
Freya masih tertegun melihat Andreas. Chef yang ia idolakan karena memiliki paras tampan dan jago memasak.
Naina hanya tersenyum kecil melihat Freya yang nampak sangat terkejut dengan kehadiran Andreas. Sebelumnya ia memang sudah tahu jika restoran ini adalah milik Andreas. Makanya Naina ingin memberi sedikit kejutan untuk Freya.
"Kalau begitu saya akan siapkan hidangan penutupnya untuk Nona," ucap Andreas menyadarkan Freya dari keterkejutan.
"Eh? Ah iya, Chef." Freya menunduk malu.
Andreas kembali ke dapur dan menyiapkan hidangan penutup untuk Freya dan Naina.
"Kakak!" Freya menatap Naina horor.
"Kenapa?"
"Apa kakak sudah tahu jika resto ini milik Chef Andreas?" tanya Freya menyelidik.
"Hehe, tidak sepenuhnya tahu. Tapi aku hanya mendengar gosipnya saja."
Freya menghela napas. "Ish, kakak! Aku jadi terlihat bodoh di depan Chef Andreas kan jadinya!"
Naina tertawa. "Rileks saja, Frey. Bukannya dulu pasti kamu sudah kenal dengan Chef Andreas?"
Freya mengedikkan bahunya.
"Buktinya dia masih mengenalimu, Frey."
"Gak tahu lah, Kak. Aku masih belum bisa ingat masa laluku." Freya mendensah pelan.
"Sabar! Aku yakin kamu bisa mengingatnya suatu saat nanti."
Freya tersenyum. Ia sangat berharap bisa mengingat semua kenangan di masa lalunya.
Beberapa menit kemudian, Chef Andreas kembali datang dengan membawa makanan penutup untuk Freya.
"Ini saya masak khusus untukmu, Nona Freya. Selamat datang kembali," ucapnya sopan.
Freya hanya mengulas senyum manisnya. Ia langsung mencicipi hidangan penutup yang berbentuk seperti kue tart kecil.
Freya merasakan sebuah rasa manis, ada pahit dan juga asam. Mungkin Andreas sengaja membuatnya agar terasa seperti kehidupan yang dipenuhi dengan berbagai rasa.
Usai menyantap hidangan penutup, Freya dan Naina bersiap untuk pergi. Mereka berdiri di depan meja kasir dan membayar tagihannya. Kali ini Naina mentraktir Freya.
Lagi lagi Andreas menghampiri Freya seolah menahan gadis itu untuk pergi.
"Nona Freya! Bisakah kita bicara sebentar?" tanya Andreas.
Freya melirik Naina. "Tidak apa, aku bisa pulang sendiri ke kantor. Kamu bicara dulu saja dengan Chef Andreas."
Naina yang sudah mempersilakan, dan Freya yang rasanya tidak bisa menolak.
"Baiklah, aku masih punya waktu satu jam sebelum kembali ke kantor."
Andreas mempersilakan Freya menuju ke sebuah ruangan yang ternyata adalah rumah.
"Aku sengaja membuat rumah diatas restoku untuk mempermudah pekerjaanku," jelas Andreas.
Freya hanya manggut-manggut.
"Mau teh?" tawar Andreas.
"Boleh."
Freya memperhatikan sekeliling ruangan rumah Andreas yang nampak aestetik dan klasik.
"Chef... Apa Anda mengenalku?" tanya Freya dengan polosnya.
Andreas tertawa. "Kau sendiri, kenapa bersedia berkunjung ke rumah orang yang tidak kau kenal?"
"Eh? Aku ... aku hanya bersikap sopan saja, Chef."
Andreas menyerahkan secangkir teh kepada Freya. "Aku mengenalmu karena dulu kita tinggal di tempat yang berdekatan."
"Benarkah? Bukannya hanya rumah kalian dan keluarga Ford saja yang berdekatan?" Freya mencoba menggali sebuah informasi.
"Tidak. Keluarga kita bertiga tinggal berdekatan. Aku senang ternyata kau masih hidup."
Freya terdiam. Begitu banyak hal yang sudah hilang dalam hidupnya karena kecelakaan itu.
"Aku dengar kau dan Damian ... memiliki hubungan khusus."
Freya menatap Andreas. "Begitulah."
"Aku tidak menyangka sejak dulu perasaannya tidak berubah."
"Eh?"
"Ah sudahlah. Lupakan saja! Senang bertemu lagi denganmu, Freya."
#
#
#
"Lalu, bagaimana hubunganku dengan Damian dulu? Kenapa dia tidak mengatakan apapun padaku?" gumam Freya.
