
Sheila terbangun di pagi hari dan menatap sekelilingnya. Ia masih di tempat yang sama. Kamar tidur yang sama dan suasana yang sama. Bedanya, kini selang infus tidak lagi tertancap di tangannya. Oz sudah melepasnya.
Sheila bangkit dari tempat tidur dan mendengar bunyi ombak yang bersahutan merdu. Ia menuju ke pintu balkon dan membukanya.
Sheila terkejut karena dirinya ada di pinggir pantai. Dalam hati ia bertanya-tanya, tempat apa ini?
Sheila merasakan hembusan angin laut di pagi hari yang menyejukkan. Sejenak ia menikmati suasana pagi ini. meski hatinya sendu, tapi sebisa mungkin ia bersyukur karena masih diberi kesempatan untuk bernapas.
"Kau sudah bangun rupanya!"
Suara yang amat dibenci Sheila membuatnya berbalik badan.
"Lepaskan aku! Biarkan aku kembali ke keluargaku!" ucap Sheila dingin.
Oz menarik sudut bibirnya. "Melepasmu? Tidak semudah itu, Nona Sheila. Aku menunggu hari ini selama tiga tahun. Tiga tahun!" pekik Oz.
"Aku tidak memintamu menungguku!" seru Sheila tak mau kalah. "Dan aku tidak akan pernah menganggapmu lebih dari seorang teman."
"Sudahlah. Aku tidak ingin berdebat denganmu. Aku kesini karena membawakanmu sarapan. Ayo kita makan!" ajak Oz.
Sheila bergeming dan memilih kembali diam. Ia bahkan tidak ingin menyentuh makanan yang di bawakan oleh Ozzan.
Oz menatap Sheila yang nampak tak suka dengan kehadirannya. "Baiklah. Aku akan pergi. Tapi kuminta kau harus makan. Ini demi kebaikanmu sendiri."
Oz berlalu dari kamar Sheila dan membiarkan wanita itu sendiri. Sheila mengikuti langkah Oz yang sudah keluar dari kamar. Ia membuka pintu namun ternyata pintunya terkunci. Sheila pikir ia bisa membuka pintu itu dan pergi.
Tubuh Sheila luruh di depan pintu. Air matanya kembali mengalir.
"Apa yang harus aku lakukan?" gumam Sheila dengan isak tangis memenuhi kamar itu.
#
#
#
Nathan mulai menemukan titik temu keberadaan Oz dan Sheila dari orang-orang yang sudah di kerahkannya. Oz memang membawa Sheila ke tempat yang cukup jauh dari kota.
Nathan tak mau menyerah begitu saja dengan keadaan. Ia bertekad harus menemukan istrinya dalam waktu dekat ini.
Di sisi lain, anak buah Hendra juga mulai menemukan jejak Oz. Kini mereka berperang melawan waktu untuk menemukan titik keberadaan Oz lebih dulu.
Tanpa mereka sangka, Oz jauh lebih cerdas dan licik dari yang mereka kira. Dia memasukkan salah satu anak buahnya untuk memantau pergerakan Nathan. Namun di satu sisi, dia tidak tahu jika pihak Hendra juga hampir menemukannya.
Oz mendatangi kamar Sheila dan membekap mulut wanita itu. Sheila berontak. Namun tenaganya tak sebanding dengan Oz dan beberapa perawat yang membantunya.
"Diam dan jangan berontak! Atau aku akan membiusmu!" ancam Oz dengan menunjukkan jarum suntik yang sudah siap membiusnya.
Sheila menggeleng. Ia memilih menurut dan mengikuti keinginan Oz.
"Kita mau kemana?" tanya Sheila sebelum sebuah lakban akan membungkam mulutnya.
"Ternyata suamimu itu cukup pintar. Dia tahu tempat persembunyianku ini. Jadi, kita akan pergi dari sini." Oz menutup mulut Sheila. Kedua tangan Sheila sudah lebih dulu di ikat oleh dua perawat.
"Bawa dia!" perintah Oz. Sheila pasrah. Ia ikuti keinginan Oz sambil otaknya terus berpikir agar bisa lolos dari pria psikopat ini.
#
#
#
Nathan mendobrak masuk sebuah rumah yang ada di bibir pantai. Rumah itu sudah sepi. Tak ada tanda-tanda jika ada orang didalamnya.
Nathan dan beberapa orang menggeledah rumah itu. Nathan tiba di sebuah kamar. Kosong. Semua tempat di rumah itu sudah kosong.
"Sial! Kita terlambat! Si brengsek itu pasti sudah melarikan diri," umpat Nathan.
Matanya tertuju pada benda berkilauan yang terjatuh di lantai. Nathan memungutnya.
"Ini...?" Nathan terbelalak. Itu adalah cincin pernikahannya dengan Sheila.
"Kak Boy!" panggil Nathan.
"Ada apa, Nate?" tanya Boy yang segera datang.
"Ini, Kak. Ini adalah cincin milik Sheila. Itu berarti benar jika dia ada disini."
Boy terdiam. "Kita harus bergegas. Sepertinya mereka masih belum jauh."
"Iya, Kak. Ayo!"
Nathan berlari cepat menuju mobilnya dan melajukannya dengan cukup kencang. Ia menghubungi Harvey untuk memantau CCTV di jalanan yang sedang ia lalui. Ia berharap ada mobil mencurigakan yang tertangkap kamera pengawas.
