
"Vania!" panggil seseorang dari arah belakang Vania dan Rizka.
"Oh? Kak Naina!" seru Vania menyambut kehadiran Naina dan Harvey.
Naina memberi salam pada Rizka. Begitu juga dengan Harvey.
"Kak, boleh kan kak Naina ikut bergabung denganku?" tanya Vania.
Rizka mengangguk. "Iya, tentu saja boleh. Temanmu adalah temanku juga kan?"
Naina dan Vania tertawa kecil. Mereka bertiga berjalan bersama diikuti Harvey dibelakang. Mereka memasuki ruang makan yang cukup luas. Ternyata sudah ada beberapa orang yang sudah duduk di meja masing-masing.
Mata Vania tiba-tiba mengarah pada Damian yang sedang bersama Sitta. Padahal baru semalam Damian menyatakan perasaannya, tapi sekarang ia malah sudah bersama Sitta dan terlihat mesra.
Vania memalingkan wajah dan melihat sisi yang lain. Ia melihat Edo berjalan kearahnya. Vania tersenyum hangat menyambut kedatangan Edo.
"Pagi, Bang," sapa Vania.
"Pagi juga. Bagaimana tidurmu? Nyenyak kan?"
Vania mengangguk. "Iya, Bang."
Di meja sebelah, Naina dan Harvey nampak berbisik-bisik.
"Aku tetap menyukai tuan Edo, Harv!" bisik Naina.
"Hmm, terserah Vania saja, sayang!" balas Harvey.
Vania, Edo, Rizka, Radit dan Nadine makan dalam satu meja.
"Van, setelah ini kita keliling kapal yuk. Besok kita sudah harus kembali ke kota. Jadi, hari ini habiskan waktumu untuk bersenang-senang," ucap Rizka.
Vania berbinar senang mendengar penawaran Rizka. Tentu saja ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang belum tentu datang lagi kepadanya.
Usai sarapan pagi, Rizka mengajak Vania ke sebuah taman yang sengaja ia minta di buat di atas kapal. Vania berlarian dengan gembira. Ia bermain dengan mata air buatan yang ada disana.
Edo hanya memperhatikan tingkah Vania yang terlihat lugu dan menggemaskan. Di kejauhan, Sitta menatap Vania dengan hati yang dongkol. Karena Vanialah dirinya dan Nita dikurung di sebuah ruangan semalaman. Dan yang lebih membuatnya murka adalah ketika ia menerima kiriman foto-foto Damian dan Vania yang terlihat sangat dekat.
Sitta mengepalkan tangannya dan sudah tak bisa menahan amarahnya lagi.
"Berani sekali gadis kampungan itu mendekati Damian. Kita lihat saja apa yang bisa aku lakukan terhadapmu!" batin Sitta berapi-api.
Bersama dengan Nita, sahabatnya, Sitta melancarkan rencana untuk menyingkirkan Vania. Gadis lugu itu nyatanya tidak tahu jika bahaya sedang mengintainya.
Vania yang sedang berjalan tak sengaja berpapasan seorang pria yang memints tolong padanya. Vania yang berhati baik tentu saja membantu orang yang sedang kesusahan. Ia tak sadar jika itu hanya sebuah jebakan yang dibuat oleh Sitta.
"Aku akan menyingkirkan semua halangan yang membuat Damian jauh dariku. Bersiaplah, Vania! Aku akan mengirimmu ke surga!" seringai Sitta yang merasa sudah menang.
Vania mulai curiga dengan pria yang katanya butuh bantuan ini. Vania pun bertanya.
"Tuan, kita akan kemana? Bukankah jika tuan sakit kita harus menuju ke..."
Vania tak melanjutkan kalimatnya karena pria itu segera membungkam mulutnya. Kedua tangannya langsung dikunci oleh si pria yang bertubuh besar itu.
Lalu muncullah Sitta dan Nita yang membuat mata Vania membola.
"Apa kabar, Vania? Kurasa sudah cukup waktu liburanmu di kapal ini. Sudah saatnya kau pulang," ucap Sitta mendekati Vania.
"Tidak! Apa yang akan mereka lakukan padaku? Harusnya aku tidak tertipu oleh pria ini tadi. Sekarang aku harus bagaimana?" batin Vania menjerit.
Vania menggeleng ketika Sitta meminta pria itu mendorong tubuh Vania hingga ke tepi pembatas kapal.
"Tidak! Siapapun tolong aku!" Air mata Vania tak bisa lagi ia tahan. Sungguh ia tak mengira jika Sitta adalah wanita yang mengerikan.
Tanpa peduli tatapan Vania yang memohon padanya, Sitta mendorong tubuh Vania hingga jatuh dari atas kapal. Vania meronta dan berteriak.
"Tolong! Tolong!" teriak Vania sambil mengepakkan tangannya karena dia tidak bisa berenang.
Nita, Sitta dan pria bertubuh besar itu segera pergi dari sana agar tidak mencurigakan.
Vania masih berjuang untuk bisa bertahan. Ia menggerakkan kakinya agar tidak tenggelam.
