
"Freya!"
Kedua orang yang saling berhadapan ini menoleh kearah sumber suara. Terlihat Damian sedang berdiri di ambang pintu ruangan Freya.
"Damian?" gumam Freya.
Andreas menghampiri Damian dan mengulurkan tangannya.
"Apa kabar? Sudah lama tidak bertemu," ucap Andreas berbasa basi.
Tanpa mau membalas sapaan Andreas, Damian malah menatap tajam pria itu lalu menatap Freya.
"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Damian dingin.
"Aku mengirimkan makanan untuk Freya."
Damian menatap paper bag yang di bawa Freya. Sepertinya alasan Andreas memang benar. Damian tak bisa mengusir Andreas dari sana.
"Emh, Damian. Kenapa tiba-tiba datang? Apa ada hal ingin kamu katakan?" tanya Freya dengan suara gugup.
"Huum. Aku ingin mengajakmu makan siang. Tapi sepertinya kamu sudah memiliki makan siangmu sendiri."
"Eh? Tidak! Bukan begitu, Damian..."
"Aku yang harus pergi disini." Damian berbalik badan dan segera melangkah, namun Freya mencegatnya.
"Tunggu! Kamu mau kemana?" Freya memegangi lengan Damian. "Makanlah disini bersamaku!" pinta Freya.
Andreas membuang muka melihat Freya yang terlihat mencintai Damian.
"Ayolah!" bujuk Freya.
Damian menatap Andreas sekilas lalu kembali menatap Freya.
"Baiklah! Ini demi kamu!" jawab Damian dengan mengusap pipi Freya.
Damian kembali masuk dan duduk di sofa. Ia mengajak Andreas untuk makan siang bersama mereka.
"Tidak perlu. Seorang Chef biasanya tidak ikut memakan apa yang dibuatnya. Kalau begitu, aku permisi dulu, Freya."
"Eh? I-iya, Chef. Terima kasih sudah membawakan ini untukku. Lain kali sebaiknya tidak perlu begini, Chef."
"Maaf kalau aku lancang. Aku hanya ingin membuatkannya saja untukmu. Untuk seseorang yang sudah memberiku semangat. Aku permisi!"
Andreas berlalu dari ruangan Freya. Gadis itu kembali menatap Damian dan ikut duduk di sofa.
"Kita buka ya, chef Andreas bawa apa saja. Dari baunya sepertinya enak," gumam Freya tanpas sadar hingga membuat Damian menatap horor padanya.
"Kenapa?" Freya menatap Damian yang memberikan tatapan tak biasa padanya.
"Apa maksudnya tentang orang yang memberinya semangat?" tanya Damian.
"Aku ... juga tidak tahu." Freya mengedikkan bahunya.
"Jangan bohong! Kamu gak bisa membohongiku, Freya! Kamu juga baru saja menangis kan?"
"Eh? Itu..."
"Katakan! Apa kalian memiliki hubungan khusus?"
"Tidak! Kenapa berpikir seperti itu? Aku bahkan baru bertemu dengannya. Dia hanya bilang jika alasannya menjadi chef adalah karena diriku. Aku yang sudah memberinya semangat untuk terus menggapai mimpinya. Aku sendiri juga tidak tahu apakah itu benar atau tidak. Karena aku sendiri tidak ingat soal itu."
Damian terdiam. Ia tahu jika Freya jujur. Damian segera membawa Freya dalam dekapannya.
"Maaf. Aku terlalu cemburu," lirih Damian.
"Bukankah jika cemburu itu artinya kamu mencintaiku?" balas Freya.
Damian mengurai pelukannya. "Iya, aku selalu mencintaimu. Hingga akal sehatku seakan sudah tertutup karenamu. Aku menunggumu sudah sekian tahun. Dan aku senang kamu sudah kembali."
Freya menatap Damian sendu. "Kenapa kamu tidak mengatakan apapun? Padahal dulu ... kita sudah pernah bertemu."
Damian mengusap pipi Freya. "Aku tidak mau dianggap memanfaatkan situasi karena aku sudah mengenalmu sejak dulu. Aku ingin kamu menyadarinya sendiri dan mengingatnya sendiri."
"Aku ingat. Aku ingat jika kita terhubung di masa lalu. Aku bermimpi saat kita masih remaja dulu. Aku ingat tentangmu, Damian." Freya merangkum wajah Damian.
#
#
#
"Freya! Kemari, Nak!" panggil Liliana.
Freya berjalan mendekat dan menyapa mereka semua.
