My Culun CEO

My Culun CEO
Semua Tentang Sheila



Nathan memarkirkan mobilnya di parkiran khusus penghuni VIP apartemen miliknya. Sepanjang perjalanan Sheila hanya diam dan menatap kosong ke depan.


"Sudah sampai. Ayo turun!" ucap Nathan.


Sheila yang tersadar dari lamunannya melihat sekeliling. Ia bingung karena Nathan tidak mengantarnya ke rumah kontrakannya.


"Kenapa kau membawaku kemari?" tanyanya.


"Istirahatlah saja di apartemenku."


Tanpa menunggu persetujuan dari Sheila, pemuda itu langsung turun dari mobil dan menuju ke sisi pintu yang lain. Ia membuka pintu dan segera mengangkat tubuh Sheila.


"Eh, kau mau apa? Turunkan aku!" tolak Sheila.


"Sudahlah! Kau sudah terluka begini masih saja cerewet! Sekali kali kau menurutlah denganku!"


Nathan tak menghiraukan Sheila dan tetap membawa tubuh Sheila dalam gendongannya.


"Tubuhku berat," ucap Sheila tertunduk.


"Tidak. Sama sekali tidak berat. Kau seringan bulu, hahaha."


Sheila mengernyit heran dengan sikap Nathan yang berubah. Mereka menaiki lift ditemani kesunyian.


Tiba di kamar Nathan, ia langsung merebahkan tubuh Sheila di sofa.


"Aku akan mengambil kotak obat."


Sheila memperhatikan gerak gerik Nathan yang cukup telaten merawatnya. Nathan mengoles salep di pipi kiri Sheila. Gadis itu terus menatap Nathan yang memang berbeda dari biasa yang ia lihat.


"Apakah masih sakit?" tanya Nathan.


Sheila menggeleng. "Terima kasih sudah menolongku."


Nathan tersenyum. Sebuah senyum yang jarang Sheila lihat.


Nathan beranjak dari duduknya dan menuju pintu. Seorang pelayan wanita membawakan sebuah paper bag. Nathan berterimakasih pada pelayan itu.


"Ini!"


Nathan menyerahkan paper bag kepada Sheila.


"Apa ini?"


"Baju ganti untukmu. Bajumu basah dan baunya juga kurang sedap."


Sheila menciumi pakaiannya dan mengernyit. Yang Nathan katakan memang benar.


Sheila mengangguk dan segera menuju kamar mandi. Nathan terus mengulum senyum melihat Sheila yang seakan salah tingkah. Pria itu menuju ke kamar ganti dan memilih baju lain untuknya.


Usai membersihkan diri, Sheila keluar dari kamar mandi dan tak melihat Nathan duduk di sofa.


"Kemana dia?" gumam Sheila.


"Kau mencariku?"


Sheila melotot melihat penampilan Nathan yang seakan berbeda di matanya. Sheila menundukkan wajahnya karena terlalu malu.


Mereka kembali duduk di sofa. Masih terjadi kecanggungan diantara mereka. Padahal ini bukan pertama kalinya Sheila datang ke apartemen Nathan.


"Kenapa kau tidak melawan mereka?" tanya Nathan tiba-tiba.


Sheila menghela napas kemudian terkekeh kecil. "Mereka bertiga dan aku hanya sendiri."


"Benar juga sih. Tapi kau bisa memanggil security."


"Mana bisa. Mereka adalah anak-anak investor kan? Mereka juga punya kuasa."


"Kau juga putri pemilik AJ Grup." Entah apa yang sebenarnya ingin Nathan katakan.


"Tapi tidak ada yang tahu soal itu. Aku ingin menjadi orang biasa. Sama seperti dulu. Aku seperti hidup dalam dunia yang normal."


Nathan mengernyitkan dahi.


"Dulu sekali aku juga pernah mendapat perundungan seperti ini. Saat itu mereka tidak tahu siapa aku."


Nathan membulatkan mata. Ia mendengarkan cerita Sheila dengan seksama.


"Lalu setelah semua orang tahu identitasku, duniaku mulai berubah. Semua orang mendekatiku karena ada maksud tertentu. Mereka tidak tulus ingin berteman denganku. Makanya, aku tidak terlalu suka berteman."


Nathan terdiam. Ia tak menyangka jika Sheila punya kisah kelam seperti itu.


"Hanya Naina saja yang tidak pernah melihatku sebagai putri keluarga kaya. Dan hanya dia satu-satunya temanku."


"Apa ini adalah alasanmu keluar dari rumah?" tanya Nathan.


Sheila mengangguk. "Aku ingin mencari seseorang yang benar-benar tulus menerimaku apa adanya. Bukan ada apanya."


Nathan tertegun karena kalimat Sheila sama dengan yang diucapkan Ivanna beberapa waktu lalu.


Sheila tersenyum ketika mengingat tentang Tarjo. Pria itu menerimanya apa adanya.


"Lalu, bagaimana jika orang yang sudah menerimamu apa adanya tahu tentang identitasmu yang sebenarnya?" Sepertinya pertanyaan Nathan juga untuk dirinya sendiri. Bagaimana jika suatu saat Sheila tahu tentang identitas Tarjo?


"Entahlah. Aku belum memikirkan hingga sejauh itu. Tapi, jika dia benar-benar menerimaku ketika aku menjadi gadis biasa, pasti dia juga bisa menerimaku sebagai putri AJ Grup. Benar begitu kan?"


