My Culun CEO

My Culun CEO
#151 - Kekhawatiran Freya



Setelah selesai bekerja, Freya menghubungi Naina dan mengatakan jika dirinya ingin bertemu dengan gadis yang sudah ia anggap sebagai kakak itu. Freya berbelanja beberapa barang sebagai buah tangan untuk Naina.


Tiba di rumah Naina, Freya mengetuk pintu terlebih dahulu. Meski dulu sempat tinggal di rumah Naina, tidak mungkin Freya masih bersikap seperti dulu.


Tak lama Naina membuka pintu. Mereka bersorak gembira karena sudah lama tidak bertemu.


"Kak Naina!" seru Freya.


"Nona Freya!" Naina memeluk Freya.


"Sudah lama sekali aku tidak bertemu denganmu. Ayo masuk!" Naina mengajak Freya masuk.


"Kakak! Tidak perlu memanggilku nona! Maaf ya, kak. Aku jarang menghubungi kakak. Aku sangat sibuk setelah pindah ke rumah Moremans," sesal Freya.


"Gak apa. Aku tahu kamu pasti sangat sibuk. Bagaimana kondisi mamamu? Aku dengar kemarin nyonya Liliana sakit."


Naina dan Freya duduk di sofa ruang tamu setelah memasak bersama. Kegiatan yang sudah lama tidak mereka lakukan. Mereka berbincang ringan mengenai banyak hal.


"Mama sudah baikan, Kak. Kakak sendiri bagaimana?"


"Syukurlah. Kamu pasti sangat sedih saat mamamu di rumah sakit. Seperti yang kamu lihat. Aku baik-baik saja disini."


"Iya, Kak. Aku sangat sedih dan takut. Tapi sekarang semua sudah tidak apa-apa. Aku senang kakak baik-baik saja. Bagaimana kabar kak Harvey? Hubungan kalian masih baik-baik saja kan?"


Naina tersenyum. "Iya, kami baik-baik saja kok."


"Kapan kalian akan menikah? Kalian sudah sangat cocok lho!"


Naina nampak terdiam dan menatap Freya.


"Ada apa, Kak?"


Naina menghembuskan napas pelan sebelum menjawab. "Harvey sangat sibuk sekarang. Semua hal di pegang olehnya."


Mata Freya membola. "Memangnya ada apa dengan tuan Nathan?"


Naina berbisik, "Sheila dan tuan Nathan sudah pindah ke luar negeri. Mereka sudah tidak tinggal disini lagi."


"Hah?! Apa yang terjadi, Kak? Pantas saja aku tidak pernah melihat tuan Nathan saat meeting bersama Avicenna Grup." Freya mulai penasaran namun terbersit juga rasa khawatir disana.


"Sepertinya terjadi sesuatu dengan mereka. Tapi, aku gak tahu pasti. Karena masalah ini di tutupi dari media dan bahkan dunia luar."


Freya sejenak terdiam. "Tapi, kak Sheila baik-baik saja kan?"


"Terakhir aku menghubunginya, dia bilang baik-baik saja. Tapi aku juga gak tahu sekarang gimana."


Freya mengusap wajahnya. "Semoga saja kak Sheila baik-baik saja bersama tuan Nathan."


Naina menatap Freya yang nampak murung. "Ada apa? Apa terjadi sesuatu?"


Freya menggeleng.


"Hubunganmu dengan tuan Damian baik-baik saja kan?"


"Entahlah, Kak. Tiba-tiba saja ... ada seseorang yang hadir dalam kehidupan Damian. Dia adalah teman kecil Damian."


"Perempuan?"


Freya mengangguk. "Iya. Namanya Rachella Wijaya. Adiknya chef Andreas yang terkenal itu."


Naina menutup mulutnya. Ia segera meraih ponselnya dan mengetikkan sesuatu disana.


"Lihat ini!" Naina memberikan ponselnya.


Freya mengernyitkan dahi. "Ish, kakak memang selalu update soal beginian."


"Gak, Frey. Sekarang semua hal bisa kita kita tahu lewat ponsel. Jadi, Rachella kembali ke Indonesia?"


"Kakak mengenalnya?"


Naina tertawa. "Ya gak lah! Hanya mengenalnya lewat televisi saja. Dia berkarir di Hollywood selama ini. Dulu dia memang tinggal di Jerman."


