
Naina menerima pesan dari Sheila yang mengatakan jika di kantornya untuk sementara belum membuka lowongan untuk sarjana akuntansi. Naina menyampaikan hal itu kepada Vania.
Vania cukup mengerti jika mencari pekerjaan di kota besar tidaklah semudah yang ia bayangkan. Ia akan mencoba untuk mencari rejekinya sendiri dan dengan usahanya sendiri.
"Tidak apa, Kak. Kakak sudah memberikan aku tempat tinggal itu sudah lebih dari cukup. Untuk pekerjaan, biar aku sendiri yang mencarinya. Aku akan bersiap untuk mengirim lamaran pekerjaan, Kak."
Naina tersenyum. Semangat juang Vania mengingatkan dirinya tentang perjuangan hidup. Andai saja kakaknya sama seperti Vania, mungkin hubungan Naina dan dia...
"Astaga, Naina! Apa yang kau pikirkan? Aku sudah memiliki Harvey dalam hidupku. Untuk apa memikirkan pria lain?" batin Naina.
Tak lama suara pintu rumah Naina diketuk. Itu adalah Harvey yang menjemput Naina untuk pergi ke kantor bersama.
Harvey menyapa Naina hangat. Naina berpamitan pada Vania. Ia akan keluar rumah lebih dulu.
"Nanti kunci rumahnya kamu bawa saja. Aku punya cadangannya," ucap Naina.
"Iya, Kak. Terima kasih."
Naina memeluk Vania lalu berangkat bersama Harvey.
Di perjalanan, Naina sempat bertanya pada Harvey apakah ada lowongan pekerjaan untuk Vania.
"Bukannya dia bilang akan mencari sendiri, Na? Kurasa kamu tidak perlu bingung. Dia sudah dewasa, aku yakin dia bisa mendapat pekerjaan dengan usahanya sendiri." timpal Harvey.
Naina hanya mengangguk paham. Sebenarnya Naina hanya kasihan terhadap Vania. Gadis itu baru pertama kali datang ke ibukota dan kini harus mencari pekerjaan sendiri.
Ya, meskipun jaman sekarang semuanya sudah canggih. Tidak perlu takut tersesat karena ada maps yang terpasang di ponsel. Tetap saja ia khawatir. Vania sudah seperti adik baginya.
"Sudah, jangan banyak melamun. Aku yakin Vania akan baik-baik saja." Harvey menggenggam tangan Naina untuk menenangkan gadis itu.
Naina tersenyum menatap Harvey.
#
#
#
Vania keluar dari rumah Naina dan memesan ojek online. Ia sudah melakukan pencarian lewat internet dan akan mendatangi kantor-kantor yang membuka lowongan pekerjaan.
Di tengah jalan, Vania melihat seorang ibu yang kesulitan membawa barang belanjaannya. Ia merasa tidak tega. Vania meminta abang ojol berhenti dan ia turun dari motor.
"Bang, tunggu sebentar ya! Aku mau bantu ibu itu."
"Ibu! Ada yang bisa aku bantu?" tanya Vania menghampiri si ibu.
"Ah, ini Nak. Ibu terlalu banyak belanja ini. Jadinya kerepotan bawa barangnya." jawab ibu itu.
"Sebaiknya ibu naik taksi saja. Biar aku panggilkan saja."
Vania memesan taksi melalui ponselnya. Namun masih belum mendapatkan driver.
Sementara itu driver ojol yang menunggu Vania kini sedang menyilangkan tangannya.
"Gadis itu dilihat dari sisi manapun tidak ada menarik-menariknya. Terkesan culun karena memakai kacamata tebal begitu. Tapi dia memiliki hati yang baik. Ya, cukup memiliki nilai jadinya." gumam si driver ojol.
Ketika sedang menunggu taksi yang di pesannya, tiba-tiba sebuah mobil mewah berhenti tepat di depan mereka.
Seorang pria tampan muncul dari dalam mobil. Sejenak Vania terpesona dengan sosok pria tampan yang ternyata mengenal ibu yang ditolongnya.
"Ibu Nur!" sapa pria tampan itu.
"Tuan Damian?"
"Apa yang Ibu lakukan disini?" tanya pria tampan yang adalah Damian.
"Ibu baru selesai berbelanja di pasar, ternyata banyak sekali barangnya. Ibu jadi kerepotan membawanya," cerita Ibu Nur.
"Kalau begitu ikut saja denganku. Mari, Bu aku bantu."
Damian segera mengambil alih kantong kresek di tangan Nur dan meletakkannya di bagasi mobilnya. Sementara Vania masih terbengong melihat ketampanan dan kebaikan hati pria di depannya.
