
Tidak pernah aku sangka, jika aku akan berjalan ke arahmu. Semua hal yang aku pikir semu, ternyata kini hal itu nyata bagiku.
Kau memberikan sebuah cinta yang besar untukku. Kau meyakinkanku tentang sebuah harapan.
Kini aku yakin untuk menapaki hidupku. Karena aku tahu kau akan selalu ada bersamaku. Dan aku juga akan selalu ada bersamamu.
#
#
#
Freya duduk di bangku taman rumah sakit dan merasakan hembusan angin yang menerpa wajahnya.
Tenang, damai dan menyejukkan. Tempat ini memberi kedamaian untuk orang-orang yang memang ingin berdamai dengan dirinya, dengan masa lalunya.
Freya membuka mata ketika mendengar seseorang memanggilnya. Freya beranjak dari sana dan berjalan ke arahnya.
"Dokter Liam, bagaimana kondisinya?" Freya bertanya kepada Liam.
Liam mengulas senyum sebelum menjawab.
"Kondisi Damian sudah sangat baik. Semua trauma masa lalunya sudah mulai hilang. Sekarang dia sedang ada di ruang pemulihan. Kurasa kehadiranmu membuatnya menjadi lebih baik. Terima kasih, Freya."
Freya membalas dengan sebuah senyuman juga. "Terima kasih, Dok. Apa aku sudah boleh menemuinya?"
"Tentu. Mari ikut denganku!"
Freya mengikuti langkah Liam menuju ke ruangan terapi dimana Damian berada. Freya melihat Damian masih terbaring dengan beberapa alat terpasang di tubuhnya.
"Masuklah! Sebentar lagi dia akan bangun. Dia pasti akan senang jika kau adalah orang pertama yang dilihatnya," ucap Liam.
Freya mengangguk. Ia masuk ke ruangan itu perlahan. Ia melihat beberapa orang melepas alat-alat yang menempel pada tubuh Damian.
"Kami permisi, Nona!" ucap salah seorang perawat berpamitan.
Freya membalas dengan anggukan kepala. "Terima kasih," sahutnya kemudian.
Freya duduk di samping brankar Damian. Ia mengusap kepala Damian lembut. Perlahan Damian membuka matanya.
"Hai," sapa Freya.
"Hai juga," balas Damian lirih.
"Bagaimana perasaanmu?" tanya Freya.
"Good! Lebih baik dari sebelumnya. Apalagi setelah melihatmu."
Freya tersenyum. "Setelah kau merasa lebih baik, kau sudah boleh pulang."
Damian memposisikan dirinya duduk.
"Jangan memaksakan diri!" lerai Freya.
"Tidak apa. Aku baik-baik saja."
Freya mendesah pelan menatap Damian yang kini sudah duduk dan bersandar.
"Aku ingin memelukmu," ucapnya.
Freya mendekatkan tubuhnya agar Damian bisa memeluknya.
"Rasanya menenangkan sekali aku bisa melihat dan memelukmu."
Freya tersenyum dalam dekapan Damian.
"Terima kasih karena kau berusaha untuk sembuh," lirih Freya.
Damian terkekeh. "Tentu saja aku harus sembuh. Aku akan menikah denganmu dan memiliki banyak anak darimu."
Freya ikut terkekeh. "Kau memikirkan sampai sejauh itu?"
"Huum. Aku adalah anak tunggal. Jadi, aku selalu iri dengan anak-anak yang memiliki saudara. Makanya aku bertekad, jika nanti aku menikah, aku harus bisa membuat banyak anak."
"Hahahah, kau ini! Apa kau sudah lebih baik?"
"Huum."
"Kalau begitu kau harus bersiap." Freya mengurai pelukannya.
"Huum. Kau tunggulah di luar. Aku akan berganti baju dulu. Pakaian terapi ini membuatku seperti orang yang benar-benar sakit," gerutu Damian.
Bahkan di saat seperti ini, Damian masih tetap menunjukkan sifat aslinya. Freya hanya bisa menggeleng pelan dengan sikap calon suaminya.
#
#
#
Usai dari rumah sakit, Damian membawa Freya ke sebuah tempat. Freya masih belum tahu kemana pria itu akan membawanya.
Sejak kembali ke Indonesia, Damian hanya melakukan terapinya agar pernikahan segera dilangsungkan. Jonathan memberi syarat kepada putranya agar menyelesaikan sesi terapi bersama Liam, maka dirinya bisa menikahi Freya.
"Kita mau kemana?" tanya Freya.
"Ke kedai surabiku," jawab Damian santai .
"Ah iya, kudengar kau membuka kedai surabi juga disini. Aku tidak tahu jika kau serius menekuni dunia kuliner."
"Membangun bisnis kuliner tradisional disini ternyata lebih sulit dari pada saat dulu aku di Paris."
"Oh ya?" Freya tak percaya.
"Iya. Ayo turun, kita sudah sampai."
Freya dan Damian turun lalu masuk ke kedai yang berukuran cukup luas. Berbeda dengan kedai milik Damian saat di Paris.
"Aku akan menyamar jika aku yang melayani pelanggan sendiri. Sekarang aku sudah punya dua karyawan, jadi aku masih bisa menemuimu jika senggang."
