
Freya menatap Damian tak percaya. Pria itu mengatakan semuanya dengan sangat mudah dan gamblang. Damian mengakui semua kebohongannya selama ini.
Ia tak ingin ada hal yang di tutup-tutupi dalam hubungannya dan Freya. Ia sudah menyiapkan skenario terburuk jika memang Freya membencinya.
Entah apa yang membuat Damian melakukan ini. Hatinya sedang berbahagia saat ini. Dan mungkin saja Freya juga sedang bahagia. Tapi kenapa Damian seolah merusak semuanya.
Freya terduduk lemas di depan meja rias yang ada di ruangan itu. Itu adalah ruangan dimana Damian bertransformasi menjadi pria culun bernama Udin.
Mereka terdiam cukup lama dalam ruangan itu. Tak ada satupun dari mereka yang ingin bicara lagi lebih lanjut. Bahkan Damian pun ikut terdiam.
"Jadi... Apa maksudmu memberitahuku soal ini?" Suara Freya akhirnya terdengar juga.
"Tidak ada. Aku hanya berusaha jujur padamu. Aku tidak ingin ada hal aku tutupi darimu," jawab Damian dengan nada terkesan datar.
"Apa alasanmu menyamar menjadi Udin?"
"Aku hanya ingin membuatmu menyadari hatimu. Kamu memiliki rasa yang sama denganku. Tapi kamu belum mau mengakuinya. Dan aku harus melakukan ini agar kau bisa sadar."
Freya terkekeh. "Memang benar, aku menyadari perasaanku berkat kehadiran Udin juga. Dia orang yang menyenangkan. Kupikir dia benar-benar ada di dunia ini. Tapi ternyata itu hanya karanganmu saja."
Freya beranjak dari duduknya. "Sekarang ayo antar aku pulang!" ucap Freya.
Freya keluar dari ruangan itu tanpa menunjukkan ekspresi apapun. Damian yang masih bergeming akhirnya ikut keluar dari ruangan.
"Freya!" Damian mencekal lengan Freya.
"Ada apa? Bukankah papa dan mama menyuruhmu untuk mengantarku pulang? Maka kamu harus menyelesaikan tugasmu dengan baik."
"Kamu tidak marah?" tanya Damian dengan wajah takut.
"Tidak! Untuk apa marah? Semua sudah terjadi. Dan aku senang dengan kejujuranmu."
Freya kembali melangkah. Damian masih tidak percaya dengan apa yang di dengarnya.
"Tunggu, Frey!" Damian menghadang Freya.
"Kenapa lagi sih?"
"Jadi, kita bagaimana?" tanya Damian ambigu.
"Bagaimana apanya?"
"Ya, kita? Apa kita ... sudah resmi berhubungan?"
Freya menatap Damian jengah. "Kita akan menjalaninya, bukan?"
"Jadi, kamu adalah kekasihku?"
Freya memutar bola matanya malas. "Iya, aku kekasihmu!"
Damian berjingkrak senang dan memeluk Freya.
"Terima kasih, Frey. Terima kasih." Damian memeluk Freya erat.
"Iya, iya. Sekarang lepaskan aku dan antar aku pulang!"
Damian terkekeh dan menggaruk tengkuknya. "Maaf. Aku terlalu senang."
"Iya, aku tahu. Ayo pulang!" Freya kembali berjalan di depan. Namun Damian kembali mengejarnya.
"Jangan jauh-jauh," ucap Damian manja.
"Kenapa memangnya?"
"Nanti kangen..."
"Ish! Gombal!" Freya ikut tertawa melihat tingkah aneh Damian yang seperti anak-anak.
#
#
#
Esok harinya, Damian pergi ke kantor seperti biasa. Sepanjang perjalanan ia terus bersiul untuk mengungkapkan rasa bahagia di hatinya.
Damian menyapa seluruh karyawannya dengan ramah. Hingga beberapa orang saling berbisik karena tingkah aneh Damian.
"Si bos kenapa? Kok senyum-senyum gitu?"
"Si bos kesambet kali!"
"Obatnya belum di minum kayaknya deh!"
Damian tidak menghiraukan apa yang dikatakan oleh orang di sekelilingnya. Yang ia tahu hanyalah kini ia berhasil mendapatkan jantung hatinya.
"Tuan!" sapa Josh.
"Hai, Josh. Bagaimana kabarmu hari ini? Tadi sarapan apa? Jangan lupa bahagia ya, Josh." Damian menepuk bahu Josh kemudian berlalu.
Damian masih bersiul ketika duduk di kursi kebesarannya sambil memeriksa berkas di mejanya.
"Tuan!" Josh masuk dan ingin memberitahukan jadwal Damian hari ini.
