
Naina datang ke kafe Cecilia usai pulang bekerja. Sebenarnya ia tidak terlalu suka mencampuri urusan pribadi Sheila jika sahabatnya itu tidak bercerita sendiri kepadanya. Tapi entah kenapa permintaan Harvey membuatnya ikut penasaran dengan apa yang terjadi.
Sheila cukup terkejut dengan kedatangan Naina ke kafe tanpa ada pemberitahuan sebelumnya. Kini mereka duduk berhadapan. Belum ada percakapan yang terjadi diantara dua sahabat itu.
Naina mulai merasa apa yang dikatakan Harvey ada benarnya juga.
"Shei, ada apa?" tanya Naina dengan hati-hati.
"Em, gak ada apa-apa sih. Hanya saja ... aku sudah memutuskan untuk kembali bekerja," cerita Sheila.
"Ha? Kerja dimana? Kembali ke Avicenna Grup?"
"Ish, bukan! Ke AJ Foods. Aku pikir sudah saatnya aku melanjutkan usaha papa."
Naina cukup terkejut. Ia segera meraih ponsel dan mengetik pesan untuk Harvey. Kini ia dan Harvey bagaikan wartawan infotainment yang saling memberi gosip terbaru, hihi.
"Oh, gitu ya? Wah, kalau kamu udah disana, bisa dong aku masuk disana kalau bosan jadi bankir?" Naina menaikturunkan alisnya.
Sheila tertawa. "Wah, kamu mau manfaatin aku ya!"
Akhirnya Sheila bisa tertawa juga. Ternyata memiliki sahabat itu memang membuat mood kita menjadi lebih baik. Mereka bercanda bersama hingga lupa waktu dan matahari telah tenggelam berganti gemerlap bintang yang muncul memenuhi langit malam ini.
#
#
#
Pukul sembilan malam, Nathan baru selesai meeting dengan kliennya. Setelah siang tadi ia sempat tak fokus, kali ini ia harus fokus karena klien ini sangat penting untuk Avicenna Grup. Nathan bersalaman dengan para klien yang berasal dari Korea itu.
Nathan meregangkan otot-ototnya begitu juga dengan Harvey. Pria itu menatap Nathan setelah membaca pesan dari Naina. Karena sepanjang meeting tak diperbolehkan menggunakan ponsel, alhasil pesan Naina baru saja terbaca olehnya. Tak ingin gadis itu marah, ia segera membalas pesannya.
"Harv, aku pulang dulu ya! Kau sudah catat semua materi meeting hari ini kan?" tanya Nathan.
"Iya, Tuan." Harvey memberi hormat dan melihat Nathan meninggalkannya.
Nathan mengendarai mobilnya menuju ke minimarket tempat Celia bekerja. Ia melirik jam tangannya. Sudah hampir pukul sepuluh malam, ia berharap toko itu masih buka.
Nathan tiba disana dan melihat jika Celia sedang berdebat dengan seorang pria yang entah siapa pria itu. Ia tak ingin menginterupsi. Ia hanya memperhatikan kalau-kalau pria itu melakukan kekerasan pada Celia. Ia akan langsung ikut campur.
Ternyata pria itu meninggalkan Celia. Nathan segera datang ke toko. Bel di pintu berbunyi. Celia menyeka air matanya yang sempat menetes.
"Maaf, kami sudah tutup!" ucap Celia lalu menatap Nathan.
"Niel?" Celia terkejut karena Nathan kembali menemuinya.
Celia salah tingkah karena Nathan terus menatapnya.
"Ada apa, Cel? Siapa pria tadi?" tanya Nathan cemas.
"Kamu ada perlu apa datang kemari?" Bahkan Celia tak menjawab pertanyaan Nathan. Ia sibuk memalingkan wajah untuk menghindari tatapan Nathan.
"Cel, kalau kamu ada masalah, kamu bisa cerita denganku. Bukankah dulu kita..."
"Tidak ada apa-apa, Niel. Ini sudah waktunya jam tutup toko. Jika tidak ada yang ingin kamu beli, sebaiknya kamu pergi." Kini Celia berani menatap mata Nathan.
"Baiklah. Aku pergi!" putus Nathan meski hatinya merasa berat. Ia ingin tahu apa yang disembunyikan oleh Celia.
Ah, terlalu ikut campur sekali kau, Nathan. Batinnya berkata begitu.
Tapi sebagai seorang teman, boleh kan jika kita ingin mengetahui apa masalah yang sedang dihadapi oleh teman kita? Siapa tahu kita bisa membantu. Begitulah pemikiran Nathan.
Karena tak ada jawaban dari Celia, Nathan memutuskan berbalik badan melangkah pergi dari toko itu.
"Dia adalah calon suamiku!" ucap Celia ketika Nathan tiba diambang pintu.
Nathan mengangguk kemudian tetap melangkah keluar. Rolling door toko mulai di tutup oleh Celia. Ia tak ingin Nathan melihat kesedihan di matanya.
Celia bersandar di balik pintu dan menangis. Ingin rasanya ia berkeluh kesah pada teman masa kecilnya itu.
Celia menggeleng kuat. Ia tidak akan membawa Nathan ke dalam masalahnya. Putus Celia.
Diluar toko, Nathan masuk ke dalam mobil dan meraih ponselnya. Entah kenapa ia butuh mood booster dari seseorang. Ia mengirim pesan pada Sheila dan berharap gadis itu belum menuju alam mimpi.
Nathan: "Sayang, lagi ngapain? Aku baru selesai meeting."