Freya berdecih. Damian mempersilakan Freya duduk di salah satu meja. Kedai surabi milik Damian lebih mirip dengan kafe ala anak muda jaman sekarang. Namun menunya adalah cemilan tradisional.
"Aku akan pesankan satu untukmu." Damian menemui karyawannya dan memesan surabi kekinian andalan menu disana.
Damian kembali ke kursinya dan berbincang dengan Freya. Tiba-tiba sesosok pria yang Freya kenali masuk ke dalam kedai, membuat Freya tertegun sejenak.
Damian mengikuti arah pandang Freya. Damian tersenyum melihat kedatangan tamunya kali ini.
"Oh, Chef!" sapa Damian.
"Hai, Dam. Sepertinya kau sedang ada tamu ya. Halo, Freya."
"Halo, Chef Andreas."
Ya, orang yang baru saja datang adalah Andreas.
"Silakan duduk, Chef. Aku akan pesan satu menu lagi," ucap Damian.
"Tidak. Tidak perlu. Aku datang hanya ingin memberimu ini. Aku membuat menu baru untuk kedai surabimu. Kau tonton saja videonya lalu praktekkan." Andreas menyerahkan sebuah flashdisk untuk Damian.
"Kau yakin tidak ingin mampir? Kau datang hanya untuk ini?" tanya Damian.
"Iya, aku yakin. Aku masih ada urusan lain. Kalau begitu aku permisi. Mari Freya."
Freya hanya mengangguk sebagai jawaban. Freya menatap Damian yang sedang memandangi flashdisk pemberian Andreas.
"Sejak kapan kau dan chef Andreas..."
"Oh itu? Aku bekerjasama dengannya untuk menciptakan menu baru di kedai ini. Dan ternyata apa yang dia buat disukai oleh pelanggan. Saat itu aku bingung aku harus bagaimana untuk berinovasi dalam hal rasa, karena aku bukanlah seorang koki. Makanya aku meminta bantuan Andreas. Aku membagi saham kedai juga dengannya," jelas Damian panjang lebar.
"Wah, bahkan kedai sekecil ini memiliki saham?" Freya menutup mulutnya.
"Tidak seberapa. Yang penting aku membagi keuntungan dengannya."
Freya menatap Damian. "Aku senang kau sudah berdamai dengan semuanya."
Damian menggenggam tangan Freya. "Ini semua berkat kau. Aku memulai semuanya karena kau. Dan aku ingin mengakhirinya juga bersama denganmu."
Freya membalas genggaman tangan Damian. "Mari kita menikah! Sekarang aku tahu, jika hanya kau yang bisa mencintaiku sebesar ini."
Damian bangkit dari duduknya dan menuju ke kursi Freya. Damian memeluk Freya.
"Harusnya aku yang mengajakmu menikah," bisik Damian.
"Tidak apa. Aku ingin kau percaya padaku jika aku kini sudah yakin denganmu..."
"Aku percaya... Sejak dulu aku selalu percaya..."
#
#
#
Aku terbangun di pagi hari karena merasakan hangatnya sinar mentari yang menerpa wajahku. Aku mengerjapkan mata sejenak dan memperhatikan sekitarku.
Rasanya sangat menenangkan dan membuatku tidak ingin beranjak dari tempat tidur. Aku mengulas senyum karena terlalu senang.
"Selamat pagi, sayang..."
Aku menoleh ke arah samping dan melihat seorang pria tampan membawa sebuah nampan.
"Selamat pagi," jawabku.
"Kau sudah bangun? Kau pasti lelah." Pria itu mencium bibirku sekilas.
Apakah aku sedang bermimpi? Rasanya seperti tidak nyata. Aku melihat sekeliling kamar dan melihat sebuah foto pernikahan disana. Itu adalah aku dan ... Damian.
"Ini aku buatkan susu untukmu. Minumlah dulu!"
"Terima kasih, suamiku." Aku duduk dan meraih gelas ditangannya.
"A-apa kau bilang?"
"Apa?" tanyaku bingung.
"Kau panggil aku apa barusan?"
"Suamiku? Apa ada yang salah? Bukankah kita..."
Damian langsung memelukku. Setelahnya dia menciumi seluruh wajahku.
"Kau kenapa?" tanyaku heran.
"Tidak! Hanya sangat menyenangkan ketika mendengar kau memanggilku begitu."
Aku tertawa kecil. Damian duduk di tepi ranjang.
"Sayang, kita harus putuskan mau bulan madu kemana."
"Hmm, kemana ya? Kita tidak perlu kemana-mana asalkan selalu bersamamu aku sudah senang," jawabku dengan merangkum wajah suamiku.
Kami menikah tiga hari lalu dan rasanya bagai sebuah mimpi indah dan aku tidak ingin bangun.
"Baiklah. Kita bulan madu di rumah saja."
Damian langsung menyerangku dengan ciuman bertubi-tubi. Aku bahagia sekali. Sangat bahagia. Aku akan memberikan semua untuknya.
"Sayang, hari ini kita tidak perlu keluar kamar," ucapnya sensual.
"Dasar anak nakal!" kesalku.