
Seorang pria paruh baya yang masih nampak gagah sedang berjalan tegap setelah turun dari pesawat yang membawanya ke tanah kelahiran mendiang sang istri. Wajahnya merah padam menahan amarah karena mendengar kabar tentang putra semata wayangnya.
Dialah Jonathan Ford. Ayah dari Damian ini sengaja terbang ke Indonesia karena mendapat kabar dari sang mata-mata yang selalu mengawasi gerak gerik sang putra.
Jonathan sengaja mengawasi Damian hanya untuk mengetahui apa saja yang dilakukan oleh sang putra selama mereka berjauhan. Ia sangat geram ketika mendengar kabar jika putranya jarang masuk ke kantor dan malah diam-diam membeli unit apartemen mewah yang dekat dekat gedung More Trans.
Jonathan bertanya-tanya apa gerangan yang sedang dilakukan oleh sang putra? Dan kini semua mulai terjawab.
Jonathan sengaja membobol kode kunci pintu apartemen Damian agar bisa memeriksa apa yang dilakukan putranya di kamar apartemen itu. Matanya membeliak ketika melihat banyaknya barang-barang aneh yang sebelumnya tidak pernah Damian beli.
Rambut palsu, kumis palsu, bulatan yang seperti tompel, dan beberapa pakaian kemeja kasual lengan pendek yang pastinya modelnya jauh dari selera Damian yang high class.
Belum selesai sampai disitu, Jonathan lalu mendatangi kantor Damian dan ia malah tak mendapati putranya disana. Jonathan bertanya pada Josh.
Jonathan tahu jika Josh sangat setia pada putranya. Sehingga seberapa keras Jonathan mendesak Josh, pria itu tidak akan membuka mulutnya.
Jonathan pasrah. Ia hanya akan mengetahui semuanya saat bertemu dengan putranya nanti.
"Jangan katakan apapun pada Damian jika aku kembali ke Indonesia," perintah Jonathan.
Josh mengangguk patuh. Seperti halnya dirinya yang tidak membocorkan apapun kepada Jonathan, maka ia pun memegang janjinya untuk tidak mengatakan apapun kepada Damian mengenai kedatangan Jonathan. Josh memang orang yang dapat dipercaya dan diandalkan.
Disinilah Jonathan dan Damian sekarang. Duduk berhadapan di sofa ruang tamu apartemen mewah milik Damian.
Jonathan melipat kaki dan tangannya. Ia hanya menatap tajam kearah putranya yang berpenampilan culun meski semua aksesorisnya sudah di lepas.
"Bisa jelaskan apa yang sebenarnya terjadi, Nak?" tanya Jonathan dengan suara tertahan. Ia tak ingin terjadi perdebatan lagi antara dirinya dan Damian.
"Apa Ayah memata-mataiku?" Damian bertanya balik.
"Iya. Ayah mengawasimu hanya untuk menjagamu saja. Bukan untuk apa-apa."
Damian terdiam. Ia terus menunduk tak berani menatap ayahnya.
"Maafkan aku..." lirih Damian.
Jonathan tersenyum mendengar permintaan maaf dari putranya. Damian sudah banyak berubah. Dan Jonathan menyadari itu.
"Apa ini karena seorang gadis?"
Damian sontak mendongak. "Bagaimana Ayah bisa tahu?"
Jonathan tertawa kecil. "Hei, ayah juga pernah muda. Kau pikir masa muda ayah biasa-biasa saja? Tentu saja tidak! Ayah bahkan mati-matian mengejar ibumu," cerita Jonathan yang membuat Damian menarik sudut bibirnya.
"Siapa gadis yang beruntung itu?"
"Haish! Ayah! Aku menyamar bukan untuk mendapatkan hatinya. Aku hanya ingin memastikan jika dia memang mencintaiku..." ucap Damian malu-malu.
"Oh, begitukah? Lalu, apakah kau sudah mendapatkan jawabannya?"
"Sudah sih. Tapi aku tidak yakin. Dia masih belum mau mengakuinya. Tapi..."
Tiba-tiba mata Damian membola. Ia pun menepuk kepalanya sendiri.
"Astaga! Ayah!"
"Ada apa?" tanya Jonathan bingung.
"Dia sedang menungguku di kantor!"
Jonathan menggeleng pelan. "Kalau begitu cepat pergi sana! Cinta itu harus di kejar, Nak! Jangan diam saja!"
