My Culun CEO

My Culun CEO
#133 - Jangan Tutup Dirimu



Satu minggu kemudian,


Edo mendapat telepon dari klinik dokter Diana, tempat dimana Freya sedang mengobati rasa traumanya di masa lalu dan mengembalikan memorinya yang dulu. Edo cukup terkejut dengan penjelasan dokter Diana mengenai kondisi Freya.


"Maaf jika saya harus mengatakan ini, Tuan Edo." buka dokter Diana.


Edo sudah cemas mendengar kabar tentang kondisi Freya.


"Nona Freya terlalu memaksakan diri untuk mengingat masa lalunya. Saya takut ini berbahaya untuk kondisi kesehatannya."


Edo terdiam. "Apa alasannya, Dokter?"


"Dia tidak mau bicara. Dia hanya bilang dia ingin bisa mengingat semuanya."


Edo menghela napas.


"Tapi semakin nona Freya berusaha, maka ia tidak bisa mengingat apapun."


"Lalu saya harus bagaimana, Dokter?"


"Begini saja, tuan Edo bantu nona Freya mengenang masa lalunya. Kalian adalah kakak beradik. Pasti banyak hal yang kalian lakukan bersama di masa lalu. Pancing nona Freya dengan hal-hal kecil yang kalian lakukan bersama."


Edo mengangguk paham. "Baik, Dok. Saya akan mencobanya."


Edo keluar dari ruangan dokter Diana lalu menemui Freya yang baru saja menjalani sesi terapi. Edo melihat Freya sedang duduk di bangku yang ada di taman.


"Suasananya sangat menyenangkan ya disini..."


Suara Edo membuat Freya menoleh.


"Abang? Kok abang bisa ada disini?" tanya Freya heran.


"Hmm, bisa dong!"


"Abang harusnya istirahat aja di rumah. Kan kaki abang belum sembuh."


"Sudah sembuh, adikku. Emh, bagaimana kalau kita jalan-jalan?" ajak Edo.


"Jalan kemana?"


"Ke taman hiburan."


"Ish, emangnya abang gak ada janji sama kak Rizka?"


Edo menggeleng. "Tidak ada."


Freya tersenyum. "Oke! Ayo jalan! Mumpung masih sore!"


Freya bangkit dari duduknya dan berjalan bersama Edo menuju tempat parkir. Klinik dokter Diana memang khusus untuk merawat pasien pasca trauma. Dengan menggunakan hipnoterapi, pasien akan lebih rileks untuk mengungkapkan perasaannya yang sebenarnya.


Satu minggu berobat pada dokter Diana, membuat Freya mulai bersemangat menjalani hari-harinya. Namun ia juga bersikeras ingin mengingat masa lalunya bersama keluarga Moremans.


Edo mengirim pesan kepada Rizka jika dirinya kini sedang bersama Freya. Ia akan berusaha mengingatkan Freya pada kenangan masa lalunya.


Tiba di sebuah taman hiburan, Freya berseru gembira.


"Wah, aku tidak pernah datang ke tempat seperti ini, bang." seru Freya.


"Pernah! Dulu kita sering datang ke tempat ini."


"Eh? Benarkah? Aku sama sekali tidak ingat." Freya nampak sedih.


"Jangan sedih! Jangan memaksakan dirimu juga. Coba perlahan saja. Ayo!" Edo menggandeng tangan Freya.


Freya memandangi tangannya yang bertautan dengan tangan Edo.


"Inikah rasanya di sentuh oleh seorang kakak?" batin Freya.


Meski Freya dulu bersaudara dengan Vicky, namun gadis itu tidak pernah merasakan sentuhan seorang kakak. Yang paling sering adalah Vicky suka mengacak rambut Freya. Mungkin Vicky tahu jika Freya bukanlah adik kandungnya, dan ia menghargai Freya sebagai seorang wanita.


"Kamu mau naik wahana yang mana?" tanya Edo.


"Emh, yang mana ya? Apa itu tidak menyeramkan, bang?"


"Ah itu? Hanya roller coaster. Ayo naik!"


Edo dan Freya mengantri untuk naik roller coaster. Edo meraih tangan Freya.


"Tanganmu dingin! Apa kamu takut?" tanya Edo.


Freya mengangguk pelan. "Sedikit, bang!"


"Jangan takut! Ada abang disini!" ucap Edo meyakinkan Freya.


Edo merangkul bahu Freya. Kini yang melihat kemesraan mereka pasti mengira jika mereka adalah sepasang kekasih.


Edo dan Freya sudah duduk diatas wahana.


"Kamu sudah siap?" tanya Edo.


Freya hanya mengangguk.


"Kamu boleh berteriak untuk melepaskan rasa takutmu. Mengerti?"


Freya kembali mengangguk. Roller coaster pun mulai berjalan. Freya memejamkan mata tak berani menatap jalanan di depannya. Rasanya degup jantungnya berdetak sangat cepat. Freya berteriak. Ia meluapkan semua emosinya.


Turun dari wahana roller coaster, Freya malah terbahak.


"Seru, Bang! Aku mau naik lagi!"


Edo menepuk jidatnya. "Astaga! Kamu gak kapok?"


