My Culun CEO

My Culun CEO
Eduardo Moremans



Seorang pria muda turun dari sepeda motornya dan melepas jaket yang berlambangkan salah satu perusahaan ojol itu. Seorang pria lain yang agak berumur datang menghampiri si pria muda.


Pria 40 tahunan itu berkacak pinggang melihat si pria muda baru saja datang tanpa rasa bersalah sama sekali.


"Tuan Edo! Mau sampai kapan Tuan begini? Kalau Tuan Besar tahu pasti beliau akan marah." Pria bernama Jana itu menggeleng pelan.


"Pak Jana tenang saja! Kalau Pak Jana tidak bicara apapun pada papaku, semua pasti aman terkendali! Oke?"


"Tuan sudah di tunggu klien. Bukankah Tuan harusnya menandatangani berkas kerjasama dengan Ford Company? Kenapa jadi menandatangani berkas dengan AJ Grup?" tanya Jana.


Pria muda bernama Edo itu terdiam.


"Jangan sebutkan nama perusahaan itu di depanku! Aku tidak akan sudi bekerjasama dengan dia!" tegas Edo.


Edo berjalan meninggalkan Jana yang sedari tadi sudah menunggunya.


"Mau jadi apa perusahaan ini jika Tuan Edo yang menggantikan ayahnya nanti." Jana kembali menggelengkan kepala.


"Pak Satpam! Tolong bawa motor milik Tuan Edo masuk. Sebaiknya kita sembunyikan saja motor itu. Biar dia tidak seenaknya lagi jadi tukang ojol!" titah Jana.


"Tapi, Pak Jana ... Jika Tuan Edo marah bagaimana? Waktu itu kan..." tolak pak satpam.


"Hah! Ya sudah! Letakkan saja di gudang belakang. Aku bahkan tidak bisa mengatur anak itu!" Jana menepuk jidatnya pelan.


Ditempat berbeda, Damian baru saja mengantarkan Nur kembali ke panti asuhan. Damian berpesan pada Nur agar jangan pergi sendirian seperti tadi karena itu bisa berbahaya.


"Sebaiknya minta Celia untuk menemani Ibu jika berbelanja." ujar Damian.


"Celia sibuk mengurus panti jompo. Ibu tidak ingin merepotkannya." jawab Nur.


Damian melirik jam tangannya. "Baiklah, Bu. Kalau begitu saya permisi dulu!"


"Hati hati, Tuan Damian." balas Nur.


Damian kembali melajukan mobilnya menuju kantor. Namun sebelum itu Damian memutuskan untuk datang ke pameran pencarian lowongan kerja.


Damian sengaja mengikuti pameran lowongan kerja karena ia ingin mencari karyawan yang memiliki potensi bagus tanpa memandang penampilan. Damian menghubungi Josh, asistennya.


"Bagaimana? Kau sudah dapatkan beberapa orang yang potensial?"


"Sudah, Tuan. Nanti Tuan silakan cek saja sendiri."


"Baiklah. Terima kasih atas kerja kerasmu, Josh!"


Panggilan berakhir. Damian berpikir sejenak.


"Kurasa aku tidak perlu pergi kesana. Aku akan langsung ke kantor saja." Damian melajukan mobilnya menuju kantor Ford Company.


Tiba di kantor, ternyata Josh sudah lebih dulu ada disana. Josh adalah orang paling disiplin dan berdedikasi tinggi. Damian sangat menyukai pekerjaan Josh.


"Hai, Josh. Aku tidak menyangka jika kau sudah tiba lebih dulu dariku!" ucap Damian sambil tergelak.


Josh membungkukkan sedikit tubuhnya lalu berjalan cepat mengikuti langkah Damian.


"Oh ya, untuk proses perekrutan karyawan baru, kau semua yang atur. Aku percaya sepenuhnya padamu!" ucap Damian.


Josh mengangguk namun dalam hati ia sedikit cemas. Ia takut jika yang ia pilih tidak sesuai dengan kriteria yang diinginkan Damian. Ya walaupun selama ini Damian selalu menuruti usulan Josh. Tapi tetap saja ada rasa khawatir dalam dirinya.


Damian tiba di ruang kerjanya. Lalu langsung duduk di kursi kebesarannya.


"Oh ya, apa adiknya Tuan Rangga dari AJ Foods sudah kembali dari urusan pribadinya?" tanya Damian ketika melihat berkas kerjasama miliknya dan AJ Foods.


"Setahu saya belum, Tuan." jawab Josh.


"Hmm, kemana kira-kira dia pergi? Ah, sudahlah. Bukankah kita akan atur ulang seluruh jadwal pertemuannya? Aku tidak perlu pusing. Lalu, dengan..." Damian terhenti. Ia menatap berkas yang bertuliskan 'DITOLAK' yang ada didepannya.


