My Culun CEO

My Culun CEO
Kalah Start



Vania memegangi dadanya yang terasa berdebar. Jantungnya serasa memacu degup yang lebih kencang. Ia menatap Damian yang kini sudah ia baringkan di jok belakang mobilnya.


Kini Vania tinggal menunggu kedatangan Josh yang sudah ia hubungi. Tak lama Josh keluar dari taksi yang berhenti di depan Vania.


"Vania! Dimana tuan Damian?" tanya Josh yang terlihat panik.


Vania menunjuk kearah mobil Damian. Josh mengikuti arah pandang Vania dan melihat Damian ada di dalam mobilnya. Usai berterimakasih, Josh segera membawa Damian pulang ke rumahnya.


Vania kembali ke rumah Naina dan mendapat berondongan pertanyaan dari mantan kekasih kakaknya itu.


"Vania! Lama banget beli pembalut aja! Memangnya beli pembalut dimana? Kamu gak apa-apa kan? Aku pikir terjadi sesuatu denganmu," cerocos Naina tanpa mau berhenti.


Vania tak menjawab dan malah menghindari Naina.


"Kak, aku lelah. Aku ingin istirahat. Kita bicara besok saja ya!" Vania segera masuk ke dalam kamarnya.


Naina mengernyit bingung dengan sikap Vania. Namun ia tak mempermasalahkannya. Mungkin saja jika Vania memang lelah.


Vania duduk di tepi ranjangnya. Masih bisa ia rasakan ketika Damian menyentuh bibirnya tadi.


"Haaah!" Vania menghembuskan napas kasar.


"Itu adalah ciuman pertamaku! Kenapa harus tuan Damian yang merebutnya?" gumam Vania.


Vania naik ke atas ranjang dan menelusupkan wajahnya ke bantal. Ia uring-uringan setelah apa yang terjadi tadi padanya.


"Apa yang harus kulakukan jika besok bertemu dengannya?"


Vania menggerakkan kakinya menghentak tempat tidur. Namun sejenak kemudian Vania diam. Ia memikirkan sesuatu.


"Bukankah tuan Damian sedang mabuk? Itu berarti jika dia ... pasti tidak ingat dengan kejadian tadi!" Vania berbinar senang.


"Tapi, siapa nama wanita yang digumamkan tuan Damian tadi? Sheila? Sheila siapa? Aku tidak salah dengar kan?"


Vania kembali berpikir. "Apa jangan-jangan ... kak Sheila? Apakah itu kak Sheila temannya kak Naina?" seru Vania heboh sendiri.


Sementara itu, Josh telah tiba di rumah Damian. Pria itu membawa Damian menuju kamarnya dan merebahkan pria mabuk itu keatas tempat tidur.


Josh melepas dasi dan juga jas yang masih melekat pada tubuh Damian. Josh memandangi Damian yang kembali kacau. Dulu karena masalah dengan Edo. Sekarang entah dengan siapa lagi Damian bermasalah.


"Sheila..."


Josh mengerutkan kening mendengar nama yang di racaukan Damian.


"Sheila..."


"Apa katanya?! Sheila?!" Josh membulatkan mata. Memang sudah ia duga sebelumnya jika Damian menaruh hati pada gadis itu. Tapi tak pernah Josh sangka jika perasaan Damian akan sedalam ini.


Josh menghela napasnya. Ia ingin meninggalkan Damian sendiri tapi ia juga tidak tega. Josh duduk di sofa kamar Damian. Ia membuka ponselnya dan melihat sebuah berita yang membuat matanya membola.


Sebuah situs berita online merilis berita tentang pernikahan Nathan Avicenna dengan Sheila Adi Putri dari AJ Grup.


Josh menatap Damian lalu kembali menatap layar ponselnya. Foto-foto pernikahan Nathan dan Sheila sudah tersebar luas.


"Aku tidak menyangka jika mereka adalah pasangan suami istri." Josh mengusap dagunya. "Mungkin kau harus mencari gadis lain, Tuan." Josh bicara dengan Damian yang sudah tak sadarkan diri.


Di tempat berbeda, Nathan dan Sheila telah tiba di rumah mereka. Nathan masih bicara dengan seseorang di sambungan telepon. Sedangkan Sheila sudah berada di tempat tidur.


"Baik, Kak. Terima kasih!" ucap Nathan di akhir sambungan telepon.


"Apa itu, Kak boy?" tanya Sheila.


"Iya. Aku meminta tolong padanya dan juga paman Julian untuk bisa mengumumkan pernikahan kita."


Sheila terdiam. Ia merasa Nathan bersikap berlebihan.


