My Culun CEO

My Culun CEO
Cinta Cenat Cenut



Beberapa jam sebelumnya,


"Huft!"


Nathan bisa bernapas lega setelah rapat bersama Rizka selesai dan gadis itu meninggalkan ruang rapat. Nathan melirik Harvey yang sedang senyum-senyum sendiri sambil menatap layar ponselnya.


"Kenapa kamu senyum-senyum begitu?" tanya Nathan ketus. Ia merasa jika Harvey sedang menertawakannya karena merasa gerah dengan sikap Rizka.


"Tidak, Tuan. Saya hanya merasa kita sebagai lelaki sedang diuji oleh kehadiran nona Rizka. Dan saya sempat melihat-lihat akun media sosial nona Rizka, Tuan. Ternyata di Singapura dia cukup terkenal sebagai selebriti. Dia juga memiliki brand sendiri untuk produk yang dia luncurkan, namanya eRHa." Harvey geleng-geleng kepala melihat beberapa postingan Rizka di laman media sosialnya.


"Kamu ini! Dengar ya! Jika kamu tergoda oleh wanita seksi di depanmu, sebaiknya kamu segera pulang dan temui istrimu." Nathan membereskan barang-barangnya dan bersiap untuk pulang.


"Untuk hasil rapatnya kamu kirimkan saja ke email saya nanti malam. Saya harus segera pulang menemui istri saya!" tegas Nathan.


"Lah Tuan kan sudah punya istri. Lalu, saya bagaimana?" Harvey menunjuk dirinya sendiri.


"Makanya cepat-cepat menikah dengan Naina. Kamu lamar dia dan ajak menikah. Jangan hanya digantung seperti kain jemuran!" sindir Nathan.


"Astaga, Bosque! Tega sekali bicara begitu pada saya!" Harvey hanya bisa gigit jari ketika melihat Nathan berpamitan.


Harvey berpikir sejenak. Ia akan menemui Naina sekarang juga di kantornya. Begitulah pemikiran Harvey saat ini.


#


#


#


Tiba di kantor Naina, Harvey celingukan mencari keberadaan gadis itu. Sudah cukup lama namun tak ada tanda-tanda Naina akan keluar kantor sementara rekan kerjanya sudah mulai berhamburan keluar.


Harvey menghubungi ponsel Naina namun tidak dijawab. Ia memutuskan menunggu di depan kantor. Mungkin saja Naina sedang kerja lembur, begitu pikirnya.


Tak lama seorang satpam menghampiri Harvey.


"Permisi! Mas menunggu siapa ya?" tanya satpam itu sopan.


"Saya menunggu Naina, Pak," jawab Harvey.


"Lho! Mbak Naina sudah pulang dari tadi, Mas."


Harvey tercengang. "Oh, gitu ya, Pak. Kalau begitu saya permisi dulu, Pak."


Dengan perasaan kecewa, Harvey memutuskan untuk pergi ke rumah Naina. Ia berharap bisa bertemu Naina dan menghapus bayang-bayang wajah cantik dan seksi Rizka, hihi.


Tiba di depan rumah Naina, rumah itu nampak masih sepi. Lampu rumahnya belum menyala. Itu berarti Naina belum pulang.


Harvey menggaruk kepalanya. "Naina pergi kemana sih?" monolog Harvey.


Ia kembali menghubungi Naina dan masih tidak dijawab. Harvey menghela napas kasar. Ia memutuskan kembali menunggu di depan rumahnya.


Lima belas menit berlalu, Harvey melihat sebuah mobil berhenti tepat di depan rumah Naina. Gadis itu turun di ikuti seorang pria muda berkacamata.


"Terima kasih sudah mengantarku, Mas Saputra," ucap Naina.


"Iya, Na. Sama-sama."


"Naina!" Suara seseorang dari balik pohon di depan rumah Naina membuat kedua orang itu menoleh.


"Lho? Harvey? Apa yang kamu lakukan disini?" tanya Naina tanpa rasa bersalah.


Harvey yang sudah diliputi amarah, menatap sinis pada pria yang bernama Saputra ini.


"Siapa dia?" tanya Harvey ketus.


"Saya Saputra. Saya teman kantornya Naina," ucap Saputra memperkenalkan diri.


"Aku tidak bertanya padamu! Dasar mata empat!" sungut Harvey.


"Harvey! Apaan sih? Mas Saputra, maaf ya. Mungkin sebaiknya Mas pulang. Sekali lagi terima kasih."


Saputra yang merasa menjadi orang ketiga akhirnya berpamitan pulang.


Sepeninggal Saputra, Naina menatap tajam pada Harvey. Ia menyilangkan tangannya tanda tidak suka dengan sikap Harvey yang dinilainya berlebihan.


"Apa sih maksud kamu?" tanya Naina dingin.


"Harusnya aku yang marah, Na. Aku datang ke kantormu tapi kata satpam kamu sudah pulang. Lalu aku kemari dan menunggumu dibalik pohon, tapi kamu malah pulang dengan lelaki lain. Aku menghubungimu berkali-kali dan kamu tidak menjawabnya. Aku yang harusnya marah, Na!" ucap Harvey dengan berapi-api. Ia meluapkan semua grundelan dalam hatinya.


Naina terbengong melihat Harvey yang meledak-ledak. Baru kali ini ia melihat Harvey yang begitu marah.


"A-aku minta maaf... Ponselku dibisukan, jadi tidak tahu jika ada panggilan masuk."


Harvey menatap Naina yang wajahnya merasa sangat bersalah.


