
Seorang gadis cantik turun dari pesawat yang membawanya kembali ke tanah kelahirannya. Dialah Carissa Ford. Putri tunggal dari Damian Ford dan Freya Moremans.
Setelah menempuh pendidikan di luar negeri selama beberapa tahun, Carissa tetap memilih tinggal disana dan belajar bisnis dari perusahaan cabang milik ayahnya. Sebenarnya Carissa berat karena harus meninggalkan pria yang amat dicintainya sejak dirinya remaja. Tapi ia juga sadar jika dirinya harus memiliki kemampuan untuk bisa meneruskan bisnis ayahnya kelak.
Carissa tersenyum melihat sang ibu yang menjemput ibunya di bandara.
"Mama? Aku tidak menyangka kalau Mama yang menjemputku sendiri." Carissa memeluk wanita yang sudah melahirkannya ke dunia.
"Tentu saja Mama harus melakukannya sendiri. Mama sudah sangat merindukanmu, Nak." Freya membalas pelukan putri semata wayangnya itu.
"Oh ya, kepulanganmu ini bertepatan dengan hari peringatan ke 100 Avicenna Grup. Apa kau sengaja mengepaskannya, hmm?" tanya Freya ketika mereka sudah berada di dalam mobil mewah yang akan membawanya kembali ke rumah.
"Hah?! Bagaimana Mama tahu?" Carissa terlihat berbinar dan tersipu secara bersamaan.
"Tentu saja Mama tahu. Mama mengenalmu lebih dari siapapun."
"Iya, Ma. Aku ingin memberikan dukungan kepada Bang Giga. Dia adalah pewaris Avicenna Grup selanjutnya kan, Ma?"
Freya nampak memutar bola matanya. "Entahlah. Kinerjanya sangat buruk jika dibandingkan dengan Karel. Menurut Mama, Karel lebih cocok untuk memimpin Avicenna Grup selanjutnya."
Carissa menatap Freya tidak percaya. Bagaimana bisa mamanya itu bicara dengan enteng tentang Giga didepannya?
Sementara itu, persiapan hari peringatan ke 100 pun sudah hampir selesai. Giga yang diberi tugas oleh Nathan untuk memberikan pidato kini sedang berlatih dengan keras agar bisa berpidato dengan baik di depan seluruh klien dan rekan bisnisnya.
Giga nampak ragu jika dirinya bisa melakukan ini. Ia bahkan tidak pernah berbicara di depan umum selama ini.
"Ayolah, Tuan. Kau pasti bisa! Teruslah berlatih!"
Merlin tak henti menyemangati Giga agar pria itu kembali mendapatkan kepercayaan dirinya. Tekad Merlin sekarang adalah membuat Giga melupakan trauma masa lalunya.
#
#
#
Tiba di hari yang ditunggu-tunggu, akhirnya pesta perayaan peringatan hari jadi Avicenna Grup yang ke 100 berlangsung cukup meriah. Banyak tamu undangan penting yang sengaja Nathan undang karena hari ini ia akan mengumumkan secara resmi siapa CEO baru yang akan menggantikan dirinya.
Giga datang bersama Merlin dengan balutan jas berwarna hitam dan dasi kupu-kupu, membuat aura ketampanan dalam dirinya keluar. Giga menyapa para tamu yang hadir kemudian menemui ayah dan bibinya yang sedang berbincang.
"Tante Mira, Karel," sapa Giga yang disambut oleh senyum aneh dari Mira.
Nathan menepuk bahu Giga dan merasa sangat bangga kepada putranya itu.
"Kau sudah siap, Nak?" tanya Nathan.
"Sudah, Ayah," jawab Giga mantap.
Acara demi acara akhirnya berjalan dengan lancar. Kini tiba saatnya bagi Giga sebagai CEO yang baru untuk menyampaikan sepajah dua patah kata di depan semua tamu yang hadir.
Giga berjalan dengan tegap menuju ke podium depan. Matanya menatap semua orang yang hadir. Dari bawah podium, Merlin memberikan semangat kepada Giga.
Giga tersenyum sebelum memulai pidatonya.
"Selamat siang semuanya. Terima kasih atas kehadiran kalian semua dalam acara peringatan 100 tahun hari jadi Avicenna Grup. Sebagai perusahaan yang memiliki banyak cabang di..."
Pidato Giga terhenti. Semua orang mulai berbisik-bisik tentang apa yang sebenarnya terjadi dengan CEO baru itu. Merlin meminta Giga untuk meneruskan pidatonya. Namun Giga malah menatap kearah satu sosok yang sudah lama tidak ia lihat.
Ada raut kemarahan dan kekecewaan di wajah Giga. Wanita yang sudah meninggalkannya beberapa tahun silam tiba-tiba hadir dan membuat konsentrasinya kacau. Sekelilingnya terasa berputar. Giga tak bisa melanjutkan pidatonya.
