My Culun CEO

My Culun CEO
#195 - Penolakan



"Kau berbohong, Merlinda," bisik Giga ketika ia menyudahi ciumannya. Meski Merlin tidak merespon, tapi Giga tahu jika Merlin merasakan hal yang sama dengannya.


Merlin menatap Giga. Ia tahu jika hati tidak akan bisa berbohong. Tapi dia harus memutuskan apa yang baik untuk dirinya.


"Maaf, Tuan. Sepertinya Anda salah duga."


Giga tersenyum seringai. "Apa perlu kita melakukannya lagi?" Giga kembali menarik tubuh Merlin namun kini gadis itu melakukan penolakan dengan tegas.


"Apa yang akan kita lakukan jika semua itu memang benar? Meski kau mengatakannya ribuan kali, sebanyak itu juga aku akan menolaknya!"


Giga tak mengerti dengan ucapan Merlin.


"Menolak? Jadi kau akan menolakku?" Tanyanya getir.


"Iya. Aku akan menolakmu. Sekalipun aku menerima, apa keluargamu akan menerima? Apa ayahmu bisa menerimaku?"


Giga terlihat diam. Ia ingin tahu hal apa saja yang akan dikatakan Merlin untuk menolaknya.


"Ini adalah pekerjaan pertamaku yang layak. Aku tidak bisa merusaknya dengan berhubungan denganmu. Apa kau bisa mengerti? Sejak dulu aku melakukan semuanya sendiri. Aku berjuang sendiri. Dan ini adalah karir terbagusku sepanjang hidup. Aku tidak bisa melepaskannya begitu saja. Aku mohon mengertilah!"


"Kau adalah anak-anak orang kaya yang tidak tahu seperti apa rasanya berjuang untuk mendapat sesuap nasi. Sejak lahir kau sudah diberkahi dengan banyak hal termasuk harta. Tapi aku tidak! Aku berjuang sangat keras untuk hidupku!" Suara Merlin terdengar mulai putus asa.


Giga mengalah. Ia tidak akan memaksa lagi. Selangkah demi selangkah Giga berjalan mundur.


"Baiklah. Mungkin kau lelah. Sebaiknya aku pergi. Tapi kau harus pikirkan semuanya dengan baik. Aku akan berjuang agar ayahku bisa menerima hubungan kita. Istirahatlah! Selamat malam, Merlinda."


Sepeninggal Giga, Merlin melangkah gontai memasuki apartemen sederhananya. Kakinya lemas dan tubuhnya merosot ke lantai.


"Ada apa denganmu?"


Resti yang melihat Merlin terduduk lemas segera menghampirinya.


"Aku harus bagaimana, Res?" Merlin menangis meraung-raung. Sementara sang sahabat hanya menggaruk kepalanya melihat Merlin yang menangis. Baru kali ini ia melihat Merlin begitu tidak berdaya.


...***...


Carissa menghubungi Giga dan meminta untuk bertemu. Lagi dan lagi Carissa bukanlah gadis yang mudah menyerah dengan mudah. Dulu susah payah dia mendapatkan Giga, maka sekarang pun ia tidak akan melepaskannya dengan mudah.


Kali ini Carissa meminta bantuan kepada Nathan dan ibunya untuk bertemu Giga. Hingga akhirnya seperti terbentuk pertemuan dua keluarga di siang ini.


"Ada apa ini? Kenapa ada ayah dan ibumu disini?" Tanya Giga dingin pada Carissa.


"Duduklah dulu, Nak!" Nathan membujuk Giga dengan lembut.


Giga pun menurut. Ia duduk berhadapan dengan Carissa dan Freya.


"Dengar, Nak Giga. Hubungan kalian sudah lama terjalin. Karena sekarang Carissa sudah kembali kesini, maka lebih baik kalian segera meresmikan hubungan kalian dalam ikatan pernikahan." Freya membuka pembicaraan. Ia tahu jika putrinya sangat mencintai Giga.


"Bagaimana, Nak? Ayah rasa ini ide yang bagus. Kita bisa melakukan pertunangan lebih dulu sebelum kalian menikah. Apalagi kau akan mengurus proyek besar. Sebaiknya kalian..." Kalimat Nathan terputus karena Giga segera mencegatnya.


