My Culun CEO

My Culun CEO
Pria Penuh Obsesi



Nathan terbangun dari tidurnya dan melihat kamar yang sudah kosong. Tercium aroma lezat yang pastinya dari arah dapur. Kamarnya berada di lantai bawah dan memungkinkannya mencium aroma dari dapur yang memang tak jauh dari sana.


Nathan bergegas membersihkan diri lalu memakai pakaian kerjanya. Kali ini ia melakukan semuanya sendiri. Ia tak butuh bantuan Sheila untuk menyiapkan keperluan kantornya.


"Selamat pagi, sayang," sapa Nathan yang melihat Sheila sedang menata makanan diatas meja makan.


"Tuan Su? Kau sudah bangun? Aku baru saja akan membangunkanmu!" balas Sheila tanpa menoleh kearah suaminya.


Begitu selesai menata makanan, Nathan menarik pinggang Sheila hingga menghadap padanya.


"Tuan Su!" Sheila terpekik karena penampilan suaminya itu sangatlah berbeda.


"Kau memakai kacamata?" tanya Sheila dengan dahi mengkerut.


"Iya, kenapa? Kau tidak suka?"


Sheila menggeleng. "Bukan begitu. Kau terlihat sangat berbeda."


Wajah Sheila memerah. Ia akui jika ketampanan Nathan bertambah ketika memakai kacamata berbingkai emas itu.


"Kau tahu, aku adalah seorang kutu buku!" bisik Nathan di telinga Sheila hingga membuat gadis itu tersenyum geli.


"Aku tahu! Keponakanmu pernah memberitahuku!" jawab Sheila.


"Kau masak apa? Bukankah sudah kubilang ada Bi Idah yang akan membantu keperluan kita. Kau masih saja membantah!" Nathan mencoel hidung Sheila gemas.


"Hei, Tuan Su! Yang istrimu adalah aku, bukan bi Idah. Jadi, sudah sepatutnya aku yang menyiapkan makanan untukmu. Dan Bi Idah hanya membantu saja. Mengerti?"


Nathan makin gemas dengan istrinya itu. Ia memberikan sentuhan lima detik yang membuat mata Sheila membola.


"Tuan Su! Ada bi Idah disini!" Sheila merasa amat malu dengan kelakuan suaminya.


"Tidak apa! Bi Idah akan menutup matanya jika melihatnya lagi!" Nathan tertawa keras.


Sheila memukul pelan lengan suaminya. Kemudian mereka duduk berhadapan dan menyantap sarapan pagi sambil berceloteh tentang masa lalu Nathan yang seorang kutu buku. Sheila tertawa lepas mendengar ocehan Nathan yang seakan berubah menjadi sosok yang lain.


Sisi Nathan yang bisa membuat Sheila tertawa adalah ketika menjadi Tarjo. Mungkinkah Tarjo adalah bagian dari diri Nathan yang lain? Atau hanya tokoh yang diciptakan Nathan untuk menghibur Sheila.


...***...


Sheila tiba di kantor AJ Foods dan disambut oleh Danny. Pria itu tak percaya jika Nathan akan mengizinkan Sheila tetap bekerja.


"Kudengar kau pindah rumah. Apa itu benar?"


Sheila mengernyit bingung. Bahkan Danny sudah tahu perihal hal ini. Padahal baru semalam ia menempati rumah barunya bersama Nathan.


"Apa papa cerita padamu?" tanya Sheila yang tak ingin berburuk sangka. Sebenarnya niat ayahnya baik untuk menceritakan semua hal kepada Danny. Tapi setelah menikah, Sheila merasa ia ingin punya privasi sendiri bersama Nathan.


"Hmm, iya. Papamu cukup khawatir setelah apa yang menimpamu dan Nathan."


Sheila tersenyum nanar. "Kakak jangan khawatir. Nathan dan aku baik-baik saja. Oh ya, bagaimana dengan kerjasama dengan Ford Company?"


Sheila mengalihkan pembicaraan karena tak ingin Danny terus mengusik masalah pribadinya.


...***...


Di tempat berbeda, Damian sedang menatap layar datarnya yang menampilkan profil seseorang disana. Josh masuk dan memberi hormat pada Damian.


"Ada apa, Tuan? Apa Tuan memanggil saya?" tanya Josh sopan.


"Kau sudah siapkan berkas untuk Avicenna Grup?" tanya Damian tegas.


Josh menelan ludahnya. Rasanya ia tak ingin membuat Damian marah, namun tetap saja ia akan membuat Damian kian murka.


"Tuan, kenapa Anda sangat ingin kita bisa bekerjasama dengan Avicenna Grup?"


Damian mengetuk tablet pintarnya. "Kau lihat ini!" Damian menunjukkan layar pipih itu kehadapan Josh.


"Profil Nathan Avicenna sebagai pengusaha muda yang sukses membuatku harus bisa menjadi rekan bisnisnya. Cepat siapkan saja berkasnya!" ucap Damian penuh penekanan.


