
Damian dan Edo memutuskan untuk bicara berdua usai Edo dan Rizka kepergok menguping pembicaraan Freya dan Damian. Mereka bicara bukan sebagai sahabat. Melainkan seorang pria yang meminta restu pada kakak sang pujaan hati.
Damian bersikap gentle dengan mengaku salah karena sudah menyamar dan membohongi Freya. Tapi apa yang dilakukannya hanya untuk membuat Freya sadar dengan perasaannya. Dan terbukti jika kini Freya mau mengakui rasa di hatinya.
"Aku sudah memaafkanmu. Tapi jangan lagi jadi pria culun itu. Kau harus mengundurkan diri dari perusahaan," ucap Edo.
"Baik, kaka ipar! Aku akan melakukan apapun agar kau dan Freya mau memaafkanku!" tegas Damian.
"Cih, kakak ipar? Yang benar saja! Masalah ini jangan sampai di ketahui oleh Freya. Kau tahu kan kondisinya..."
"Tidak! Aku akan tetap jujur padanya. Aku akan merasa berkhianat jika aku tidak mengatakan yang sebenarnya. Sosok Udin yang dia temui adalah aku. Aku akan mengatakannya pada Freya."
"Haaah! Aku tidak ikut campur masalah itu. Dan jangan minta bantuan padaku jika Freya marah padamu."
"Tidak akan. Aku akan menanggung resikonya."
Edo manggut-manggut. "Kau sudah banyak berubah, Damian."
"Apa kau menyukainya?" tanya Damian dengan mata berbinar.
"Tidak, biasa saja!"
"Cih, kau masih tidak mau mengaku?" Damian menjerat leher Edo dengan lengannya.
"Hei, lepaskan! Berani sekali kau pada kakak iparmu!"
Damian langsung melepaskna tangannya. "Maaf, kakak ipar. Aku tidak akan mengulanginya!"
Edo tertawa. "Aku senang karena kau kini tunduk padaku, hahaha!"
"Dasar sialan! Kau ingin memanfaatkanku, hah?!" Damian mengejar Edo. Dan kini malah saling berkejaran bak anak-anak.
Dari kejauhan Rizka menepuk jidatnya pelan. Namun sedetik kemudian ia tersenyum lega karena akhirnya Damian dan Edo bisa berdamai. Dan itu berkat kehadiran Freya.
#
#
#
Keesokan harinya, Damian datang ke rumah sakit dengan membawa seikat bunga untuk Freya. Senyum indah yang mengembang selalu ia tampilkan di depan semua orang.
Akhirnya perjuangannya akan menemui titik terang dan sebuah akhir kebahagiaan. Damian tiba di depan kamar rawat Freya namun ia tidak menemukan apapun disana.
Kamar itu sedang dibersihkan oleh seorang office girl. Tak terlihat jejak Freya disana.
Damian bertanya kepada office girl tersebut, dan dia menjawab jika Freya sudah pulang. Damian memegangi kepalanya.
Damian meraih ponselnya dan menghubungi nomor Freya. Tidak ada jawaban dari sana.
Damian mencoba menghubungi lagi dan akhirnya tersambung.
"Halo, Frey. Kamu dimana?" tanya Damian dengan wajah panik.
"Aku di kamar rawat mama. Kenapa?"
Damian bernapas lega. "Baiklah. Aku akan kesana."
Damian berpamitan pada si office girl lalu menuju kamar rawat Liliana. Damian mengetuk pintu terlebih dahulu.
Seseorang yang di carinya ternyata membuka pintu.
"Damian?" ucap Freya.
"Hai, bagaimana kabarmu?"
Freya mengangguk. "Ayo masuk!"
"Ini untukmu!" Damian menyerahkan buket bunga untuk Freya.
"Terima kasih." Freya menunduk karena malu.
"Eh, Nak Damian..." sapa Liliana.
"Iya, tante. Bagaimana kabar tante?" tanya Damian sopan.
"Tante sudah lebih baik."
"Emh, Om, Tante. Ada yang ingin aku sampaikan." Damian memberanikan diri menghadap Liliana dan Laurent.
Freya melotot kearah Damian. "Mau apa sih ini orang?" lirih Freya.
"Aku ingin meminta restu dari Om dan Tante untuk mengencani Freya. Waktu itu aku sudah meminta restu pada Tante Liliana, dan sekarang aku ingin meminta restu pada Om Laurent juga."
Liliana dan Laurent saling pandang. Lalu menatap Freya.