"Nate, apa ini tidak terlalu berlebihan? Bahkan semua media online sedang membicarakan soal kita," ucap Sheila sambil men-scrol layar ponselnya.


Nathan naik ke tempat tidur dan memeluk istrinya. "Tentu saja tidak! Aku hanya ingin melindungimu, Shei."


Nathan memberikan kecupan-kecupan mesra di tengkuk istrinya. "Kau kenapa? Tidak suka dengan sikapku ini?"


"Ti-tidak! Bukan begitu..." Sheila takut jika membangunkan sisi Nathan yang lain. Akan lebih baik jika Sheila mengikuti apa yang suaminya inginkan.


"Lalu, apa yang akan kau lakukan setelah semua orang tahu soal pernikahan kita?" tanya Sheila dengan hati-hati.


"Tidak ada. Aku akan tetap melakukan aktifitasku seperti biasa."


Sheila menelan ludah. Ia tahu jika Nathan pasti akan menjawab begitu.


"Tuan Su, apa besok banyak wartawan yang akan mendatangi kantor kita?" tanya Sheila lagi.


"Tidak! Akan kupastikan tidak akan ada yang berani datang mengacau! Kau tenang saja ya!"


Sheila mengangguk. Sheila meletakkan ponselnya lalu bersiap pergi ke alam mimpi.


...***...


Keesokan harinya, Vania berangkat bekerja dengan harap-harap cemas. Ia masih tak tenang meski ia yakin jika Damian tidak akan mengingat kejadian semalam.


Vania bergegas menuju ruangannya. Ia tak ingin ada yang mengetahui kejadian semalam. Ia berharap semoga saja di antara ratusan orang yang bekerja disini tak ada yang melihatnya semalam.


"Vania!" Suara seseorang memanggil Vania.


Gadis itu menoleh dan melihat Josh berjalan kearahnya.


"Ah, Tuan Josh!" Vania sedikit membungkuk memberi hormat pada Josh.


"Emh, Vania. Terima kasih atas apa yang kau lakukan semalam. Dan juga ... maaf."


"Eh, tidak apa kok, Tuan. Itu hanya hal biasa." Vania berusaha mengulas senyumnya.


"Jangan berpikir jika ini adalah hal biasa. Kau tahu kan siapa tuan Damian Ford? Jangan sampai ini bocor ke depan media atau siapapun. Ini bisa merusak citranya dan juga perusahaan. Jadi, kuminta... anggap saja tidak ada yang terjadi semalam. Kau mengerti?!"


Vania yang sejak tadi menunduk hanya bisa mengangguk patuh dan pasrah. Setelahnyq Josh pergi meninggalkan Vania.


Vania menghela napas. Ia merasa sedih karena Josh bicara begitu padanya seakan mengancam dirinya.


"Entah kenapa saat tuan Josh mengatakannya seolah-olah ia memintaku untuk melupakan soal insiden ciuman itu. Haaah! Memangnya siapa juga yang mau dicium dengan cara paksa begitu!" gumam Vania dalam hati.


"Aku tahu diri siapa posisiku disini! Mana mungkin seorang Damian Ford menyukai gadis biasa sepertiku! Sementara... dia memiliki banyak gadis yang mengelilinginya yang pastinya lebih dari diriku," batin Vania lagi.


Dan secara tiba-tiba Damian berjalan melewati ruangan Vania bersama dengan Sitta dan Nita. Dua wanita itu kini tak pernah lepas dari Damian. Sitta benar-benar tak putus asa untuk bisa mendapatkan cinta Damian.


...***...


Malam harinya, Damian kembali menemui kakeknya untuk sekedar berkeluh kesah soal masalah pribadi yang menimpanya. Joseph hanya tertawa mendengar cerita Damian.


Padahal baru kemarin Damian bersorak gembira karena akan makan malam dengan gadis yang pujanya. Namun malam harinya hatinya patah dan kini masih terasa sakit.


"Kalian seru sekali bercerita!" Celia menghampiri kedua pria berbeda generasi itu.


"Hahaha, tidak Celia. Ini hanya..." Joseph yang akan bercerita tiba-tiba mendapat tatapan maut dari Damian.


"Hanya masalah anak muda, Celia," ucap Joseph pada akhirnya.


"Tuan Damian!" Sebuah suara memanggil Damian.


"Oh? Tuan Danny?!" Damian tidak menyangka akan bertemu Danny disini.


"Jangan memanggil saya begitu. Panggil Danny saja," ucap Danny.


"Kau sudah datang?" tanya Celia dan mendapat sebuah anggukan dari Danny.


