
Damian membawa Sitta ke pojok ruangan. Ia tidak suka dengan sikap Sitta yang seolah-olah sengaja mencari masalah dengan Sheila dan Nathan.
"Apa maksudmu berkata begitu?" tanya Damian dingin.
"Damian, apa yang aku katakan tidaklah salah. Kau terlalu berlebihan. Mereka secara tiba-tiba mengumumkan pernikahan mereka padahal sebelumnya mereka menutupinya. Ini kan aneh!"
Damian sungguh tak ingin berdebat. Ia memilih pergi dan meninggalkan Sitta.
"Damian! Tunggu!" Sitta segera mengejarnya. Ia tak boleh melepaskan Damian begitu saja. Ada banyak pasang mata yang memperhatikan mereka. Dan Sitta ingin sebuah rumor segera tercipta.
Damian kembali menyapa para kolega bisnis ayahnya dan juga dirinya. Senyum yang hangat kembali ia tampilkan.
Namun secara tak sengaja matanya menangkap pemandangan yang tak biasa. Sitta yang sedari tadi mengekori Damian, mengikuti arah pandang Damian.
Sitta tersenyum sinis. "Kenapa tatapanmu begitu terhadapnya? Kau bahkan membatalkan perjodohan kalian kan? Kenapa juga harus cemburu saat dia bersama orang lain?"
"Bukan urusanmu!"
Sitta mengedikkan bahunya. "Ah, aku tahu. Kau bukan takut jika Rizka bersama dengan Edo, tapi kau takut kalah saing lagi dengan Edo," terka Sitta yang nampaknya benar. Sehingga menampilkan ekspresi wajah kecut dari Damian.
"Apa kau ingin aku menyingkirkan dia lagi?"
Damian mendelik tajam kearah Sitta.
"Kenapa? Kau sendiri suka kan jika harus berbuat curang?" ucap Sitta santai.
Damian berdecak kesal lalu meninggalkan Sitta. Lagi dan lagi Sitta kembali mengejar Damian.
"Wah, seru sekali mengobrolnya!" ucap Damian hingga membuat Rizka dan Edo menoleh.
"Damian?" gumam Rizka.
"Damian! Maaf ya aku lama, sayang. Hai Nona Rizka, halo Tuan Edo!" sapa Sitta sok manis.
Edo malas sekali melihat wajah tak berdosa milik Sitta yang sudah membuatnya kehilangan kontrak dengan Avicenna Grup. Sitta sengaja menempelkan tubuhnya di lengan Damian.
"Halo juga, Nona Sitta," balas Rizka.
"Nona Sitta, sepertinya Anda salah tempat deh! Ini adalah pesta untuk para pelaku bisnis, dan bukan untuk putri investor yang bisanya hanya merengek saja di depan ayahnya," ketus Edo.
"A-apa katamu?!" Sitta tersulut emosi. Apa yang dikatakan Edo memang ada benarnya.
Sitta merajuk pada Damian. Ia ingin Damian bisa membelanya. Damian menghela napas kemudian berkata,
"Kita pulang saja!" Hanya itu yang diucapkan Damian tanpa berpamitan pada Edo dan Rizka.
"Temanmu itu sangat aneh!" ucap Rizka.
Edo tersenyum seringai. "Ya! Dia bertambah aneh setelah bersama dengan gadis itu."
"Itu berarti dia tidak baik untuk Damian! Sebagai teman apa kau tidak ingin membantunya?" tanya Rizka.
"Jika dia masih nyaman dengan gadis itu, kenapa kita harus peduli?"
Rizka terdiam mendengar jawaban Edo. Rizka sudah tahu masa lalu Edo dan Damian yang berseteru selama lima tahun ini.
"Berdamailah dengan masa lalumu, Tuan Edo. Aku yakin hidupmu akan lebih menyenangkan." Rizka menutup perbincangannya dengan Edo karena ia harus menemui para tamu yang lain.
...***...
Damian akhirnya memutuskan untuk pergi dari pesta. Ia mengendarai mobilnya dan akan mengantarkan Sitta pulang ke rumahnya.
Selama perjalanan, Damian hanya diam. Sitta melirik Damian yang berpura fokus pada jalanan, padahal pikirannya sedang melalang buana.
"Damian, kenapa mengajakku pulang? Pestanya kan belum selesai," rajuk Sitta.
Damian yang sudah tak bisa mengontrol lagi emosinya segera menepikan mobilnya. Ia menatap Sitta tajam dan sejurus kemudian ia mencekik leher Sitta.
Sitta yang amat terkejut berusaha melepaskan tangan Damian. Suaranya tercekat meminta ampun pada Damian untuk melepaskannya.
Beruntung sedari tadi mobil Josh mengikuti arah mobil Damian. Josh mengernyit heran ketika melihat mobil Damian menepi.
Josh ikut menepikan mobil dan segera turun. Ia berjalan menuju mobil Damian.
Josh menggedor kaca mobil Damian. Josh tak bisa melihat apapun karena kacanya begitu gelap.
