
"Damian!"
Sebuah suara membuat Damian menarik diri dari jarak yang dekat dengan Vania. Begitupun dengan gadis berkacamata itu. Ia segera membuka mata dan menyadarkan dirinya.
Suara itu adalah milik Sitta. Ia segera menghampiri Damian dan menarik lengan pria itu.
"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Sitta sambil menatap horor kearah Vania.
"Tidak ada. Aku hanya memperingatkan bawahanku agar jangan terlalu lelah bekerja dan harus ingat untuk makan siang. Karena ini adalah waktunya jam makan siang," jawab Damian asal. Meski ada kebenaran disana.
Vania terus menundukkan wajahnya. Ia tak berani menatap Sitta maupun Damian.
"Huft! Baiklah. Aku tahu kau adalah orang yang baik, Dam. Kalau begitu, ayo kita makan siang!" Sitta melingkarkan tangannya di lengan Damian dan membawa pria itu pergi.
Vania kembali mendongak dan melihat kepergian bos dan sekretarisnya itu.
"Bodoh kau, Vania! Apa yang kau harapkan? Bisa-bisanya mengharapkan tuan Damian yang begitu jauh tidak terjangkau."
Vania menelusupkan wajahnya diantara kedua tangannya. "Sudahlah. Sebaiknya aku makan siang juga. Aku akan menyusul teman-teman."
Vania beranjak dari duduknya. Ia bertekad akan melupakan kejadian saat itu dan juga sekarang.
"Seperti yang dikatakan tuan Josh. Anggaplah semua ini tidak pernah terjadi!" Vania mengatur napasnya lalu berjalan keluar dari ruangannya.
Di ruangan Damian, pria itu menggeram kesal pada Sitta namun tak bisa ia tunjukkan. Ia masih menjaga imejnya sebagai pria hangat yang baik hati dan ramah.
Sitta sudah duduk di sofa ruangan itu. Ternyata Sitta sudah menyiapkan bekal makan siang untuknya dan untuk Damian. Ia tetap gencar mendekati Damian meski pria itu selalu menolaknya.
Menolak? Benarkah menolak?
#
#
#
-Flashback-
Hari ini Sitta mendengar kabar mengenai Damian yang akhirnya kembali ke tanah air ibu kandungnya. Sitta sudah sering mendengar tentang sosok Damian melalui ayahnya.
Sitta mencari informasi melalui akun media sosial milik Damian. Sitta berbinar senang ketika melihat sosok Damian yang begitu hangat dan selalu ramah.
Setelah satu minggu Damian berada di Indonesia, Sitta meminta tolong pada ayahnya untuk bisa mempertemukannya dengan Damian. Namun saat itu Sitta mendengar kabar yang mengejutkan.
Damian telah dijodohkan dengan putri dari Grup HG Singapura, Rizka Hanggawan. Saat itu Sitta merasa hatinya patah karena lagi lagi ia harus kecewa.
Dulu saat mengejar Nathan ia juga harus kecewa karena ternyata Nathan sudah lebih dulu dijodohkan dengan Sheila. Dan kini hal itu kembali terulang.
Lalu ketika Sitta mendengar kabar jika kakek Damian mengacaukan pertunangannya dengan Rizka, Sitta merasa jika dunianya mulai bersemi. Ia berjanji pada dirinya sendiri untuk bisa mendapatkan hati Damian.
Sitta mulai datang ke Ford Company hanya sekedar untuk bertemu dengan Damian. Sebagai pria yang hangat dan ramah, tentu saja Damian tidak menolak kunjungan Sitta.
Sitta merasa jika Damian membuka pintu hati untuk dirinya. Tapi ternyata lagi-lagi ia harus menelan pil pahit. Dengan tegas Damian menolaknya.
"Maaf, Nona Sitta. Aku tidak bisa memiliki hubungan yang lebih dari teman denganmu. Aku tidak berminat," ucap Damian.
"A-apa katamu?! Lalu selama ini kamu anggap aku apa, hah?!" sungut Sitta tak terima.
"Imejku memang seorang pria yang ramah. Tapi bukan berarti aku baik kepadamu karena aku menginginkan lebih. Aku memang seperti ini, Sitta. Aku digilai para gadis. Tapi aku tidak pernah memilih mereka untuk berada disisiku. Jika kau mau, maka..."
"Apapun! Apapun akan kulakukan asal kau mau bersamaku!" Sitta benar-benar menjadi seorang jaalang hanya demi seorang Damian. Sungguh pemikiran yang bodoh.
"Terserah kau saja! Kau mau mendekatiku, boleh saja. Asal tidak berharap lebih. Dan jangan pernah menyentuh lebih dari yang tidak aku inginkan!" tegas Damian dengan sorot mata yang mengerikan.
"Ma-maksudmu?" Sitta tak paham kemana arah Damian.
"Aku tidak suka jika ada gadis yang berani menyentuh bibirku! Kau jangan menjadi jaalang dengan mencuri sebuah ciuman dariku. Atau kau akan tahu akibatnya!"
Peringatan dari Damian membuat Sitta bergidik ngeri dan menelan ludahnya. Ia pun mengangguk sebagai tanda setuju.
Dan ternyata saat Vania memergoki Damian dan Sitta berada di area gudang yang sudah disulap Damian menjadi kamar pribadinya, itu adalah bukan suatu adegan mesum yang dipikirkan Vania.
