
Sheila terbangun di pagi hari dan merasakan sesuatu yang berbeda. Ia mencium aroma berbeda yang ada di dalam kamarnya. Dengan masih terpejam, Sheila merasakan sebuah aroma maskulin memasuki indera penciumannya.
"Hah?!" Matanya seketika terbuka. Ia mengerjapkan mata dan mulai sadar jika ini bukanlah kamarnya.
Sheila bangun dari tidurnya. Ia memperhatikan ruangan yang kini ditempatinya.
"Dimana aku?" Sheila menggaruk tengkuknya.
Sayup-sayup ia mendengar suara dari luar kamar. Sheila melangkah turun dari tempat tidur dan keluar dari kamar yang ditempatinya.
Sheila terus melangkah hingga kembali mencium aroma lezat yang membuat perutnya meronta minta di isi. Mata Sheila kembali membola ketika melihat Nathan sedang memasak di dapur. Ia memperhatikan sekelilingnya. Ini adalah sebuah apartemen mewah, pikirnya.
Sheila berjalan mendekati dapur. Nathan yang sedang menghidangkan makanan ke piring, seketika menoleh karena mendengar langkah kaki.
"Kau sudah bangun?" Nathan mendekati Sheila dan tangannya kembali memeriksa kening Sheila.
"Demammu sudah turun," ucap Nathan.
"Ini dimana? Apa ini apartemenmu?" tanya Sheila lirih.
"Iya," jawab Nathan singkat dan kembali ke dapur. Ia membawa dua piring makanan di tangannya.
"Kenapa kau membawaku kemari?" tanya Sheila sedikit cemas. Ia takut jika dirinya dan Nathan...
"Jangan berpikir yang aneh-aneh. Aku tidak tidur satu kamar denganmu," tegas Nathan.
"Ooh, maaf." Sheila menggaruk tengkuknya.
"Kemarilah! Kita makan dulu setelah itu aku akan mengantarmu pulang ke rumah kontrakan."
Sheila mengangguk. Ia duduk di meja makan bersama Nathan. Rasanya canggung sekali.
"Kenapa kau tidak membawaku ke rumah kontrakan saja?" tanya Sheila.
Nathan terdiam. "Aku hanya tidak tega karena kau tinggal sendiri dan kau sedang sakit. Aku hanya melakukan itu atas dasar kemanusiaan." Lagi-lagi apa yang keluar dari mulut Nathan tidak sesuai dengan apa yang dikatakan hatinya.
Sheila mengangguk paham. "Terima kasih. Tapi, aku bisa menjaga diriku sendiri."
Nathan menatap Sheila yang masih menikmati sarapannya. Hanya sebuah pasta sederhana yang bisa Nathan masak. Karena tidak ada bahan makanan lain di apartemen itu.
"Apa dia sama sekali tidak ingat apa yang kukatakan semalam? Atau dia tidak mendengarnya?" batin Nathan bertanya-tanya karena sikap Sheila terlihat biasa saja kepadanya.
Usai sarapan, Sheila dan Nathan kembali berkendara untuk menuju rumah kontrakan Sheila. Kembali tidak ada percakapan diantara mereka. Hingga akhirnya...
"Hah?! Itu kan Vicky! Nathan cepat ikuti dia!" seru Sheila ketika melihat sosok kekasih sahabatnya itu melintas mengendarai motor besar.
"Apa katamu?!" jawab Nathan tak mau menuruti Sheila.
"Cepat ikuti dia!" Sheila terus berteriak dan memukuli lengan Nathan.
"Aku ada pekerjaan penting hari ini. Untuk apa mengikuti orang itu?" kesal Nathan.
"Kumohon cepat ikuti dia! Dia adalah pria yang sudah menipu sahabatku."
Nathan tak tahan dengan rengekan Sheila. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk menuruti keinginan Sheila. Mobil Nathan mengikuti kemana arah sepeda motor didepannya ini melaju.
"Dasar pria brengsek! Ketemu juga kau akhirnya, huh! Akan kuberi pelajaran kau!" Sheila mengepalkan tangannya.
Nathan menggeleng pelan dengan tingkah gadis di sebelahnya ini. Ternyata calon istrinya itu bisa juga bersikap barbar seperti ini.
Motor yang di naiki Vicky berhenti di depan gang, pria itu segera turun dan berjalan memasuki gang itu. Tanpa aba-aba Sheila keluar dan mengikuti langkah Vicky.
"Shei! Kau mau kemana?" seru Nathan kesal karena gadis itu bertindak gegabah.