"Sheila, tunggulah sebentar lagi. Aku pasti akan menyelamatkanmu!" gumam Nathan dengan menginjak pedal gas.
Sepuluh menit kemudian, Harvey kembali menghubungi Nathan dan mengatakan jika ia melihat mobil dengan plat nomor yang mencurigakan.
"Plat nomornya tidak terdaftar. Saya yakin itu pasti mobil yang membawa nona Sheila," ucap Harvey.
"Bagus! Dimana dia terakhir terlihat?"
"Baiklah, terima kasih, Harv!"
Nathan memutus panggilan dan menghubungi Boy. Ia tancap gas untuk bisa menyusul mobil milik Oz.
#
#
#
Sebuah dentuman keras terdengar dan membuat mobil van besar berwarna hitam itu oleng. Beberapa orang didalammya tak sadarkan diri karena terkena benturan.
Dengan nekat Nathan menabrakkan mobilnya pada mobil Oz yang sedang melaju di jalanan. Ia tak tahu lagi harus dengan cara apa menghentikan pria itu.
Nathan yang mengalami pusing di kepalanya segera turun dari mobil. Ia berjalan mendekati mobil van hitam yang terguling ke kiri.
Tak ada tanda-tanda orang yang keluar dari mobil itu. Nathan membuka pintu mobil dengan susah payah.
Matanya berkaca-kaca melihat belahan jiwanya ada di dalam.
"Sheila!" lirih Nathan dengan air mata yang hampir menetes.
Nathan menyingkirkan tubuh Oz yang menghalanginya dan menghempaskannya keluar mobil. Ia mengangkat tubuh Sheila dan menyadarkan istrinya itu.
"Sheila! Bangun sayang!" Nathan menepuk pelan pipi Sheila. Ia membuka ikatan di tangan Sheila dan juga lakban yang membekap mulutnya.
"Sheila!" Nathan memeluk tubuh Sheila dengan erat. "Akhirnya aku menemukanmu!"
Oz yang tersadar dari pingsannya memegangi kepalanya yang terasa berdengung. Ia melihat pemandangan menyesakkan di depannya.
"Sial! Ternyata kau bisa menemukan kami, huh!" umpatnya.
Nathan yang mendengar umpatan Oz lalu merebahkan tubuh Sheila dan menghampiri Oz. Tanpa peduli lagi dengan rasa kemanusiaan, Nathan memukuli Oz dengan membabi buta.
"Brengsek kau! Berani sekali kau melakukan ini padaku! Pria jahanam! Pergi kau ke neraka!" seru Nathan dengan tangannya tak henti menghadiahi bogem mentah ke tubuh Oz.
Mata Nathan memerah. Ia menjadi dirinya yang lain saat ini. Sisi gelapnya kembali muncul ketika ada hal yang memicunya.
Tubuh Oz ambruk dan tak berdaya lagi. Namun Nathan masih belum mau berhenti. Tangannya sudah penuh dengan darah milik Oz.
Hingga akhirnya...
"Hentikan!"
Sebuah suara membuat Nathan terhenti. Ia berbalik badan dan menatap sosok yang amat dirindunya selama ini. Napas Nathan terengah.
"Hentikan! Kau bisa membunuhnya, Tuan Su!"
Nathan mulai kembali ke alam sadar. Ia menatap wanita dihadapannya.
"Sheila?"
Sheila menghampiri Nathan dan memeluk suaminya itu dengan erat.
"Sheila! Kaukah itu? Kau adalah Sheilaku?"
Sheila mengangguk dalam dekapan Nathan.
"Iya, aku adalah Sheila milikmu!"
Tak lama, Boy dan rombongannya datang lalu menghubungi pihak kepolisian. Ia segera membereskan kekacauan yang terjadi di jalan raya ini. Beruntung jalanan cukup sepi karena jauh dari kota.
#
#
#
"Bodoh! Kalian semua bodoh!" teriak Mira di depan Hendra dan anak buahnya.
"Maafkan kami, Nyonya. Kami hanya terlambat sedikit dari tuan Nathan dan Boy," sesal Hendra dengan membungkukkan kepala.
"Haah! Ya sudah! Pergi kalian semua!"
Hendra memberi kode agar anak buahnya keluar dari ruangan Mira. Kini hanya tersisa Hendra dan Mira saja disana.
"Sekarang apa rencana Nyonya?" tanya Hendra.
Mira menghela napas. "Apa boleh buat? Aku harus berpura-pura bersikap baik terhadap mereka bukan? Lagi pula mereka bilang jika selama ini mereka mencariku kan? Tentu saja aku akan datang. Siapkan karangan bunga untuk menyambut kedatangan Sheila kembali ke keluarga Avicenna."
"Baik, Nyonya. Apa ada lagi yang Anda butuhkan?"
"Bilang pada pengasuh Karel untuk mempersiapkan dia. Karel harus ikut denganku menemui keluarganya."
"Baik, Nyonya." Hendra membungkuk sopan kemudian keluar dari ruangan Mira.
Mira memijat kepalanya pelan. "Huft! Ternyata jalanku masih panjang. Sebaiknya aku harus mempersiapkan Karel sejak dini. Dialah yang akan memimpin Avicenna Grup di masa yang akan datang," ucap Mira dengan penuh percaya diri.
#bersambung