My Culun CEO

My Culun CEO
Rencana Tuan Su



Di kediaman keluarga Hanggawan,


Seorang gadis muda dengan kaus kebesaran dan celana jeans pendek diatas lutut berjalan lenggak lenggok dengan wajah yang tertekuk. Gadis itu menghampiri seorang pria yang sedang duduk di sofa ruang keluarga sambil memainkan tablet pintarnya.


Gadis itu mendaratkan pantatnya di samping si pria dan bergelayut manja. Dialah Rizka Hanggawan, yang sedang bermanja-manja dengan kakak sepupunya, Raditya Hanggawan, CEO dari Hang Construction.


"Kakak..." panggil Rizka dengan suara manjanya.


"Hmm." Radit hanya menjawab dengan sebuah dehaman.


"Apa tidak ada yang ingin kakak tanyakan padaku?" ucap Rizka masih dengan gaya manjanya. Selama ini Radit memang selalu memanjakan Rizka. Alhasil, Rizka begitu menempel padanya meski kini Radit telah menikah.


"Aku yakin kamu berhasil menjalani harimu dengan baik. Iya kan?" ucap Radit santai.


"Ish, kakak! Apa kakak tahu apa yang dilakukan Nathan Avicenna itu? Masa dia menyuruhku untuk mengganti bajuku. Memang apa yang salah dengan pakaianku? Dia bilang ini belum saatnya pergi ke klub. Ish, menyebalkan sekali!" rengek Rizka.


Radit menghentikan pekerjaannya sejenak. Ia menatap adik sepupunya yang terlihat sedang kesal dan memanyunkan bibirnya.


"Nathan Avicenna memang terkenal sangat dingin. Makanya sebaiknya kamu turuti saja keinginannya jika ingin melanjutkan kerjasama dengannya," tutur Radit.


"Tapi, Kak..."


PLETAK!


Sebuah sentilan mendarat di kening Rizka. Itu adalah Nadine, istri Radit.


"Aw! Kakak ipar!" pekik Rizka tidak terima.


"Otakmu itu harusnya di cuci dulu sebelum datang kesini. Ini adalah Indonesia! Kamu jangan berpakaian dengan bebas seperti di negaramu itu! Apalagi kamu menghadiri sebuah rapat. Tentu saja kamu harus punya etika dong!" nasihat Nadine panjang lebar.


Rizka mengusap keningnya yang terasa sakit. Kakak iparnya ini memang selalu menjadi penghalang jika dirinya ingin bermanja-manja dengan Radit.


"Apa yang dikatakan kakak iparmu ini ada benarnya juga," timpal Radit.


"Lagipula apa maksudmu dengan berpakaian kurang bahan begitu didepan Nathan? Apa kamu ingin menggoda suami orang?" tanya Nadine sarkas.


"Kalau iya, kenapa?" jawab Rizka berani dan segera melenggang pergi meninggalkan pasangan suami istri itu.


"Dasar gadis tidak tahu diri! Sini kamu!" sungut Nadine ingin mengejar Rizka namun di cegah oleh Radit.


"Sudahlah! Kita biarkan saja dia!"


"Tapi, Dit... Kamu tahu kan siapa istrinya Nathan? Dia adalah Sheila, adiknya Rangga dan adik ipar Cecilia. Aku tidak mau sepupumu yang centil itu macam-macam dengan Nathan!" kesal Nadine.


"Iya, aku tahu. Aku akan bicara pelan-pelan dengannya. Jangan terlalu keras padanya. Nanti dia malah semakin menjadi."


Nadine mengalah. Sepertinya apa yang dikatakan sang suami ada benarnya juga. Nadine akan menemui Cecil untuk membicarakan masalah ini.


#


#


#


Keesokan harinya, Sheila berangkat bersama dengan suaminya. Nathan mengantar Sheila lebih dulu ke kantornya barulah dirinya menuju ke gedung Avicenna Grup.


Sheila melepas kepergian suaminya dengan hati yang masih cemas karena adanya Rizka sebagai klien baru Nathan. Namun sebisa mungkin Sheila menaruh kepercayaan penuh pada suaminya itu.


"Hati-hati, Tuan Su. Jaga hatimu selalu untukku..." lirih Sheila sambil menatap kepergian mobil suaminya.


"Shei!" Sapaan Danny membuat Sheila tersadar.


"Eh, Kak Danny! Selamat pagi, Kak!" sapa Sheila.


"Selamat pagi! Ayo naik ke atas!" ajak Danny untuk menuju ke ruangan mereka masing-masing.


Sheila melihat ada sesuatu yang berbeda dengan Danny. Pria ini tampak lebih ... bahagia dan sumringah.


"Kak, apa ada hal yang membahagiakan? Sepertinya ada yang berbeda dengan kakak," celetuk Sheila asal.


Danny mengangguk mantap. Ia bercerita tentang kejadian semalam bersama Celia. Sheila ikut senang karena kini Danny bisa membuka hatinya untuk gadis lain.


"Selamat ya, Kak..." ucap Sheila.