"Ma-maaf... Pidato selanjutnya akan di lanjutkan oleh asisten saya."
Giga berjalan keluar dari podium dan menyerahkan lembaran kertas berisi pidatonya kepada Merlin.
Merlin menatap para tamu undangan yang sudah bingung sekaligus kecewa dengan CEO baru Avicenna Grup. Mira dan Karel malah tersenyum puas karena ternyata mereka tidak perlu melancarkan aksi apapun untuk menjatuhkan Giga. Justru Giga sendirilah yang menghancurkan imejnya di depan para klien.
#
#
#
"Bang! Bang Giga! Tunggu, Bang!" Carissa mengejar Giga yang kini sudah berada di luar gedung.
"Bang! Tunggu! Kenapa kau malah menghindar?" Carissa menampakan wajah memelas di depan Giga.
Carissan memegangi lengan Giga yang akhirnya bisa ia raih. Dengan halus Giga menepis tangan Carissa. Giga meraih ponselnya dan menghubungi Heri, supirnya.
"Halo, kau dimana? Cepat jemput aku di depan lobi!"
"Bang!" Carissa memanggil Giga dengan suara lembutnya.
"Ada apa lagi? Aku rasa sudah tidak ada lagi yang bisa kita bicarakan!" tegas Giga.
"Abang! Kenapa bersikap begini padaku?" Carissa nampak sudah berkaca-kaca. "Baiklah. Aku yang salah karena dulu meninggalkan Abang. Tapi, sekarang aku sudah kembali, Bang. Bisakah kita bicara baik-baik dan..."
"Maaf, Carissa. Kurasa kata-kataku saat itu sudah cukup jelas. Kita sudah putus dan tidak ada hubungan apapun lagi diantara kita. Jadi, jangan lagi muncul di hadapanku!"
Giga langsung masuk kedalam mobil begitu Heri menghentikan mobil tepat di depan Giga.
"Abang! Tolong dengarkan aku dulu, Bang! Abang!" Carissa terus memohon namun Giga tidak menggubris. Giga menyuruh Heri untuk melajukan mobilnya dan meninggalkan Carissa yang terlihat putus asa dan bersedih.
Sementara di dalam gedung, Nathan begitu marah kepada Merlin dan juga Harvey. Entah kenapa ia malah melampiaskan kekesalannya kepada asisten dan asisten putranya.
Merlin hanya bisa menundukkan kepala dan meminta maaf yang sebesar-besarnya mengenai insiden hari ini. Nathan memijat pelipisnya pelan. Ia tak tahu lagi harus bagaimana menghadapi putranya itu.
Merlin keluar dari ruangan Nathan dan berjalan gontai. Ia benar-benar merasa bersalah kepada Giga dan Nathan. Ia mengira jika dirinyalah penyebab dari semua trauma yang dialami Giga.
"Ya Tuhan! Aku harus bagaimana lagi?" Merlin bergumam sendiri sambil terus berjalan keluar gedung. Disaat yang bersamaan, Karel juga keluar dari ruangannya.
"Apa Om Nathan memarahimu?" tanya Karel yang sudah bisa menebak dari raut wajah Merlin.
Merlin hanya mengangguk lemah.
"Jangan bersedih! Om Nathan memang begitu. Tapi sebenarnya dia baik. Dan soal Giga..."
Merlin semakin merasa bersalah jika mengingat tentang bosnya itu.
"Giga pasti akan baik-baik saja. Kau jangan khawatir! Bersemangatlah! Aku akan selalu mendukungmu!" Karel menepuk bahu Merlin dan membuat gadis itu tersenyum manis. Disaat dirinya sedang bersedih, Karel selalu ada untuk menghiburnya.
"Terima kasih, Tuan. Anda memang malaikat baik hati yang sepertinya di kirim Tuhan untukku," batin Merlin dengan menatap wajah tampan Karel.
"Karel! Apa yang sedang kau lakukan?" Tiba-tiba saja Mira datang menghampiri Karel dan Merlin.
Merlin membungkuk hormat di depan Mira.
"Dengar, Nak. Apa kau sudah dengar kabar?"
"Kabar apa, Ma?" tanya Karel dengan berjalan meninggalkan Merlin.
"Carissa sudah kembali, Nak. Kau harus segera menemuinya!" Mira begitu senang dan bersemangat ketika bercerita tentang kepulangan Carissa.
"Benarkah? Baiklah, aku akan segera menemuinya." Karel pun tak kalah senang dan bersemangat. Sejak dulu perasaannya terhadap Carissa tidaklah berubah. Mungkin sekarang adalah kesempatannya untuk mendapatkan hati Carissa.
B e r s a m b u n g