini." Nur menatap Celia yang seakan menyimpan sebuah kesedihan.


"Ada apa, Celia? Apa ada yang ingin kamu katakan pada Ibu?" tanya Nur.


"Ehm, begini Bu. Jika diizinkan aku ingin tinggal disini seperti dulu. Aku bisa membantu ibu untuk menyiapkan makanan untuk para anak panti."


Nur bisa melihat jika Celia memikul beban yang cukup berat. Nur tersenyum mendengar permintaan Celia.


"Tentu saja boleh. Sampai kapanpun kamu adalah bagian dari panti ini."


Celia tersenyum lega. "Terima kasih, Bu. Sekali lagi terima kasih." Celia berkaca-kaca mendapat bantuan dari Nur.


Di sisi lain, Nathan dan Sheila mendatangi rumah Celia. Mereka ingin mengundang Celia untuk datang ke pernikahan mereka.


Lama mengetuk pintu, namun Celia tak juga muncul. Nathan mencoba sekali lagi dan bahkan menghubungi ponsel Celia.


"Ponselnya tidak aktif," ucap Nathan.


Sheila juga bingung harus berkata apa. "Mungkin dia sedang keluar, Nate. Apa kita letakkan saja undangannya di bawah pintu?"


"Maaf, permisi!" Sebuah suara membuat Nathan dan Sheila menoleh.


"Tuan dan Nona mau cari siapa? Rumah ini sudah kosong. Penyewanya sudah pindah," jelas seorang wanita paruh baya.


Sheila dan Nathan saling pandang.


"Pindah? Pindah kemana ya, Bu?" tanya Nathan.


"Kalau masalah itu saya kurang tahu. Kalau begitu saya permisi dulu."


Sheila menatap Nathan. "Bukankah kamu yang membayar sewanya?"


"Sepertinya sudah dia hentikan."


"Lalu kita harus bagaimana?" tanya Sheila.


"Biarkan saja. Mungkin dia butuh waktu untuk bisa mencerna semuanya. Shei, aku ingin membawamu kesuatu tempat."


"Hmm? Kemana?" Sheila mengernyit.


"Ada deh! Ayo pergi!" Nathan menggenggam tangan Sheila dan membawanya masuk ke dalam mobil.


#


#


#


Setelah beberapa lama berkendara, mereka tiba di sebuah bukit yang berada cukup tinggi dari daratan. Sheila bingung kenapa Nathan membawanya kesana.


Nathan mengajak Sheila untuk duduk dan melihat gemerlapnya malam dengan taburan bintang di angkasa.


"Kenapa mengajakku kesini?" tanya Sheila.


"Entahlah. Aku suka saja suasana tempat ini. Begitu tenang dan membuatku sejenak melupakan semua kegundahan hati."


"Jadi, kamu sering menyendiri disini?" selidik Sheila.


"Iya. Lihatlah, bintang yang berkelip disana. Mereka seakan menyapa dan menghiburku."


"Banyak hal yang tidak aku tahu tentangmu, Nate. Pastinya jika dibanding dengan Celia, aku kalah jauh dengannya." Sheila menundukkan wajahnya.


"Hei, kenapa bicara begitu? Kau adalah bintangku, Sheila. Dulu memang bintang-bintang disana yang menemaniku. Tapi sekarang, aku tidak butuh bintang yang bertaburan di langit. Aku hanya butuh satu bintang saja untuk menerangi hidupku."


"Ih, apaan sih? Gak jelas deh!" Sheila tersipu malu.


"Aku serius, Shei. Aku hanya butuh kamu saja."


Sheila menatap Nathan yang juga sedang menatapnya lekat. Rasa cinta yang besar bisa Sheila rasakan.


Kini ia tidak akan ragu lagi. Ia akan menapaki sisa hidupnya bersama dengan pria yang ada di hadapannya ini.


"Love you, Nate..."


"Love you more and more, my shooting star..."



Nathan memeluk Sheila. Mereka saling mengungkap rasa dengan sebuah dekapan hangat.


#bersambung...


*Halo genks, mau kasih info kalo setelah kisah ini selesai, akan ada kisah baru yg gak kalah seru. Sedikit berbau rumah tangga dan cinta manis.


Judulnya, Love Me Please, Mas Duda.


Intip dulu covernya yuks 👇👇👇