My Culun CEO

My Culun CEO
#169 - Kekhawatiran Nathan



Buat kalian yang sudah baca karya akuh yg sebelum2nya, pasti sudah tahu kan kalo akuh paling suka menambahi bumbu2 dalam tiap karya. Maka jangan heran kalau nanti kisah ini akan di bumbui dengan sedikit sci-fi dan crime. So, stay tuned terus ya genks. Terima kasih


...###...


Sembilan bulan kemudian...


Sheila berdiri di depan ruangan yang terdapat sebuah tabung disana. Di dalam tabung itu ada sosok bayi yang adalah putranya dan Nathan. Sheila memilih bayi laki-laki untuk putra pertamanya. Menurutnya, seorang pria pantas dijadikan anak pertama karena dia yang nanti akan menjaga adik-adiknya kelak.


Sheila sudah pernah mengalami itu dari sosok kakaknya, Rangga. Jadi ia juga terinspirasi untuk memiliki anak lelaki lebih dulu. Dan mungkin jika Tuhan berkehendak, anak keduanya nanti adalah seorang putri.


"Nona Sheila!" panggil seseorang.


"Dokter Oz?" sapa Sheila dengan tersenyum.


"Lama tidak berjumpa, bagaimana kabarmu?"


"Baik, Dok. Dokter sendiri bagaimana? Pasti sangat sibuk ya?"


"Ya lumayan. Apa itu adalah bayimu?"


Sheila mengangguk. "Iya. Sebentar lagi dia bisa melihat dunia ini."


"Kakak iparmu itu memang sangat jenius. Aku sudah mendengar tentangnya sejak dia masih kecil. Dia dulu adalah anggota FBI termuda."


"Hah?! Benarkah?" Sheila melongo tak percaya.


Ozzan mengangguk. "Apa suamimu tidak pernah bercerita tentang Boy?"


Sheila menggaruk tengkuknya. Ia hanya membalas dengan sebuah senyum.


"Mungkin itulah kenapa Nathan tidak suka jika harus dibandingkan dengan kak Boy. Dan juga dia selalu berusaha lebih keras agar bisa menyamai kak Boy. Ya Tuhan, ternyata suamiku menyimpan beban yang cukup berat," batin Sheila.


"Sayang!" Sheila tersadar dari lamunannya ketika Nathan tiba-tiba datang dan langsung mencium pipinya di depan Ozzan.


"Tuan Su? Kau sudah datang? Apa pekerjaanmu sudah selesai?" tanya Sheila kikuk karena Nathan menciumnya di depan Ozzan.


"Hmm, sudah selesai."


"Oh ya, Nona Sheila. Sebentar lagi kau akan jadi seorang ibu. Ini aku bawakan vitamin untukmu." Ozzan memberikan sebuah botol vitamin kepada Sheila.


"Terima kasih, Dokter." Sheila menerima pemberian Ozzan.


"Kalau begitu saya permisi dulu, Tuan Nathan, Nona Sheila."


Sheila mengangguk ramah. Sementara Nathan menatap horor kearah Ozzan.


"Tuan Su! Kenapa menatapnya begitu?" tanya Sheila.


Nathan berdecih. "Lihatlah dia! Entah kenapa aku tidak suka padanya."


"Sayang, dia hanya memberikan vitamin. Lagipula dia adalah teman lama kak Boy dan kak Dion kan? Jangan bersikap begitu padanya."


Nathan memeluk Sheila. "Entahlah. Aku hanya merasa khawatir saja. Coba lihat putra kita! Sebentar lagi dia akan lahir."


Sheila mengangguk antusias. "Iya. Aku sudah tidak sabar untuk menimangnya. Mama dan mama Lian juga pasti akan sangat senang dengan kehadirannya."


"Sayang, kau ingin memberi nama siapa?"


"Hmm, siapa ya? Giga? Aku suka nama itu." jawab Sheila.


"Giga? Kenapa kau ingin memberinya nama itu?"


"Entahlah. Aku hanya berharap dia akan jadi orang besar ketika dia dewasa nanti."


"Kalau aku suka nama Kenny."


"Kenny?" Sheila mengernyit. "Bagaimana kalau kita gabung saja? Kenny Giga Avicenna. Apa bagus?"


Nathan berbinar senang. "Bagus, sayang. Kenny Giga Avicenna. Dia akan menjadi CEO Avicenna Grup selanjutnya."


"Hei, dia bahkan belum lahir. Jangan memaksakan dia untuk menjadi seperti yang kita minta. Kita biarkan saja dia memilih apa yang dia inginkan. Bukankah orang tua harusnya begitu?"


Nathan mendelik. Ia bersedekap tangan di depan dada. "Dan jika kita membiarkan dia hidup bebas, maka dia akan menjadi sepertimu!" tunjuk Nathan.


"Hah?! Apa katamu?!" Sheila tak terima. "Memangnya aku kenapa?"


"Kau kabur dari rumah dan berpura-pura hidup mandiri. Tapi sebenarnya kau tidak bisa hidup tanpa kemewahan."


"APA?! Aku tidak berpura-pura! Aku memang bisa hidup mandiri. Kaulah yanh selama ini selalu hidup dibawah ketiak mama Lian. Hayo lho! Masih tidak mau mengaku!"


"Nyonya Sheila!"


"Apa!"