"Ayo, Bu. Aku akan mengantar Ibu ke panti." ucap Damian.
"Duh, terima kasih, Tuan Damian."
Nur yang merasa tak enak hati dengan Vania akhirnya meminta maaf dan berpamitan. Nur segera masuk ke dalam mobil mahal Damian.
Sementara itu Vania kebingungan mencari keberadaan driver ojol yang tiba-tiba menghilang.
"Duh, kemana itu abang ojolnya?" monolog Vania.
"Maaf, Mbak. Saya tadi ada urusan sebentar!" Si abang ojol tiba-tiba muncul di depan Vania.
#
#
#
Vania menuju ke gedung tempat pameran lowongan pekerjaan sedang berlangsung. Vania masuk ke gedung itu dan melihat banyaknya orang-orang yang juga sedang mencari pekerjaan seperti dirinya.
"Wah ramai sekali..." gumam Vania yang seakan melihat lautan manusia.
Dari kejauhan, si abang ojol nampak sedang memperhatikan Vania yang terlihat lugu dan polos.
"Siapa tadi namanya?" gumam si abang ojol. Ia melihat aplikasi di ponselnya.
"Hmm, Vania Tanuja." gumam si abang ojol.
"Baiklah, sepertinya dia bisa melakukan semuanya sendiri. Sebaiknya aku pergi saja."
Si abang ojol kembali akan menaiki sepeda motornya. Namun tiba-tiba ponselnya berdering.
"Halo, Pak. Ada apa?" jawab pria itu.
"........."
"Hmm, ya atur saja. Saya akan tiba di kantor sekitar 30 menit lagi."
Panggilan berakhir.
"Baiklah, Nona Baik Hati. Semoga kau beruntung mendapatkan pekerjaan!" ucap si abang ojol kemudian berlalu.
Sementara Vania masih mencari-cari perusahaan yang sekiranya cocok dengan jurusan yang ia miliki. Vania melihat satu stand yang sangat ramai di kerumuni oleh para pencari kerja.
"Apa itu ya? Coba aku lihat saja deh!"
Vania berjalan menerobos kerumunan orang banyak. Matanya memicing membaca nama papan stand yang tertera di sana.
"Ford Company?" gumam Vania.
"Hmm, banyak sekali peminatnya. Apa aku bisa berhasil masuk?" Vania pesimis bisa mengalahkan begitu banyak pelamar yang ada disana.
"Coba saja, Nona!"
Sebuah suara membuat Vania terlonjak kaget.
"Ah, tidak. Sepertinya saya tidak akan diterima disini." lirih Vania.
"Siapa bilang? Kau belum mencoba kenapa merasa rendah diri?" timpal orang itu yang adalah seorang pria.
"Lihatlah! Yang mendaftar semuanya berpenampilan cantik. Sedangkan aku..."
"Bos kami tidak mementingkan penampilan, Nona. Tapi, ini!" ucap pria itu menunjuk kepalanya.
"Tidak penting kau cantik atau tidak asal kau bisa bekerja dengan baik sesuai target perusahaan." lanjutnya.
Vania sedikit menyunggingkan senyumnya.
"Saya dari jurusan akuntansi, dan saya baru saja lulus kuliah. Apa mungkin bisa?" tanya Vania ragu.
"Bisa saja. Mana surat lamaranmu?" tanya orang itu dengan menengadahkan tangannya.
"Apa Anda akan membantu saya?" tanya Vania sedikit senang.
Pria itu tersenyum. "Tidak! Saya tidak akan membantu Anda. Anda sendiri yang harus membuktikan Anda mampu menjadi bagian dari Ford Company dari pada pelamar yang lain."
Vania mengangguk paham. Ia mengeluarkan sebuah map dari totebag miliknya.
"Baiklah. Terima kasih atas partisipasinya. Kenalkan! Saya Josh. Semoga Anda beruntung, Nona..." Josh melirik ke berkas yang di serahkan Vania.
"Nona Vania Tanuja," lanjut Josh kemudian berlalu meninggalkan Vania yang masih bingung dengan yang terjadi.
"Ya Tuhan! Semoga saja ini memang rejekiku!" gumam Vania dalam hati.
#bersambung
*Wah, Thor, kok ceritanya jadi kemana-mana sih?
\=> Tidak kok shay, semua akan tetap nyambung dgn judulnya, Culun CEO. Nah, kira2 siapa ya si culun CEO selanjutnya?
*Trus kisah Nathan-Sheila gimana?
\=>Ya mereka akan tetap ada lah. Hanya saja kisah teman2 mereka juga aku jabarkan, biar lebih ramai πππbiar gak bosen πππ