"Brengsek! Kau lihat ini! Lagi lagi Edo berhasil mendahuluiku! Aku tidak terima!"


Damian menggenggam erat ponselnya. Baru saja ia menerima pesan dari orang suruhannya yang mengawasi Edo. Edo baru saja menandatangani berkas kerjasama dengan Avicenna Grup. Terpampang nyata di depan matanya jika dirinya kembali kalah. Dan Damian tidak menerima kekalahan.


Josh keluar dari ruangan Damian setelah menyelesaikan perdebatan yang tidak akan pernah dimenangkan oleh Josh. Selama ini Damian percaya padanya. Tapi jika menyangkut Edo, entah kenapa Damian sangat sulit untuk dipahami.


Josh memutuskan menuju ke ruangan seseorang yang ia pikir akan membuat moodnya kembali baik.


Josh mengetuk pelan pintu ruangan yang sebenarnya tidak tertutup itu. Seorang gadis berkacamata langsung menoleh ketika Josh memasuki ruangan itu.


"Tuan Josh?"


Vania cukup terkejut dengan kedatangan Josh ke ruangannya.


"Hai, bagaimana pekerjaanmu?" tanya Josh dengan mengembangkan senyumnya.


"Baik, Tuan. Aku menyukai pekerjaanku!" jawab Vania.


"Baguslah! Jangan lupa makan siang ya! Kau harus tetap mengisi perutmu agar kau bisa bekerja dengan baik!"


Vania mengangguk. Ia senang karena ada satu orang yang mendukungnya. Selama satu minggu bekerja disini, Vania belum menemukan seorang teman. Semua karyawan memandangnya sebelah mata hanya karena penampilannya yang terkesan biasa dan culun.


Padahal sekeras apapun para gadis di kantor itu bersolek, tidak akan mampu menaklukkan hati Damian yang keras. Damian hanya memilih mereka berdasarkan otak, bukan penampilan. Namun terkadang yang punya otakpun jadi tak bisa bekerja hanya karena memikirkan tentang penampilan saja.


Siang ini seperti apa yang dikatakan oleh Josh jika Vania harus tetap mengisi perutnya agar bisa bekerja dengan baik, Vania membuka bekal makan siangnya yang sengaja ia bawa dari rumah.


Sebenarnya di kantor ini ada kantin yang di khususkan untuk para karyawan. Namun untuk menghemat pengeluaran, Vania memilih untuk membawa bekalnya sendiri.


Vania juga memilih untuk makan di ruang terpisah dari para karyawan lain. Ia tak ingin mendengar ejekan mereka yang mengatainya jelek dan tidak modis. Vania ingin makan dengan tenang. Ia memilih lorong sepi dekat gudang yang sudah seminggu ini ia jadikan untuk tempat makan siangnya.


Vania makan dengan lahap bekal sederhana yang ia masak sendiri. Saat sedang asyik mengunyah makanannya, telinganya menangkap suara-suara aneh dari arah gudang.


"Hah?! Suara apa itu? Bukankah disana adalah gudang? Mana mungkin hantu muncul di siang bolong begini?" batin Vania mulai tak tenang.


Vania mendekati ruangan itu yang ternyata pintunya tidak tertutup rapat. Mata Vania membola ketika melihat sepasang pria dan wanita dalam keadaan yang cukup intim.


Sang wanita duduk dipangkuan si pria dan mengalungkan tangannya ke leher si pria. Wanita itu terlihat menggoda si pria dengan memberikan kecupan-kecupan diarea leher pria itu.


Vania menutup mulutnya tak percaya ketika melihat dengan jelas siapa pria yang ada diruang itu.


"Dia adalah pria yang menolong ibu yang waktu itu!" batin Vania menjerit.


Vania melangkah mundur perlahan dan ingin segera pergi dari sana. Sungguh sial kakinya tersandung dan membuat kacamatanya terlepas dan terjatuh.


"Siapa disana?!" seru pria yang mendengar suara gaduh dari luar ruangan.


Vania sudah kabur dengan membawa kembali kotak makan siangnya. Ia beruntung karena pria itu tidak memergoki dirinya.


Pria itu segera keluar dan menemukan sebuah kacamata yang sudah retak tergeletak di atas lantai.


"Damian! Ada apa?" seru wanita itu dan langsung menghampiri pria yang adalah Damian.


Dengan cepat Damian menyimpan kacamata yang ia temukan kedalam sakunya.


"Sebaiknya kau pergi dari sini! Bukankah kau masih menjadi karyawan Avicenna Grup?"


Wanita itu mengangguk. "Iya, aku masih bekerja disana. Tapi aku ingin segera pindah kesini, Damian. Aku ingin selalu bersamamu. Aku akan minta ayahku untuk menjadi investor disini. Bagaimana?"


Damian tersenyum seringai. "Nanti dulu, Sitta. Sebaiknya kau tetap disana dulu. Kurasa aku punya rencana yang bagus untuk ini!" ucap Damian dengan sorotan mengerikan di matanya.


#bersambung


*Genks, mampir juga kesini 👇👇👇👇