My Culun CEO

My Culun CEO
#1 1 5



Vania berjalan dengan hati-hati karena ini pertama kalinya ia memakai sepatu hak tinggi yang mahal dan cantik. Rizka memberi kode pada Fardhan untuk membuka aula yang akan menjadi tempat diselenggarakannya pesta ulang tahun Rizka.


Fardhan masuk lebih dulu kemudian di susul oleh Vania yang berjalan anggun memasuki ruangan. Seluruh tamu undangan yang hadir bertanya-tanya siapakah gadis cantik bergaun merah yang sedang berjalan itu.


"Siapa dia? Cantik sekali dan sangat elegan."


"Iya, siapa ya dia? Aku juga mau menjadikannya menantu."


"Hei, aku duluan yang melihatnya."


"Ah kamu. Kenapa tidak mau mengalah?"


Itulah segelintir obrolan ibu-ibu sosialita yang hadir menemani suaminya.


Damian yang berada tak jauh dari sana mulai jengah dengan obrolan para mama itu. Ia yang sedang sibuk menyesap wine-nya akhirnya tergiur untuk melihat seperti apa gadis yang sedang dibicarakan itu.


Damian tersedak. Matanya membola memperhatikan gadis cantik yang tersenyum ramah kepada para tamu.


"Vania...?" gumam Damian.


Sedangkan Edo sedari tadi sudah memperhatikan Vania yang nampak berbeda. Tanpa menunggu lama, ia segera menghampiri Vania dan mengulurkan tangannya.


"Bang Edo?!" pekik Vania yang terkejut dengan kedatangan Edo.


"Kau sangat cantik, Vania."


"Terima kasih, Bang," balas Vania dengan tertunduk.


"Mari, Nona Vania. Dengan senang hati saya akan menemani Nona malam ini," ucap Edo dengan gaya maskulin.



Vania malah tertawa melihat sikap Edo yang terlihat aneh dimatanya. Entah kenapa pembawaan Edo memang santai dan membuat Vania nyaman. Dengan mudah kini Vania sudah melupakan kesalahan Edo beberapa waktu lalu.


Tak lama suara tepuk tangan menggema di ruangan itu. Rizka mulai memasuki ruangan bersama dengan Rio.


"Wah, kak Rizka sangat cantik ya, Bang," ucap Vania.


"Justru menurutku kau jauh lebih cantik."


Kalimat Edo membuat wajah Vania merona.


"Apaan sih, Bang? Dibandingkan dengan kak Rizka tentu saja aku kalah jauh," cebik Vania.


"Kau ini suka sekali merendah. Tapi malam ini kau benar-benar berubah Vania," bisik Edo yang terlihat begitu intim di mata Damian.


Pria tampan itu sedari tadi memperhatikan gestur Edo yang nampak ada ketertarikan terhadap Vania. Tangannya mengepal ketika Edo dengan tanpa canggung berbisik di telinga Vania. Berbeda sekali dengan dirinya yang nampak gugup jika berada di dekat Vania.


"Selamat malam semuanya! Terima kasih atas kehadiran para tamu sekalian dalam acara pesta ulang tahun saya malam ini," sapa Rizka kepada para tamunya.


Usai melakukan sambutan, Rizka mempersilakan para tamu undangan untuk berdansa bersama. Dengan sigap Edo meminta Vania untuk berdansa dengannya.


"Aku tidak bisa berdansa, Bang. Sebaiknya aku duduk saja. Abang berdansa dengan gadis lain saja," tolak Vania secara halus.


"Sudahlah, tinggal ikuti aku saja. Jangan cemas!"


Edo seakan memaksa Vania untuk melakukan dansa dengannya. Edo memperlakukan Vania dengan lembut.



Mau tak mau Vania mengikuti langkah kaki Edo. Lambat laun Vania menyukai gerakan dansa mereka. Mereka nampak serasi di mata para tamu undangan.


Damian makin murka melihat kedekatan Vania dan Edo.


"Apa-apaan dia? Sengaja ya ingin membuatku marah, hah?!" sungut Damian namun ia tak bisa berbuat apapun.


Seorang pria menghampiri Damian. Orang itu berbisik ke telinga Damian.


Damian memejamkan matanya. "Mau apa lagi gadis itu? Biarkan saja dia mau bicara apa. Aku sedang tidak ingin diganggu!" tegas Damian.


Damian meneguk segelas wine untuk menetralkan hatinya.


"Mereka sangat serasi ya!" ucap Rizka yang tiba-tiba ada di dekat Damian.


"Maaf ya, aku terpaksa mengurung kekasihmu karena dia membuat keributan di hari ulang tahunku. Aku yakin dia pasti akan mengadu padamu."