"Bukankah Carissa dijodohkan dengan Karel? Kenapa tiba-tiba kalian menodongku begini?" Tanya Giga menatap Carissa tajam.


"Abang! Aku tidak menyukai Karel! Aku hanya mencintaimu. Aku membatalkan perjodohan itu. Jadi, mari kita menikah, Bang. Aku akan..."


"Cukup! Aku tidak mau mendengar ini lagi! Hentikan, Carissa! Kita sudah putus setahun lalu karena kau yang membuatnya begitu."


"Tapi, Bang. Aku tidak menganggap hal itu sebagai putus! Kita hanya meniti karir masing-masing saja." Carissa mulai berwajah pucat.


"Bagiku itu semua sama! Kita sudah berakhir! Dan asal kau tahu, aku mengalami banyak hal traumatis karena ulahmu! Lalu sekarang dengan mudahnya kau minta aku kembali? Tidak bisa! Aku tidak bisa melakukannya! Semua ketidakmampuanku, semua traumaku, itu karena dirimu! Harusnya kau sadar soal itu!"


Giga beranjak dari kursinya dan pergi meninggalkan private room restoran mewah itu. Carissa segera mengejar Giga.


"Abang! Tunggu! Abang!" Carissa memegangi tangan Giga. "Aku minta maaf. Aku tahu aku salah! Aku sudah membuatmu terluka. Tapi kita bisa memperbaikinya lagi kan? Kita bisa memulainya dari awal. Abang, kumohon! Aku hanya mencintaimu. Dan selalu mencintaimu..."


Giga menepis tangan Carissa. "Jika kau pikir dengan cara ini kau bisa mengikatku, maka kau salah besar. Sudah ada orang lain di hatiku. Dan aku sudah lama menghapus namamu dari sana." Giga berlalu pergi setelah mengatakan semuanya pada Carissa.


"Abang!" Carissa yang hendak mengejar Giga dihentikan oleh Freya.


"Apa yang kau lakukan? Apa kau akan membuat dirimu malu dengan terus mengejarnya? Kau sudah membuat mama malu di depan kak Nathan. Sekarang kau lupakan saja semuanya! Giga sudah melupakanmu!" Lerai Freya.


Carissa menggeleng. "Tidak, Ma. Aku tidak mau! Aku hanya mau Bang Giga! Hanya dia!" Teriak Carissa.


"Astaga! Kau ini!" Freya memukuli lengan putrinya. Ia merasa geram dan kesal dengan tingkah putri tunggalnya itu.


...***...


Seharian ini Merlin tidak melihat Giga berada di kantor setelah tadi siang Giga meminta izin untuk pergi makan siang. Sikap Giga terhadap Merlin juga terasa berubah.


Merlin mulai merasa bersalah karena sudah menolak pernyataan cinta bosnya itu. Padahal dalam hati, Merlin juga mulai peduli dan menyukai Giga.


"Haaaahhh!" Merlin mendesah kasar.


"Jangan melamun!" Sebuah cup kopi muncul di depan Merlin.


"Tuan Karel?" Merlin memekik kaget.


"Kau sudah makan malam?"


Merlin menggeleng.


"Baiklah. Ayo kita makan malam bersama! Aku juga belum makan."


Merlin tersenyum dan menyambut baik ajakan Karel. Mereka berdua makan di sebuah kedai mie yang cukup hits dikalangan anak muda.


"Kau sering datang kesini?" Tanya Karel yang melihat tempat itu lumayan ramai.


"Tidak juga. Hanya sesekali bersama Resti. Mie disini sangat enak, cobalah Tuan!"


"Jadi, bagaimana?" Tanya Karel ambigu.


"Apanya yang bagaimana, Tuan?" Merlin balik bertanya dengan mulut penuh mie.


"Tentang pernyataan cintaku."


Merlin tersedak mendengar kalimat Karel.


"Jangan kaget begitu. Bukankah sudah sepantasnya kau memberi jawaban atas apa sebuah pernyataan cinta?"


Merlin diam sejenak lalu menatap Karel.


