My Culun CEO

My Culun CEO
Siapa Aku Dihatimu?



"Celia kembali, Shei. Gadis yang selama ini aku cari, dia ada disini," lirih Nathan.


"Apa...?" Sheila tertegun mendengar kejujuran Nathan.


Tubuhnya meremang. Air matanya mengalir tanpa harus disuruh. Sheila berjalan dan mendudukkan tubuhnya di sofa.


Cukup lama mereka saling terdiam. Sheila masih duduk mematung di sofa. Otaknya berpikir keras untuk menemukan semua jawaban dari pertanyaannya beberapa hari ini.


"Jadi ... sikapmu yang aneh adalah karena dia?" tanya Sheila dengan tatapan lurus ke depan. Ia sama sekali tak menoleh kearah Nathan yang masih berdiri.


"Shei..." panggil Nathan lirih.


"Siapa aku dihatimu, Nate?" tanya Sheila lagi kini menatap Nathan.


"Apakah benar ada aku disana? Atau hanya ada tempat untuk Celia saja?"


Sheila sudah pasrah dengan nasib cintanya. Semua hal bisa saja berubah bukan? Bahkan pernikahan yang akan di gelar saja masih bisa bubar.


"Tolong berikan aku waktu untuk menyelesaikan urusanku dengan Celia. Aku memilihmu, Shei. Sampai kapanpun aku tetap memilihmu. Tolong percayalah padaku! Aku mohon padamu, Shei..." Nathan bersimpuh di depan Sheila.


Sheila tak menjawab dan memilih beranjak dari sofa kemudian pergi dari apartemen Nathan. Pria itu mengikuti langkah Sheila dan memeluknya dari belakang.


"Jangan pergi, Shei. Aku mohon!" pinta Nathan.


Sheila memejamkan matanya. "Jika kau meminta aku untuk memberikan waktu untukmu, maka kau juga harus memberikan aku waktu untuk mencerna semua ini."


Nathan melepaskan pelukannya. Sedetik kemudian Sheila langsung keluar dari apartemen Nathan.


Nathan mengacak rambutnya. Ia melepas jas dan juga dasi yang melilit lehernya. Bayangan kesedihan wajah Sheila terngiang di pikirannya.


"Maafkan aku, Shei... Maafkan aku..." Tubuh Nathan bergetar menandakan jika dirinya juga ikut menangis.


Di rumahnya, Celia merasa cemas karena sejak semalam setelah dirinya mengirim pesan pada Nathan, pria itu sama sekali tidak menghubungi atau memberinya kabar.


Celia meraih ponselnya dan mencoba menghubungi Nathan. Tersambung namun tidak dijawab.


Berkali-kali Celia menghubungi Nathan namun tak ada yang di respon. Celia mulai menggeram kesal. Ia memutuskan untuk keluar dari rumahnya dan menuju ke kantor Nathan. Mungkin dengan begitu bisa mengusir rasa was was dan penasarannya.


Danny menghubungi ponsel Sheila namun tidak dijawab. Beberapa saat lalu, secara tiba tiba Nathan mengirim pesan pada Danny untuk mencari keberadaan Sheila.


Danny mulai cemas karena pastinya terjadi sesuatu antara Nathan dan Sheila. Danny juga menghubungj Naina siapa tahu gadis itu menemui sahabatnya.


Namun semuanya nihil. Danny tak bisa tinggal diam. Ia segera keluar kantor dengan jejak lebam yang tercetak di wajahnya. Ia khawatir jika Sheila melakukan hal yang diluar batas.


"Dimana kamu, Shei? Kuharap kamu tidak melakukan hal yang nekat!" gumam  Danny dan segera melajukan mobilnya.


Di sisi Sheila, ia kini memilih untuk menenangkan diri terlebih dahulu di sebuah tempat yang jauh dari kota. Hanya nampak beberapa rumah saja disana.


Sheila menatap pemandangan bukit yang indah dari ketinggian. Udaranya tetap sejuk meski sudah memasuki siang hari.


Air matanya memang sudah kering. Namun kesedihan di hatinya masih berbekas. Ia dihadapkan dengan pilihan Nathan di masa lalu. Akankah dia menang? Apakah ia harus berjuang?


"Jika kamu memang mencintai dia dan yakin dengan cinta kalian, kenapa tidak kamu kejar saja? Kenapa malah lari?" ucap seseorang yang kini menemani Sheila.


Saat tadi ia pergi dari apartemen Nathan, Sheila menemui Cecilia dan meminta kakak iparnya mencari tempat yang tenang untuk berpikir.


Apa yang dikatakan Cecilia ada benarnya juga. Jika terus menunggu tanpa ada kepastian, apakah semua benar akan berpihak padanya?


"Haruskah aku berjuang, Kak?" tanya Sheila.


Cecilia tersenyum. "Jika memang kamu yakin untuk berjuang, maka berjuanglah. Dia hanya gadis dari masa lalu Nathan. Kamu adalah masa depannya, Shei. Atau kamu memiliki pilihan lain?"


Sheila mengernyit. "Maksudnya pilihan lain?"