"Bisakah kamu menerimaku, Na?"


"Ha?!" Naina melongo.


"Terima aku jadi kekasihmu! Tidak! Terima aku jadi calon suamimu! Aku serius dengan perasaanku padamu..."


Naina diam dan menundukkan wajahnya. Sebenarnya ia masih sangat takut berhubungan dengan pria setelah kemarin Vicky mengkhianatinya dengan begitu dalam.


"Aku tahu kamu masih takut untuk menjalin hubungan dengan seorang pria. Maka dari itu, kita lakukan perlahan saja. Ya?" ucap Harvey dengan memegangi kedua bahu Naina.


#


#


#


Di tempat berbeda, Danny yang baru saja menyelesaikan pekerjaannya, memutuskan untuk menemui Celia di panti asuhan. Sedikit demi sedikit ia mulai membuka hati untuk gadis lain masuk ke relung terdalamnya.


Tidak ada gunanya mengharapkan bulan yang jaraknya terlalu jauh dari kita. Benar kan? Lebih baik menata hati dan masa depan yang lebih cerah lagi.


Danny mampir ke sebuah minimarket untuk membeli makanan ringan untuk diberikan pada anak-anak panti asuhan. Hatinya berdendang ria karena sebentar lagi akan bertemu dengan calon istri masa depannya.


Calon istri? Benarkah Danny sudah seserius itu terhadap Celia? Mereka baru saling mengenal dan baru tahap penjajakan. Tapi bagi Danny, jika hati seorang pria telah memilih, maka akan sulit untuk mundur.


Dulu ia pikir tidak akan ada gadis yang bisa menggantikan posisi Sheila dihatinya. Namun nyatanya Sheila memang tak pernah bisa ia gapai karena kebisuannya selama ini.


Maka dari itu, sekarang Danny tidak akan diam lagi. Jika memang sudah yakin, ia akan maju dan mengatakannya secara langsung.


Danny tiba di panti asuhan dan bertemu dengan anak-anak panti yang langsung menyambutnya dengan gembira. Ya, sudah beberapa kali Danny datang kemari dan anak-anak panti cukup mengenalnya.


Mata Danny memindai dan mencari keberadaan Celia yang tak kunjung nampak. Biasanya ketika ia datang, Celia selalu hadir di tengah anak-anak panti.


"Kak Danny!" Seorang bocah lelaki kecil menarik ujung jas Danny.


"Hmm? Ada apa?" tanya Danny.


"Apa kakak mencari kak Celia?" tanya bocah lelaki itu.


Danny menggaruk tengkuknya. Wajahnya sudah malu karena ketahuan mencari Celia.


"Kak Celia ada di bangunan panti jompo, Kak. Yang ada di sebelah bangunan ini," jelas bocah itu.


"Oh, begitu ya. Baiklah, kakak akan kesana dulu ya!" pamit Danny dengan mengusap pelan kepala bocah lelaki itu.


Danny berjalan keluar bangunan panti asuhan dan menuju ke bangunan panti jompo yang ada di sebelahnya. Sebelum tiba disana, Danny melihat Celia keluar bersama dengan seorang pria muda sambil tertawa lepas.


"Hah?! Siapa pria itu? Sepertinya tidak asing!" gumam Danny.


Danny mendekat dan bersembunyi agar bisa mendengar apa yang dibicarakan Celia dengan pria itu.


"Terima kasih karena sudah merawat kakek saya dengan baik. Kakek hanya ingin tinggal bersama dengan orang-orang yang seusia dengannya. Maaf jika kakek saya merepotkan!" ucap pria muda itu.


"Ah, tidak merepotkan, Tuan. Kami juga sangat berterimakasih karena Tuan selalu berdonasi untuk panti asuhan dan panti jompo disini," balas Celia.


"Sama-sama, Nona Celia. Kalau begitu saya permisi dulu! Jika terjadi sesuatu dengan kakek saya, tolong segera hubungi saya!"


"Baik, Tuan Damian. Hati-hati di jalan!"


Celia sedikit membungkukkan tubuhnya ketika pria muda bernama Damian itu mulai melangkah pergi meninggalkan area panti jompo.


"Ehem!" Suara dehaman seseorang membuat Celia terkejut.


"Danny? Kamu disini?" tanya Celia.


"Iya, aku sudah disini sejak tadi. Siapa dia, Cel? Sepertinya dia bukan orang sembarangan."


"Oh, dia itu tuan Damian Ford. Dia datang untuk berdonasi sekaligus menjenguk kakeknya yang tinggal di panti jompo ini," jelas Celia.


Danny manggut-manggut.


"Jadi, kamu sekarang pindah tugas ke panti jompo?" tanya Danny.


Celia tersenyum. "Aku yang ingin merawat orang-orang tua ini sendiri, Dan. Aku ingin merasakan seperti apa rasanya mengasuh orang tua."


Danny mengulas senyum. "Jadi, kamu tidak ada hubungan apapun dengan tuan Damian tadi?"


Celia terkekeh. "Tentu saja tidak."


"Kalau begitu maukah kamu berhubungan denganku? Maksudku ... menjalin hubungan yang lebih dari teman denganku?"


Celia tersenyum. Ia menatap Danny yang juga sedang menatapnya.


#bersambung...


*Kita selingi kisah temen2 Sheila dan Nathan ya sebagai bumbu agar lebih mantul 😁😁


*Kukasih bonus visual Harvey-Naina, dan Danny-Celia 👇👇👇👇


Harvey - Naina




Danny - Celia