Nathan menunggu beberapa saat. Tak lama ponselnya berdering. Balasan pesan dari Sheila disertai foto dirinya saat ini.
Sheila: "Lagi mau siap-siap pergi ke alam mimpi."
Sheila nampak memakai piyama dan bando kesayangannya.
Ekspresi lucu Sheila membuat Nathan tersenyum. Ia membalas pesan Sheila dengan mengatakan akan pulang ke apartemen.
Sheila: "Ya sudah, hati-hati menyetirnya."
Nathan kembali melajukan mobilnya. Malam ini rasanya tenaganya kembali pulih setelah mendapat kabar dari Sheila.
#
#
#
Sheila menemui Danny yang ternyata pagi-pagi sudah datang ke rumahnya.
"Hai, Shei," sapa Danny.
"Kak Danny? Kok tumben kesini pagi-pagi? Tanya Sheila heran.
"Begini, Shei. Aku mau kasih kabar ke kamu, kalau hari ini kamu udah bisa masuk kerja."
"Hah?! Serius, Kak?!" Mata Sheila berbinar senang.
"Iya. Ruangan untukmu sudah siap. Bagaimana? Apa kamu siap berangkat hari ini?"
Sheila mengangguk yakin. "Iya, tentu saja. Kalau gitu aku siap-siap dulu ya!"
Sheila kembali masuk ke dalam kamarnya dan mencari setelan kerja yang cocok untuknya. Rasanya hari ini moodnya kembali bagus. Ia terus tersenyum ceria.
Di ruang tamu, Danny di temani oleh Adi Jaya yang berbincang ringan dengannya.
"Nak Danny ini sudah mapan, apa belum ada rencana untuk menikah?" tanya Adi Jaya yang membuat Danny salah tingkah.
"Ah, saya belum kepikiran sampai kesitu, Pak."
"Jangan seperti Rangga dulu. Karena sibuk bekerja dia malah lupa untuk mencari pasangan. Dia menikah di usia 33 tahun. Kalau Nak Danny sudah ada calonnya, katakan saja. Nanti biar aku bantu untuk bicara dengan keluarga gadis itu. Kamu sudah seperti putra untukku dan keluarga ini."
Kata-kata Adi Jaya sangat menohok hati Danny. Bagaimana bisa ia mengatakan jika hatinya memanggil nama putri pria yang sudah menganggapnya anak?
"Saya masih bersabar, Pak."
"Lho, jangan hanya sabar. Cinta itu perlu dikejar," lanjut Adi Jaya.
"Yang penting bukan istri orang," sahut Sandra ikut menimpali.
"Kalau masih pacar atau tunangan orang berarti masih bisa maju kan, Nyonya?" tanya Danny diiringi gurauan. Sontak Sandra dan Adi Jaya ikut terbahak dengan pertanyaan Danny.
Sheila yang mendengarnya seolah itu adalah sindiran untuknya. Ia berjalan menghampiri ketiga orang yang sedang mengobrol santai itu.
"Ma, Pa. Sheila berangkat dulu ya!" Sheila mencium punggung tangan kedua orang tuanya.
"Iya, hati-hati ya!" pesan Sandra.
"Yang semangat kerjanya!" pesan Adi Jaya.
"Iya, Pa. Ayo, Kak!" ajak Sheila.
"Pak, Nyonya, kami berangkat dulu!" pamit Danny pada kedua orang tua Sheila.
Adi Jaya menjawab dengan sebuah anggukan. Ia memperhatikan putrinya yang berjalan bersama Danny.
"Danny itu pria yang baik. Coba saja jika Sheila belum bersama Nathan. Pasti Papa jodohkan mereka berdua, Ma," celetuk Adi Jaya.
"Papa ini!"
"Benar, Ma. Selama ini Danny selalu menjaga Sheila. Dan mereka selalu terlihat kompak."
"Biarkan saja Sheila yang memilih kepada siapa cintanya berlabuh."
"Belum ada kabar lagi dari keluarga Avicenna, Ma?"
"Belum, Pa. Sepertinya Nak Nathan juga sedang sibuk dengan pekerjaannya."
"Haah! Ya sudah, biarkan saja dulu anak-anak memilih jalannya sendiri."
Di perjalanan menuju gedung AJ Foods, Sheila memandangi ponselnya. Ia belum mengatakan apapun pada Nathan mengenai pekerjaan barunya.
Sheila menimang-nimang untuk mengirim pesan pada Nathan.
"Mungkin sebaiknya aku memberitahunya lewat pesan dulu saja. Nanti kalau kami bertemu, aku akan cerita padanya," batin Sheila memutuskan.
Sheila: "Hai, Nate. Gimana kabarmu pagi ini? Oh ya, aku memutuskan untuk menerima tawaran papa untuk bekerja di AJ Foods. Hari ini aku memulainya. Maaf ya aku tidak sempat memberitahumu secara langsung. Semangat untuk hari ini."
Pesan terkirim. Sheila menatap keluar kaca mobil. Pemandangan gedung bertingkat mulai terlihat.
Mobil Danny mulai memasuki area parkir gedung AJ Foods. Sheila sedikit gugup.
"Jangan cemas! Kamu pasti bisa!"
Danny menyemangati Sheila. Gadis itu turun dari mobil dan menatap sekeliling.
#bersambung...
Jangan lupa dukungannya selalu πππ
Terima kasih buat yg udah jengekelin si nathan ππdia pantas buat mendapatkannya.
Kira2 ada kejutan apa lagi dalam hubungan Nathan-Sheila-Danny di tambah ada Celia π¬π¬