"Gak, Bang. Malah ini sangat menyenangkan."


"Baiklah. Kita coba yang lainnya dulu. Itu ada kora-kora, bagaimana?" ajak Edo.


"Oke! Siapa takut!" Freya berjalan mendahului Edo dan mengantri paling depan.


"Ayo cepat, Bang!" Freya melambaikan tangan memanggil Edo.


Edo hanya bisa geleng-geleng kepala dengan tingkah lucu adik kecilnya. Mereka menaiki beberapa wahana dengan terus berteriak kencang.


Hari pun sudah berganti malam. Freya dan Edo masih menikmati kebersamaan mereka di taman hiburan.


"Yang terakhir, kita naik bianglala raksasa. Bagaimana?" tawar Edo.


Freya menatap bianglala yang sedang berputar itu.


"Hmm, ayo bang!"


Freya mulai berjalan pelan dan tidak menggebu seperti tadi.


"Kamu lelah?" tanya Edo.


"Hanya sedikit, Bang."


"Iya aku tahu. Makanya aku pilih bianglala supaya kamu bisa beristirahat sejenak."


"Ish! Abang menganggap remeh diriku?"


Edo terkekeh. "Bukan begitu. Abang hanya gak mau suaramu habis karena berteriak."


Freya memukul lengan Edo. Mereka pun masuk ke dalam bilik bianglala.


Wahana itu mulai berjalan ke atas dan Freya bisa menatap keindahan kota malam ini.


"Waaaaahhh!"


Freya menganga tak percaya.


"Semakin keatas semakin sunyi. Dan itu membuat hati tenang." ucap Edo yang membuat Freya terdiam.


"Freya..."


Freya menatap Edo yang duduk di depannya.


"Jangan tutup dirimu! Kamu bisa bicara pada abang jika kamu mau. Abang akan selalu ada untukmu."


Freya terdiam kemudian bersuara.


"Apa ini tentang Damian?"


Edo menatap adiknya. "Mungkin bukan. Abang gak tahu. Hanya hatimu saja yang tahu."


Freya kembali diam.


"Frey... Jangan memaksakan dirimu. Jika memang kamu memiliki perasaan yang sama dengan Damian, apa salahnya berusaha jujur. Kamu hanya akan menyakiti dirimu sendiri jika kamu begini."


"Jangan bicara tentang dia, bang."


"Kamu yang memulainya."


"Abang yang duluan!" Freya tak mau kalah.


"Iya, maaf. Abang salah! Apa kamu sudah mengingat sesuatu? Tentang hari ini?"


"Ingat?"


"Dulu kita sering datang ke taman hiburan. Kamu sangat suka naik komidi putar."


Freya menerawang jauh. "Benarkah? Aku sama sekali tidak ingat, Bang."


"Perlahan saja. Jangan memaksakan diri. Oke? Aku yakin kamu bisa ingat semuanya!"


Freya tersenyum. "Iya, Bang. Bukankah kenangan indah akan selalu di ingat? Aku pasti bisa mengingatnya," gumam Freya diiringi sebuah senyum manis.


Di tempat berbeda, Damian datang ke tempat Naina untuk meminta bantuan kepada gadis itu. Namun disana juga ada Harvey yang sedang berkunjung ke rumah Naina.


"Tuan Damian? Ada apa Anda datang kesini?" tanya Naina.


"Maaf jika aku mengganggu waktu kebersamaan kalian." ucap Damian sopan.


Damian duduk berhadapan dengan Naina dan Harvey. Sepasang kekasih ini saling pandang heran mendapat kunjungan dari CEO Ford Company ini.


"Emh, Tuan Damian mau minum apa?"


"Ah tidak usah repot. Aku datang kesini karena ingin meminta bantuan darimu, Naina."


Naina dan Harvey bingung.


"Bantuan apa, Tuan?" Harvey ikut bicara.


"Emh itu... Bantu aku untuk meluluhkan hati Freya!" ucap Damian spontan.


"Hah?!" Naina dan Harvey bingung.


"Aku tidak tahu caranya, Tuan. Lagipula..."


"Tolonglah, Naina! Aku mohon!"


Damian berlutut di depan Naina dan Harvey.


"Tuan! Jangan bersikap begini!" Naina meminta Damian untuk berdiri.


"Aku sudah tidak tahu lagi harus bagaimana. Kamu sangat dekat dengan Freya. Jadi aku minta tolong padamu, Naina..."


Naina terdiam. Ia sendiri tahu jika Freya adalah gadis yang keras kepala. Tidak mudah untuk membujuknya.


"Tuan, saya rasa saya punya solusi untuk masalah Tuan ini!" celetuk Harvey.


"Apa?" Naina melotot kearah kekasihnya.


"Mungkin ini sedikit aneh, tapi ... bisa saja cara ini berhasil. Tuan Nathan sudah membuktikannya."


Mata Naina mendelik kearah Harvey. Ia menggeleng pelan. Ia tidak setuju dengan ide Harvey.


"Katakan! Apa itu? Aku akan lakukan apapun!" desak Damian.


"Tuan harus menyamar."


"Hah?! Menyamar? Menyamar bagaimana?" Damian tidak paham.