"Tante menyerahkan semuanya pada Freya. Terserah Freya saja!"
"Mama!" sergah Freya.
Damian tersenyum lega. "Baiklah, Om, Tante. Terima kasih atas jawabannya. Aku lega karena kalian memberikan restu kalian."
Freya merengut. Ia tak percaya jika Damian akan seberani ini bicara dengan kedua orang tuanya.
"Dam, antarkan Freya pulang ya. Tante dengar kemarin Freya pingsan. Sebaiknya kamu istirahat di rumah saja, sayang." ucap Liliana.
"Mama!" protes Freya.
"Frey, turuti apa kata mamamu. Biarkan Damian mengantarmu." sahut Laurent.
"Tapi, aku masih ingin disini menjaga mama..." ucap Freya lirih.
"Ada papa yang akan menjaga mamamu. Sudah sana pulang saja dengan Damian." perintah Laurent.
Akhirnya mau tak mau Freya mengikuti nasihat kedua orang tuanya. Damian dan Freya berpamitan dengan Liliana dan Laurent.
Freya berjalan cepat agar tidak beriringan dengan Damian. Namun secepat kilat tangan Damian meraih tangan Freya dan menggenggamnya.
"Mau kemana? Mobil aku parkir disana!" tunjuk Damian mengarah ke arah berlawanan dengan yang dituju Freya.
"Oh, maaf." Freya berusaha melepas genggaman tangan Damian.
"Frey..." Suara lembut Damian membuat Freya pasrah.
"Ngapain pakai gandengan segala sih? Macam orang mau nyebrang saja!" gerutu Freya.
"Biarin! Aku tidak mau kamu kabur, makanya aku harus terus mengikatmu!"
"Ish, menyebalkan!"
"Tapi kamu suka kan?" goda Damian.
"Apaan sih? Gak jelas! Lepas gak?"
"Tidak!"
"Lepas!"
"Tidak!"
Freya memutar bola matanya malas. Dan ternyata genggaman tangan Damian akhirnya terlepas.
"Eh?" Freya kaget. Ia pikir Damian tidak akan mau melepasnya.
"Sudah sampai! Silakan masuk!" ucap Damian membukakan pintu mobil.
Dengan masih menggerutu Freya masuk ke dalam mobil. Damian terkekeh geli karena ternyata ada raut kecewa di wajah Freya ketika Damian melepas tangannya.
"Kena kau, Frey! Kamu tidak bisa bohong jika kamu membutuhkanku!" batin Damian.
Mobil Damian mulai melaju keluar dari area rumah sakit. Selama perjalanan mereka hanya diam dan tak saling bicara.
Dahi Freya berkerut karena jalan yang dituju Damian bukanlah jalan menuju ke rumahnya. Mau tak mau Freya harus membuka suara untuk bertanya.
"Kamu mau bawa aku kemana? Jangan macam-macam ya!" ucap Freya dengan mendelik pada Damian.
"Ck, Freya! Aku tidak akan melakukan apapun padamu. Sudahlah, duduk dulu dan ikuti saja!" balas Damian santai.
Damian menuju ke apartemen mewah miliknya.
"Damian! Mau ngapain kesini?" tanya Freya dengan suara cukup keras.
"Astaga! Freya! Aku tidak melakukan apapun! Percayalah!"
Damian turun dari mobil usai memarkirkan mobilnya di tempat khusus VIP.
"Ayo turun!" Damian membukakan pintu untuk Freya.
"Jangan takut! Ini adalah tempat tinggalku."
Freya turun dari mobil dan mengikuti langkah Damian. Tiba di sebuah unit bernomor 2010, Damian menekan kode kunci dan terbukalah pintu apartemen mewah itu.
Damian masuk ke dalam dan menuju ke sebuah ruangan.
"Kemarilah!" titah Damian.
Freya menurut. Ia percaya jika Damian bukanlah pria brengsek yang akan berbuat tak senonoh padanya.
"Hah?!" Freya menutup mulutnya dengan tangan ketika melihat banyaknya aksesoris penyamaran dan juga sebuah foto. Itu adalah foto Udin.
Freya mengamati seluruh isi ruangan itu. Rambut palsu, kumis palsu, tompel palsu, dan kacamata.
Freya menatap Damian tidak percaya.
"Jadi... Udin adalah...?" Freya tak melanjutkan kata-katanya.
"Iya, aku adalah Udin. Aku menyamar sebagai OB di kantormu," ucap Damian jujur.