"Masih belum, Shei. Dia memintaku kami menjalani semuanya saja dulu. Jangan terlalu banyak memikirkan hal lain. Aku tahu bagaimana perasaannya. Dia baru saja menata hidupnya kembali. Pasti masih berat menerima seseorang dalam hidupnya."


Sheila mengangguk mengerti. Sepertinya semua orang akan mulai bahagia mulai sekarang. Tapi kenapa kini Sheila yang mulai cemas?


Sheila menggeleng cepat. Ia harus percaya pada Nathan. Hari ini ia akan bicara dengan Cecilia. Mungkin dengan begitu hatinya menjadi lebih tenang.


#


#


#


Gadis itu berjalan dengan anggunnya menuju ruangan Nathan dengan barang branded yang menempel di seluruh tubuhnya. Bahkan wangi semerbak parfum mahalnya masih tercium hingga beberapa meter.


Nathan menelan ludahnya kasar.


"Sepertinya gadis ini tidak bisa menjadi orang biasa saja ya? Selalu saja membuat kehebohan di kantor ini," batin Nathan.


"Selamat pagi, Tuan Nathan! Apa hari ini kita jadi meninjau lokasi proyeknya?" tanya Rizka tanpa berbasa basi.


"Anda yakin ingin ikut dengan semua hal yang melekat pada diri Anda?" tanya Nathan dengan menunjuk barang mahal di tubuh Rizka. Tas, sepatu, jam tangan, gelang, cincin, kalung dan anting. Astaga! Itu semua membuat Nathan silau dengan kilauan berlian mahal itu.


"Tentu saja. Saya sudah siap! Dan bisakah kita ... bicara santai saja, Nate? Aku ini tidak setua itu lho! Usiaku baru 24 tahun," ucap Rizka dengan masih gaya yang manja-manja gimana gitu!


"Maaf, Nona. Saya tidak bicara santai dengan rekan bisnis saya," balas Nathan.


"Oke! Kalau begitu bagaimana jika kita jadi teman saja, bagaimana? Bukankah dari rekan kerja lalu bisa menjadi teman?" tawar Rizka dengan kedipan dimatanya.


Nathan memutar bola matanya malas. Susah sekali bicara normal dengan gadis ini, pikirnya.


#


#


#


Pulang ke apartemen, Nathan langsung merebahkan diri diatas sofa. Ia memijat pelipisnya pelan. Seharian ini Rizka banyak mengerjainya. Beruntung Nathan lolos dari ujian hari ini, tapi bagaimana dengan besok?


"Eh, Tuan Su? Kamu sudah pulang? Kenapa aku tidak melihatmu tadi?"


Sheila menghampiri Nathan dengan membawa secangkir teh hangat yang memang sengaja ia sediakan untuk sang suami.


"Sayang..." Nathan menarik tubuh Sheila dan membuatnya duduk di pangkuannya.


"Hmm, ada apa lagi?" tanya Sheila yang pastinya sudah tahu apa yang akan suaminya bicarakan.


"Tiba-tiba aku memiliki rencana!" ucap Nathan dengan menaikturunkan alisnya.


"Apa itu?"


"Sini aku bisikin!" Nathan membisikkan sesuatu ke telinga Sheila.


"Ish, Tuan Su? Kamu yakin akan melakukannya?" Sheila mengernyit bingung.


Nathan mengangguk mantap.


"Kalau ketahuan bagaimana?" tanya Sheila cemas.


"Tidak akan! Percayalah denganku!"


Sheila menatap suaminya dan melingkarkan tangannya ke leher sang suami.


"Tadi aku menemui kak Cecil di kafe. Dan ternyata aku juga bertemu kak Nadine disana."


"Lalu?" tanya Nathan sambil menciumi bahu Sheila.


"Ehm, aku bilang jika aku khawatir denganmu karena adanya Rizka yang bekerja denganmu."


"Lalu...?" Tangan nakal Nathan mulai menyusup masuk kedalam kaus yang dipakai Sheila dan mengusap punggungnya.


"Kak Nadine bilang dia tidak akan membiarkan Rizka menggodamu atau pun dekat-dekat denganmu. Kak Nadine juga tidak suka dengan sikap Rizka yang berlebihan denganmu."


"Hmm, begitu ya!" Nathan berhasil melepas pengait kacamata berenda milik Sheila.


"Tuan Su! Kamu dengar tidak apa yang aku katakan?!" sungut Sheila yang lagi-lagi dibuat kalang kabut dengan sentuhan Nathan.


"Dengar! Aku dengar kok!" Secepat kilat tangannya melepas kaus yang melekat di tubuh Sheila hingga memperlihatkan dua aset berharga miliknya.


"Tuan Su!" pekik Sheila ketika bibir bocah besar itu sudah menempel di bagian dada Sheila.


#bersambung...


*Lanjutkan sendiri ya genks adegannya 😅😅😅


*Hmm, kira2 apa rencana Tuan Su ya? 😌😌


Jangan lupa tinggalkan jejak kesayangan 😘😘