
Nathan menatap Sheila yang kini sudah terlelap dalam dekapannya. Sisa-sisa air mata yang masih tergenang segera Nathan hapus. Ia membelai lembut puncak kepala Sheila dan mencium keningnya.
"Maaf karena aku malah membuatmu sedih dengan mengajakmu menjelajah beberapa negara alih-alih berbulan madu. Maafkan aku, Shei..."
Nathan ikut berbaring di samping Sheila. Mereka terlelap bersama dan menuju alam mimpi. Berharap esok semua akan baik-baik saja untuk takdir mereka.
Keesokan harinya, Nathan terbangun lebih dulu dan menyiapkan sarapan untuk mereka berdua. Kini mereka tinggal di sebuah apartemen yang dekat dengan rumah sakit karena Adi Jaya harus berada di rumah sakit. Sheila berganti jaga dengan Sandra setiap harinya.
Sheila mulai membuka mata karena mencium aroma makanan di hidungnya. Ia segera terbangun dan ingat jika harusnya dirinyalah yang memasak.
"Tuan Su!" pekik Sheila ketika melihat sang suami sudah menyiapkan sarapan di meja makan.
"Pagi, sayang. Kau sudah bangun? Ayo sarapan! Setelah itu kita ke rumah sakit."
Sheila mengangguk kemudian duduk di meja makan bersama Nathan.
"Maaf. Seharusnya aku yang membuat sarapan untukmu," sesal Sheila.
"Tidak apa. Aku tahu kau pasti bersedih." Nathan menggenggam tangan Sheila.
"Jangan khawatir. Aku akan bicarakan ini dengan kak Boy. Aku yakin dia bisa menemukan solusi untuk masalah kita. Percayalah!"
Sheila mengangguk. "Terima kasih."
"Sejak semalam kau terus mengucapkan terima kasih. Dengar, kita adalah pasangan. Jadi, apapun yang terjadi, kita harus menghadapinya bersama."
Sheila menatap Nathan penuh rada syukur. Nathan banyak berubah. Dia juga melakukan sesi terapi disini agar ia benar-benar sembuh dari penyakit mental yang di deritanya.
#
#
#
Nathan mengirimkan semua berkas pemeriksaan dirinya dan juga Sheila kepada Boy melalui sebuah email. Boy yang menerimanya segera membuat kesimpulan untuk kondisi mereka.
"Aku menyarankan kalian melakukan program bayi tabung yang aku buat. Aku akan cari waktu untuk bisa datang kesana dan kalian bisa secepatnya melakukan program itu," ucap Boy melalui panggilan video.
"Iya, Kak. Terima kasih."
"Dan kau Sheila. Kau harus jaga kesehatan. Fisik dan mental. Seorang calon ibu harus banyak menjaga kesehatan fisiknya agar selalu bugar. Aku akan kirimkan daftar makanan apa saja yang bisa kau makan selama program ini berlangsung," lanjut Boy.
"Iya, Kak. Sekali lagi terima kasih."
"Jangan khawatir. Aku yakin kalian pasti berhasil mendapatkan seorang bayi."
Usai panggilan video berakhir. Nathan dan Sheila saling berpelukan.
"Sayang, hari ini aku harus bekerja dari rumah untuk memantau perusahaan. Kau tidak apa kan ke rumah sakit sendirian?"
"Iya, Tuan Su. Aku bisa kesana sendiri. Lagipula hanya berjalan beberapa blok saja dari sini."
#
#
#
Tiba di rumah sakit, Sheila langsung menemui Sandra yang masih setia menemani Adi Jaya. Sebenarnya kondisi jantung Adi Jaya sudah stabil usai operasi transplantasi jantung yang dilakukannya.
Namun entah kenapa kondisi tubuhnya perlahan memburuk dan kini harus terbaring di rumah sakit. Hingga membuat Sandra sempat drop dan sakit lalu Sheila juga harus mempertaruhkan pernikahannya.
"Mama!" sapa Sheila ketika melihat Sandra keluar dari ruangan Adi Jaya.
"Shei, kamu sudah datang?"
Sheila mengangguk. "Mama sebaiknya istirahat dulu saja. Aku akan menjaga papa disini."
"Iya, Nak. Bagimana kabarmu? Kenapa wajahmu terlihat sedih?"
"Tidak apa, Ma. Aku hanya..."
"Apa masih belum?" Sepertinya Sandra tahu apa yang dirasakan putrinya.
Sheila mengangguk pelan.
"Jangan memaksakan diri. Kamu harus sehat dan bugar jika ingin cepat hamil. Jangan pikirkan papamu. Mama akan menjaganya. Dan dokter-dokter disini juga sangat bisa diandalkan."
"Iya, Ma. Aku dan Nathan sudah memutuskan akan melakukan program bayi tabung. Kak Boy akan mengurus semuanya."