"Sial! Kenapa dia berbuat sesuka hatinya? Bagaimana jika orang itu adalah orang jahat?" Nathan segera meraih ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Halo, Paman Choky! Tolong kirim orang ke alamat yang aku berikan! Sekarang juga!"
Nathan segera menutup telepon dan mengikuti langkah Sheila yang ternyata telah menghilang didalam gang sempit itu.
"Sial! Kemana gadis itu?" Nathan memegangi kepalanya. Ia terus melangkah menyusuri gang sempit itu.
Di sisi Sheila, ia mengendap-endap mengikuti langkah Vicky, kekasih Naina. Ia harus berhati-hati agar pria itu tidak curiga.
"Sebenarnya dia mau kemana sih?" gumam Sheila dalam hati.
Ketika tiba disebuah persimpangan sempit, Sheila mengernyit karena sosok Vicky telah menghilang.
"Hah?! Kemana dia?" Sheila celingukan mencari keberadaan Vicky.
"Hai, Nona. Apa kau mencariku?" Sebuah suara datang dari arah belakang Sheila.
"Hah?!" Sheila membulatkan mata.
"Vicky! Kembalikan uang yang sudah kau pinjam dari Naina! Dasar tidak tahu diri! Kau pasti hanya memanfaatkan Naina saja kan?" ucap Sheila dingin.
"Wow, wow! Jadi kau adalah temannya Naina? Ah, aku ingat! Kau adalah gadis kaya yang manja itu kan?" Vicky mengusap dagunya dengan menatap Sheila tajam.
"Jangan macam-macam! Atau akan kupanggil polisi!" ancam Sheila.
Tentu saja itu tidak membuat Vicky takut. Dengan sekali tepukan, beberapa orang pria datang mengepung Sheila.
Kini Sheila mulai panik. Dirinya yang tadi berapi-api kini mulai ketakutan ketika pria-pria bertubuh besar itu makin mendekat padanya.
"Aaaa! Nathan, tolong aku!" teriak Sheila.
Sementara di sisi Nathan, ia seakan mendengar sebuah teriakan.
"Sheila!" ucap Nathan panik dan mulai mempercepat langkahnya.
Nathan celingukan mencari arah kemana Sheila mungkin berada. Berada di sebuah persimpangan, Nathan menemukan sebuah benda di tanah.
"Hah? Ini kan ... ikat rambut milik Sheila." Nathan mengedarkan pandangan dan meneliti kemana kira-kira Sheila dibawa.
"Sheila! Dasar ceroboh! Kenapa kau sampai berurusan dengan orang itu sih?!" seru Nathan frustasi.
Sheila di tarik paksa oleh kedua orang berbadan besar ke sebuah gudang. Ia terus meronta namun kedua pria itu mencengkeram lengan Sheila dengan kuat.
"Lepaskan aku!" berontak Sheila.
Pria-pria itu malah tertawa melihat tingkah Sheila yang terus berontak.
Kini Sheila berhadapan dengan seorang pria lain yang sedang duduk dengan memangku seorang wanita. Mereka saling berciuman tanpa malu.
Sheila membulatkan mata melihat pemandangan itu.
"Bos, aku menemukan barang baru!" ucap Vicky pada orang yang dipanggilnya bos itu.
Seketika orang itu menghentikan cumbuannya dan beralih menatap Sheila. Pria itu menurunkan tubuh si wanita dan menghampiri Sheila.
Orang yang tubuhnya dipenuhi tato itu menatap Sheila dari ujung kaki hingga ujung rambut.
"Hmm, mulus sekali. Sepertinya barang mahal!"
Orang itu mengusap wajah Sheila dengan tangannya. Sheila menepisnya.
"Jangan sentuh aku dengan tangan kotormu!" seru Sheila berani.
Orang itu tertawa keras. "Kau sungguh berani. Siapa dia, Vick?"
"Dia adalah teman kekasihku, Bos. Kurasa dia bisa kita jadikan tambang emas. Yang aku tahu dia adalah putri dari keluarga kaya."
Sheila menatap tajam kearah Vicky.
"Dasar brengsek kau, Vicky!" umpat Sheila dengan mencoba melepaskan diri dari cengkeraman kedua pria bertubuh besar itu.
Orang yang disebut bos itu kembali tertawa. Ia sungguh terpikat dengan gadis pemberani ini.
"Kurasa aku tertarik dengannya, Vick! Aku akan membuatnya berteriak semalaman dibawah kungkunganku!" seringai pria itu dengan mendekatkan wajahnya ke wajah Sheila.