Cecil tertawa. "Ada pria lain yang kamu sukai?"


"Ish, kakak! Tidak ada!" jawab Sheila tersipu. Ia hanya mencintai Nathan dan Tarjo yang juga adalah Nathan. Hanya dia saja. (kek judul lagu😬😬)


Malam harinya, Sheila berdiri di depan sebuah bangunan yang adalah apartemen Nathan. Sudah sejak tadi dirinya hanya memandangi bangunan besar itu. Namun ia urung untuk sekedar masuk.


Meski hatinya sedih dengan kehadiran Celia di hidup Nathan, tapi ia tak mau menyerah di awal. Menyakitkan memang, tapi setidaknya ia sudah berjuang.


Dulu Nathan yang mengejarnya dan berjuang mendapat maaf darinya. Kini giliran dirinya yang berjuang untuk tetap mendapatkan cinta Nathan dan mengalahkan cinta masa lalunya.


Setelah berpikir lama, akhirnya Sheila memutuskan untuk masuk kedalam gedung bertingkat itu. Sheila menuju unit apartemen milik Nathan. Selama perjalanan ia mengatur napasnya agar lebih tenang saat menemui Nathan.


Kini Sheila telah berdiri di depan pintu kamar apartemen Nathan. Dengan jantung yang berdegup kencang, Sheila menekan bel di depan pintu.


Satu kali


Dua kali


Tiga kali


Sheila mulai cemas. Ia meraih ponselnya dan menghubungi nomor Nathan. Tersambung namun belum dijawab.


"Nate, kumohon jawablah!" Sheila mulai panik. Tadi saat ia meninggalkannya, kondisi Nathan cukup kacau.


Setelah menunggu agak lama, akhirnya pintu kamar itu terbuka. Sheila yang masih meletakkan ponsel di telinga begitu terkejut melihat kondisi Nathan yang memprihatinkan.


"Nate...?" panggil Sheila.


Sosok yang berada di depan Sheila seakan sosok yang berbeda dari Nathan yang selalu ia kenal. Penampilan yang berantakan dengan rambut dan pakaian yang acak-acakan.


Mendengar suara lembut sang kekasih membuat Nathan menatap Sheila yang matanya kini berkaca-kaca.


"Sheila!" lirih Nathan dan langsung memeluk Sheila.


"Maafkan aku, Shei. Tolong maafkan aku!" tangis Nathan pecah begitu juga Sheila.


"Jangan tinggalkan aku! Aku tidak akan bisa hidup tanpamu..." ucap Nathan berkali-kali dengan mengecupi seluruh wajah Sheila.


"Iya, aku memaafkanmu. Maaf karena tadi aku meninggalkanmu..."


Sheila membawa tubuh Nathan masuk kedalam kamar. Ia meminta Nathan untuk beristirahat. Beberapa kali Nathan selalu membantunya di kala kesusahan dan sakit. Kini giliran dirinya yang mengobati Nathan.


Nathan merebahkan diri di ranjang. Ia meminta Sheila untuk tidak pergi.


"Iya, aku tidak akan pergi. Aku akan buatkan makanan dulu untukmu. Kamu pasti belum makan kan?"


Nathan mengangguk. Kini pria itu bagai seorang anak kecil yang tidak mau ditinggal ibunya. Ia tersenyum bahagia karena Sheila tetap disisinya.


Di tempat berbeda, Celia masih setia menunggu kedatangan Nathan di ruang tunggu Avicenna Grup. Harvey yang baru saja keluar dari lift didatangi oleh security yang mengatakan jika ada seorang wanita yang mencari Nathan.


"Ah, siapa sih? Suruh saja dia kesini besok pagi," balas Harvey enteng.


Namun pada akhirnya pertahanan Harvey melunak. Harvey menghampiri gadis itu dan memindai penampilan gadis tersebut.


"Maaf, Nona. Anda siapa? Kenapa menunggu tuan Nathan? Bukankah security sudah memberitahu Anda jika tuan Nathan hari ini tidak masuk kantor?"


Celia beranjak dari duduknya. "Tapi saya harus bertemu dengannya. Saya takut terjadi sesuatu dengannya. Bisakah saya tahu dimana dia tinggal?" ucap Celia dengan wajah sendu.


"Nona siapanya tuan Nathan?" Harvey harus memastikan tentang siapa gadis ini sebenarnya. Selama ini Nathan tak pernah bercerita tentang apapun soal seorang gadis. Yang Harvey tahu baru kali ini Nathan mengenal seorang gadis yaitu Sheila.


"Saya Celia. Saya adalah teman masa kecil Niel. Tolong izinkan saya bertemu dengannya. Saya sungguh mengkhawatirkannya."


Harvey melihat ada kesungguhan di mata gadis ini. Akankah Harvey memberitahu dimana tempat tinggal Nathan?


*AARGH! Eke geregetan sendiri dengan part ini 😬😬😬


kira2 Harvey kasih tau gak yaa dimana Nathan tinggal?


Mon maap kemarin sore tidak jadi UP. Semoga hari ini bisa nambah part nya 😘😘


Jangan lupa tinggalkan jejak kesayangan.


...Terima kasih...