Damian memutar bola matanya malas. Ia tak ingin mendengar ocehan Rizka yang seakan membuatnya bertambah gerah.


"Kau tidak ingin berdansa? Aku bisa menemanimu!" tawar Rizka.


Damian hanya melirik sekilas.


"Ayolah! Aku tahu hubungan kita buruk, tapi..."


Rizka memicingkan mata. "Hei, Tuan! Ini adalah hari ulang tahunku! Kenapa membicarakan soal bisnis? Ayolah, Damian. Kita lupakan sejenak masalahmu dan kita berdansa."


Hingga akhirnya Damian memilih untuk setuju.


"Baiklah, ayo!"


Rizka dan Damian turun ke lantai dansa. Beberapa orang kini juga memandangi kedua insan yang pernah gagal bertunangan itu.


Vania yang melihat kedekatan Damian dan Rizka hanya terdiam. Meski ia masih mengikuti gerakan Edo, namun kini pikirannya malah berkelana entah kemana.


"Kau kenapa?" tanya Edo.


"Eh? Tidak apa, Bang. Aku sedikit lelah saja."


"Kalau begitu kita istirahat saja ya!"


Vania menggeleng. "Musiknya belum berhenti, Bang. Bukankah itu tidak sopan meninggalkan lantai dansa sebelum musik berakhir?"


Edo tersenyum. "Baiklah. Kalau begitu kau harus tersenyum."


Vania tersenyum manis di depan Edo.


"Good girl!" Edo menarik tubuh Vania makin mendekat. Ia melirik Damian tajam yang juga sedang menatap kearahnya.



...***...


Acara dansa pun usai, kini berganti dengan acara inti yaitu harapan dan doa Rizka di usianya yang semakin bertambah. Rizka memejamkan mata memohon sebuah harapan kemudian meniup lilin yang ada di depannya.


Semua orang bertepuk tangan dan memberikan selamat. Acara berlanjut dengan makan malam mewah untuk para tamu undangan.


Vania duduk di samping Rizka. Sebenarnya ia sangat risih dengan keadaan ini, karena tentunya meja Rizka di isi oleh keluarganya.


"Jadi ini yang bernama Vania?" tanya Nadine.


"Iya, kak."


"Dia sangat cantik ya!"


"Terima kasih, kak." Vania kembali tertunduk karena tidak mampu menatap anggota keluarga Rizka.


Rizka sudah tidak memiliki seorang ibu. Begitu juga dengan kakak sepupunya. Vania baru menyadari itu.


Vania melihat senyum Rizka yang mengembang di malam hari ini. Mungkin ia lega karena akhirnya bisa berdamai dengan semuanya.


Damian dan Edo yang duduk dalam satu meja, hanya bisa saling menatap sinis. Persaingan dua pria tampan ini makin jelas saja.


Harvey dan Naina yang satu meja dengan mereka merasakan aura yang gelap di sekitar mereka.


"Harv, sepertinya persaingan akan menjadi semakin sengit. Kira-kira siapa yang akan menang?" bisik Naina.


"Hush! Jangan bicara sembarangan. Hati Vania siapa yang tahu."


"Aku lebih setuju Vania bersama dengan tuan Edo. Vania terlihat lebih bahagia saat bersama dengannya."


"Belum tentu juga. Sudahlah! Kau jangan terus menerka-nerka. Kasihan Vania jika harus diperebutkan oleh dua pria kaya ini."


BRAK!


Damian menggebrak meja. "Aku mau ke toilet dulu!" Damian beranjak dari kursinya.


"Astaga, Harv! Lihatlah dia! Benar-benar sangat menyebalkan kan? Mana imejnya yang katanya selalu ramah itu? Cih, ternyata hanya topeng saja!" Naina mengelus dadanya.


"Sudahlah! Jangan memikirkan orang lain. Kita pikirkan saja masa depan kita!" ucap Harvey yang membuat Naina tersipu.


Di dalam toilet, Damian mencuci tangan dan membasuh wajahnya dengan air. Ia menatap dirinya di cermin.


"Mana dirimu yang dulu Damian? Kenapa kini kau begitu lemah hanya karena seorang gadis? Kau tidak pernah begini sebelumnya! Kau selalu membuat para gadis bertekuk lutut didepanmu! Bukan kau yang bertekuk lutut didepannya!"


Damian keluar dari toilet dan bersamaan dengan Vania yang juga baru keluar dari toilet wanita.


"Kau!" ucap Damian melihat Vania.


Vania segera memalingkan wajahnya dan berjalan cepat meninggalkan Damian. Namun ternyata gerakan Damian lebih gesit. Ia berhasil mencekal lengan Vania.


"Lepas!" ucap Vania.


"Kita harus bicara! Ikut denganku!" Damian menarik tangan Vania dan membawanya keluar dari aula.