Dengan berani Sheila meludahi wajah pria itu.
"B4jingan kalian semua! Lepaskan aku!" teriak Sheila.
PLAK!
Sebuah tamparan mendarat di pipi mulus Sheila. Gadis itu tersungkur ke tanah. Ia memegangi pipinya yang terasa panas.
"Bawa gadis itu kedalam. Dan pastikan dia tidak akan bisa kabur sebelum aku mencicipinya!"
Sheila kembali berontak. Ia menarik tubuhnya agar kedua pria itu tidak bisa membawanya. Namun sia-sia saja. Tenaga Sheila tak sebesar kedua pria itu.
"Lepaskan dia!" Sebuah suara menggelegar di dalam gudang itu. Itu adalah suara Nathan.
Sheila berbinar senang melihat pria itu berhasil menemukannya. Namun keraguan kembali memenuhi hatinya. Apa Nathan bisa mengalahkan semua orang yang ada disini?
Nathan melepas jasnya dan menggulung kemejanya hingga ke siku. Beberapa orang maju dan mulai mengarahkan tinjunya Kepada Nathan.
Terjadilah adu pukul dengan kekuatan yang tidak seimbang. Nathan hanya sendiri dan orang itu ada sekitar sepuluh orang.
"Nathan!" teriak Sheila ketika melihat Nathan tersungkur. Hatinya begitu sakit melihat Nathan dipukuli begitu kasar oleh orang-orang itu.
"Jangan sok jadi pahlawan, Bung!" ucap Vicky lalu mengarahkan tinjunya ke wajah Nathan namun bisa ia tepis.
Setelah beberapa saat beradu pukul, muncullah orang-orang yang dihubungi Nathan tadi. Ia adalah anak buah Choky. Pria itu adalah tangan kanan ayah Nathan.
Pria yang dipanggil bos itu sangat mengenal Choky. Ia pun meminta maaf dengan apa yang terjadi. Nathan memerintahkan Choky untuk tidak memperpanjang masalah dan hanya menangkap pria yang bernama Vicky saja. Karena pria itulah yang bermasalah dengan sahabat Sheila.
Para anggota gangster itu segera meminta maaf pada Nathan dan Sheila. Mereka segera pergi dari gudang itu. Dan anak buah Choky membawa Vicky untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya.
Sheila yang sudah terbebas dari ancaman pria-pria itu segera berlari kearah Nathan dan langsung memeluknya. Ia menangis dalam dada bidang Nathan.
Nathan memejamkan mata merasa lega karena berhasil menyelamatkan gadisnya. Tangannya terulur untuk membalas pelukan Sheila. Ia mendekap erat gadis yang sedang terisak itu.
"Maafkan aku. Harusnya aku tidak ceroboh. Maafkan aku," isak Sheila.
"Iya, aku mengerti. Sudah jangan menangis."
Sheila merenggangkan pelukannya. Wajahnya masih dipenuhi air mata ketika Nathan merangkumnya. Pria itu menghapus air mata Sheila dengan ibu jarinya.
"Jangan menangis. Apa kau tahu aku tidak suka melihatmu menangis," ucap Nathan.
Mata mereka saling beradu menyiratkan sesuatu yang membuat jantung makin berdetak lebih cepat dari biasa. Adrenalin mulai terpacu ketika melihat wajah sayu itu menatapnya.
"Apa aku harus mengungkapkan perasaanku lagi padanya?" batin Nathan bergemuruh.
"Tatapan itu... Kenapa rasanya menenangkan? Kenapa sangat berbeda dari biasanya?" batin Sheila juga mulai meronta. "Ya Tuhan! Kenapa jantungku berdegup kencang saat dia menatapku begini?"
"Sheila, aku..." Nathan berusaha bicara lagi. Tapi rasanya semua itu dirasa tak perlu. Dia hanya perlu mengungkapkan semuanya dengan satu cara.
Nathan memiringkan wajahnya dan membuat jarak semakin dekat. Sheila yang mulai paham dengan apa yang akan terjadi selanjutnya segera memejamkan matanya.
Hembusan napas mereka semakin dekat dan sudah tak berjarak.
"Tuan muda!"
Sebuah suara membuat kedua orang yang sedang merapatkan tubuh mendadak saling melepaskan diri.
*hahahah, siapa itu yang nge ganggu? 😬😬😬
*mumpung hari senin, mangga yang mau kirim VOTE utk Nathan dan Sheila 😘😘😘
Terima kasih