My Culun CEO

My Culun CEO
#144 - Tercyduk



"Tu-tuan Edo...?"


Mata Udin membola dan mulutnya tak mau mengatup. Sungguh ia tak menyangka jika Edo ada di belakangnya sejak tadi.


"Ma-maaf, Tuan. Saya akan kembali bekerja." Udin membungkuk kemudian melewati tubuh Edo.


Namun siapa sangka jika Edo langsung mencekal lengan Udin.


"Siapa kau?" tanya Edo dingin. Matanya menandakan sebuah amarah.


Udin alias Damian memejamkan mata sejenak. Sepertinya ia tak bisa lari lagi dari kenyataan.


Dibalik kacamata bulatnya, Udin balik menatap Edo. "Kita bicara di ruanganmu saja."


Edo melepaskan tangannya lalu berjalan di depan dan Damian mengikutinya di belakang.


"Sial! Kenapa aku tidak hati-hati? Apa yang akan Edo lakukan? Apa dia akan menjauhkanku dari Freya? Akh! Tidak! Tidak bisa begini! Aku hampir saja berhasil tapi kenapa harus gagal lagi?" batin Damian dongkol bercampur frustrasi.


Tiba di ruangan Edo, pria itu meminta Udin untuk duduk di kursi yang ada di depan meja kebesaran Edo.


"Duduklah! Kita harus bicara santai tapi serius. Benar kan?" ucap Edo.


Udin menurut dan duduk dengan diam.


"Aku tahu sejak kau mengantar Freya ke rumah sakit, ada yang tak beres dengan apa yang kulihat. Seperti apapun kau berusaha menutupinya, aku akan tahu jika itu kau ... Damian."


Udin yang sudah tertangkap basah hanya bisa mendesah kasar.


"Iya! Ini aku!" aku Damian dengan menatap Edo.


Tidak seperti yang Damian duga, ternyata Edo malah tertawa dengan pengakuan Damian.


"Damian! Damian! Aku tidak percaya kau akan melakukan hal gila seperti ini!" Edo kembali tertawa.


"Jangan menertawakanku! Ini semua karena adikmu yang tidak mau mengakui perasaannya. Jika saja dia mau jujur, maka..."


"Freya sudah jujur. Dia hanya butuh waktu."


"Lalu? Apa kau akan membenciku karena aku melakukan ini? Apa kau akan menjauhkanku dari adikmu?"


"Tidak! Jangan berpikiran naif, Damian! Aku tidak akan melakukan hal yang membuat adikku terluka. Tapi aku akan tetap mengawasimu!" ucap Edo tegas dengan mata tajam bak elang.


"Apa kau akan melaporkan hal ini pada Freya?" tanya Damian pasrah.


"Sudah kubilang aku tidak akan melakukan hal yang membuat adikku terluka. Sekarang sebaiknya kau pergi saja temui dia. Dan jangan lagi menyamar seperti ini. Freya akan membencimu jika tahu kau melakukan hal konyol seperti ini."


"Tapi kau bilang Freya tidak mau menemuiku."


"Itu memang benar! Tapi apa kau tidak mau usaha, hah?!"


Damian berdecih dan mengumpat.


"Dam, apa ini? Kumis palsu?" Edo iseng menarik kumis palsu milik Damian.


"Aw! Sakit, bodoh!" Damian memegangi bawah hidungnya yang terasa perih karena ulah Edo.


Edo kembali terbahak. "Astaga! Damian! Kau sangat konyol!"


Damian merebut kembali kumis palsunya dan memasangnya. "Aku pergi! Awas saja jika kau mengingkari janjimu!"


Damian keluar dari ruangan Edo dengan perasaan dongkol sekaligus malu. Sementara Edo masih tertawa terpingkal karena memergoki sahabatnya berbuat hal aneh hanya untuk mendekati adiknya.


...***...


Usai drama bersama Edo di kantor tadi, Damian segera menuju ke rumah sakit tempat Freya di rawat. Kini ia merasa jika dirinya sudah mendapat restu dari Edo selaku kakak kandung Freya.


Hatinya berbunga ketika melihat gadis pujaan hatinya ternyata sedang duduk di bangku taman rumah sakit. Kondisinya sudah membaik meski wajahnya masih terlihat pucat.


"Hai..." sapa Damian lalu duduk di samping Freya.


Gadis itu menoleh sebentar kearah Damian lalu kembali menatap kedepan.


"Bagaimana kabarmu?" tanya Damian yang tetap tidak mendapat jawaban dari Freya.


Damian memutar otak agar Freya mau bicara dengannya.


"Sejak dulu aku tidak suka datang ke rumah sakit. Aku benci dengan bau rumah sakit."


Freya menatap Damian. Ternyata cerita awal Damian membuat Freya tertarik.