"Saya senang Tuan sudah kembali ke kantor. Semoga setelah ini Tuan tidak akan pergi lagi ke kantor More Trans."
"Tidak, Josh. Misiku disana sudah selesai. Sekarang aku akan fokus disini."
Mata Josh berbinar senang. "Apa nona Freya sudah mengungkapkan perasaannya pada Tuan?"
Damian menjawab dengan sebuah anggukan. "Kau benar. Aku adalah kekasih Freya sekarang, dan Freya adalah kekasihku. Aaah, rasanya melegakan sekali."
"Baguslah, Tuan. Kalau begitu setelah ini saya bisa fokus mencari jodoh juga, Tuan."
Damian menatap Josh. "Iya benar. Tapi ... kau akan mencarinya dimana?"
Josh mengedikkan bahunya.
"Ck, kau ini! Bagaimana kalau lihat di sekitarmu dulu saja? Mungkin saja dari ratusan karyawan, ada yang menusuk hatimu."
Josh menarik sudut bibirnya. "Saya tidak mau berhubungan dengan wanita yang satu kantor dengan saya. Itu kurang menantang, Tuan."
"Ish, gayamu! Jangan banyak memilih. Nanti semua wanita malah kabur saat melihatmu."
Josh mulai paham kemana arah bicara Damian. "Baiklah, Tuan. Ini adalah jadwal Tuan hari ini. Jika ada yang ingin diubah maka..."
"Kosongkan jadwalku setelah pukul 11 nanti. Aku akan menemui Freya! Dan aku ingin bekerja dari kantor saja. Mengerti?"
Josh menganggukkan kepala. "Baik, saya permisi dulu." Josh keluar dari ruangan Damian.
Damian menyelesaikan pekerjaan dari kantor karena ia sudah ingin bertemu dengan Freya untuk makan siang bersama. Damian meregangkan otot-ototnya sebelum menghubungi Freya.
Dengan senyum mengembang, Damian menghubungi Freya. Ia menunggu sebentar sebelum Freya menjawab panggilan darinya,
"Halo," jawab Freya.
"Halo, Frey. Kamu dimana?"
"Di kantor, tapi aku mau ke rumah sakit. Hari ini mama pulang ke rumah."
"Kalau begitu aku akan mengantarmu."
"Gak perlu! Aku bisa kesana sendiri."
"Jangan membantah, Frey! Aku adalah kekasihmu. Tunggu disana dan jangan kemana-mana! Aku kesana sekarang!"
Damian menutup sambungan telepon dan bergegas pergi ke kantor Freya. Ia berkendara dengan kecepatan penuh agar lebih cepat sampai ke gedung More Trans.
Damian tiba di lobi More Trans dan memarkirkan mobilnya di depan. Ia segera berlari masuk dan menuju ke lantai 7 dimana ruangan Freya berada.
Damian bertemu dengan Doni dan Jono. Ia menyapa dengan ramah kedua pria itu.
"Hai Don! Jono! Kalian pasti mau makan siang kan? Ini!" Damian merogoh saku dan mengambil uang di dompetnya.
"Kalian harus makan dengan baik. Pergilah dan beli makanan yang enak dan bergizi!" Damian menepuk bahu kedua pria itu kemudian berjalan memasuki ruangan Freya.
Doni dan Jono masih melongo tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.
"Jon, kamu kenal sama orang itu?" tanya Doni.
Jono menggeleng. "Gak, Don."
"Tapi dia kasih kita uang, Jon."
"Ya namanya rejeki, Don. Ya sudah ayo kita beli makanan yang enak." Jono merangkul bahu Doni dan mereka berjalan bersama meninggalkan kebingungan mereka.
Di dalam ruangannya, Freya masih sibuk memeriksa berkas.
"Hai, sayang..." sapa Damian.
Freya menutup berkas dan menatap Damian.
"Kamu sudah datang?" Freya segera bangkit dan mengambil tas slempangnya.
"Gara-gara kamu aku jadi terlambat untuk menjemput mama."
Freya melewati Damian dan terus berjalan keluar ruangannya.
"Freya!" Damian mengekori Freya.
"Jangan marah! Aku hanya ingin menjadi kekasih yang baik dengan memastikanmu secara langsung kamu pergi dengan selamat."
Freya terkekeh. "Sudahlah. Ayo cepat!" Freya menarik tangan Damian agar berjalan cepat.
"Aku akan menebus kesalahanku! Aku akan jadi kekasih yang baik untukmu mulai hari ini," ucap Damian ketika mobil mulai melaju.
"Baik. Lakukan saja sesukamu!" jawab Freya dengan menahan tawanya.