My Culun CEO

My Culun CEO
#185 - Trauma Masa Lalu



Merlin mengetuk pintu ruangan Nathan Avicenna dengan harap-harap cemas. Sepertinya ia tahu apa yang akan dibicarakan oleh bos besarnya itu.


Merlin mengatur napasnya ketika mendapat sahutan dari dalam. Dengan berjalan sopan dan sedikit membungkuk, Merlin memberi hormat kepada Nathan.


"Duduklah!" titah Nathan.


Merlin mengangguk dan duduk berhadapan di sofa.


"Sudah hampir satu bulan kau menjadi asisten putraku. Apa ada kendala yang kau hadapi saat bekerja padanya?"


"Eh? Kendala seperti apa maksud Tuan?"


Nathan nampak menahan sesuatu dalam dirinya. "Aku tahu kau bukan lulusan universitas terkenal. Dan kau juga hanya mendapat nilai pas-pasan saja. Tapi sekarang, aku percaya padamu untuk mengurus putraku."


Dahi Merlin berkerut. "Mengurus katanya? Memangnya aku ini baby sitter?" batin Merlin seolah tak terima.


"Dengar! Mulai besok kau harus bisa membuat Giga berangkat pagi ke kantor dan melakukan Pekerjaannya dengan baik. Apa kau mengerti?"


Merlin tersenyum kecut.


"Aku akan memberikanmu bonus tambahan jika kau berhasil mengubah sikap Giga. Akan kupertimbangkan kau untuk jadi karyawan tetap, kenaikan gaji dan juga bonus."


Mata Merlin membola ketika mendengar tentang pundi-pundi uang yang disebutkan Nathan.


"Baik, Tuan. Saya mengerti! Tapi..."


"Tapi apa?"


"Emh, apa boleh saya melakukan pekerjaan saya dengan cara saya sendiri?" tanya Merlin ragu.


"Tentu saja. Lakukan apapun yang kau bisa untuk menyeret anak malas itu berangkat ke kantor tepat waktu."


#


#


#


Keesokan harinya,


Merlin tiba di depan sebuah rumah yang sangat megah menurutnya. Mulutnya masih menganga tak percaya jika ia benar-benar akan masuk ke dalam rumah keluarga Avicenna.


Merlin diizinkan masuk oleh penjaga ketika mengatakan jika dirinya mengantongi izin dari Nathan Avicenna. Merlin masuk sambil melihat halaman rumah yang cukup luas.


"Hah? Bagaimana caranya aku tahu dimana kamar tuan Giga?" monolog Merlin.


Saat melewati sebuah taman, Merlin melihat beberapa pekerja yang sedang mengurus taman. Merlin memutuskan untuk bertanya pada salah satu orang.


"Permisi! Saya mau tanya, dimana kamar tuan Giga?" ucap Merlin.


Seorang wanita tua memindai penampilan Merlin.


"Kau siapa?" tanya wanita tua itu.


"Saya asisten pribadi tuan Giga. Nama saya Merlinda."


Wanita tua itu mengangguk paham. "Masuk saja lalu naik ke lantai atas dan belok ke kanan."


"Terima kasih, Nek. Duh, nenek sangat rajin ya. Di usia senja begini masih saja bekerja. Bukankah tuan rumah disini sangat keterlaluan membiarkan wanita tua bekerja keras? Baiklah, Nek. Selamat bekerja ya! Saya mau ke atas dulu! Permisi!"


Wanita tua yang tak lain adalah Lian hanya bisa menggeleng pelan dengan tingkah asisten cucunya itu.


Naik ke atas tangga, Merlin menemukan sebuah kamar. Merlin mengetuk pintu kamar yang ia yakin pasti milik Giga.


"Tuan! Tuan Giga!" Merlin mengetuk pintu sambil memanggil nama Giga.


"Tuan!" Merlin menempelkan telinganya di pintu.


"Tidak ada suara apapun. Tuan, aku masuk ya!"


Perlahan Merlin membuka handel pintu dan melihat kamar Giga yang begitu luas.


"Waaah! Kamarnya sangat bagus." Sejenak Merlin memindai ruangan yang cukup luas itu.


Ada meja kerja dan juga rak buku. Di dekatnya ada lemari yang berisi barang koleksi Giga yaitu action figure dari tokoh pahlawan kesukaannya.


"Waah! Orang kaya memang beda ya! Koleksi model beginian!" gumam Merlin.


Ia melihat sebuah televisi bedmsar dengan perlengkapan game disana. Sepertinya Giga suka bermain game.


Mata Merlin akhirnya jatuh kepada sosok yang masih terlelap di tempat tidur.


"Astaga! Ini sudah siang tapi dia masih tertidur." Merlin geleng-geleng kepala.


Merlin menggoyang tubuh Giga. "Tuan, bangun! Kita harus segera pergi ke kantor. Tuan!"


Merlin berusaha menyibak selimut yang menutupi tubuh Giga.


"Tuan, bangun! Bagaimana bisa kau masih tertidur di jam segini?"


Merlin menarik tubuh Giga agar mau bangun dan membuka mata.