"Ibuku meninggal di rumah sakit. Karena itu ... aku tidak suka datang ke rumah sakit. Itu mengingatkanku dengan kesedihan kehilangan ibuku."


Mata Freya mengabut. Dia tahu seperti apa kesedihan Damian ketika kehilangan ibunya.


"Tapi, entah kenapa kemarin aku tiba-tiba melangkahkan kakiku memasuki tempat ini. Aku ... hanya ingin melihatmu. Aku ... ingin tahu bagaimana keadaanmu. Tapi..."


Damian menjeda kalimatnya. Ia membalas tatapan Freya.


"Edo bilang kamu tidak ingin bertemu denganku. Aku pulang dengan kecewa. Apa kamu tahu?"


"Maaf..." lirih Freya.


Tangan Damian terulur dan menyeka air mata Freya.


"Apa kamu masih tidak ingin menemuiku?" tanya Damian.


"Aku gak tahu. Aku..."


Jari telunjuk Damian mendarat di bibir Freya. "Jangan katakan apapun dan dengarkan saja hatimu. Kumohon, Freya. Jangan bohongi dirimu lagi. Aku akan membuktikan jika aku benar-benar serius denganmu. Kumohon..."


Tangis Freya makin keras. Sungguh hati Damian teriris ketika mendengar isak tangis gadis yang dicintainya.


Damian menarik tubuh Freya dan mendekapnya. "Aku disini. Jangan menangis lagi! Aku selalu mencintaimu, Freya. Tolong percayalah!"


Dari kejauhan Edo menatap sebuah adegan haru antara adik dan sahabatnya. Ada sedikit keresahan dan kelegaan yang menyatu menjadi satu.


Rizka menepuk bahu kekasihnya. "Jangan menghalangi mereka. Biarkan mereka bersatu."


"Tentu saja aku merestui mereka. Tapi aku harus tetap mengawasi pria licik itu!"


Rizka tersenyum. "Damian menyamar karena ingin membuktikan cintanya. Maafkan kesalahannya."


Edo merangkul bahu Rizka. "Iya, aku tahu."


"Kita biarkan mereka berdua dulu. Ayo ke tempat tante Liliana. Kamu bilang kondisinya sudah membaik."


"Hmm, ayo!"


#


#


#


"Bagaimana, Dokter?" tanya Damian ketika dokter selesai memeriksa Freya.


"Tekanan darahnya sudah normal. Besok sudah boleh pulang. Dan jangan lupa untuk menjaga asupan makanan dan pola makan. Jangan menyepelekan hal itu, Nona."


Freya mengangguk. "Terima kasih, Dokter."


"Frey, kamu dengar apa kata dokter barusan?" peringatan Damian.


"Iya. Aku tahu."


Damian mengantar dokter hingga ke pintu depan kamar.


"Sekali lagi terima kasih banyak, Dok."


Damian kembali masuk dan duduk di brankar. "Kamu dengar apa kata dokter tadi?"


"Dengar! Kamu gak perlu mengulangnya. Astaga!"


Damian tersenyum lega. "Sekarang istirahat dan tidur."


Freya merebahkan dirinya. "Apa bang Edo memperbolehkanmu untuk datang?"


"Memangnya aku tidak boleh datang? Aku kesini untuk menjenguk kekasihku!"


"Cih, dasar! Siapa yang kekasihmu?" ucap Freya dengan memalingkan wajahnya.


"Ya kamu lah!" tegas Damian.


"Sejak kapan aku jadi kekasihmu?"


"Sejak hari ini!"


Freya terdiam. Rasanya ia tak bisa lagi membantah Damian.


"Aku sayang kamu, Freya. Bisakah kamu menerimaku jadi kekasihmu?"


"Dih, apaan sih?" Semburat merah sudah tergambar di wajah Freya.


"Aku serius! Mungkin saja kamu ingin pernyataan resmi, makanya aku mengatakannya sekarang. Dan aku harap kamu bisa menjawabnya."


Freya menatap Damian. "Bisakah kita ... hanya menjalaninya dulu?"


Damian tersenyum kemudian mengangguk. "Iya, tentu saja. Aku tidak ingin membuatmu terbebani dengan hubungan ini."


Freya balas tersenyum.


"Sekarang kamu istirahat saja. Aku pulang ya! Besok aku akan datang lagi."


Damian mencium kening Freya. Ada sebuah rasa cinta yang besar yang Freya rasakan ketika bibir Damian menyentuh keningnya.


Damian mengusap pipi Freya kemudian berbalik. Ia membuka pintu dan...


"Astaga! Apa yang kalian lakukan di depan pintu?" Damian terlonjak kaget karena mendapati Edo dan Rizka yang mengendap-endap di depan kamar rawat Freya.