
Malam hari itu, Vania sedang meringkuk di atas sofa sambil menonton berita di televisi bersama Naina. Vania menyembunyikan wajahnya dengan bantal sofa karena melihat berita tentang perkelahian antara Damian dan Edo di kafe waktu itu.
Naina menatap tajam Vania. Ia tahu apa yang sedang disembunyikan oleh Vania.
"Katakan! Itu bukan nona Rizka kan? Tapi kamu!"
Vania meringis. "Iya, Kak. Sebenarnya aku dan bang Edo memang sengaja bertemu untuk makan siang. Aku tidak tahu jika tuan Damian akan datang juga."
Naina menepuk jidatnya. Sebenarnya Vania berniat untuk menutupi semua itu. Tapi ternyata ada salah satu pengunjung kafe yang mengabadikan momen itu dan menyebarluaskan berita itu di sosial media.
"Lalu dimana kamu saat mereka berkelahi?"
"Aku sudah pergi dari sana, Kak. Aku pikir mereka hanya beradu mulut saja bukan adu jotos. Aku terlampau malu karena mereka terus berdebat."
Naina menghela napas. "Ya sudahlah. Menurutku ini suatu keberuntungan untukmu. Apa jadinya jika orang-orang tahu kamu adalah penyebab terjadinya perkelahian itu? Kamu akan terus di kejar-kejar wartawan."
Vania bergidik ngeri. "Iiiih! Jangan sampai deh, Kak." Vania menggeleng.
"Jadi, sebenarnya kamu memilih tuan Damian atau tuan Edo?" Naina mencoba menyelidik.
Vania mengedikkan bahu. "Bukankah aku sudah pernah mengatakannya pada kakak?"
"Hah, ya sudahlah. Kita tidur saja. Semoga saja esok akan lebih baik dari hari ini." Naina beranjak dari sofa dan menuju kamarnya.
"Kak!"
Naina kembali menoleh.
"Minggu ini aku akan pindah. Terima kasih karena selama ini kakak sudah membantuku."
Naina mengangguk kemudian masuk ke dalam kamar. Vania mematikan televisi dan juga ikut beranjak ke kamarnya.
#
#
#
Keesokan harinya di Ford Company,
Jonathan dan Damian sedang menonton video konferensi pers yang dilakukan oleh Rizka mengenai insiden yang terjadi beberapa hari lalu. Rizka merasa perlu untuk meluruskan semua kesalahpahaman publik mengenai dirinya.
Rizka menjelaskan jika hubungan antara dirinya dan juga Damian dan Edo hanya sebatas rekan bisnis saja. Perusahaannya sama-sama sedang menjalin kerjasama.
Jonathan mematikan televisi yang ada di ruangan Damian. Ia menatap putra semata wayangnya itu tajam.
"Lihatlah! Rizka sudah menyelesaikan semuanya. Jadi, kau jangan membuat ulah lagi. Perbaiki hubunganmu dengan Edo. Jangan kekanakan begini, Damian!" tegas Jonathan.
"Iya, Ayah. Aku mengerti. Ayah tidak perlu menceramahiku lagi," lirih Damian.
"Bagaimana bisa ayah tidak..." Jonathan tidak ingin berdebat lagi dengan putranya.
"Baiklah. Ayah akan kembali ke Amerika. Kau baik-baik disini. Ayah akan menemui kakekmu sebelum berangkat. Apa kau sering menjenguknya?"
Damian mengangguk.
"Jika kau tidak menyukai Rizka, maka ... carilah gadis yang cocok denganmu. Ayah dengar kau sedang dekat dengan Sitta. Ayah rasa dia gadis yang baik. Dan dia juga berasal dari keluarga terpandang."
Tok tok tok
Pintu ruangan Damian diketuk kemudian terbuka. Nampaklah sosok Sitta disana.
"Om Jo!" sapa Sitta sok ramah.
"Ah, Sitta! Baru saja kami membicarakanmu dan kau sudah datang. Panjang umur kau, Nak!" ucap Jonathan diiringi tawa renyahnya.
"Oh ya? Apa Damian bicara yang baik-baik Om tentang aku?" tanya Sitta dengan suara mendayunya sambil melirik Damian.
"Hahaha, awas saja jika dia berani bicara buruk tentangmu."
Sitta tersipu malu karena merasa di bela oleh Jonathan.
"Om sudah akan kembali ke Amerika?"
"Iya, malam ini."
"Emh, baiklah. Damian, kita makan siang dulu bersama Sitta."