"Tuan Damian!" teriak Josh.
Sitta yang merasa nyawanya diujung tanduk berhasil membuat kaca mobil turun dan memanggil Josh dengan sisa-sisa tenaganya.
"Hah?! Tuan Damian!" seru Josh yang segera membantu Sitta.
Sekuat tenaga Josh berusaha melepaskan cengkraman tangan Damian di leher Sitta.
"Tuan sadarlah!" seru Josh.
"DAMIAN!" teriak Josh sambil mengeluarkan jurus bogem mentahnya.
...***...
Keesokan harinya, Damian terbangun dengan merasakan sakit di bagian wajahnya. Josh yang sejak semalam menemaninya kini malah masih terlelap di sofa kamar Damian.
"Josh! Apa yang kau lakukan?" tanya Damian bangkit dari tempat tidur.
Josh terkesiap mendengar suara teriakan Damian. "Tuan Damian? Anda sudah bangun?"
Damian mengangguk. "Kenapa kau tidur di sofa? Kenapa tidak minta pelayan untuk menyiapkan kamar tamu untukmu?"
"Tidak perlu, Tuan. Aku bisa tidur dimana saja," jawab Josh dengan masih merasa bersalah.
Dalam hati ia bertanya-tanya, apakah Damian mengingat kejadian semalam atau tidak.
"Ada yang Tuan butuhkan? Saya akan siapkan semuanya!"
"Tidak ada! Kau sebaiknya bersiap saja. Aku akan mandi dulu!"
Josh mengangguk patuh kemudian berlalu dari kamar Damian.
Di dalam kamar mandi, Damian benar-benar tidak ingat bagaimana ia bisa memiliki bekas memar di wajah tampannya. Mungkin setelah dipukul oleh Josh, otaknya sedikit bergeser, hihihi.
Lima belas menit kemudian, Damian keluar dengan memakai baju handuk dengan santainya. Ia tak menyadari ada sepasang mata yang menatapnya dengan lapar.
Damian menuju ruang ganti miliknya dan memilih setelan yang akan ia kenakan hari ini.
GREP!
Dua buah tangan melingkar di perutnya. Damian terkejut. Ia segera melepas dua tangan yang melilit tubuhnya dan berbalik.
"Sitta! Bagaimana bisa kau masuk kemari?" tanya Damian dingin.
"Pelayanmu menyuruhku masuk. Kenapa? Jangan kaget begitu dong! Aku sengaja datang untuk memberimu kejutan."
"Pergi! Aku harus berpakaian!"
"Oke! Tapi kita akan bicara setelah kau selesai!" tegas Sitta. Ia sangat yakin kali ini dia bisa mendapatkan Damian.
Sepuluh menit kemudian, Damian keluar dengan sudah memakai kemeja lengan panjang dan celana kainnya. Sisanya tinggal dibalut jas dan juga dasi.
"Katakan ada apa?" tanya Damian.
"Kau ingat apa yang semalam kau lakukan padaku?" tanya Sitta balik.
Damian nampak bingung.
"Hah! Baiklah, jika kau lupa, silakan lihat ini!"
Sitta menyerahkan ponselnya dan terputarlah sebuah video dimana Damian kemarin sedang mencekik leher Sitta.
"Hah?!" Damian terkejut.
"Dasar aneh! Kau melupakan jika dirimu sudah melakukan kejahatan? Sungguh tidak bisa kupercaya!"
Damian terduduk di sofa. Ia memegangi kepalanya. Ia memang tidak ingat dengan apa yang dilakukannya semalam.
"Bagaimana ya nasibmu jika video ini sampai tersebar?"
"Apa?!" Damian menatap Sitta. Gadis ini berubah menjadi gadis licik yang ganti menerkam Damian.
"CEO Ford Company adalah orang yang mengerikan! Wah, Damian Ford ternyata memiliki sisi lain yang sangat kejam!" Sitta bicara dengan gaya menakut-nakuti Damian.
Pria itu sedikit terbawa suasana. Namun ia tak bisa bertindak gegabah lagi. Citranya akan benar-benar dirusak oleh gadis ini.
"Apa maumu?" Damian mulai melunak.
"Oke! Aku tidak ingin banyak hal. Aku hanya mau satu hal saja yaitu kau!"
Damian terdiam. Ia masih menimang nimang apakah ini adalah hal yang baik atau tidak. Tapi rasanya ia tidak memiliki pilihan.
"Baik. Aku akan menuruti keinginanmu," ucap Damian pasrah.
Sitta tersenyum puas. Ia segera memeluk Damian. Pria itu hanya diam ketika Sitta mencium sudut bibirnya.
#bersambung
*Wah wah, Sitta ternyata cukup pintar ya! Tp cara licik seperti itu jangan di tiru ya genks 😉😉😉
*mumpung hari senin, silakan yang ingin sedekah VOTE utk Nathan, Damian, Edo 😬😬
...Terima kasih...