Sheila menatap Nathan dan mengulas senyumnya. Nathan membalas senyum itu.


"Sejak kecil, aku melihat penolakan kak Rangga pada mamaku. Kondisi kami tidak baik-baik saja. Orang-orang mungkin melihat kami adalah keluarga yang harmonis. Tapi itu semua palsu. Makanya aku juga selalu mengulum senyum palsu pada semua orang."


Nathan mengerti soal itu. Karena keluarganya dulu juga tidak baik-baik saja. Ia merasa jika papa dan mamanya lebih menyayangi kakaknya dari pada dirinya.


"Tapi, saat aku bertemu dengan seseorang yang bisa menerimaku apa adanya, akhirnya aku bisa tersenyum dengan lepas."


DEG


"Apakah itu Tarjo?" batin Nathan.


Nathan melirik jam tangannya. "Kau istirahatlah saja disini. Aku masih ada pekerjaan."


Sheila mengangguk. Nathan beranjak dari duduknya namun ditahan oleh Sheila.


"Tunggu!"


"Ada apa?"


"Jangan katakan soal hari ini pada keluargaku dan juga keluargamu."


"Kenapa?"


"Tidak apa. Aku hanya tidak ingin membuat mereka khawatir. Pergilah! Maaf sudah membuat pekerjaanmu tertunda."


"Jangan bicara begitu. Sudah menjadi tugasku untuk menjagamu."


Nathan melangkah pergi dan meninggalkan Sheila. Gadis itu merebahkan tubuhnya di sofa. Rasanya lelah sekali hari ini.


#


#


#


Keesokan harinya, Nathan mengantar Sheila ke rumah kontrakannya untuk berganti baju. Sheila memaksa tetap masuk kerja setelah kejadian kemarin. Ia tak ingin dianggap istimewa atau semacamnya.


Bagaimanapun juga status Sheila adalah sama dengan karyawan lainnya. Ia tak ingin dibedakan dengan yang lainnya.


"Apa kau ingin aku memberi hukuman untuk mereka?" tanya Nathan.


"Tidak perlu," jawab Sheila singkat.


"Shei!"


"Baiklah jika kau memaksa. Suruh saja mereka minta maaf padaku."


"Hanya itu?"


"Iya. Memang apa lagi. Atau bisa juga begini. Selama dua bulan mereka bekerja tanpa gaji, lalu gaji mereka bertiga di berikan kepada security dan juga OB. Bagaimana menurutmu?"


Nathan sedikit bingung dengan pemikiran Sheila.


"Boleh juga." Nathan kembali mengulas senyumnya.


.


.


.


Tiba di gedung Avicenna Grup, Sheila dan Nathan turun dari mobil.


"Apa yang dipikirkan orang-orang jika aku naik mobil dengan CEO?" ucap Sheila.


"Kau adalah calon istriku. Wajar saja jika kau naik mobilku."


Sheila terdiam. Soal itu ia tak ingin berkomentar. Mereka melanjutkan perjalanan dengan masuk ke dalam lift. Sheila terpaksa ikut dengannya memakai lift khusus karena terus Nathan memaksanya.


Mereka keluar dari lift bersamaan dan bertemu dengan Harvey. Nathan meminta Harvey untuk memanggil ketiga gadis yang melakukan perundungan pada Sheila.


Nathan dan Sheila menunggu Marina and the genks di ruangan CEO. Ketiga gadis itu berjalan tertunduk seakan sudah siap untuk dihukum.


"Ehem! Tunjukkan wajah kalian!" ucap Nathan dingin.


Sontak ketiga gadis itu mendongakkan wajahnya menatap Nathan.


"Kalian minta maaflah pada Sheila," perintah Nathan.


Ketiga gadis itu saling pandang.


"Cepat minta maaf!"


"I-iya, Pak," jawab ketiganya bersamaan.


"Sheila, aku minta maaf atas perbuatanku kemarin," ucap teman Marina, Nita.


"Sheila, aku juga minta maaf." Kini giliran Sitta yang bicara.


"Aku minta maaf, Sheila." Marina bicara paling akhir.


Sheila mengangguk. "Iya, aku maafkan kalian."


"Dan sebagai hukuman karena kalian sudah mengacau di kantor ini, maka gaji kalian selama tiga bulan akan diberikan untuk para security dan juga seluruh OB di gedung ini," imbuh Nathan.


"A-apa?! Kenapa begitu, Pak? Ini tidak adil!" protes Marina.


"Baiklah kalau begitu akan saya tambah jadi 4 bulan?"


"Heh?! Jangan, Pak! Baiklah, kami menerimanya!" ucap Marina pasrah.


Setelah ketiga gadis itu setuju dengan hukuman mereka, ketiganya keluar dari ruangan Nathan. Meski agak kesal namun mereka tidak bisa menolak hukuman itu.


Marina terus mengumpati Sheila yang terlihat sangat dekat dengan Nathan. Ia mengajak kedua temannya untuk kembali berdiskusi.


"Eh? Siapa sebenarnya gadis itu? Kelihatannya dia sangat dekat dengan Nathan. Tadi pagi aku lihat dia semobil dengan Nathan," ucap Marina.


"Hmm? Yang benar kamu?" tanya Nita.


"Iya. Aku merasa ada yang aneh aja. Sepertinya dia nggak seperti yang kita duga. Aku harus cari tahu tentang dia."


#bersambung