
Damian masih terus bicara di depan para stafnya. Ia memberi sedikit pidato lagi karena sebentar lagi perusahaannya akan bekerja sama dengan Avicenna Grup. Ia ingin bawahannya menambah kinerja mereka dan membuat perusahaan ini menjadi lebih maju.
Vania terus menunduk namun ia mendengarkan dengan seksama semua kalimat Damian. Hingga tak terasa Damian menyudahi rapat pagi itu dan meminta semua staf kembali ke ruang kerja masing-masing.
Ketika Vania beranjak dari duduknya...
"Kau! Ikut ke ruangan saya!" ucap Damian menunjuk Vania.
Vania yang ditunjuk masih tidak mengerti dengan situasi yang terjadi. Ia melongo ketika melihat Damian keluar dari ruang rapat.
Vania menatap Josh yang masih ada disana. Josh meyakinkan Vania jika dirinya harus ikut dengan Damian.
Vania pun mengekori langkah Damian hingga tiba di ruang kerja sang CEO. Damian langsung menuju ke kursi kebesarannya dan duduk disana.
"Kemarilah!" ucap Damian dengan suara lembutnya.
Bahkan Vania tersentak karena suara Damian begitu merdu berbeda dengan dirinya saat berada di ruang rapat tadi.
"Ada apa, Tuan?" tanya Vania memberanikan diri.
"Ini! Ini milikmu kan?"
Damian menyodorkan sebuah kacamata yang telah retak milik Vania. Vania tidak menjawab tapi dia mengambil kacamata itu dari tangan Damian.
"Saya sudah menggantinya dengan yang baru. Ini! Terimalah!" Kini Damian menyodorkan sebuah paper bag kearah Vania.
"Tapi, Tuan..."
"Jangan menolak! Saya ingin staf saya bekerja dengan baik. Maka dari itu saya juga harus memberi fasilitas yang bagus pula. Kau adalah staf akuntan yang baru bukan?"
Vania mengangguk. "Terima kasih, Tuan."
"Lalu..."
Damian menjeda kalimatnya. Vania tahu kalimat apa yang akan dikatakan oleh Damian. Ini pasti berhubungan dengan kejadian beberapa waktu lalu, pikir Vania.
"Sebaiknya kau jangan menilai apa yang terlihat oleh mata. Kau harus melihatnya dari sisi yang lain. Mengerti?!"
Vania kembali mengangguk. Tiba-tiba saja pintu ruangan Damian terbuka dan masuklah Sitta kedalam.
"Damian! Ups! Kau sedang ada tamu?" tanya Sitta sambil menatap Vania.
"Kau boleh pergi!" ucap Damian pada Vania.
Vania memberi hormat lalu keluar dari ruangan bosnya. Vania bernapas lega karena ternyata Damian tidak memberinya hukuman.
"Damian! Mulai hari ini aku akan bekerja untukmu," seru Sitta dan langsung memeluk Damian.
"Hentikan, Sitta! Kita sedang ada di kantor! Aku tidak suka sikapmu yang seperti ini!" seringai Damian terlihat menyeramkan.
"Oke! Baiklah! Sekarang, apa yang bisa aku kerjakan?"
Damian kembali menatap Sitta sengit. Sungguh sebuah tatapan yang tidak pernah Sitta dapatkan selama mengenal Damian.
"Kau disini untuk bekerja! Harusnya kau tahu apa yang harus kau lakukan! Tanyakan pada Josh saja! Aku sibuk! Sebaiknya kau keluar dari sini!"
Sitta yang tak memiliki pilihan akhirnya keluar dari ruangan Damian dengan rasa kecewa. Padahal ia sudah membantu menggagalkan kerjasama Nathan dan Edo, tapi malah Damian sama sekali tidak berterimakasih.
Di tempat berbeda, Nathan sedang memeriksa berkas yang ada di mejanya. Harvey memperhatikan Nathan yang nampak serius. Apalagi kini Nathan memakai kacamatanya, dan itu menambah nilai plus untuk penampilannya.
"Tuan!"
"Ada apa, Harv?"
"Apa Tuan tidak akan mengambil tindakan atas apa yang dilakukan nona Sitta? Kita bisa saja melaporkan dia kepada ayahnya."
Nathan menutup berkasnya dan menatap Harvey. "Aku tidak mau ikut campur dalam urusan perselisihan mereka. Itu tidak akan menguntungkanku. Lalu soal Sitta... Gadis itu tidak bisa bekerja. Dia sama saja dengan Marina yang hanya memanfaatkan kekuasaan keluarga mereka."
Harvey mengangguk paham. "Tapi sekarang Tuan malah menerima kerjasama dari Ford Company. Apakah itu tidak aneh?"
"Apa boleh buat? Dalam bisnis kita harus mengesampingkan hati, Harv. Jadi, aku hanya akan mengambil keuntungan saja darinya."
Harvey kembali mengangguk.
"Oh ya, kapan pertemuan dengan Damian Ford?" tanya Nathan.
"Siang ini, Tuan. Mereka sudah mengirim berkasnya."
"Oke! Kau boleh keluar!"
Harvey memberi hormat kemudian berlalu.
...***...
Malam harinya, Edo yang merasa penat kembali menaiki motornya untuk menjadi seorang abang ojol. Sebenarnya ia tak berniat mencari pelanggan, namun jika ada yang membutuhkan bantuan, maka Edo dengan senang hati akan mengantar mereka.
"Hai, Nona! Sepertinya kita memang ditakdirkan untuk terus bertemu ya!" ucap Edo ketika melihat Vania sedang menenteng tas plastik belanjaannya.
"Bang Edo? Kok bisa ada disini?" tanya Vania yang sedikit bingung.