Tubuh lelahnya tak bisa lagi mencerna hal yang terjadi di masa lalu. Ia pun terlelap dan menuju ke alam mimpi.
#
#
#
Di sebuah rumah yang bergaya minimalis, seorang pemuda berusia. Sekitar 13 tahun itu datang dengan mengendarai sepedanya. Pemuda itu turun dari sepedanya dan menyapa seorang gadis kecil yang sedang bermain di taman depan rumahnya.
"Hai, Freya!" sapa pemuda itu.
"Eh? Kak Damian? Mau cari bang Edo ya?"
"Iya. Dia ada dirumah kan?"
"Ada kak. Sepertinya sedang ada di kamarnya."
"Baiklah, aku masuk dulu ya!" Damian muda berjalan masuk ke dalam rumah namun sebelumnya ia mengacak rambut Freya kecil yang sedang bermain.
"Ish, kakak! Rambutku jadi kusut kan?" sungut Freya kecil.
#
#
#
Freya membuka mata. Ia masih syok setelah mendapatkan sebuah mimpi yang terasa begitu nyata.
"Apa itu tadi? Aku dan Damian bertemu saat kami masih kecil. Benarkah semua itu? Atau hanya mimpi saja?" gumam Freya.
Usai membersihkan diri, Freya keluar dari kamar dan menyapa Liliana juga Laurent. Kini mereka hanya tinggal bertiga karena setelah menikah, Edo memutuskan tinggal sendiri bersama Rizka, istrinya.
Selama sarapan bersama, Freya hanya diam karena memikirkan tentang mimpinya semalam. Yang ia rasakan sangatlah nyata. Sosok Damian saat remaja dan juga dirinya.
"Freya! Ada apa, Nak? Kenapa makanannya hanya dilihat saja?" tanya Liliana yang membuat Freya sadar.
"Eh? Gak apa-apa, Ma. Ini aku makan!" Freya langsung melahap sarapannya hingga tandas. Ia tak ingin membuat Liliana khawatir.
#
#
#
Di kantor, Freya berusaha melupakan semua mimpi manis antara dirinya dan Damian. Ia ingin menemui kekasihnya itu dan bertanya secara langsung. Namun saat ini Damian sedang sibuk dengan pekerjaan. Sudah hampir satu minggu ini, Freya belum bertemu dengan Damian.
Saat jam makan siang, Freya memanggil Doni dan memintanya untuk menyiapkan makan siang untuknya. Namun ternyata Freya kedatangan tamu yang tidak diundang.
"Chef Andreas?" Freya terkejut bukan kepalang dan bertanya-tanya untuk apa Andreas datang ke kantornya.
"Maaf jika aku mengganggu waktumu. Aku hanya mampir sebentar untuk memberimu ini!" Andreas menyodorkan sebuah paper bag kepada Freya.
"Apa ini, Chef?" tanya Freya bingung.
"Aku membuat bekal makan siang untukmu. Kudengar kau memiliki masalah pencernaan. Jadi, aku membuatkan makanan yang nyaman untuk lambungmu."
Dengan ragu, Freya menerima paper bag dari tangan Andreas.
"Terima kasih banyak, Chef. Harusnya Anda tidak perlu melakukan ini."
"Tidak apa. Ini tidak merepotkan. Dulu yang mendukungku untuk menjadi Chef adalah kau."
"Eh?" Freya tertegun.
Sejenak mata Andreas dan Freya beradu. Menyiratkan sebuah rasa yang tidak pernah terungkapkan.
"Aku tahu kau tidak bisa mengingat semua itu. Tapi aku mengingatnya. Gadis kecil yang selalu bersemangat dan ceria. Aku tidak menyangka jika setelah kau menyemangati aku untuk terus maju, aku malah tidak pernah lagi melihatmu. Ketika kau dikabarkan meninggal ... aku bertekad untuk terus menggapai mimpiku menjadi seorang Chef."
Cerita Andreas membuat Freya terharu dan menitikkan air mata. Ia tak menyangka jika dirinya mempunyai kontribusi besar dalam keputusan Andreas.
Andreas melangkah maju dan menghapus air mata Freya.
"Jangan menangis. Freya yang aku kemal adalah gadis yang kuat dan selalu tersenyum."
Dengan mata yang masih penuh dengan genangan air mata, Freya menatap Andreas. Sedikit demi sedikit, kenangan masa lalunya mulai menyeruak.
"Freya!"
Suara seseorang membuat Freya tersentak dan menepis tangan Andreas.