Freya hanya menganggukkan kepala. "Sungguh gadis yang luar biasa ya!" gumam Freya.


Naina berusaha menghibur Freya.


"Andai saja aku bisa mengingat semua hal di masa laluku. Aku jadi ingin ingat sedekat apa dulu Damian dengan Rachella. Aku yakin aku memiliki ingatan itu juga."


Naina mengusap punggung Freya. "Sabar, Frey. Aku yakin kamu pasti bisa mengingat semuanya. Bukannya kamu masih melakukan terapi?"


"Iya, Kak. Terima kasih. Senang rasanya memiliki kak Naina dalam hidupku." Freya memeluk Naina.


#


#


#


Hari ini Freya menghabiskan waktunya untuk bekerja di luar kantor. Beberapa rapat yang harusnya di jadiri Edo, digantikan oleh Freya. Freya sendiri ingin melupakan kegundahan hatinya akibat kedatangan Rachella.


Freya melirik jam tangannya. Sudah waktunya makan siang. Ia ingat pesan dokter yang memintanya untuk jangan sampai terlambat makan dan mengatur pola makan dengan baik.


Sebuah pesan masuk kedalam ponsel Freya. Ia segera membukanya. Ternyata pesan itu dari Naina.


Naina : "Frey, ada waktu gak? Makan siang bareng yuk! Aku punya kupon diskon makan siang di resto baru bernama Good Food."


Freya tersenyum. Ia lalu mengetikkan pesan balasan untuk menyetujui ajakan Naina.


Freya : "Boleh, Kak. Aku jemput kakak sekarang ya!"


Freya mengendarai mobilnya sendiri menuju ke kantor Naina. Freya belajar mandiri dengan belajar menyetir mobil dan kini ia bisa kemanapun tanpa harus di temani supir.


Usai menjemput Naina, mereka menuju ke sebuah resto yang terlihat cukup mewah dari depan. Naina dan Freya sempat tertegun dengan desain elegan yang ditampilkan oleh resto yang baru buka seminggu ini.


"Kak, kita beneran mau makan disini?" bisik Freya tidak percaya. Meski dirinya kini adalah putri dari keluarga kaya, bukan berarti ia bebas menghamburkan uang yang dimilikinya.


"Yakin lah! Kita kan punya kupon diskon. Ayo masuk!"


Naina menarik tangan Freya. Mereka disambut oleh seorang pelayan yang mengarahkan mereka ke meja yang sudabh di reservasi. Sebelum makan disini, para pelanggan harus reservasi terlebih dahulu.


"Atas nama Naina, silakan di meja nomor 7," ucap pelayan itu sopan.


Naina dan Freya duduk dengan melihat sekeliling. Tak banyak pengunjung memang. Karena restoran hanya menerima sekitar 30 meja saja setiap harinya.


"Kak, apa lidah kita cocok dengan menu makanan disini?" bisik Freya lagi.


"Kita cocokkan saja kalau gak cocok, Frey!" Naina terkekeh.


Freya hanya menggeleng pelan dengan ucapan Naina. Tak lama seorang pelayan membawakan menu makanan mereka. Menu disini disiapkan khusus oleh si pemilik restoran, jadi pengunjung hanya langsung menikmatinya saja.


"Ini menu pembukanya. Jika sudah siap untuk menu utama, silakan panggil kami lagi. Selamat menikmati," ucap pelayan ramah.


Freya mengangguk dan berterimakasih. Mereka langsung mencicipi makanan pembuka yang berasa seperti puding itu.


"Hmm, enak!" ucap Freya.


Naina juga hanya bisa mengiyakan tanpa bisa berkata-kata.


Dari kejauhan sepasang mata tiba-tiba memperhatikan Freya dan Naina. Sosok itu keluar dari tempatnya dan menghampiri Freya.


Naina yang melihat langsung sosok itu langsung menutup mulutnya.


"Astaga!" ucap Naina kaget.


Sosok yang kini berada di belakang Freya melangkah maju dan menghadap Freya.


"Nona Freya!" panggilnya.


Freya mendongak dan melihat siapa yang memangilnya.


"Hah?!" Freya melongo tak percaya.


"Apa Anda menyukai makanannya?" tanya orang itu lagi.


"Chef Andreas?" gumam Freya dengan eskpresi masih terkejut. Sementara pria bernama Andreas itu hanya mengulas senyum melihat keterkejutan Freya.