"Aku sangat menyukai Tuan. Aku tidak bohong. Tuan baik, tampan, dan selalu membantuku. Tapi..."


"Ada tapinya?" Karel nampak kecewa.


"Aku tidak bisa memiliki hubungan yang lebih dari ini denganmu, Tuan. Aku menyukai pekerjaanku. Dari semua pekerjaan yang pernah kulakukan, aku sangat menyukai ini. Dan aku tidak mau merusaknya. Tolong mengertilah, Tuan."


"Apa Giga juga ditolak?" Karel tersenyum kecut saat mengatakannya.


"Eh?"


"Jika kau lebih memilih pekerjaanmu, maka kau juga harus menolak Giga. Begitu kan?"


Merlin terdiam. Kemudian berucap, "Aku memang sudah menolaknya."


"Kalau begitu kami berdua ditolak?" Karel merasa lega sekaligus kecewa.


"Iya, begitulah." Merlin menggaruk kepalanya.


Karel mengangguk paham. "Tapi, aku mau minta satu hal darimu."


"Apa itu, Tuan?"


"Jangan pernah menghindariku. Tetaplah bersikap begini terhadapku. Aku ingin tetap dekat denganmu meski kau menolakku. Mungkin suatu saat kau bisa berubah pikiran. Benar kan?"


Merlin hanya menjawab dengan seulas senyum.


...***...


Sementara itu, Carissa sibuk mencari tahu siapa wanita yang disukai oleh Giga. Hingga akhirnya ia mendapatkan satu nama yang memang dipastikan benar.


"Jadi, gadis itu adalah Merlinda?"


"Iya, benar."


Meski terjadi insiden tak menyenangkan beberapa hari lalu dengan mereka berdua, namun Giga masih bersedia menemui Carissa. Giga masih menghargai hubungan pertemanan mereka yang sudah berlangsung lama.


"Hah?! Yang benar saja? Kau menyukai asistenmu sendiri? Lalu bagaimana dengannya? Apa dia juga menyukaimu?"


"Sebentar lagi dia juga akan menyadari perasaannya. Aku yakin itu!" Balas Giga santai dan percaya diri.


Carissa mengibaskan tangannya di depan wajah. "Aku tidak percaya aku akan dikalahkan oleh seorang gadis biasa seperti dia!" gumamnya.


Giga melirik kearah kaki Carissa.


"Apa memakai high heels itu menyiksa?" tanya Giga.


"Iya, tentu saja. Kakiku kadang terasa sakit jika memakainya terlalu lama."


"Kalau begitu dia juga sama." Giga nampak tak fokus dengan obrolan mereka.


"Abang! Apa sekarang kau juga membicarakan dia didepanku?" geram Carissa.


"Iya, aku membicarakan Merlinda. Sepanjang hari dia mengikutiku dengan memakai sepatu hak tinggi pasti kakinya juga sakit."


Giga segera beranjak dari duduknya dan meninggalkan Carissa.


"Abang! Tunggu!" Carissa segera menyusul Giga.


Ternyata Giga menuju kembali ke kantornya. Disana ia tak melihat Merlin ada di mejanya.


"Dimana Merlinda?" tanya Giga pada Friska, asisten Karel.


"Merlin keluar untuk makan siang, Tuan," jawab Friska.


Giga nampak berpikir sejenak. "Lalu Karel? Apa dia ada di ruangannya?"


"Tidak ada, Tuan. Tuan Karel keluar bersama Merlin."


"Apa?! Kurang ajar!" Giga mengepalkan tangannya.


"Abang, ada apa ini?" Carissa bertanya setelah mendengar jawaban Friska. Ia juga mulai curiga dengan Karel dan Merlinda.


Giga berjalan cepat dan menghubungi ponsel Merlin. Carissa mengikutinya di belakang.


Sepanjang berjalan, pikiran Carissa terus berkecamuk.


"Apa ini?! Jangan bilang jika bang Giga dan kak Karel menyukai gadis itu?" batin Carissa penuh keyakinan.


"Tidak bisa kubiarkan!" geram Carissa dengan mengepalkan tangan.


B e r s a m b u n g