"Tolong! Tolong aku!" teriak Vania sebisa mungkin.
Hingga akhirnya ada seorang tamu kapal yang melihat ada orang di dalam air.
"Oh, Ya Tuhan! Ada yang tenggelam!"
Orang itu segera meminta bala bantuan agar ada yang menolong Vania.
Rizka yang sedari tadi kehilangan Vania mendadak panik ketika ada yang berteriak histeris.
"Edo! Jangan-jangan..."
"Ayo kita kesana, Riz!" Edo langsung berlari menuju tempat yang ditunjuk oleh wanita tadi.
Rencana Sitta benar-benar matang. Untuk membuat Rizka dan Edo sejenak lupa dengan keberadaan Vania, ia membayar orang-orang untuk mengalihkan perhatian Rizka dan Edo. Dan ternyata rencananya berhasil.
"Vania!" pekik Rizka ketika melihat jika yang ada di lautan lepas itu adalah Vania.
Edo melepas jaketnya dan akan turun menolong Vania. Namun ternyata ada yang lebih dulu terjun untuk menolong Vania.
Mata Edo membola ketika melihat Damian sudah turun ke air. Hatinya terasa mencelos melihat kegigihan Damian untuk menolong Vania.
Tim penyelamat segera mengangkat tubuh Damian dan Vania dengan sekoci. Damian memeluk tubuh Vania yang sudah tak sadarkan diri.
Damian membaringkan tubuh Vania untuk melakukan pertolongan pertama.
"Vania! Bangun, Van!" Damian menepuk pipi Vania pelan.
Damian memegangi pipi Vania dan ... ia melakukan napas buatan untuk Vania. Edo yang melihat adegan seperti berciuman itu hanya bisa diam mematung.
Edo tak menyangka jika Damian memiliki perasaan yang cukup besar pada Vania. Ya, semalam Edo secara tak sengaja mendengar semua pernyataan cinta Damian kepada Vania. Ia yang awalnya ingin mencari keberadaan Vania, akhirnya malah mengetahui jika antara Damian dan Vania telah berhubungan jauh dari seorang atasan dan bawahan.
Vania terbatuk. Ia mengeluarkan air laut yang semat tertelan.
"Vania!" pekik Damian lalu memeluk gadis itu.
Vania masih tak bisa mencerna apa yang terjadi. Beberapa saat yang lalu ia merasa hidupnya sudah berakhir. Namun kini ia malah berada dalam dekapan seorang Damian.
Damian mengangkat tubuh Vania dan membawanya menuju kamar miliknya. Semua orang yang menonton penyelamatan Vania dibubarkan oleh Fardhan.
"Nona, kau baik-baik saja?" tanya Fardhan yang melihat Rizka masih mematung.
"Iya, aku baik."
"Sebaiknya Nona beristirahat saja dulu."
Rizka tersenyum. "Kau tahu Farsh. Ini adalah hari ulang tahun terbaik sepanjang hidupku."
Fardhan mengernyit bingung.
"Aku mendapat banyak kejutan setelah mengenal Vania. Gadis itu benar-benar gadis yang luar biasa."
Fardhan tersenyum. "Omong-omong, saya belum memberikan kado untuk Nona."
"Eh?"
Rizka menatap Fardhan bingung. "Kau! Sejak kapan kau memberiku kado, hah?!" Rizka menggeleng.
Fardhan memang tidak pernah memberikan kado untuk Rizka di hari ulang tahunnya. Mereka sudah saling mengenal sejak remaja karena orang tua Fardhan bekerja pada keluarga Hanggawan.
"Bukankah tahun ini adalah tahun istimewa untuk Nona? Jadi, mungkin akan lebih berkesan karena saya memberi Nona kado."
Fardhan menyerahkan sebuah kotak kecil kepada Rizka.
"Baiklah. Aku menerimanya, Farsh. Maka tahun ini benar-benar menjadi tahun yang istimewa untukku."
Fardhan tersenyum. Senyum yang sangat jarang ia tunjukkan pada siapapun.
"Aku buka ya!"
Fardhan mengangguk.
"Hah?! Jepit rambut?" Rizka sedikit kecewa.
"Hei, Nona. Apa kau tidak ingat apa maknanya itu? Kau pernah merengek untuk dibelikan jepit rambut ketika SMP."
"Apa? Kapan? Aku tidak ingat!" Rizka mengerucutkan bibirnya.
"Aku ingat, Nona. Dan itu memang benar!"
"Tapi itu kan dulu! Kenapa baru sekarang kau membelikannya?" Rizka memukuli lengan Fardhan.
Pria itu malah tertawa keras karena merasa puas mengerjai nonanya. Sejak dulu Fardhan selalu mengagumi Rizka. Awalnya hanya sebatas kagum kemudia. berubah suka, lalu tumbuh menjadi hal yang lain. Tapi dirinya sadar jika dia tidak akan mampu menggapai Rizka. Biarlah hanya menjadi sahabatnya saja, itu sudah membuatnya bahagia.
#bersambung