"Iya, Ayah. Kalau begitu aku pergi dulu!"
Damian segera mengganti baju dan membenahi penampilannya. Ia segera menelepon Josh untuk memastikan apakah Freya masih ada di lobi Ford Company atau tidak.
Damian melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh. Ia tak ingin kehilangan cinta Freya lagi. Kali ini ia sudah yakin jika Freya memang mencintainya. Senyum mengembang terus Damian tampakkan selama perjalanan menuju Ford Company.
Damian tiba di depan lobi gedung kemudian ia langsung berlari masuk dan mencari keberadaan Freya di ruang tunggu lobi.
Damian tak menemukan siapapun disana.
"Kemana dia?" gumam Damian.
Ia mengedarkan pandangan mencari sosok Freya yang nyatanya tak ada dimanapun.
Damian menghampiri pos jaga security dan bertanya disana.
"Pak, lihat gadis yang menunggu di lobi?" Damian membuka ponselnya dan menunjukkan foto Freya.
"Oh, nona ini? Barusan pergi, Tuan. Tadi sepertinya terburu-buru keluar."
Damian meninju udara. Ia gagal lagi. Ia berterimakasih pada pak satpam kemudian menuju lobi dan duduk di kursi tunggu.
Damian memegangi kepalanya. "Kemana perginya Freya?"
"Tuan?! Anda sudah disini?" Josh menyapa Damian yang sedang duduk dengan ekspresi kecewanya.
"Hmm," jawab Damian singkat.
"Tuan sudah bertemu dengan nona Freya?" tanya Josh antusias.
"Tidak! Dia sudah pergi ketika aku datang."
"Ah, begitu ya!" Josh menggaruk kepalanya.
"Kau!" Tiba-tiba saja Damian menunjuk Josh dengan tatapan sengit.
"Kenapa kau tidak bilang padaku jika Ayah datang? Jika saja ayah tidak menginterogasiku lebih dulu, pasti aku tidak akan kehilangan Freya lagi! Ini semua karena kau!" tunjuk Damian yang kini bangkit dan berhadapan dengan Josh.
"Hehehe, maaf Tuan. Tuan sendiri tahu seperti apa loyalitas saya dalam bekerja. Saya selalu melakukan yang terbaik, Tuan," bela Josh.
"Ah benar juga! Ayah pasti tahu soal apartemenku dari orang suruhannya. Dan sepertinya ayah belum tahu siapa gadis yang sedang kukejar ini."
Damian kembali terduduk lemas. Josh merasa tidak tega melihat tuannya yang terlihat putus asa.
"Kita coba besok lagi, Tuan. Jangan menyerah! Semangat, Tuan!" Josh mengepalkan tangan dan menunjukkannya pada Damian.
"Ah entahlah. Padahal tadi aku sudah sangat yakin jika aku akan bertemu Freya. Ya sudah, aku akan kembali ke apartemen. Apa rapatnya sudah selesai semua?"
"Sudah, Tuan."
"Baguslah! Kau boleh pulang." Damian beranjak dari duduknya.
"Terima kasih untuk hari ini," ucap Damian dengan menepuk bahu Josh.
"Kau terlalu lelah bekerja, Josh. Carilah wanita yang baik lalu menikah. Kau akan senang jika saat kau pulang ke rumah ada seseorang yang menyambut kedatanganmu."
Damian berlalu usai mengatakan kata-kata mutiara untuk Josh. Pria berkacamata itu hanya tersenyum mendengar kalimat Damian.
"Kau sudah banyak berubah, Tuan. Apa cinta bisa mengubah sifat seseorang? Aku bahkan enggan jatuh cinta karena kupikir dunia kita akan aneh jika kita jatuh cinta. Apakah jatuh cinta seindah itu?" gumam Josh kemudian ikut berlalu.
Josh tiba di rumah sederhana miliknya yang masih gelap. Ia menekan saklar lampu lalu terlihatlah rumah yang nampak rapi namun sunyi itu.
"Sepertinya apa yang dikatakan Tuan Damian memang benar. Aku butuh seseorang yang menyambutku ketika aku kembali pulang."
Josh tersenyum kemudian menatap foto mendiang adiknya yang sedang tersenyum.
"Apa kau setuju jika kakak mencari seorang istri?" monolog Josh.