Dan akhirnya perdebatan kecil malah terjadi di depan kamar khusus yang sengaja Boy buat untuk tabung bayi Nathan dan Sheila.


#


#


#


Sebenarnya Sheila masih berharap ia bisa hamil dan melahirkan secara normal, namun apa mau dikata. Tuhan mungkin berkehendak lain. Berkat kecerdasan buatan yang dimiliki Boy, kakak Nathan, Sheila bisa memiliki bayi dari hasil benihnya sendiri bersama Nathan.


Hari ini adalah hari yang di tunggu-tunggu bagi pasangan Sheila dan Nathan. Setelah sembilan bulan menunggu, akhirnya bayi mungil berjenis kelamin laki-laki ini lahir. Sambutan suka cita tentu saja ia dapatkan dari dua keluarga.


Semua orang mengucap rasa syukur yang dalam ketika melihat bayi itu untuk pertama kalinya dalam dekapan sang ibu. Sheila tak hentinya menangis bahagia ketika melihat wajah mungil yang sangat mirip dengan ayahnya.


"Dia mirip denganmu, sayang," ucap Sheila.


"Benarkah? Dia juga mirip denganmu." Nathan mendekap keluarga kecilnya dengan air mata bahagia.


Dua keluarga yang hadir juga ikut terharu melihat kebahagiaan Nathan dan Sheila. Bergantian para orang tua menggendong bayi kecil itu.


Lian dan Sandra sangat bahagia. Meski ini bukan cucu pertama mereka, tapi tetap saja mereka sangat gembira menyambutnya.


Hari ini baby G di bawa pulang ke apartemen yang dibeli Nathan. Kini mereka tinggal di tempat yang lebih luas dari sebelumnya. Nathan juga menyiapkan kamar bayi khusus untuk putranya.


Para menantu perempuan memasak untuk seluruh anggota keluarga. Cecilia dan Aleya bekerja sama untuk menyiapkan menu untuk kedua keluarga.


Untuk pertama kalinya Sheila melakukan inisiasi menyusui dini untuk putranya. Sheila merasa sangat bangga bisa menjadi ibu yang menyalurkan asi untuk putranya.


"Kau istirahat dulu saja. Aku akan menemui keluarga kita dulu," ucap Nathan mengecup kening Sheila lalu keluar dari kamar.


#


#


#


Malam pun tiba, semua orang berpamitan untuk kembali ke hotel. Hanya Sandra dan Lian saja yang masih menginap karena harus membantu Sheila dalam mengurus Baby G.


Sebagai ibu baru, Sheila masih butuh bantuan dari ibu dan ibu mertuanya dalam mengurus bayi. Malam semakin larut, Sheila terbangun karena Baby G menangis meminta susu.


Saat sedang menyusui Baby G, Sheila mendengar ada yang menekan bel pintu apartemennya. Sheila mengernyit bingung.


"Pukul dua pagi. Siapa yang memencet bel jam segini? Apa ada orang iseng?" gumam Sheila.


Sheila memutuskan untuk membangunkan Nathan namun sepertinya pria itu terlalu lelah hingga tidak mendengar bunyi bel itu. Usai menyusui Baby G, Sheila bangkit dari tempat tidur dan menuju ke pintu depan.


Sheila menatap layar monitor. Tak ada siapapun didepan pintu. Karena masih penasaran, Sheila pun membuka pintu.


Dan benar saja, ia tak melihat siapapun disana. Hanya ada sebuah kotak yang di tinggalkan di depan pintu.


"Apa ini? Siapa yang mengirimnya?" gumam Sheila lalu mengambil kotak itu tanpa curiga.


Sheila kembali ke dalam rumah tanpa membuka kotak itu terlebih dulu. Rasa kantuk menggelayutinya. Ia letakkan kotak di atas meja ruang tamu dan kembali ke kamar.


Keesokan harinya, kedua ibu sedang heboh mengurus Baby G. Mereka bekerjasama memandikan dan memakaikan baju untuk Baby G.


Sheila menghampiri Nathan yang sedang menonton televisi.


"Tuan Su! Kau sudah buka kotaknya?" tanya Sheila yang tak melihat kotak semalam ada diatas meja.


"Kotak? Kotak apa?" tanya Nathan balik.


"Oh, tadi mama yang taruh di kamar Baby G. Itu hanya sebuah kado, Nak," ucap Sandra yang ternyata sudah menyingkirkan kotaknya.


Sheila langsung bergegas menuju kamar Baby G dan memeriksa kotaknya. Nathan yang merasa ada yang tidak beres pun mengikuti langkah Sheila.


"Ada apa?" tanya Nathan ketika melihat Sheila sedang membuka kotak semalam.


"Emh, itu..." Sheila pun menceritakan kejadian semalam.


Nathan mengeraskan rahangnya mendengar cerita Sheila.


"Buang kotaknya!" ucap Nathan memberi perintah.


"Eh? Membuangnya? Kenapa?"


"Entahlah. Aku merasa ada yang tidak beres disini. Mengirimkan kado di tengah malam, apa kau tidak merasa aneh?"


Sheila terdiam menatap Nathan kemudian menatap isi kotak yang ternyata sebuah baju bayi.


"Buang kotak itu!" perintah Nathan lagi.


#


#


#


Notes: Buat kalian yg ingin tahu kisahnya si jenius Boy, bisa mampir ke novel "Jantung Hati Sang Dokter Tampan"