
Nathan sebagai Tarjo memasuki area basement gedung apartemennya. Ia memarkirkan mobilnya lalu turun dengan perasaan bahagia.
Rasanya sangat menyenangkan bisa mengerjai Rizka hari ini. Untuk besok entah apa lagi yang akan ia rencanakan.
Nathan melangkah menuju lift namun tenryata lift di lantai basement sedang rusak.
"Ah, sial!" gerutu Nathan yang terpaksa memutar langkahnya melewati lobi apartemen. Jika harus lewat tangga darurat, tentu saja ia tidak akan mau. Terlalu lelah, pikirnya. Bisa bisa agendanya untuk menghabiskan malam bersama Sheila jadi kacau balau.
Akhirnya Nathan tiba di lobi. Ia akan melangkah masuk namun dihentikan oleh satpam.
"Permisi! Mas mau kemana?" tanya satpam yang pastinya sangat Nathan kenali itu.
"Ehem! Apa bapak tidak mengenaliku? Aku..."
Nathan teringat jika dirinya belum melepaskan aksesorisnya sebagai Tarjo. Ia pun menepuk jidatnya.
"Astaga! Aku lupa jika aku masih menjadi Tarjo. Bagaimana ini? Pak Sarto pasti tidak akan membiarkan aku masuk karena penampilanku mencurigakan," batin Nathan sambil memutar otak.
Nathan mundur perlahan kemudian menghubungi Sheila. Ia meminta istrinya untuk menjemputnya di lobi.
Tak lama Sheila datang dan menyapa Nathan yang berpenampilan Tarjo. Ia tertawa kecil karena kini dirinya yang dikerjai. Mungkin ini adalah karma untuk Nathan yang sudah mengerjai Rizka.
Satpam akhirnya membiarkan Tarjo masuk karena Sheila beralasan jika dia adalah saudara jauh yang datang berkunjung. Mereka berjalan memasuki lift. Hanya ada mereka di dalam lift.
"Hahahah, makanya jangan usil! Akhirnya kamu kena batunya kan?" Sheila tertawa puas dengan penderitaan suaminya.
"Seorang Nathan Avicenna diusir dari apartemennya sendiri, hahaha."
Sheila merasa puas dengan kelucuan yang terjadi malam ini. Karena kesal dengan tawa istrinya, Nathan menarik pinggang Sheila dan memberinya kecupan mesra di bibir istrinya itu.
Sheila memukuli dada Nathan yang menyerangnya tiba tiba.
"Tuan Su! Ada kamera pengawas disini!" Sheila menunjuk benda bulat yang terpasang di pojok lift.
"Bodo amat! Ini semua hukuman untukmu karena kamu berani menertawaiku, huh!"
Nathan kembali menarik tubuh Sheila. Tapi ia menolak.
"Ampun, Mas Tarjo!" ucap Sheila masih terkekeh.
Sheila merangkum wajah Nathan. "Ini baru namanya my culun CEO!" Sheila mengecup bibir Nathan singkat namun berkali kali.
Hingga akhirnya pintu lift terbuka. Mereka keluar dan langsung menuju apartemen mereka.
Sheila yang masih gemas dengan Nathan dan Nathan yang juga ingin menghukum Sheila semalaman. Jadilah mereka akhirnya menghabiskan malam panas yang panjang bersama.
#
#
#
Keesokan harinya, Nathan kembali menjadi Tarjo, si pria culun yang akan mengerjai Rizka. Sheila mengernyit heran karena Nathan melakukan hal ini lagi.
Nathan menghela napas.
"Sayang... Apa kamu tahu dia itu seperti apa? Aku tahu dia sengaja menggodaku. Aku tidak mau sampai tergoda dengannya!"
Sheila mendelik.
"Jika kamu selalu mengingatku dan juga perjuangan kita hingga sampai ke titik ini, aku yakin kamu tidak akan tergoda."
Sheila merangkum wajah Nathan dan memberinya kecupan bertubi di bibirnya.
"Sayang, jangan terus menggodaku!"
Sheila kembali mendelik. "Ternyata otakmu itu sangat mesum, Tuan Su! Ya sudah, kamu harus berangkat pagi kan? Pergilah! Aku juga akan bersiap untuk ke kantor."
Nathan mengangguk. Ia mengecup puncak kepala Sheila kemudian berlalu.
Sheila menatap kepergian suaminya dengan hati yang agak sedikit mencelos. Ia takut jika memang Rizka berniat menjadi orang ketiga dalam rumah tangga yang baru saja di binanya itu.
#
#
#
Tiba di gedung Avicenna Grup, Tarjo di sapa ramah oleh satpam yang kemarin sempat melarangnya masuk. Kini ia bagaikan orang penting yang mendapat sambutan hangat dari para karyawan.
Gosip yang beredar tentang dirinya begitu cepat menyebar. Seperti yang Sheila katakan jika dirinya dijuluki 'Culun CEO'. Posisinya sebagai orang kepercayaan Nathan tidaklah main-main.
Sebelum menjadi Tarjo, Nathan sudah membuat video konfirmasi mengenai dirinya yang melimpahkan semua tanggung jawab kepada Tarjo. Video itu di sebar ke seluruh divisi agar menjadi perintah untuk seluruh karyawan agar menghormati Tarjo sama seperti menghormati dirinya.
Tarjo berjalan menuju ruangan Nathan dan langsung menemui Harvey. Ia memberikan berkas pada Harvey tentang agenda apa yang akan ia lakukan hari ini.
"Tuan, sepertinya nona Rizka tidak akan datang hari ini," tutur Harvey.
"Hmm?" Tarjo memegangi dagunya.
"Jadi, dia menyerah?" lanjutnya dengan menyeringai.
Tiba-tiba sebuah pesan masuk di ponsel Tarjo. Kemarin dirinya sudah bertukar nomor ponsel dengan Rizka.
Tarjo mengerutkan kening karena Rizka memintanya datang ke tempat usaha miliknya.
"Bagaimana ini, Harv? Apa aku harus datang kesana?" tanya Tarjo.
Harvey hanya mengangkat bahunya. Ia juga tidak bisa memutuskan. Keputusan akhir ada pada Tarjo.
"Haah! Mau apa sih dia?" Tarjo nampak berpikir sejenak kemudian memutuskan untuk memenuhi undangan Rizka.
"Harv, ikut denganku dan kita temui nona muda merepotkan ini!" ucap Tarjo.