"Baiklah, kalau begitu, kakek, Tuan Damian, saya permisi dulu," ucap Celia.


"Hei, Nak. Kau tidak ingin mengenalkan siapa pria ini padaku, huh?" ujar Joseph dengan sedikit merajuk.


"Ah iya, Danny, ini adalah tuan Joseph, dia adalah kakek tuan Damian, dan ini..."


"Pasti kekasihmu, kan?" cegat Joseph.


Celia tersipu malu. Joseph malah tertawa.


"Dia adalah calon istri saya, Tuan. Doakan kami segera menikah!" Danny meminta restu kepada Joseph.


"Iya, iya. Jika kalian butuh bantuan dariku, aku akan membantu kalian untuk mempersiapkan pesta pernikahan kalian," ucap Joseph.


"Heh?! Tidak perlu, Tuan!" sergah Celia.


"Jangan sungkan. Aku memang suka beramal!"


"Kalau begitu, kami permisi dulu, Tuan Joseph, Tuan Damian," pamit Danny.


Joseph menatap kepergian Celia dan Danny lalu melirik cucunya.


"Kau sudah kalah start, cucuku!" ucap Joseph.


Lelaki tua itu menggeleng pelan. "Sudahlah! Lupakan gadis yang sudah menikah itu. Lalu carilah gadis baik lainnya. Kau bahkan menolak perjodohan yang diatur ayahmu."


Damian mendelik kearah kakeknya. "Hei! Bukankah kakek yang mengacaukan pertunanganku! Kenapa jadi menyalahkan aku?" sungut Damian.


Joseph kembali tertawa. Malam ini rasanya sangat menggembirakan untuk dirinya. Karena kesal kakeknya terus mengejeknya, Damian pun pergi meninggalkan pria tua itu sendiri di taman panti.


"Hei, mau kemana kau?! Dasar! Baru segitu saja sudah cengeng!" seru Joseph yang tak dihiraukan oleh Damian.


Damian melajukan mobilnya membelah jalanan kota menuju rumahnya. Lalu matanya menangkap bangunan klub malam yang kemarin didatanginya.


Damian masih waras dan tidak ingin pergi kesana lagi. Cukup sudah ia tidak akan berbuat gila lagi. Reputasinya dipertaruhkan disini. Ia tidak mau namanya buruk di depan publik.


Tiba-tiba Damian menginjak pedal rem. Ia menghentikan mobilnya di tepi jalan.


"Tunggu! Apa yang terjadi semalam?"


Damian mencoba mengingat-ingat kejadian di saat dirinya mabuk semalam. Pelayan rumahnya bilang jika Damian pulang diantar Josh. Lalu bagaimana Josh bisa tahu jika dirinya mabuk?


Damian ingat jika dirinya menghentikan mobil dan memuntahkan isi perutnya. Tapi rasanya ia tidak ingat jika dirinya menghubungi Josh. Ia meraih ponselnya dan mencari riwayat panggilan dengan Josh. Tidak ada panggilan semalam. Lalu siapa yang menghubungi Josh?


Mata Damian tertuju pada kamera pengawas yang terpasang di mobilnya. Ada di depan dan belakang.


"Kenapa dari tadi tidak memeriksa rekaman CCTV saja?"


Damian melepas kamera pengawas di depan mobilnya dan melihat video rekaman malam kemarin.


"Hah?!" Mata Damian membulat sempurna. Ia menutup mulutnya tak percaya.


"Bagaimana bisa?!" Damian mulai panik. Ia menyaksikan sendiri jika dirinya telah merebut paksa ciuman dari Vania. Bahkan gadis itu sempat meronta namun Damian terus memaksanya. Hingga akhirnya Vania menampar pipi Damian lalu pria itu jatuh pingsan.


"Bodoh kau, Damian!" Damian merutuki dirinya sendiri sambil memukuli kemudi.


"Gadis itu ... sudah mencuri ciuman pertamaku!"


#bersambung


*what happen next? Tunggu kelanjutkan kisahnya ya genks 😘 silakan tinggalkan jejak kalian 😊😊


Jangan lupa mampir juga ke Lucka Cinta



*Oh ya genks, makthor mau kasih tau, kalau nanti di akhir kisah ini emak akan adakan giveaway buat readers yg setia mendukung karya ini dgn cara masuk ke peringkat 3 top fans. Yuk, dukung selalu karya ini dengan memberikan Like, komen, gift dan Vote. akan ada pulsa utk 3 orang yg berada di top fans, terima kasih 🙏🙏🙏😊😊😊


posisi sementara top fans:



*Ayooo siapakah yg menggantikan emak di posisi ke tiga? hehehe