Saat itu memang Sitta berusaha menggoda Damian. Dengan duduk dipangkuannya dan berusaha membuat gairah Damian memuncak. Tapi ia juga ingat jika Damian tidak mengizinkan untuk menyentuh bibirnya. Maka pilihan Sitta adalah tengkuk leher Damian yang akan menjadi sasarannya.
Awalnya Sitta hampir berhasil. Karena membuat Damian memejamkan mata keenakan dengan sentuhan bibir Sitta di area lehernya. Namun secara tiba-tiba ada suara berisik dari luar yang berasal dari Vania. Hingga akhirnya membuat Damian tersadar dan menghentikan aksi Sitta.
Sitta menggeram kesal karena ada yang mengganggu rencananya. Ia berjanji akan terus memanfaatkan hal ini untuk mendapatkan Damian. Ia yakin suatu saat Damian akan luluh jika ia menyerahkan seluruh tubuhnya pada pria itu. Benar-benar pemikiran yang bodoh!
#
#
#
"Kau yang memasaknya sendiri?" tanya Damian tidak yakin.
"Iya, aku yang memasaknya. Sudah kucicipi dan kurasa rasanya sangat pas."
Damian duduk disamping Sitta. Gadis itu dengan sigap menyuapi Damian dengan makanan hasil buatannya sendiri.
Damian mengernyitkan dahi begitu mendapat satu suapan. Ia mengeluarkan lagi makanan yang sudah ia kunyah itu.
"Asin sekali! Apa kau ingin membuatku darah tinggi, hah?!" sungut Damian.
"Hah?! Masa sih? Perasaan aku sudah mencicipinya dengan benar deh!" bela Sitta.
"Bawa pergi makanannya! Dan kau juga keluar dari ruanganku! Aku akan meminta Josh menyiapkan makan siang untukku saja."
"Tapi, Damian..."
"Keluar!" ucap Damian dengan suara keras.
Sitta tahu jika Damian memiliki sisi yang berbeda yang kapan saja bisa muncul. Ia pun mengalah. Akhirnya ia keluar dari ruangan Damian dengan membawa makanan yang ia masak.
Damian memijat pelipisnya pelan. Ia memanggil Josh melalui intercom. Ia sudah sangat muak dengan kejadian siang ini.
"Ada apa, Tuan?" tanya Josh.
"Cepat siapkan makan siang untukku! Aku benar-benar marah hari ini!" ketus Damian.
"Baik, Tuan." Josh segera menghubungi Chef yang ada di dapur agar membuat menu kesukaan Damian. Hanya Josh yang bisa mengerti Damian. Pria 30 tahun itu memang sudah sangat mengenal sifat Damian.
"Jika Tuan tidak suka dengan nona Sitta, kenapa masih mempertahankan dia di sisi Tuan? Jangan hanya karena untuk menjaga imej Tuan, akhirnya Tuan repot sendiri," nasihat Josh.
"Entahlah. Aku sangat takut dinilai buruk oleh orang lain, Josh. Aku tidak ingin melakukan ini. Tapi aku sangat takut."
Damian duduk disofa sambil memegangi kepalanya.
"Lalu bagaimana dengan hubungan Tuan dan tuan Edo? Apa akan tetap seperti ini? Apa tuan tidak ingin memperbaiki semua ini?" tanya Josh dengan hati-hati.
"Aku sudah meminta maaf atas apa yang terjadi dengan Samuel. Mungkin dulu aku sangat egois dan arogan. Aku menggunakan kekuasaan Jonathan untuk bisa mendapatkan apa yang kuinginkan. Tapi sekarang aku ingin memperbaiki diri. Lima tahun ini aku ingin mengubah pandangan orang tentangku. Makanya aku ... bersikap hangat dan ramah pada siapapun. Tapi ternyata semua itu masih belum cukup untuk Edo..."
Josh menatap iba pada tuannya itu. Jelas terlihat sebuah penyesalan di mata Damian.
"Teruslah berusaha, Tuan. Aku yakin suatu saat hubunganmu dengan tuan Edo akan membaik," batin Josh.
...***...
Pukul lima sore, Damian keluar dari kantornya dengan mengendarai mobilnya sendiri. Ingatannya kembali memutar pada obrolannya dengan Josh siang tadi.
Damian berhenti karena lampu lalu lintas berwarna merah. Lalu matanya menangkap sosok yang siang tadi hampir saja di ciumnya untuk kedua kalinya.
"Vania..." gumam Damian tanpa sengaja.
Gadis berkacamata itu sedang menunggu ojek online yang dipesannya. Namun secara tiba-tiba ada motor yang berhenti di depan Vania.
Mata Damian membola ketika mengetahui siapa sosok abang ojol yang sedang berbincang dengan Vania.
"Edo? Apa yang dia lakukan?"
Ya, pengendara ojol itu adalah Edo. Vania dan Edo nampak bicara dengan akrab.
"Apa mereka saling kenal? Kok bisa?" tanya Damian seakan tidak suka melihat kedekatan Edo dan Vania.
"Lalu, sejak kapan Edo jadi abang ojol? Apa dia menyamar?"
Damian menatap nanar kepergian Vania dan Edo. Hingga ia tak menghiraukan bunyi klakson yang berkali-kali menggema dari mobil yang ada di belakang mobilnya.
#bersambung
*Genks, ramaikan juga novel emak yg lain yuks 😬😬 👇👇👇
*Ada yg baru juga nih, bergenre fantasi dengan judul Sherine: Istri Dari Masa Depan,
Yuk kepoin 👇👇👇