Josh mulai berkeringat dingin. Ia takut jika Damian akan marah. Meski selama ini Damian dikenal memiliki perangai yang ramah dan sopan, tapi tak ada yang tahu apa yang bisa dilakukan Damian jika sedang marah. Hanya Josh saja yang mengetahuinya.


Josh hanya bisa menelan ludahnya.


"Kapan dia kembali, Josh? Bukankah aku harusnya bekerjasama dengan Paman Laurent? Kenapa jadi bocah tengik ini yang menggantikannya?"


Damian menatap tajam Josh. Wajah Josh sudah pucat sekarang.


"Tuan Edo baru saja kembali, Tuan. Saya juga tidak tahu pasti kapan Tuan Edo menggantikan posisi ayahnya," jawab Josh takut.


"Hah!" Damian membanting berkas itu.


"Ya sudah! Biarkan saja bocah tengik itu melakukan apa yang dia inginkan. Mungkin sebaiknya aku menemui dirinya. Menurutmu bagaimana Josh?" seringai Damian jadi mengerikan.


"Eh? Terserah Tuan saja."


Damian manggut-manggut. Ia sedang memikirkan sesuatu.


Josh tahu hubungan Damian dan Edo kurang baik. Ada hal yang mereka sembunyikan. Dulu mereka adalah sahabat dekat. Tapi entah kenapa tiba-tiba mereka saling menjauh dan saling bersaing satu sama lain.


Josh pernah menebak jika ini karena seoang perempuan. Tapi ternyat bukan. Baik Damian maupun Edo tidak ada yang dekat seorang gadis. Ah, entahlah. Josh tidak tahu lagi apa yang akan terjadi dengan dua sahabat ini nantinya.


#


#


#


Damian tiba di sebuah bangunan megah bertuliskan More Trans. Sebuah perusahaan transportasi yang pemiliknya adalah kawan baik ayahnya. Damian mengenal pemilik dan juga putranya yang dikabarkan kini menggantikan posisi pemilik sebelumnya.


Damian berjalan dengan senyum ramah dan menyapa beberapa orang disana. Ia menuju ke meja resepsionis dan menyapa gadis di balik meja itu.


"Dimana ruangan Tuan Eduardo Moremans?" tanya Damian ramah.


Gadis resepsionis itu terlihat gugup karena didatangi oleh pria tampan yang sangat ramah.


"Emh, mohon maaf, dengan Tuan siapa kalau boleh tahu?" tanya gadis resepsionis itu.


"Apa kau tidak mengenalku?" tanya Damian dengan senyum maut yang melelehkan hati setiap gadis.


"Emh saya tahu kok. Eh? Maksud saya Tuan Damian." Gadis itu tertunduk malu.


"Nah, itu tahu! Cepat bilang padanya jika aku datang!"


"Ba-baik, Tuan Damian." Gadis resepsionis itu segera menghubungi ruangan Asisten bosnya dan mengatakan jika ada tamu untuk sang CEO.


Di ruangannya, Edo masih berkutat dengan beberapa berkas dan laporan yang harus dia tanda tangani.


"Tuan, ada Tuan Damian datang," ucap Jana.


"Hmm, aku tidak menyangka dia akan langsung datang menyapaku! Suruh dia kemari!" seringai Edo.


Damian berjalan dengan menatap sekeliling bangunan megah itu. Ia tiba di ruangan yang bertuliskan 'CEO' itu.


Damian disambut oleh Jana yang mempersilakannya untuk masuk. Kini dua orang pria sudah berhadapan. Rasanya sudah lama sekali sejak terakhir mereka bertemu.


"Apa kabar Damian? Aku tidak menyangka kau akan datang kemari secepat ini. Silakan duduk!" sapa Edo ramah namun ada seringai mencurigakan disana.


Dia adalah Eduardo Moremans. Biasa dipanggil Edo. Putra dari pemilik More Trans yang bergerak di bidang transportasi. Dulu More Trans hanya memiliki armada untuk perjalanan jarak jauh. Tapi seiring berjalannya laju teknologi, kini More Trans juga merambah ke dunia transportasi online.


Sesekali jika hatinya sedang suntuk, Edo sering menyamar menjadi abang ojol dan mengantar pelanggan. Dia beralasan jika ini juga merupakan survey kepada para pelanggan untuk menguji apakah pelayanan dari driver ojol miliknya ini sudah sesuai standar atau belum.


Pagi tadi saat dirinya mengantar seorang gadis berkacamata, ia melihat Damian menghampiri seorang Ibu yang sedang ditolong oleh penumpang motornya. Tak ingin ketahuan oleh Damian, Edo segera tancap gas dari sana lalu kembali setelah Damian pergi dengan mobilnya.


#bersambung