My Culun CEO

My Culun CEO
#148 - Edo & Rizka in Love



Rizka tertawa terbahak ketika mendengar cerita Edo mengenai dirinya yang posesif terhadap Freya. Rizka masih tidak percaya jika kekasihnya akan melakukan hal konyol dengan mendatangi apartemen Damian dan melabraknya.


Edo hanya bisa merutuki kebodohannya yang sudah berlebihan dalam bersikap. Edo hanya ingin memastikan jika Freya baik-baik saja dan Damian tidak melakukan hal diluar batas.


"Sayang, aku tahu kamu sangat menyayangi Freya. Tapi dia sudah dewasa sekarang. Percayakan saja pada mereka. Aku yakin mereka memiliki hubungan yang sehat kok," Rizka mengusap lengan Edo.


"Sekarang kita pikirkan saja soal kita. Papa meminta kita untuk datang ke rumah. Apa kamu sudah siap?"


Edo menatap Rizka. "Tentu saja aku sudah siap. Menikah sekarang pun aku siap."


"Ish, jangan ngaco! Menikah tidak semudah yang kamu kira!"


"Sayang, menikah itu simpel. ***** bengeknya yang bikin repot. Karena banyaknya ini itu yang harus di urus. Terkadang hal yang tidak penting harus menjadi penting dalam pernikahan."


"Nah itu kamu tahu. Dua keluarga bersatu tidak bisa kita anggap biasa saja, sayang.  Aku juga memiliki konsep pernikahan impian versiku sendiri."


"Heh?! Serius? Apa kamu ingin menikah ala Cinderella atau Snow White?" Edo memegangi kepalanya.


"Bukan! Aku ingin kita menikah di kebun. Pesta kebun. Lalu setelahnya kita bisa gelar resepsi di hotel. Aku tahu rekan bisnismu dan papa banyak, jadi kita harus menghormati mereka," ucap Rizka antusias.


Edo tertawa. "Aku pikir apa! Ya sudah kamu coba cari referensi untuk konsep pernikahan kita. Minta bantuan Freya juga kalau kamu bingung."


Rizka mengangguk. "Terima kasih, sayang." Rizka memeluk Edo.


"Iya sama-sama." Edo membalas pelukan Rizka.


#


#


#


"Eh? Serius? Abang ingin menikah secepatnya?" tanya Freya tak percaya.


"Iya. Abang sudah bertemu dengan Om Rio, dan dia setuju saja dengan kami."


"Selamat ya, Bang. Akhirnya abang menemukan pelabuhan terakhir abang."


"Gayamu tuh!" Edo mengacak rambut Freya. "Kamu sendiri gimana sama Damian? Apa sudah ada rencana kesana?"


"Hah?! Aku? Ya belumlah, Bang. Lagian aku sama Damian ... baru kemarin jadian. Aku tidak mau terlalu terburu-buru."


Edo mengedikkan bahunya. "Tidak harus menunggu hingga bertahun-tahun kan kalau sudah saling cocok."


Freya terdiam. Masih ada beberapa hal yang memang ia pikirkan jika mengenai Damian.


Beberapa waktu lalu, Josh menemui Freya dan menceritakan tentang kondisi Damian. Banyak hal terjadi di masa lalu Damian yang membuat perilaku Damian sedikit aneh dan berubah-ubah.


Josh meminta Freya bersedia mendampingi Damian dalam keadaan apapun. Semua kata-kata Josh kembali mengulang di pikiran Freya. Ia tak mungkin melupakan semua itu.


"Frey! Mikirin apaan sih? Diajak ngomong malah melamun!" sungut Edo.


Freya mengulas senyumnya. "Gak apa, Bang. Aku ikut senang untuk abang!" Freya memeluk abangnya itu dengan erat.


"Semoga abang bahagia ya!" ucap Freya ketika pelukan telah berakhir.


"Terima kasih, adikku sayang..."


Freya tertawa kecil. Dan disambut sebuah senyum hangat dari Edo.


#


#


#


Tibalah saatnya di hari penting untuk sepasang sejoli yang akan mengikat janji suci pernikahan. Siapa lagi kalau bukan Edo dan Rizka.


Sebuah pesta mewah di hotel berbintang dijadikan saksi bisu untuk bersatunya cinta dua insan yang sedang di mabuk asmara. Senyum mengembang tak henti terukir dari kedua mempelai yang kini sedang menyalami para tamu.


"Damian! Kamu gak ingin menyalami bang Edo?" tanya Freya sambil menyesap minumannya.


"Nanti saja. Aku masih ingin bersama denganmu." Damian dengan posesif menarik pinggang Freya.


"Hei! Ini tempat umum, Damian!" protes Freya.


"Tenang saja! Aku tidak akan menciummu di depan banyak orang begini." Damian terkekeh.


Sebenarnya kepribadian Damian cukuplah menarik. Freya mulai bisa memahami seperti apa sifat kekasihnya itu.


"Kenapa mereka?" tanya Freya.


"Tidak apa. Hanya saja ... aku ingin cepat-cepat seperti mereka." Damian merengut.


Freya malah tertawa dengan ide Damian. "Tidak, Damian. Jangan sekarang! Aku masih sangat sibuk dengan urusan perusahaan. Apalagi setelah ini bang Edo akan berbulan madu. Tentu saja aku yang harus menggantikan abang untuk mengurus semuanya."