"Kamu sudah bertemu dengan Nak Andreas kan? Dia bilang kalau kamu pernah datang ke restoran miliknya," ucap Liliana.
Freya tersenyum canggung. Beberapa pertanyaan kembali muncul dalam benaknya. Untuk apa Andreas datang ke rumahnya?
"Oh ya, ini Nak Andreas membawakan makanan untuk kita. Duh, jadi tidak enak nih," tambah Liliana.
Laurent dan Liliana menyambut Andreas dengan baik. Mereka bahkan mengajak Andreas untuk makan malam bersama.
Freya tidak bisa menolak keinginan Liliana dan akhirnya ikut bergabung dalam meja makan. Kedua orang tua Freya tampak akrab dan saling bercanda gurau dengan Andreas.
Usai makan malam, Freya bicara empat mata dengan Andreas.
"Chef, kenapa sampai melakukan ini? Apa yang Chef inginkan?" tanya Freya tanpa basa basi.
"Tidak ada. Aku hanya menyapa kedua orang tuamu saja. Kami sudah lama tidak bertemu."
"Sebaiknya jangan lakukan ini lagi, Chef. Aku ... tidak mau berhutang budi padamu."
Andreas tertawa. "Hutang budi? Baiklah, akan kukatakan yang sebenarnya. Aku menyukaimu. Dan aku ingin mengenalmu lebih dekat. Aku tahu kau sudah bersama dengan Damian, tapi ... dia tidak seperti yang kau bayangkan. Kau tidak akan cocok dengannya. Kau belum tentu bisa menerima setelah mengetahui apa yang selama ini Damian sembunyikan."
Freya hanya diam. Ia tak ingin menanggapi apapun yang dikatakan Andreas.
#
#
#
Andreas tiba di resto miliknya yang sekaligus rumahnya kini. Seseorang sudah menunggu kedatangan Andreas. Dia adalah Damian. Pria itu sedari tadi menunggu kedatangan Andreas karena ingin bicara berdua.
Andreas mempersilakan Damian masuk karena ia menghormati Damian sebagai sahabat adiknya, Rachella.
"Kau mau mau minum teh?" tawar Andreas.
"Tidak usah! Aku tidak akan lama disini. Aku kemari karena ingin bicara denganmu," papar Damian.
"Baiklah. Silakan bicara!"
"Kenapa kau mendekati Freya? Apa kau tahu jika aku dan Freya adalah pasangan kekasih?"
Andreas tersenyum. "Aku tahu. Justru karena aku tahu makanya aku semakin ingin merebut Freya darimu."
"Apa katamu?"
"Damian, kau tidak akan cocok dengan Freya. Perangaimu yang sesungguhnya, apa pernah kau perlihatkan pada Freya? Dia berhak mendapatkan pria yang lebih baik darimu!"
"Baik atau tidak bukan kau yang menilai!" geram Damian. "Aku dan Freya saling mencintai. Dan aku tahu dia akan memilihku meski kau masuk dalam kehidupannya."
Andreas tertawa. "Percaya diri sekali! Kau tidak pernah serius dengan hal apapun, Damian. Kau bahkan membuat Rachella patah hati berkali-kali."
"Diam kau! Kau tidak tahu apapun tentangku dan juga Rachella. Adikmu itu yang memaksakan dirinya. Aku sama sekali tidak pernah menggubris perasaannya. Dan kurasa itu juga sudah cukup jelas untuknya."
Di tempat berbeda, Freya belum bisa memejamkan matanya. Tiba-tiba ia bimbang dengan perasaannya. Meski ia yakin ia mencintai Damian, tapi kata-kata Andreas membuatnya mulai ragu pada Damian.
"Apa Damian memang memiliki rahasia? Tapi apa? Kenapa dia tidak pernah bicara apapun padaku?" gumam Freya dalam hati.
#
#
#
Pagi menjelang, Freya masih berada di tempat tidur ketika dering ponsel memekakkan telinganya. Freya terlambat bangun hari ini karena semalam ia tak bisa memejamkan matanya.
Matanya yang masih mengantuk melihat siapa yang menghubungi dirinya.
"Josh? Ada apa dia menghubungiku sepagi ini?" gumam Freya.
"Halo, ada apa Josh? Kenapa menelepon sepagi ini?"
"Nona Freya! Cepat datang ke rumah sakit!"
"Hah?! Rumah sakit?" Mata Freya langsung membelalak sempurna.
"Iya, Nona. Cepat kemari! Tuan Damian ada di rumah sakit sekarang!"