"Haha, aku hanya tidak sengaja ada disini kok. Ayo naik!"
"Eh? Tidak, Bang. Aku tidak enak hati sama abang karena numpang gratis terus," ucap Vania jujur.
Edo lagi lagi tertawa. Gadis polos seperti Vania ternyata bisa membuat moodnya membaik.
"Baiklah! Kali ini tidak gratis. Kau bisa masak?"
"Hmm? Hanya masakan rumah saja sih, Bang."
"Oke! Itulah yang aku butuhkan. Kau masakkan makanan untukku, dan aku akan mengantarmu pulang. Bagaimana?" tawar Edo.
Vania mengangguk setuju. Ia segera memberikan kantong belanjaannya pada Edo dan dirinya naik ke jok belakang motor Edo.
Tak lama, mereka tiba di rumah Naina. Hari ini Naina pulang terlambat karena harus bekerja lembur.
Vania langsung mengeksekusi bahan-bahan makanan yang tadi ia beli. Dengan cekatan Vania mengolah makanan itu hingga membuat Edo menelan ludahnya. Edo sudah tak sabar untuk memakan masakan Vania.
Tak butuh waktu lama, Vania menghidangkan makanan untuk Edo dan dirinya. Tak lupa Vania juga menyisakan makanan untuk Naina kalau kalau gadis itu lapar di tengah malam nanti.
"Silakan dinikmati!" ucap Vania dengan mengulas senyumnya.
Edo dengan lahap menyantap makanan yang ada didepannya. Sebenarnya ia lebih suka memakan masakan rumahan dari pada makan di resto yang mahal. Ia paling suka masakan buatan ibunya.
Dan ternyata masakan Vania sangat pas di lidah Edo.
"Bagaimana?" tanya Vania.
Edo mengacungkan dua jempolnya. Vania tersenyum lega karena Edo menyukai makanannya.
Usai menyantap makan malam, Edo dan Vania duduk di teras rumah Naina sambil menunggu gadis itu pulang.
"Sudah berapa lama jadi abang ojol?" tanya Vania.
"Hah?! Aku..." Edo cukup bingung bagaimana menjawab pertanyaan Vania. Ia sudah membohongi Vania dengan statusnya. Apakah ia harus membohongi gadis lugu ini lebih dari ini?
"Aku ... masih baru di dunia ojol," jawab Edo.
"Oh! Yang penting tetap semangat, Bang. Apapun pekerjaannya asalkan halal." Vania membetulkan letak kacamatanya.
"Kacamatamu baru ya?"
"Eh? Bang Edo orangnya perhatian ya! Sampai tahu kalau kacamataku baru." Vania terkekeh.
Edo tersenyum tipis. Vania bercerita jika kacamata baru itu adalah pemberian bosnya. Sebenarnya Vania ingin menolak, tapi ia juga tak bisa menolak karena secara tak langsung memang kacamata Vania rusak karena Damian.
Edo tersenyum kecut ketika Vania bercerita tentang Damian. Hatinya gundah memikirkan tentang sahabatnya itu.
"Abang kenapa?" tanya Vania yang melihat raut wajah sendu Edo.
"Apa kau pernah berselisih dengan sahabatmu?" tanya Edo.
"Emh, secara teknis sih tidak. Mungkin jika mereka yang memusuhiku sih iya!" Vania meringis mengingat dirinya yang selalu jadi korban perundungan ketika masih sekolah dulu.
"Sudah lima tahun berlalu dan aku tidak bisa melupakannya. Aku membencinya, Vania. Tapi aku juga merindukannya."
Vania mengerutkan keningnya. "Memang apa alasannya hingga kalian berselisih?"
Edo terdiam.
"Ma-maaf! Aku tidak bermaksud untuk ikut campur!" Vania menangkupkan kedua tangannya.
"Tidak apa. Harusnya semua itu sudah kulupakan. Karena dia juga sudah tidak ada lagi di dunia ini." cerita Edo dengan wajah sedih.
"Dia?" Vania mencoba memahami apa yang di ceritakan Edo.
"Dulu kami bertiga bersahabat. Aku, Samuel dan satu lagi teman kami. Kami selalu menghabiskan waktu bersama. Suatu malam, dia mengajak Samuel untuk bertaruh dengan balapan motor liar. Sungguh tidak etis memang. Aku tidak setuju, tapi Samuel menyetujuinya. Usia kami masih 20 tahun saat itu. Kami masih penasaran dengan banyak hal. Hingga akhirnya balapanpun dilakukan oleh Samuel dan dia."
Vania mendengarkan cerita Edo.
"Samuel terlibat kecelakaan dalam adu balap itu. Dan nyawanya tidak tertolong. Dia adalah tulang punggung bagi keluarganya. Keluarga Samuel mencoba menuntut dia dengan menempuh jalur hukum. Tapi apalah hukum untuk kaum lemah seperti kami. Dia punya kekuasaan dan juga harta. Dia bahkan menyuap semua orang yang berkaitan dengan kecelakaan itu termasuk keluarga Samuel."
Tangan Vania terulur dan mengusap punggung Edo.
"Aku bertemu lagi dengannya setelah lima tahun. Dan kini ia seperti menabuh genderang peperangan denganku. Aku selalu menyalahkannya atas kecelakaan itu. Andai saja dia tidak membujuk Samuel, andai saja dia tidak menggunakan kekuasaannya untuk mengelabui Samuel. Pasti saat ini Samuel masih tertawa bersama kami. Ia tidak akan mengantar nyawanya dengan sia-sia seperti itu! Aku membencinya, Vania. Aku membencinya!" kilatan amarah tergambar jelas di mata Edo.
#bersambung