Freya merangkum wajah Damian untuk membuat Damian tenang. Hanya Freya saja yang bis membuat Damian tenang dan bertekuk lutut.


Sebuah kecupan singkat Freya daratkan untuk Damian. Mata Damian membola ketika mendapat serangan berani dari sang kekasih.


"Hei, kamu mulai nakal, huh?!" Damian menyeringai. Tanpa malu lagi kini mereka tengah beradu bibir di tengah riuhnya para tamu undangan.


Dari kejauhan, sepasang mata terus menatap nyalang kearah Freya dan Damian. Tangannya terkepal begitu melihat Freya dengan berani mencium singkat sang kekasih.


"Apa-apaan mereka? Berciuman di tengah pesta pernikahan orang lain? Seakan mereka adalah mempelai pengantin yang sedang berbahagia itu. Menyebalkan!" sungutnya dalam hati.


#


#


#


Meriahnya pesta telah usai. Kini sepasang insan yang sudah resmi menyandang status sebagai suami istri itu sedang beristirahat di kamar hotel mereka. Sang mempelai pria sedang membersihkan diri di dalam kamar mandi. Sementara sang wanita sedang melepas penat sejenak usai berjam-jam dalam balutan gaun panjang yang membuatnya lelah.


Belum lagi aksesoris di rambut yang membuat kepalanya terasa berdengung sekarang. Rizka merebahkan diri sejenak di kasur empuk hotel yang akan menjadi saksi bisu malam pertama mereka.


Mata Rizka yang terpejam tiba-tiba terbuka lebar. Otaknya terus berpikir dan menyalurkan informasi yang di dapatnya.


"Malam pertama? Ini adalah ... malam pertamaku dengan Edo? Astaga! Bagaimana ini? Apa benar Edo akan melakukannya sekarang? Oh ya ampun!" batin Rizka mulai menggila.


Rizka memegangi kepalanya sambil berjalan mondar mandir. "Apa yang harus kulakukan? Apa aku siap? Kenapa jadi tegang begini?"


Rizka meremas jari-jari tangannya yang mulai berkeringat dingin. Ia ingat sebuah cerita dari seorang kawannya.


"Sheila bilang yang pertama akan terasa sakit. Aduh! Bagaimana ini? Apa aku akan berteriak histeris jika nanti kami benar melakukannya?" gumam Rizka dengan menggigit kuku jarinya.


"Sayang..."


Sebuah suara dari arah belakang membuat Rizka terlonjak kaget. Ternyata Edo telah selesai mandi dan kini Edo sedang menatap Rizka.


"E-edo? Kenapa tidak pakai baju?" tanya Rizka terbata.


"Maaf. Aku lupa membawa kausku. Apa kamu bisa ambilkan?"


Rizka menatap tubuh Edo yang kini terpampang nyata di depannya. Sebuah tubuh yang indah yang hanya terbungkus lilitan handuk di pinggang. Dan jangan lupakan rambut basah yang mengkilat membuat penampilan Edo semakin seksi dimata Rizka.


"Eh? Kaus? Ah, iya. Tunggu sebentar!"


Rizka segera beranjak dari sana dan menuju ke ruang ganti. Rizka memukuli kepalanya karena otaknya kini tengah travelling kemana-mana.


Rizka kembali menemui Edo dan memberikan piyama ganti untuk suaminya.


"A-aku akan mandi sekarang!" ucap Rizka dan segera masuk ke dalam kamar mandi. Sementara Edo hanya tertawa kecil melihat tingkah aneh istri barunya itu.


Lima belas menit kemudian, Rizka keluar dari kamar mandi dan melihat Edo sudah terlelap di atas tempat tidur. Rizka bernapas lega. Itu artinya mungkin malam ini ia akan selamat dari terkaman sang suami yang katanya rata-rata ganas di malam pertama.


Rizka yang juga sudah siap dengan piyama tidurnya ikut naik ke atas ranjang dengan hati-hati. Ia tak ingin membangunkan singa yang tengah tertidur.


Rizka melirik ke sampingnya dan melihat mata Edo yang terpejam. Setitik senyum hadir di wajahnya. Rizka lega karena kini mereka benar-benar telah menjadi pasangan suami istri.


"Selamat malam, suamiku," lirih Rizka kemudian memejamkan mata.


Baru saja memejamkan mata, tiba-tiba sebuah pergerakan membuat Rizka kembali membuka mata.


"Edo!" pekik Rizka.


"Kamu lama sekali di kamar mandi, sayang. Aku menunggumu dari tadi."


Edo sudah berada di atas tubuh Rizka dengan mata yang kini saling beradu.


"Ka-kamu belum tidur?" tanya Rizka dengan menelan ludahnya.


"Belum. Mana bisa aku tidur sebelum..." Edo menggantung ucapannya.


"Sebelum apa?"


Tanpa bicara lagi Edo langsung membungkam bibir Rizka dengan bibirnya. Malam yang ditakutkan Rizka, nyatanya tidak semenakutkan yang ia bayangkan. Bahkan kini suara merdunya memenuhi kamar mereka yang terasa hangat.