"Ya ampun! Siapa sih? Ini masih pagi dan berisik sekali!" Giga mulai membuka mata dan menyadarkan diri.


"Ini sudah siang, Tuan! Anda harus segera bangun dan bersiap pergi ke kantor."


"Hei, kau! Bagaimana bisa kau masuk ke kamarku?" pekik Giga ketika menyadari kehadiran Merlin.


"Mulai hari ini aku akan membuatmu datang tepat waktu ke kantor. Cepat bangun dan bersiap! Jangan sampai aku melakukan hal lain terhadap Anda, Tuan."


Giga yang geram dengan sikap Merlin akhirnya meminta gadis itu menunggu di luar kamarnya.


#


#


#


Merlin memutuskan untuk duduk di ruang tamu saja sambil menunggu Giga selesai bersiap. Ia terus melirik jam di pergelangan tangannya. Ia harus berhasil membawa Giga ke kantor sebelum pukul sembilan pagi.


"Nona, ini bibi bawakan teh untuk Nona." Seorang pelayan menghampiri Merlin dan memberinya secangkir teh.


"Ah, terima kasih. Saya jadi merepotkan," sahut Merlin sopan.


"Tidak repot, Nona. Perkenalkan saya Odah."


"Oh, saya Merlinda, Bi."


"Apa Nona adalah asisten tuan Giga yang baru?" tanya Odah penasaran.


"Iya, Bi. Saya asisten yang baru."


Odah nampak memperhatikan penampilan Merlin.


"Semoga Nona adalah asisten terakhir tuan Giga. Sudah beberapa kali beliau berganti asisten karena alasan yang sepele. Nona pasti kesusahan karena ulah tuan Giga ya. Tolong maafkan dia ya, Non."


Merlin berusaha mengulas senyumnya. "Bahkan pelayan disini sangat peduli padanya," batin Merlin.


"Saya sudah mengenal tuan Giga sejak dia masih kecil. Dulu dia tidak bersikap seperti ini. Tapi, semenjak kejadian 15 tahun lalu ... dia mulai berubah."


Entah kenapa Odah begitu gambalng bercerita kepada Merlin.


"Tuan Giga pernah mengalami penculikan. Saat itu usianya masih 12 tahun. Bibi yakin dia mengalami trauma mendalam karena hal itu."


Mata Merlin membola. Semua hal yang diceritakan Odah sangat mirip dengan kejadian seseorang yang pernah ditemuinya.


Merlin menatap sekeliling ruangan itu. Ada sebuah figura foto yang cukup besar terpampang disana. Merlin menelan ludahnya kasar. Bahkan secangkir teh makin membuatnya terasa haus.


"Foto itu adalah..." batin Merlin tak mampu melanjutkan kalimatnya sendiri. Hanya dengan menatap foto itu, Merlin mulai paham dengan situasi yang sedang ia hadapi sekarang.


"Ayo berangkat!" Suara tak asing milik Giga membuat Merlin tersadar dari lamunan.


"Ayo berangkat! Malah melamun disini!"


Merlin menatap Giga sekilas. Wajah polos dan culun itu kini sudah berubah. Giga sudah berubah menjadi pria matang.


"Astaga! Aku tahu aku ini tampan. Tapi kau tidak perlu memandangiku seperti itu. Karena meski kau berusaha menggodaku, aku tidak akan tertarik. Kau sama sekali bukan tipeku!" Giga berjalan meninggalkan Merlin yang masih mematung di tempatnya.


#


#


#


"Ada apa?" tanya Resti yang melihat Merlin nampak tidak bersemangat seperti biasanya.


"Res..." lirih Merlin.


Seharian ini Merlin tak bisa fokus bekerja karena memikirkan insiden masa lalunya bersama Giga.


"Ada apa sih? Cerita dong!" desak Resti.


"Kau masih ingat jika dulu bapakku pernah menculik seorang anak orang kaya tapi aku menggagalkannya?"


Resti mengangguk. "Kenapa memangnya?"


"Bocah culun itu adalah bosku, Res..." ucap Merlin dengan menenggelamkan wajahnya kedalam bantal.


"Hah?! A-apa katamu? Bosmu? Maksudmu bosmu yang sekarang?"


Merlin mengangguk dalam posisi tertelungkup.


"Aku harus bagaimana Rest?" tanya Merlin yang sudah nampak frustrasi.


"Apa dia tahu jika kau adalah putri dari penculiknya?"


Merlin menggeleng. "Dia mengalami trauma yang mendalam mengenai kejadian itu. Aku harus bagaimana menghadapinya?" Merlin makin uring-uringan.


"Jika dia tidak tahu bukankah tidak masalah? Kenapa kau harus pusing?" ucap Resti santai. Ucapannya ada benarnya juga.


"Aku tidak bisa egois, Res. Aku yakin dia menderita selama beberapa tahun ini."


"Lalu, kau mau berbuat apa?"


Merlin nampak berpikir sejenak. "Aku akan menebus semua kesalahanku di masa lalu. Aku akan memperbaiki semuanya. Aku akan membantunya untuk keluar dari traumanya!" tekad Merlin menggebu.


#bersambung