Sandra berbinar senang. "Benarkah? Syukurlah kalau begitu, Nak." Sandra memeluk Sheila.
"Wah, sepertinya ada sedikit keceriaan disini." Suara seseorang membuat Sheila dan Sandra mengurai pelukannya.
"Ah, Dokter Oz?" sapa Sheila.
"Aku baik, Dok," jawab Sheila.
"Kalau begitu mama pulang dulu ke apartemen. Dokter, tolong titip Sheila ya."
"Ish, mama! Aku bukan anak kecil."
Sandra berpamitan pada Sheila dan Ozzan. Kini tinggal mereka berdua saja yang ada di depan kamar rawat Adi Jaya.
"Bagaimana kabar papa, Dok?" tanya Sheila.
"Kondisi Tuan Adi hari ini cukup stabil," jawab dokter Oz.
"Kenapa papa tidak bangun juga, Dok? Bukankah saat itu kondisinya baik-baik saja usai operasi?"
"Kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Nona tolong bersabar!"
Sheila terduduk di bangku depan kamar. Ia menutup wajahnya dan kembali terisak. Hatinya begitu sedih ketika melihat penderitaan sang ayah.
"Nona harus kuat dan bersabar. Saya yakin tuan Adi akan segera bangun. Nona, tubuh Nona kelihatan kurang sehat. Saya akan resepkan vitamin untuk Nona."
Sheila mengusap air matanya. "Terima. kasih, Dokter. Kami beruntung kami bertemu dengan dokter."
"Jangan sungkan, Nona. Sudah menjadi tugasku untuk menolong pasien. Kalau begitu saya permisi dulu!" Ozzan menepuk bahu Sheila pelan kemudian berlalu.
#
#
#
Tiga hari berlalu sejak Adi Jaya dikabarkan kondisinya mulai memburuk. Sandra dan Sheila kini hanya bisa pasrah untuk menerima takdir yang akan menimpa orang terdekat mereka.
Hingga akhirnya, Adi Jaya mengalami kritis dan meninggal dunia. Sheila dan Sandra amat bersedih. Ditambah juga dengan Rangga dan Cecilia yang akhirnya datang ke Amerika.
Nathan terus mendampingi Sheila yang terus bersedih dan menangis. Untuk saat ini, rencana program kehamilan Sheila akan di tunda hingga situasi berkabung usai.
Sandra memutuskan agar Adi Jaya di makamkan disini saja. Dan ia juga ingin menetap di negara ini. Hati dan tubuhnya sudah lelah karena mengurus suaminya selama berbulan-bulan lamanya.
Satu bulan telah berlalu setelah kematian Adi Jaya. Sheila dan Nathan yang masih menetap di Amerika akhirnya memulai proses bayi tabung untuk memiliki keturunan. Sheila ingin menghibur Sandra jika memiliki seorang cucu.
"Tuan Su! Semoga program kita berhasil ya!" ucap Sheila dengan harapan yang besar.
"Iya, sayang. Kak Boy adalah dokter yang hebat. Kita harus mempercayainya."
"Nate, Sheila. Ayo kita mulai prosesnya!" ucap Boy mengundang mereka memasuki sebuah ruangan.
Boy bekerja sama dengan rumah sakit setempat dan meminta sebuah ruang untuk ia jadikan sebagai tempat berkembangbiaknya benih milik Sheila dan Nathan. Boy sengaja membawa tabung istimewanya datang kesini khusus untuk adiknya.
"Rileks saja selama proses ini berlangsung, Shei. Kau juga, Nate," tutur Boy.
#
#
#
Dua jam kemudian,
Sheila keluar dari ruangan itu dengan di dorong kursi roda oleh seorang perawat. Sheila bertemu dengan Dokter Oz ketika akan menuju ke kamar rawatnya.
"Bagaimana perasaanmu?" tanya dokter muda itu.
"Lumayan, Dok. Kami sudah menunggu ini sejak lama. Aku yakin semuanya akan lancar."
"Hmm, syukurlah. Aku ikut senang jika kau bahagia. Oh ya, ini vitamin agar kondisimu cepat pulih."
"Terima kasih, Dokter."
"Ehem!" Nathan datang menginterupsi.
"Kalau begitu, saya permisi dulu, Nona Sheila." Ozzan memberi hormat kemudian berlalu.
"Siapa dia?" tanya Nathan sedikit ketus.
"Dia dokternya papa. Kau sudah bertemu dengannya beberapa kali. Apa kau lupa?"
"Tidak! Tapi aku tidak suka dengan tatapannya kepadamu."
Sheila terkekeh. "Tuan Su, sekarang bukan saatnya untuk cemburu."
"Benar. Kita akan mencapai sebuah kebahagiaan. Terima kasih, sayangku." Nathan mencium singkat bibir Sheila lalu mengangkatnya dari kursi roda.