"Tapi, aku punya banyak pekerjaan, Ayah!" tolak Damian.
"Tidak apa, Om. Aku tahu jika Damian sibuk. Dia memang lebih suka makan di kantor," ucap Sitta sengaja dengan menatap Damian penuh arti.
"Baiklah, aku setuju!" ucap Damian pasrah.
Kemudian mereka bertiga berjalan bersama sambil berbincang ringan. Sitta dengan mulut manisnya pandai menarik simpati Jonathan. Ditambah lagi, Sitta adalah putri dari seorang investor. Pastinya pernikahan bisnis ini akan sangat menguntungkan bagi perusahaan, begitulah pikiran Jonathan.
Dari kejauhan, Vania yang akan menuju ke kantin melihat pemandangan yang entah bagaimana hatinya menafsirkan. Ia merasa amat kecil jika harus dibandingkan Sitta. Meski sebenarnya Sitta menyimpan sisi menyeramkan, tapi secara fisik ia memang sempurna. Ditambah latar belakang keluarganya yang asli konglomerat, tidak seperti Vania yang hanya orang biasa dan kakaknya yang kini meringkuk di penjara. Apa jadinya jika orang-orang tahu mengenai kondisi kakaknya?
Vania menggeleng. Vania tidak boleh lemah. Meski Vicky adalah pria brengsek, tapi dia tetaplah kakak Vania. Dan kini pria itu sedang menebus kesalahannya.
Entah kenapa seketika Vania merindukan sosok Vicky. Ia yang tadinya berjalan kearah kantin. Kini malah berputar arah. Ia berjalan cepat menuju ke luar gedung. Ia memesan ojek online dan akan menemui Vicky sekarang juga.
Damian yang akan masuk mobil, melihat Vania pergi dengan ojek online. Ia segera meraih ponselnya dan mengetik sesuatu disana.
"Ikuti kemanapun Vania pergi dan jangan sampai kehilangan jejak!"
Pesan singkat itu ia kirimkan pada anak buah yang sengaja ia bayar untuk mengawasi Vania. Setelah kejadian di kapal waktu itu, Damian mulai khawatir dengan kondisi Vania dan dia hanya ingin memastikan jika Vania selalu baik-baik saja.
#
#
#
Vania tiba di rumah tahanan dan bertemu dengan Vicky. Rasa rindu dan haru bercampur jadi satu.
"Abang!" Vania memeluk Vicky.
"Hei, kenapa kamu datang di jam kantor?"
"Iya, Bang. Vania kangen sama abang. Lagipula ini waktunya jam istirahat. Kalau nunggu Vania pulang kantor, pasti jam besuk abang sudah habis."
Mereka berdua duduk berhadapan.
"Bang, Vania bawa makanan. Kita makan sama-sama ya!"
Vicky terharu dengan sikap adiknya yang begitu hangat padanya.
"Kamu masak sendiri?"
Vania mengangguk. "Biar lebih hemat!" Vania meringis.
"Bagaimana kabar Naina?" tanya Vicky ragu.
"Abang masih cinta ya sama kak Naina?"
Vicky hanya mengulas senyum. "Makanlah!"
"Oh ya, Bang. Minggu ini aku akan pindah ke kontrakan baru. Aku tidak enak hati pada kak Naina jika terus menumpang di rumahnya."
"Wah, adik abang sudah mulai mandiri ya?" Vicky mengacak pelan rambut Vania.
"Iya, Bang. Aku akan jadi gadis yang kuat. Abang baik-baik ya disini. Aku dengar jika kita bersikap baik, maka masa hukuman bisa dikurangi, bang."
"Tidak semuanya begitu, Van. Tapi, semoga saja ya!"
Vania menatap kakaknya lekat. "Abang jangan khawatir. Abang punya Vania! Abang tidak sendiri. Abang juga jangan khawatir padaku. Aku baik-baik saja dan aku bisa jaga diri."
"Maaf, waktu kunjungan sudah habis!" ucap seorang petugas.
Vania melambaikan tangan ketika Vicky harus kembali ke dalam sel. Vania menguatkan diri agar tidak menangis.
Vania berjalan keluar dari rumah tahanan. Ia kembali membuka ponsel dan akan memesan ojek online.
"Apa yang kau lakukan disini?"
Sebuah suara membuat Vania mendongakkan kepala. Matanya membulat sempurna melihat sosok yang ada di depannya.
"Tu-tuan Damian?"